
Usai mendorong Reza, Aura kembali masuk duduk di bangku yang agak di belakang. Dia sengaja duduk di belakang agar bisa dengan leluasa untuk malas-malasan. Kali ini Reza memilih posisi duduk di samping istrinya, ikut merebahkan tubuh menatap Aura. Aura mendengkus memutar arah kepalanya.
Beberapa waktu kemudian, Stella muncul membawa bungkusan makanan untuk diberikan pada Aura. Stella melirik pria bertubuh tinggi itu melipat badan meniru posisi Aura. Stella menuju ke sisi lain di samping Aura.
"Ra, ayo makan dulu! Kasian debay!" bisiknya.
Aura masih menggelengkan kepalanya. Tiba-tiba bungkusan di tangan Stella direbut oleh pria yang tadi duduk di sebelahnya. Belum sempat marah, ternyata pria itu memaksa Aura untuk duduk dengan baik.
"aaak ... Buka mulutnya!" Reza bersiap menyuapkan potongan roti yang tadi dibelikan Stella.
Aura menepis tangan itu kembali merebahkan badannya. Reza berjongkok di di samping Aura. "Kalau tidak makan, nanti aku cium!"
Stella mengerutkan keningnya mendengar ucapan pria itu. Aura tampak kembali memalingkan wajah. Reza kembali bergerak mengejar wajah Aura dan menciumnya di balik masker. Aura refleks bangkit dengan refleks memukul lengan Reza.
Mata Reza menyipit menyiratkan dia tengah melebarkan senyuman di balik masker tersebut. "Ayo buka mulutnya!"
"Eh, siapa sih Lu?" Sebuah suara menghentikan aktifitas Reza yang berusaha membuat Aura makan potongan roti tersebut.
Stella melihat Arga berdiri bersidekap dada menatap tajam pada pria yang sedang dideteksinya. Namun pria yang menggunakan masker tersebut seolah tidak memedulikan Arga.
"Ayo, makan dulu!"
Arga dengan impulsif menarik hodie Reza. Reza berdiri tegap dan merapatkan dadanya pada Arga. Tubuh Reza yang tinggi membuat Arga menengadah ke atas melihat Reza.
"Saya ingin menyuapinya, lalu kau mau apa?" Reza menekankan wajahnya pada Arga.
"Hmmmfff! Berisik!" Aura kembali merebahkan tubuhnya lada meja mini yang melekat di bangku ruang kuliah itu.
Arga merebut bungkusan itu. "Biar gue yang nyuapin dia!"
Reza merebutnya kembali. "Enak aja! Bocah, minggir sanah!"
"Sudah ah! Kalau kalian gelud begini, malah bikin dia makin pusing tau nggak?" sela Stella.
"Kamu, Ga. Silakan cari bangku duduk aja dengan tenang! Sedangkan kamu cowo gak jelas, silakan duduk kembali tanpa suara!"
Reza tak mengindahkan ucapan Stella. Dia kembali menyuapkan Aura. "Ayo makan dulu! Kalau tidak mau, nanti aku cium sekali lagi! Aku tak peduli apa pun yang dikatakan oleh teman-temanmu!"
"Lhah? Enak aja main ciun-cium? Kalau gitu gue juga mau begitu!" sela Arga merebut bungkusan di tangan Reza.
"Ini bocah, minta dipites kayaknya!" Reza kembali merebut bungkusan itu.
Stella mulai menebak siapa pria di balik masker itu. "Om Mesum?"
Reza menoleh secara refleks dengan panggilan itu. "Bukan! Aku Kandanya temanmu ini!" dengkusnya.
"Hmmmff, jadi setelah skian waktu baru mencari Dindamu ini? Kurang lama, Om!" Stella melangkah mendekat melipat tangan di dada.
"Jangan panggil aku 'Om'! Anakku belum lahir!"
__ADS_1
Stella mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk melampiaskan kemarahannya. Akhirnya dia menemukan sebuah sapu di pojok kelas. "Nah, terima ini!"
Stella memukulkan sapu kepada Reza. "Untuk orang yang mengabaikan Aura."
dug
dug
dug
"Hukuman bagi orang yang membiarkan Aura sendirian di masa susahnya!"
dug
dug
dug
"Untuk segala kekesalan yang tak bisa aku jelaskan!"
dug
dug
dug
Reza menahan tangkai sapu yang digunakan Stella tersebut. "Udah!"
Aura bangkit dari posisinya yang melas semenjak tadi. "La, aku bolos aja."
"Bagus ... bagus ...!" sahut Reza.
"Jangan!" cegah Arga.
Reza melarikan diri dari serangan bertubi-tubi yang diberikan Stella. Menarik tas Aura menarik istrinya dari sana. Arga mencegat, tapi didorong oleh Reza.
"Kamu, jangan ganggu dia lagi! Dia itu milikku!"
"Heh---" ucapan Arga dihentikan oleh Stella. Stella terlihat menggelengkan kepalanya.
"Ta-tapi---"
Reza telah menghilang menarik paksa Aura. Aura meronta melepaskan diri tetapi tidak digubris olehnya. Membawa Aura ke arah parkiran di mana kendaraan roda dua milik Reza sedang terparkir.
Reza memasangkan helm kepada Aura. Aura ingin melepaskan, tetapi dicegat oleh Reza. Memaksanya naik ke atas motor. Setelah memastikan Aura duduk dengan tenang dan tidak memberontak lagi, Reza membawa Aura ke sebuah hotel.
"Kenapa aku dibawa ke sini?"
Reza tak berkata apa pun. Hanya sebuah senyum tipis terulas di bibirnya. Dia terus menarik Aura tanpa melalui proses check in. Aura terus meronta ingin lepas dan kabur.
__ADS_1
"Hemmm, kamu itu seorang istri! Tidak boleh membantah! Anggap saja ini bulan madu yang tak pernah kita rasakan."
"Giliran gini, dibilang tak boleh membantah!" Aura terus menggerutu mencoba melepaskan diri.
"Cih, kayak aku nggak ada baiknya aja buatmu?"
Mereka naik hingga lantai dua puluh. Menuju salah satu kamar yang seakan dia sudah sangat hapal posisinya. Mereka memasuki sebuah kamar yang sangat bagus. Melebihi kemewahan kamar hotel di saat mereka menikah dulu.
Reza melepas Aura setelah berada di dalam ruangan tersebut. Wajah Aura hanya terlihat datar tanpa ekspresi. Memilih duduk di sofa yang tersedia, menatap tajam ke arah Reza.
"Jadi aku ini hanya sebatas ini buatmu? Hanya sebagai pemuas naf *su mu aja?"
Reza berjongkok di hadapannya. "Kenapa kamu berkata seperti itu?"
"Kenapa kita harus ke sini?" Aura mendengkus melirik di ujung matanya.
"Aku ingin berbicara denganmu lebih leluasa. Jadi kamu mau apa kan aku, tak akan ada yang lihat dan mendengarnya. Jadi, aku rasa di sini adalah tempat yang terbaik untuk kita!"
"Alesan!"
"Yah, terserah lah kamu mau mengatakan apa pun."
Reza bangkit dan menghempaskan dirinya di atas kasur super empuk itu. Sedangkan Aura hanya menatap suaminya dari kejauhan. Bangkit dan berpindak ke ruang sebelahnya tempat dia bisa bersantai. Aura duduk di atas sofa, membelai perutnya memejamkan mata.
Hmmm, beb ... apa ya ... bunda bingung harus bagaimana memanggilmu. Namun, bunda bahagia, ayahmu masih mengingat kita. Tapi, bunda bingung harus mulai dari mana menanyakan tentang orang tersebut pada ayahmu.
Aura berpindah menatap ke arah luar jendela yang sangat luas itu. Aura menatap pemandangan yang begitu luas. Semua terlihat sangat kecil.
"Berapa uang yang dihabiskan ayahmu untuk menyewa kamar ini ya?" Aura tersenyum tipis masih membelai perutnya yang masih tipis.
Sebuah pelukan datang tiba-tiba. Aura langsung mengganti senyuman tadi dengan wajah bebeknya. Kembali aroma parfum yang digunakan Reza membuat Aura mual.
hoooeeekkk
Aura mendorong Reza bergerak menuju wastafel yang tak jauh dari sana. Reza mengusap punggung istrinya dengan wajah khawatir.
"Kenapa kamu selalu muntah saat aku peluk? Apakah kamu terlalu jijik padaku?"
💖
💖
kuiiyyy...mampir juga di mari
napen: Rahayu Ningtyas Bunga Kinanti
judul: MR. AROGANT
__ADS_1