
Aura terbangun mendengar des*han seseorang yang meniupnya dari belakang. Matanya masih berat. Nyawanya mulai terkumpul, sebuah tangan tengah merangkul tubuhnya dari belakang. Aura masih setengah terpicing, meraba-raba sebuah tangan yang lebar merangkulnya, dan sebuah kaki tengah memeluknya bagai guling.
Mendadak nyawa Aura seratus persen kembali ke bumi karena kaget luar biasa. Matanya terbuka dengan lebar, menengok ke belakang dan melihat sosok tampan masih terlelap dengan nafas teratur. Aura mencoba melepaskan diri. Namun pelukan itu semakin kuat.
Aduh, apa yang terjadi pada kami berdua?
Aura melihat pakaiannya masih utuh semuanya, "Huuufftt," dia menghembuskan nafas lega.
Aura memutar tubuhnya, melihat kembali wajah itu. "Kenapa Kamu tampan sekali? Masa yang kayak ginibelum pernah pacaran sama sekali?" Menangkupkan kedua tangannya pada kedua pipi pria itu.
"Sampai segitu aja?" Aksa berbicara namun matanya masih terpejam. "Ayo lanjutkan!" Mengetuk-ngetuk bibir beberapa kali dengan telunjuknya, tetapi mata masih terpejam.
"Iiih, ternyata pura-pura tidur?" Aura langsung bangkit dan menjauh dari tempat tidur itu. "Kenapa tidak bangunkan aku? Aku kan bisa pulang ke kosan."
Aksa bangun dengan senyum jahilnya, "Aku kan sudah bilang, aku ingin habiskan malam bersama kamu. Eh, kamunya malah tidur."
"Emang mau ngapain?" tanya Aura heran.
"Aku sudah siapkan film seri horor yang sangat banyak. Kamu kan doyan nonton horor, aku juga suka horor. Maunya nonton horor sampai pagi. Kamu malah ninggalin aku tidur."
Aaaiiihhh, aku mikir apa barusan? Dia kan anak baik, nggak mungkin macem-macem kan?
"Habisnya aku ditinggal kerja. Ya, aku tidur saja. Berhubung week end, kita jalan-jalan yuk? Abang jangan cepet-cepet pulangnya ya? Esok masih Minggu kan?"
Aksa bangkit dan memiringkan kepalanya. Dia menggaruk tengkuk yang tidak gatal. Dia merasa gengsi mengatakan kehabisan dana karena membayar hotel ini. "Sepertinya aku harus pulang hari ini. Aku akan naik kereta terakhir."
Wajah Aura menyiratkan kekecewaan. "Ya udah, kalau gitu kita kencan sepuasnya hari ini menjelang malam. Kalau gitu aku ke rumah kos dulu ya?"
"Barengan aja! Aku mandi dulu, setelah itu kita jalan kaki ke kosan kamu."
__ADS_1
Aksa segera masuk ke kamar mandi, dan Aura menyalakan televisi.
"Telah terjadi kembali, peretasan yang dilakukan oleh Hacker, pada sebuah perusahaan menengah sedang. Hacker tersebut telah menjalani aksinya selama sepuluh hari berturut-turut. Tindakan Hacker tersebut telah meresahkan pengusaha-pengusaha menengah yang belum lama merintis usahanya."
"Sehingga para pengusaha yang tersebar di seluruh nusantara yang menjadi korban, mengharapkan agar pihak yang berwajib untuk segera mengusut siapa pelaku peretasan ini sebenarnya ...." Aura segera mematikan televisinya.
"Bikin panik aja ni berita!" rutuknya. Dia kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk ini. "Ternyata begini ya rasanya tidur di hotel? Nyaman banget, pantas saja bayarnya mahal."
Tiba-tiba dia teringat reaksi Aksa diminta untuk menambah waktu lagi untuk tinggal di sini. "Apa jangan-jangan dia kehabisan dana? Apa dia mau jika aku bayarkan untuk menginap semalam lagi? Nanti semua biaya ngedate hari ini, biar aku saja yang membayarnya. Tabunganku melimpah ruah. Kapan lagi bisa aku gunakan?"
"Bagaimana jika aku kirim uang pada Ayah? Kira-kira dana yang aku punya bisa membeli kebun sawit nggak ya? Apakah ayah tidak mencurigaiku, jika aku mengirimkan uang yang banyak?" Aura masih asik dengan pikirannya sendiri. Tanpa dia sadari Aksa sudah berdiri di belakangnya mengambil pakaian dari dalam tas yang dia bawa.
Mendengar ada pergerakan, Aura menoleh ke belakang. Matanya terbelalak melihat Aksa yang hanya menggunakan handuk, Aura kembali membuang muka. Setelah mengambil pakaian, cowok itu dengan langkah cepat kembali masuk ke dalam kamar mandi. Tak lama dia muncul telah mengenakan baju kaos hitam dan bawahan senada panjang selutut. Begitu ngepas dengan tubuhnya yang tinggi semampai.
"Ayo Sayang, kita habiskan waktu sepuasnya!" Aksa menyugar rambutnya tanpa disisir, lalu mengulurkan tangannya pada Aura.
"Jangn malu! Ayoh!" ucap Aksa mengayunkan jemarinya menunggu tangan Aura.
Dengan sedikit ragu Aura bangkit dari posisi tidurnya, segera berdiri menyambut tangan pacarnya ini. Mereka melangkah meninggalkan kamar menuju admin hotel. Aksa segera check out dan langsung meninggalkan hotel ini.
Yaaah, udah check out aja, batin Aura kecewa.
"Beneran mau pulang Bang?" Mereka berjalan masih saling bergenggaman tangan.
Mereka berpas-pasan dengan seseorang, yang mengenakan pakaian yang sangat rapi, berbalut jas mewah. Tatapan matanya beradu pandang dengan pria itu. Mata Aura terbelalak melihat pria yang sedang terlihat tampan dan keren ini. Tangan pria itu, tengah dirangkul oleh wanita cantik yang mengenakan gaun mewah.
"Nona mie instan? Kalian habis ngapain di sini?" Pria itu melihat ke arah Aksa, rambutnya masih basah. Diperhatikannya kembali Aura, masih mengenakan pakaian yang sama dengan yang tadi malam.
"Kamu mengenal mereka?" tanya wanita cantik di sampingnya. Pria itu tak lain dan tak bukan adalah Om-om mesum yang selalu bikin gaduh.
__ADS_1
Ooohh, kali ini jadi supir Nona Cantik itu? batin Aura.
Aura merangkul lengan Aksa. Aksa sama sekali tidak mengenal pria ini. Sementara Reza begitu mengingat wajah Aksa.
"Nona mie instan, Kau belum mandi? You're so disgusting!" Reza menarik tangan perempuan cantik yang berada di sisinya. Berjalan meninggalkan mereka yang terheran.
"Apa maksudnya? Kamu mengenal dia?" tanya Aksa.
Aura hanya mengendikan bahu, "Yang aku tahu dia itu seorang supir." Aura kembali melanjutkan perjalanan ke rumah indekos yang posisinya tidak terlalu jauh dari hotel tersebut.
Reza kembali memutar badannya. Melihat Aura yang berjalan bergandengan dengan seorang yang ingin mengajukan proposal pada perusahaannya. Dia memperhatikan wajah gadis mie instan itu terlihat sangat bahagia.
Gila aja, gue kalah sama dua bocah tengik itu? rutuknya dalam hati. Ini tidak boleh dibiarkan, kali ini harus gooool!
"Sayang, apa yang Kamu pikirkan?" tanya wanita cantik itu masih merangkul lengan Reza.
"Oooh, aku merasa Kamu adalah wanita paling cantik di pesta ini Sayang. Kecantikanmu melebihi mempelai wanita yang berdiri di pelaminan sana!" bisik Reza tepat di telinga pacarnya yang kesekian itu.
"Sayang, usai pesta nanti, ayo kita langsung naik ke atas!" bisik Reza kembali ke telinga pacarnya itu. "Buktikan lah jika Kamu memang mencintaiku!"
Sang pacar melihat Reza terbelalak tak percaya. "Maksudmu kita check in?" Reza mengangguk mantap. Sang pacar berjalan mengambil sebuah jus yang telah tersedia. Lalu menyiramnya ke arah Reza.
...--byyuuuurrr--...
...*bersambung*...
...Jangan lupa menekan tanda Favorit, Like, Gift, Vote, dan Komentar ya!...
...Terima kasih!...
__ADS_1