
Halo Readers semua ... Author kasih Ekstra Part yaa, karena ada yang masih bertanya mengenai nasib Keken, dan Pernikahan Stella.
Jadi kita balikin waktu 10 tahun sebelum Ending ya?
Aaahh, tadi waktu sebelum pengumuman Author semangat banget pengen nulisnya. Tapi Author tertampar pada kenyataan yang hanya sebagai Author kentang ini
... ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜...
...Mungkin Karya Author emang gak sebagus karya Author pemesh kali ya ... ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜...
Tarik nafas dalam-dalam ... Lepaskan ...
...💖💖💖...
"Oeek ... oooeeekkk ...." Tangisan Aksa kecil menghentikan aktifitas yang tengah dilakukan oleh ayah bundanya di atas ranjang.
Secara refleks Aura bergerak memisahkan diri dari sang suami. Namun ditahan oleh Reza yang menggelengkan kepala. Dia memberi kode untuk jangan bergerak.
"Anakmu nangis tu?"
Reza belum mau melepas sang istri, masih memberi kode untuk tidak bergerak.
"Ooeeekk ... oooeeeekkkkkk ..."
Suara Aksa terdengar semakin kencang, sehingga Aura mendorong suaminya sampai terjengkang. Aura memasang piyama kimono dan mengambil putranya yang tengah menangis dalam box bayi.
"Cup ... cup ... Kamu haus, Nak?"
Aura langsung memberi bayinya ASI. Aura melirik suaminya yang memasang wajah nelongso. Lalu kembali membuang muka fokus pada wajah tampan Aksa kecil. Menidurkan Aksa kembali ternyata memakan waktu yang cukup lama. Reza yang menanti semenjak tadi akhirnya menjadi kesal. Dia memasang selimut dan memilih tidur duluan. Aura terkekeh melihat Reza yang selalu merajuk bila hal ini terjadi.
"Aaah, ternyata Bunda punya dua bayi." Aura mencium gemas bayi mungilnya itu hingga mereka akhirnya sama-sama ketiduran.
__ADS_1
Pada pagi hari, Aura kembali memompa ASI untuk ditinggalkan saat Aura ke kampus. Reza menyiapkan diri sambil melirik kesal pada sang istri. Aura menyadari hal itu.
"Apa lagi? Bukankah kamu sudah melakukannya setiap hari semenjak aku bersih? Lalu kenapa merajuk gara-gara yang tadi malam? Apa yang sebelumnya tidak cukup?"
Reza tidak menjawab pertanyaan istrinya. Dia memasang jas, tanpa dibantu istri yang masih menyiapkan ASI pompa untuk bayi mereka. Setelah itu, dia turun menuju ruang makan tanpa mengajak sang istri.
"Ck ... dasar bayi besar!" cibirnya. Lalu dilihatnya Aksa yang dalam keadaan tengkurap mengemut jemarinya.
"Duuuh, anak Bunda ... cepat lah besar. Biar kita jalan-jalan lagi yaa? Aaah iya, karena kamu terlalu cepat hadir, Ayah dan Bunda belum jadi honey moon. Aaahh, kapan ya bisa honey moon kayak artis-artis di jagat negeri ini ya?"
Aksa menjawab pertanyaan bundanya dengan sebuah senyuman. "Aduuh, Nak. Bunda jatuh cinta sama kamu lho? Tampan sekali anak Bunda."
Aura telah menyelesaikan proses pemompaan asinya. Membereskan peralatan dan menggendong buah hati tampan yang tengah memamerkan gusi merah jambu.
Aura membawa dua botol kecil ASI pompa sembari menggendong putra tampannya ke ruang makan. Di sana pengasuh Aksa sedang menyiapkan air mandi untuk Aksa. Sementara suaminya sedang mengolesi selai pada roti untuk Aura.
Aura berjalan mendekat ke arah kursi sebelah sang suami. Mencium suami yang tengah merajuk, namun masih menyiapkan sarapan untuknya.
Sebuan kecupan melayang pada pipi Reza, tetapi dia hanya menanggapi dengan cuek. Tak lama, pengasuh Aksa mengambil bayi tampan itu dari tangan Aura.
"Ayooo, mandi dulu sama Mbak ..." ucap sang baby sitter.
"Terima kasih, Sayaaang. Kamu suami terbaik." Namun, tak ada jawaban dari sang suami.
Aura menyandarkan dirinya pada lengan sang suami. "Kamu masih ngambek?"
Reza menyeruput kopi yang telah tersedia di meja makan tersebut namun sang istri memgaduh karena terkena tumpahan kopi panas dari cangkir Reza. Secara refleks wajah yang tadi kesal, berubah menjadi khawatir. "Kamu tidak apa?"
Menarik dan meniup tangan istrinya. Reza langsung mengambil lap untuk membersihkan bekas tumpahan kopi tersebut. "Makanya, kalau suami minum kopi itu, kamu jangan bergelantungan gitu. Jelas aku ini lagi marah. Masih aja sok imut seperti anakmu."
"Anakku aja nih? Awas ya?" Aura meniup sendiri bekas kopi panas tersebut. Reza ikut-ikutan meniupnya.
__ADS_1
"Aku tak apa. Ini hanya tumpahan air panas. Yang lebih dari ini pun telah sering aku alami."
Reza bergerak mencari kotak P3K langsung mencari salep lidah buaya. Memasangkan pada bekas siraman kopi panas tersebut. Aura menikmati perhatian dan kekhawatiran sang suami. Melihat suaminya telah beribu kali lebih tampan sebelumnya. Reza melirik Aura yang tak hentinya tersenyum menatap dirinya.
"Kenapa? Ada yang lucu?"
"Pagi ini suamiku terlihat tampan sekali."
"Ekheeemm ..." Reza seketika jadi salah tingkah. "Udah, makan dulu sanah! Nanti telat!"
Aura segera menghabiskan dua lembar roti yang telah disiapkan suaminya dalam waktu skian menit. Reza menggelengkan kepala melihat sang istri. Langsung bersiap menuju aktifitas mereka masing-masing.
Di kampus Aura kembali bertemu dengan Keken. Keken bersama temannya menatap Aura yang sedang berada di samping Stella. StellA menyadari bahwa adik kelas mereka terus memasang wajah jelek kepada Aura.
"Apa terjadi sesuatu dengan kalian?"
"Entah lah, tiba-tiba dia mengatakan sesuatu yang bukan-bukan terhadapku."
Mendengar hal itu, Stella tiba-tiba merasa marah. "Emang dia mengatakan apa? Adik kelas doang udah berani ngelunjak. Apa perlu diospek kembali?"
Aura menggelengkan kepala, mengajak masuk kelas. Usai perkuliahan, Aura kembali bertemu dengan Keken. Gadis itu masih menatap Aura dengan cara yang sama. Namun, dia malas menanggapi dan melewati gadis itu begitu saja.
Keken merentangkan kakinya, hingga Aura jatuh karena tersandung. Aura langsung bangkit memijit lututnya yang ngilu karena sakit. Aura menatap gadis itu mengankat dagunya bersidekap dada.
"Apa maumu?" tanya Aura.
"Ups, sepertinya ada yang bicara?" Keken pura-pura bertanya pada kawannya yang lain.
Ponsel Aura bergetar. Sang suami telah sampai dan menunggunya. "Tunggu sejenak, Kanda. Aku masih ada urusan."
Kening Reza berkerut, dan melangkahkan kakinya masuk ke gedung tersebut. Menemukan istrinya tengah diapait oleh beberapa gadis. Reza memperhatikan dari jauh apa yang tengah terjadi. Wajahnya menjadi marah saat kawanan itu mencoba mengeroyok sang istri.
__ADS_1