CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER

CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER
129. Membuka segel


__ADS_3

Reza mengangkat Aura yang terus meronta. "Ayo mandi bareng!"


"Aku udah selesai!"


"Ayo ulangi lagi!"


Aura terus meronta, tapi tidak dipedulikan oleh Reza. Dia mendirikan Aura di dalam kamar mandi tersebut dan menarik pakaian yang digunakan menutup dua benda favorit tersebut.


Reza langsung melepaskan paakaian nya. Dia menghidupkan shower dan memeluk istri yang terus meronta. Memulai dengan mengecup l*her Aura di bawah turunnya air hangat yang membasahi mereka dan membe lai yang bisa dibe lai. Akhirnya Aura tidak bisa meronta lagi. Dia mulai menangis, merasa dipermainkan oleh pria ini.


"Kenapa Kamu menangis?" bibir nya masih memberikan kecupan membangunkan ga i rah istrinya.


"Kamu kenapa sih? Dari tadi jahat banget tau nggak?" Dia terus menangis tak kuasa menikmati sentuhan lembut bibir itu di lehernya.


"Kamu juga jahat!" Reza mulai menc*um bibir istrinya.


Sesaat dia menghentikan aktifitas di saat Aura merasa candu akan c*uman dalam sang suami. Tampak Reza mengambil sabun dan menyabuni seluruh tubuhnya. Kembali memeluk Aura dan merasakan sensasi luar biasa membuat sepasang insan itu semakin bergelora.


Usai acara di kamar mandi, karena belum berhasil membuka segel di dalam kamar mandi, Reza memasangkan handuk untuk istrinya dan mengeringkan tubuh sendiri. Setelah itu mengangkat Aura sambil menciumnya hingga merebahkan istri di atas kasur.


Pemanasan kembali diulang hingga Reza merasakan sang istri benar-benar merasa siap. "Kamu tahan ya! Kalau sakit, kamu boleh menggigit dan mencakarku sepuasmu. Ini pertama kali buat kita. Aku mencintaimu. Bersiaplah kehadiran para junior kita setelah ini!"


Wajah Aura tampak sendu dan mengangguk. "Pelanh-pelanh yah Kandah!" Meski takut, Reza telah berhasil membuat Aura semakin menginginkannya.

__ADS_1


💖


Keesokan pagi, Aura terbangun merasakan sakit di seluruh tubuhnya. Dia tertidur bersandar pada dada bidang Reza. Dia tak bisa bergerak setelah dihajar empat ronde semalam suntuk oleh suami yang baru buka puasa.


Perjuangan keras bagi mereka yang belum berpengalaman untuk menembus segel itu. Setelah berhasil menembus segel pada ronde pertama, mereka memilih istirahat dan mengisi perut dengan mie cup yang menjadi awal perjalanan kisah di antara nona mie instan dan om mesum.


Setelah energi mereka cukup terisi, sang suami kembali menggila. Dia ingin lagi dan lagi hingga dia merasa tepar benar-benar tak berdaya dan tertidur lelap saling berpelukan.


Aura mencoba untuk bangkit, tetapi olah raga sepanjang malam itu malah membuatnya merasa tidak sehat. Aura membelai wajah Reza yang tiba-tiba terlihat lebih tampan dari mantannya. Reza menggeliat terbangun karena sentuhan itu dan mencium pucuk kepala sang istri.


"Terima kasih, Sayang. Kamu membuat buka puasaku terasa begitu nikmat. Ini akan menjadi sesuatu yang tak akan terlupakan. Walaupun bahuku jadi lecet karena gigitan ganasmu!"


Ekspresi wajah Aura berubah, bibirnya mengerucut. "Kamu pikir aku tidak kesakitan apa?" Menarik pipi Reza dengan gemas.


Reza memeluknya kembali dan mencium l*her Aura kembali. Kali ini dengan wajah memohon, Aura menggelengkan kepala.


Reza memeluknya kembali dan menyugar rambut Aura yang telah acak-acakan karena peperangan tadi malam. "Kamu ingin punya anak berapa, Sayang?"


"Ah, aku belum memikirkannya."


"Harus dipikirkan! Biar kita bisa merencanakan masa depan mereka dengan baik nantinya!"


Aura hanya menggeleng. Dia menyembunyikan wajah karena merasa malu sendiri membayangkan akan segera memiliki anak. Sementara, adik bungsunya saja baru berusia tujuh tahun. Ini benar-benar di luar impiannya.

__ADS_1


Sebelumnya dia sudah merencanakan kehidupan normal dalam pikirannya. Di mana, dia harus berkuliah hingga mendapat peringkat terbaik di kampus. Usai mendapat gelar sarjana, dia ingin kembali ke daerah asal, dan bekerja. Saat bekerja dia ingin membangun rumah untuk orang tua dan membiayai pendidikan adik-adiknya. Dia akan menikah di usia 25 tahun dengan pria yang dicintai. Setelah itu memiliki anak yang lucu dan menggemaskan.


Akan tetapi, kenyataan tak sesuai dengan harapan. Semua berjalan lebih cepat dari bayangannya. Dia menikah tujuh tahun lebih awal dari rencana semula. Tentu saja belum sempat memikirkan semuanya.


"Kenapa harus buru-buru?"


Reza kembali teringat pada pesan Dokter beberapa saat setelah selesai melaksanakan operasi.


"Kamu jangan sampai lupa untuk terus kontrol mengenai perkembangan pada jantung barumu. Jika ada tanda-tanda ketidakcocokan, seperti napasmu yang terlalu pendek karena kekurangan oksigen, atau merasa cepat lelah, kita harus segera mencari ganti yang baru!"


Hingga saat ini Reza masih merasa nyaman dengan jantungnya saat ini. Hanya saja, dia masih merasa khawatir, jika suatu saat tak terduga semua akan berbalik membuat dirinya harus pontang-panting kembali dalam mencari jantung pengganti. Dia tak ingin sisa hidupnya hanya sekedar menghabiskan uang yang dimiliki untuk membeli jantung secara terus menerus. Itu terlalu mahal. Istri dan anaknya lebih membutuhkan biaya ke depannya.


Semoga usiaku cukup panjang untuk menemanimu membesarkan anak-anak kita. Karena itu lah, aku memaksamu untuk segera hamil. Agar kita bisa merasakan indahnya menjadi orang tua meski usiamu masih sangat muda. Maaf, aku terlalu egois untuk ini. Aku ingin Kamu selalu mengingatku, di saat aku tak lagi di sisimu.


Tanpa ia sadari, air matanya menetes dalam renungannya. Aura menyadari itu dan menangkap air mata suaminya ini. "Kanda, kenapa memangis? Sedang memikirkan apa?"


Reza menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Aku hanya tak sabar membayangkan masa depan bersama anak-anak kita."


Reza mengajak Aura berkeliling seharian dan makan di luar. Setelah itu membeli bahan kebutuhan pokok untuk tinggal di sana. Dia berencana memanggil Bibi untuk menemani istrinya tinggal di sini untuk bersembunyi. Namun, dia ingin menikmati waktu berdua terlebih dahulu. Sehingga mereka lebih leluasa menikmati keindahan berumah tangga yang sebenarnya.


Mereka kembali ke villa setelah puas seharian mengabadikan momen pelarian yang berasa bulan madu ini. Wajah Aura terlihat sedikit pucat saat setelah sampai.


"Apa Kamu baik-baik saja, Sayang?"

__ADS_1


Aura hanya menggelengkan kepalanya. Dia merasakan perutnya sangat tidak nyaman. Dia menebak sesuatu yang sedang terjadi dan masuk ke kamar mandi. Reza yang melihat sang istrinya pucat, membuat dia merasa cukup khawatir.


"Kanda, sepertinya aku keguguran!"


__ADS_2