
Untuk serangan terakhirnya, Aura menekan 'Enter' dan cacing pita tadi yang bentuknya pipih, berubah bentuk menjadi jaring. Menangkap mangsa dalam bentuk data yang sudah kehilangan protektornya.
Sistem mulai mengambil alih, menyedot data yang diinginkannya hingga puas. Jaringan para driver kendaraan online dan pengguna jasa kendaraan online seketika menjadi rusak dan tak dapat diakses. Membuat customer mengeluh, memberi rate 1 pada ulasan dan dalam waktu sekejap banyak yang menghapus aplikasi tersebut dari perangkat lunak mereka.
Ponsel Reza seketika tak hentinya berdering, para mitra bisnis membatalkan perjanjian kerja mereka. Hal itu membuat Reza marah. Tak sabar menunggu esok agar dia segera membereskan hacker yang membuatnya jatuh terpuruk dengan seketika.
Beberapa tempat, anggota tim protektor yang kalah melawan dua orang tersebut hanya bisa menggaruk kepala, ada yang memukul-mukul dinding, ada yang teriak-teriak tak jelas, dan Aksa ... dia hanya bisa membenamkan kepala dengan kedua telapak tangannya.
"Bagaimana mungkin bisa merakit masa depan jika seperti ini terus? Bahkan untuk menyelamatkan satu data saja aku tak mampu," ringisnya frustrasi menatap potonya dan Aura.
Aksa melihat waktu yang telah menunjukan pukul sebelas malam. Dia teringat seharian ini belum memberi kabar sama sekali pada sang kekasih karena terlalu sibuk dalam mengurus perusahaan yang mendapat serangan hacker ini. Dia memperkirakan hacker tersebut seorang perempuan. Karena memiliki tubuh mungil seperti Aura.
"Aura?"
Beberapa waktu lalu virus-virus yang menyerang sangat mirip dengan susunan yang pernah dia ajarkan pada pacaranya itu. Namun, kali ini virusnya sangat berbeda. Dia tidak mampu membacanya.
"Tak mungkin itu Aura. Pacarku adalah gadis lugu yang sangat baik. Tidak mungkin dia bisa seganas itu." Aksa terus mencoba berpikir dengan realistis.
Aksa menekan ponselnya, namun dimatikannya kembali. Dia takut bila sang kekasih telah lelap dalam tidurnya. Lalu mencoba kembali melihat hasil peperangan tadi, membuat perusahaan Harmony benar-benar jatuh terpuruk. Apalagi bisnis kendaraan online adalah bisnis yang sangat diandalkan oleh perusahaan ini.
Ponsel Aksa bergetar, matanya membesar melihat siapa yang tertulis di layar benda pipih itu. Aksa langsung menggeser tanda hijau ke atas. "Halo Sayang, Kamu belum tidur?"
"Aku terbangun Bang, kayak kepikiran terus sama Kamu. Abang baik-baik aja kan?"
Aksa langsung terbang ke langit yang ketujuh mendengar pernyataan pacarnya ini. "Aku baik-baik saja kok. Hanya saja, aku memiliki sedikit masalah dalam pekerjaan."
Aura menahan senyum simpulnya. Membayangkan laki-laki ini pasti tengah stress setelah mendapatkan kekalahan tadi. Apalagi rating kendaraan online seketika turun drastis.
"Apa Kamu mau menceritakan bagaimana masalah pekerjaanmu itu?"
"Bukan apa-apa, Kamu tidak perlu khawatir. Semoga saja masalah ini segera berakhir.
Aura sendiri merasa bingung, bagaimana bisa di antara mereka berdua malah terjadi pertentangan seperti ini. Dia menyadari, di sini dia lah sang penjahatnya. Seorang biasa yang tak sengaja terjun bebas ke dunia hitam karena satu kata yang biasa kita sebut dengan uang. Namun, apa boleh dikata? Nasi telah menjadi bubur.
Semoga ini segera berakhir. Sistem telah menjamin keselamatanku. Ya, aku harus menyelesaikan semua ini dengan segera.
"Sayang, kenapa diam saja?"
"Ooh, eehh. Semoga saja masalah tersebut segera diselesaikan dengan baik," ucap Aura gelagapan.
"Iya, aku juga berharap begitu."
💖
💖
💖
Devan sempat menyalin URL penyerangan yang dilakukan oleh hacker tadi. Kali ini yang dilakukannya adalah mengontak musuh tetapi sudah seperti teman dekatnya. Salah satu anggota mafia perjudian online dengan tingkat taraf internasional. Bahkan dia sudah menerbitkan buku kiat hacker agar tak terendus oleh pihak lawan. Devan mengontak Romi tersebut. Tanpa menunggu waktu yang terlalu lama, Romi menjawab panggilannya.
"Hmmm, ngapain nelpon gue?" jawab yang di seberang dengan ketus.
"Siapa?" terdengar suara perempuan di balik panggilan tersebut. Devan melihat jam di tangannya. Saat ini sudah waktu manusia untuk beristirahat.
"Devan," ucap Romi menjawab pertanyaan perempuan yang telah menjadi istrinya.
"Maaf, gue udah ganggu waktu istirahat Lu, Bro. Namun gue bener-bener butuh bantuan Lu. Pada siapa lagi gue mesti minta bantuan masalah-masalah hacker ini?"
"Ogah!" ucap yang di seberang.
"Please, tolong gue! Ini menyangkut masa depan bisnis gue nih. Nanti gue beri harga pas untuk bantuan Lu!"
"Males," ucap seberang tanpa berpikir panjang.
"Anggap aja ini sebagai jasa telah merelakan Sabrina untuk Lu!"
Jalur seberang diam beberapa waktu. "Namun, gue tidak bisa menjamin bisa menolong Lu dengan segera. Karena gue sendiri sedang sibuk. Jimmy meminta gue untuk membuat peralatan kesehatan agar bisa membangunkan Via dari koma-nya. Kasihan si kembar, ibunya ada tetapi seperti telah tiada."
"Gue hanya minta bantuan sedikit, tak akan menyita banyak waktu Lu kok," bujuk Devan.
"Apa tuh?"
__ADS_1
"Minta kirim alamat hacker yang telah mengacak klient gue. Gue udah coba, tetapi semua jejaknya hilang dan tak bisa gue lacak. Jadi berhubung gue memiliki bestie--"
"Sejak kapan kita jadi bestie?" sela Romi.
"Anggap saja begitu! Gue kan sudah rela menyerahkan wanita yang gue cinta, anggap saja sebagai balas jasa!"
"Terserah Lu lah. Makin banyak bicara dengan Lu bikin gue makin pusing. Kirim saja surelnya. Akan langsung gue periksa!"
"Wahaa, ini lah alasan gue tak bisa musuhan seumur hidup dengan Lu!"
"Buruan!" bentak yang di seberang.
"Iye ... iye!" Devan segera mengirimkan URL yang tadi sempat dia simpan. Setelah itu dia bisa tidur dengan nyenyak.
Saat pagi menjelang, di dalam pesan chat-nya, Romi telah mengirimkan map titik lokasi penyerangan yang dilakukan oleh hacker tersebut. Melihat map itu, Devan hanya menggaruk kepala kebingungan. Lokasi itu adalah wilayah kosan mahasiswa yang sangat padat. Devan kembali menelepon Romi, dan pria mafia itu segera menjawab panggilan dari Devan.
"Apa lagi?" bentaknya.
"Ini, alamat kosan bukannya? Gimana cara gue nentuin dengan spesifik? Di sana kan ramai. Bakalan lama waktu mengungkap identitasnya. Sedangkan klient gue hanya memberi waktu dua puluh empat jam."
"Klient lu itu nyusahin banget ya?" rutuk Romi.
"Oh iya, tunggu. Gue dapat identitasnya. Dia menggunakan kode. Nanti Lu pecahkan sendiri identitas di balik kode itu!"
"Oke, gue tunggu secepatnya."
Tak lama masuk pesan dari Romi, mengenai kode dari hacker tersebut.
4LI124
Membacanya membuat kepala Devan semakin pusing. Dia mencoba mencari kawan yang sangat hobi merangkai angka dan huruf. Semenjak sekolah, selalu menemukan makna di balik nomor polisi kendaraan seseorang. Dengan senang hati temannya itu membantu.
Satu jam kemudian, kawan yang mendapat titah tersebut mengirimkan satu nama di balik kode tersebut. AURA
Setelah itu Devan dengan segera menuju map yang dikirim oleh Romi. Kali ini dia menyamar sebagai mahasiswa. Devan yang memiliki wajah tampan nan kiyowo, dengan mudah mendapat sambutan dari ladies yang tinggal di sekitar sana.
"Apa ada Aura?" tanyanya pada salah satu penghuni kos di sana.
"Iya, aku juga lagi ujian. Hanya saja Aura meminta aku datang. Aku tak sabar untuk bertemu, tetapi tidak tahu jadwal dia." Devan mulai dengan jurus mengelabuinya.
"Oh begitu."
"Tapi aku sedikit ragu dengan Aura yang dimaksudkan apakah sama dengan Aura yang aku pikirkan. Apakah Kamu memiliki poto gadis bernama Aura itu? Aku hanya ingin memastikan bahwa dia orang yang sama atau bukan. Siapa tahu orang yang kita maksud ini berbeda."
"Benar juga ya?" Lalu tampak gadis itu mengotak-atik ponselnya. Memperlihatkan seorang gadis yang bernama Aura."Apakah ini Aura yang Kakak maksud?" tanyanya.
"Oh iya, iya... Huuufft, akhirnya ketemu juga. Dia jurusan IT bukan?"
"Bukan! Dia anak akuntansi."
"Oh iya, aku pikir dia kuliah jurusan IT. Soalnya dia jago banget lho di bidang IT."
"Oh, aku baru tahu juga," celetuk gadis itu.
"Terima kasih ya, udah membantuku." Devan mengedipkan matanya.
Pria itu segera menuju kampus tempat Aura berkuliah. Menyiapkan kamera dengan moncong yang panjang. Dia berusaha mengingat wajah gadis yang bernama Aura tersebut. Dia tak menyangka, gadis yang terlihat lugu itu merupakan seorang hacker kelas kakap.
"Ternyata wajah tak bisa lagi menjadi patokan," desis Devan menunggu di sekitar jurusan Aura.
💖
"Gimana ujian barusan Ra?" tanya Stella heran melihat wajah Aura tampak sangat kusut.
...huuufffttt...
Aura tampak menghela napas. "Aku tak tahu bagaimana nasib beasiswaku nanti La," ucap Aura dengan napas berat.
Stella menangkap satu sosok cowok ganteng tengah asik mengotak-atik kamera. Stella yang baru saja merasa patah hati karena Jay, akhirnya melihat seorang pria tampan yang tidak pernah dia lihat sebelumnya.
"Aku yakin nilaimu bakalan bagus Ra." Stella mencolek Aura menyuruh melihat ke arah cowok ganteng yang sedang uji coba kamera mahalnya.
"Sejak kapan ada dia di sini?" bisik Stella.
__ADS_1
Aura melihat sosok yang dimaksud. Laki-laki itu tampak membidik semua sisi di lobi ini. Terakhir membidik mereka berdua dan pria itu tampak menurunkan kameranya beberapa saat lalu membidiknya kembali. Aura merasa tidak nyaman atas kelakuan pria ini. Berjalan dengan gusar lalu berdiri tepat di hadapannya.
"Kamu baru saja memotret kami?" tanya Aura dengan nada sedikit tinggi.
"Kenapa Ra?" tanya Stella bingung.
"Dia ini baru saja memotret kita lho?" sungut Aura.
"Maaf-maaf! Saya hanya memotret seluruh sisi kampus kita ini. Saya akan membuat buletin untuk majalah kampus kita," ucap Devan asal.
"Waah, Kakak ini reporter kampus?" tanya Stella tampak semakin kagum.
"Tapi saya tidak suka ya, bila gambar saya ikut terpampang dalam majalah kampus. Tolong hapus gambar kami tadi!" perintah Aura masih bersungut.
"Waduh, pemarah bener gadis cantik ini?" celetuk Devan.
"Kak, kakak jangan berharap sama dia ya. Dia ini sudah sold out. Sudah punya pacar. Jadi tak usah dekat-dekat dia lagi. Masih ada yang jomblo kok. Contohnya aku," sela Stella dengan garcep.
Devan yang bingung atas yang diucapkan Stella hanya mengangguk, "Ooh, ooh... yaa."
"Buruan hapus!" bentak Aura.
"Iya, iya!" ucap Devan menekan tanda delete.
"Sini!" Aura menengadahkan tangannya.
"Untuk?" tanya Devan heran.
"Saya mau mengeceknya sendiri. Beneran sudah dihapus apa belum."
Devan menyerahkan kamera tersebut pada Aura. Tak ada lagi poto mereka berdua pada galeri kamera DLSR tersebut.
"Beneran nggak disimpan kan?" tanya Aura memastikan.
"Iya, bener. Nggak ada lagi kan?" Padahal Devan sudah mengirim beberapa gambar lewat bluetooth ke ponselnya.
"Kenapa takut banget potonya tersebar Neng?"
"Nggak suka dipoto! Apalagi orang yang tak dikenal. Ya udah, kami pergi dulu," ucap Aura ketus menarik Stella memanyunkan bibirnya. Suasana hatinya sangat buruk karena merasa kurang persiapan menghadapi ujian kali ini.
Sementara Devan mengirimkan poto mereka berdua kepada Reza. Reza yang mendapat poto kedua orang tersebut merasa heran.
Kenapa Nona mie instan dan temannya yang dikirim? Ini detektif abal-abal kali ya?
Reza segera menghubungi Devan. Panggilan pun dijawab dengan semangat 86 oleh Devan.
"Halo selamat sore Boss? Bagaimana? Kaget dengan kinerja saya yang luar biasa bukan? Belum dua puluh empat jam saya sudah berhasil menemukan pelakunya. Ini karena dedikasi saya yang lua--"
"Ekheeemm," sela Reza yang sudah tidak sabar dengan ocehan Devan. "Maksud Anda ini apa? Kenapa kirim poto mereka kepada saya?"
"Oooh, salah satunya adalah hacker yang mengganggu perusahaan Anda," jelas Devan.
"Yang mana?"
"Yang rambut panjang."
"APAAAAAA?"
...***...
AYO KAKAK-KAKAK SEMUA, RAMAIKAN CERITA MILIK TEMAN AUTHOR INI 😇😇😇
Cantika gadis manis kuat, tegar tetapi rapuh dalam hidupnya sejak ia terlahir sudah bersahabat dengan airnata. Tetapi ia punya keyakinan kelak ia akan menemukan cinta dan kebahagiaannya, walau penuh lika liku kehidupan. Gavin cinta pertamanya, yang membuat hidupnya terasa indah, karena sesuatu hal harus berpisah dengan dirinya Pada akhirnya ia menemukan kebahagiaan lain melalui Cinta Online. Tetapi benarkah cinta online itu tulus, dan abadi atau semakin membuat hidup Cantika semakin kacau?? Atau akankah cinta pertamanya adalah cinta sejatinya? dan akan kembali dalam hidupnya?
...*bersambung*...
...Jangan lupa menekan tanda Favorit, Like, Gift, Vote, dan Komentar ya!...
...Terima kasih!...
__ADS_1