CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER

CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER
132. Melindungimu


__ADS_3

Di suatu tempat, seorang telah menemukan markas baru dengan peralatan baru tengah mengoperasikan pekerjaan. Kali ini Jendra dijadikan sebagai asisten untuk memantau pekerjaan budak-budak Marcell yang lainnya.


Waktu bergulir pada saat seharusnya Reza pulang menemui istrinya. Namun ada pertemuan yang membuatnya tidak bisa kembali kepada Aura. Sehingga memaksanya harus menunggu hingga akhir minggu, baru bisa ke tempat istrinya berada. Meski pulang kantornya sedikit kemalaman, Reza tetap memaksa kembali semalamannya agar bisa segera bertemu dengan Aura.


Saat akan memasuki gerbang tol, tampak kembali pemeriksaan polisi yang semakin ramai. Saat giliran dirinya diperiksa, Reza menanyakan penyebab banyaknya polisi yang turun untuk memeriksa pengendara yang keluar dari kota ini.


"Kami sedang mencari seseorang, Pak," terang polisi tersebut.


"Mencari siapakah gerangan?"


"Seorang hacker, Pak. Seorang perempuan muda."


Reza tercenung memdengar penjelasan polisi barusan. Entah kenapa dia langsung berpikir bahwa pasukan kepolisian itu sedang memburu istrinya. Setelah pemeriksaan, Reza melajukan kemdaraannya. Teringat wajah istrinya yang berada dalam bahaya.


Reza sampai di villa saat istrinya telah lelap dalam tidurnya. Setelah membersihkan diri, dia ikut merebahkan diri memeluk orang yang dirindukan dan dikhawatirkannya itu.


Jangan takut, Sayang. Kamu akan aku jaga sekuat tenaga yang aku bisa.


Aura terbangun saat menjelang pagi, melihat wajah Reza yang sedang memeluknya dalam lelap. Aura tersenyum membelai pipi suaminya, membenamkan diri ikut memeluk pria itu.


"Gitu aja nih?" Ternyata orangnya malah terbangun dari tidurnya.


"Aku tu kangen tau nggak, apa lagi si eboy."


Aura menepuk keningnya. Dia merasa salah langkah telah membangunkan si eboy. Akhirnya dia hanya memutar tubuh membelakangi Reza dan membenamkan dirinya di dalam selimut.


"Lho? Kok gitu?" Reza ikut masuk ke dalam selimut.


"Jadi yang Kamu rindukan hanya itu? Bukan aku beneran?"


"Ngomong apaan sih? Kamu tuh yang salah, pakai datang tamu segala di saat aku baru merasakannya. Kalau seandainya aku dapat jantung dari dulu, mungkin---"


Aura keluar dari selimutnya dan langsung terduduk. Memandang Reza dengan tatapan tajam. "Jadi Kamu udah pernah sebelumnya hah?" Reza menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Wajahmu mengatakan hal lain! Katakan! Apa saja yang Kamu sembunyikan!"


"Sumpah! Belum pernah!"


"Bohong!" Aura bangkit dari tempat tidurnya. Dengan perasaan kesal, dia bangkit dan keluar dari kamar. Reza langsung mengikutinya di belakang.


"Udah! Jangan deket-deket!"


"Kamu kenapa sih? Kenapa tiba-tiba marah begini? Padahal Kamu yang bangunin aku!"


Aura bersidekap dada, melirik Reza di ujung matanya. Lalu membuang muka membelakangi Reza. Suaminya itu menggaruk kepalanya karena merasa sangat heran. Reza mencoba mendekat dan berbicara.


"Kamu kenapa?"


Aura hanya diam dan kembali membuang muka. Membayangkan suaminya dulu yang seorang playboy, tiba-tiba membuat perasaannya menjadi marah. Dia memikirkan bahwa Reza telah melakukannya bersama banyak pacar lainnya.


"Kamu berpikir yang tidak-tidak tentang aku ya?"


"Aku kan belum selesai bicara. Kamu sudah menyerobot duluan seperti itu." Aura mendengkus masih bersidekap dada.


Reza menarik tangan Aura, bersikap layaknya anak kecil. Memasang wajah sedih seperti memohon. "Aku, hmm, memang pernah---"


"Nah, kan? Pernah?" Aura memotong ucapan tersebut dengan segera.


"Dengar dulu! Sebelumnya aku memang pernah mencoba untuk itu, tapi aku tak pernah sukses. Kamu lihat sendiri sebelum ini kan? Jantungku itu tak kuat menahan sesuatu yang berat. Aku tu, hmmm ... intinya bersama Kamu adalah yang pertama kali."


"Bohong!"


"Sumpah!"


"Sudah berapa banyak tubuh perempuan yang Kamu lihat? Masih tak mau ngaku!"


Reza sedikit tersentak. "Itu memang kekhilafanku masa muda. Tapi tak ada yang seindah Kamu."

__ADS_1


"Pantesan aja seenaknya nyulik aku dikasih baju minim dulu. Jangan-jangan Kamu mau memper ko saa aku dulu?"


Mendengar hal itu, Reza tiba-tiba menjadi diam. Dia bangkit lalu masuk ke kamar. Perasaan Aura tiba-tiba meledak dengan sendirinya. Lalu menuju ke arah luar villa.


Padahal udah tau dia seperti itu ... Tapi kenapa ya?


Aura melangkahkan kakinya menyambut pagi menuju ke sawah yang ada di belakang villa. Dia duduk di sebuah dangau sembari memandangi padi yang baru ditanam. Melihat pemandangan ini, sedikit membuat hatinya terasa lebih lega.


Entah kenapa kali ini dia ingin membuat orang-orangan sawah. Ide yang tiba-tiba muncul ini membuat dia mulai bergerak memunguti kayu-kayu yang tergeletak di tepian sawah. Sesaat, dia kembali ke villa mengambil beberapa benda yang diperlukan. Lalu berpas-pasan dengan suaminya yang kembali mendiamkannya.


Reza yang sedari tadi diam, melihat istrinya itu sibuk sendiri yang tak memedulikannya. Akhirnya dia merasa tertarik mengikuti Aura dan melihat dari jauh. Memperhatikan tingkah laku Aura sambil bersandar di bawah pohon.


Sampai kapan kita harus bersembunyi seperti ini?


Reza kembali memperhatikan Aura sedang mengikat satu kayu dengan yang lain. Memberikan baju dan topi pada rangkaian kayu yang telah dibuatnya. Membentuk bola dari kumpulan baju untuk dijadikan kepala. Melihat tingkah laku istrinya ini, Reza mendekat dan akhirnya ikut serta dalam membuat orang-orangan sawah.


Aura yang tadinya ceria dalam kegiatannya sendiri, melirik Reza kembali dengan wajah cemberut. Namun Reza seperti mencoba mencairkan suasana kaku di antara mereka. Reza memasangkan mata pada kepala orang-orangan sawah itu, sambil mencolek dagu oval istrinya.


"Apaan? Kenapa ikut-ikutan? Tadi udah marah, kenapa hilang aja marahnya?" Aura bersungut tetapi masih asik dengan kegiatannya menjahit topi itu pada kepala yang dibuatnya agar tidak terlepas.


Sementara Reza memasangkan lem pada dua buah kancing untuk dijadikan mata. Setelah semua selesai, Reza membantu menegakan orang-orang sawah itu di atas pematang.


"Kenapa harus baju aku yang dikasih ke orang sawah?" Reza mengernyitkan keningnya.


"Iya, biar aku bayangin ini Kamu yang jadi tukang usir burung-burung nakal."


Reza mencoba memeluk Aura dari belakang. Istrinya menepis namun ditarik kembali oleh Reza. "Kenapa Kamu baru marah seperti ini? Kamu kan sudah tahu aku ini memiliki banyak pacar."


"Tauk!"


"Apa Kamu cemburu?" Reza menunggu jawaban. Ekspresi wajah Aura menjawab apa yang baru ditanyakannya tadi.


Reza memaksa memeluk Aura kembali. "Sayang, aku akan selalu menjaga dan melindungimu ..."

__ADS_1


__ADS_2