
Reza memaksa memeluk Aura kembali. "Sayang, aku akan selalu menjaga dan melindungimu ..."
"Ada apa?" celetuknya.
"Bukan apa-apa, aku hanya ingin mengatakan itu!"
"Jangan bohong! Pasti ada sesuatu?" Aura melirik Reza, matanya terlihat mengawang jauh, entah memikirkan apa.
Tak lama, Reza menarik kedua tangan Aura dari belakang. "Kamu pernah nonton Titanic gak? Ini bagian paling berkesan di film itu lho?"
Reza merentangkan kedua tangan Aura. Berdiri di tepian sawah dengan posisi tersebut. "Anggap kita berada di lautan!"
"Bagaimana kalau kita ke laut beneran?" tanya Aura tiba-tiba jadi bersemangat.
Reza menggelengkan kepalanya. Aura dengan status yang disandangnya kali ini akan membuatnya tidak bisa bergerak bebas. Apalagi jika harus keluar kota lagi, takutnya akan ada pemeriksaan di sana sini.
"Lain kali, aku janji akan membawamu keliling dunia jika masalah ini telah usai. Bukan hanya sekedar ke pantai aja."
"Kapan?"
"Yaaa, setelah kita berdua bebas pergi ke mana-mana."
"Kalau kelamaan nanti aku keburu ha---"
Reza menangkap sesuatu yang aneh. "Ha- apa?"
Aura menggeleng, lalu pura-pura memainkan orang-orangan sawah. "Nanti kalau aku ditinggal kelamaan, aku akan memeluk dia saja. Biar dia jadi Kanda buatku."
"Dih, benda jelek itu masa disama-samain denganku?"
"Iya, sama-sama jelek, persis!" cibir Aura.
Kekesalan Aura telah mencair, membuat Reza sedikit lebih tenang. "Susah ya menikah sama anak piyik? Dikit-dikit ngambek, dikit-dikit ngambek. Giliran aku ngambek, malah tidak dipedulikan."
"Udah tau, nanya. Salah sendiri nikah sama bocah!" Aura masih asik mencibir suaminya ini.
__ADS_1
"Kamu kenapa? Minggu lalu Kamu itu masih mesra gitu denganku. Kenapa tiba-tiba saat ini nyinyir kayak netizen gini sih?"
Aura melepas genggaman Reza, dan menutup kedua telinganya. "Gak tau, gak tau! Tanyakan sendiri sama netizennya!"
"Kata orang, kalau istri tiba-tiba aneh begini, itu tandanya dia lagi hamil," ucap Reza.
Aura tersentak mendengar ucapan Reza barusan. Aura melepas kedua tangan dari telinganya. Bergerak menuju pondok tempat dia duduk tadi. Reza mengikuti dari belakang. Kelakuan Aura, membuat Reza jadi semakin curiga.
"Terus gimana nih? Apakah bercocok tanam waktu itu berhasil?" Reza duduk di samping Aura dan terus menggodanya.
Aura mengedikan bahu. "Terlalu dini menyimpulkan ini semua."
"Jika Kamu beneran hamil, aku malah bahagia banget tau nggak sih? Ternyata bibit milikku ini sangat unggul. Sekali josss langsung jadi."
Muka Aura memerah mendengar ucapan suaminya yang terkesan tak tahu malu itu. Dia menyembunyikan muka. "Apa yang harus aku katakan pada teman-teman di kampus?"
Reza menarik Aura dan direbahkan di atas pahanya. "Bagaimana kalau Kamu cuti dulu? Sepertinya kondisi saat ini belum kondusif."
Aura menggeleng karena bagi mahasiswa tingkat pertama belum bisa mengambil cuti. "Jadi saat ini aku benar-benar sedang dicari ya?"
Para petani sudah mulai berdatangan untuk perawatan pada tanamam padi mereka. Untuk mengairi, dan menyiangi sawah dari hama rumput. Salah seorang petani tersebut menaruh rantang bekalnya di pondok tersebut. Hal ini membuat Aura segera bangkit dan berdiri.
"Maaf ya, Bu. Kami berdua numpang duduk di sini tanpa permisi."
Ibu itu tertawa dan menggelengkan kepalanya. "Ya, namanya juga di sawah, Neng. Siapa pun boleh main. Hanya saja main suami-istrinya jangan di sini! Tetapi di dalam kamar."
Ibu-ibu tani yang lain ikut tertawa menuju petakan sawah masing-masing. Aura menarik Reza yang masih cuek duduk di sana. "Maaf ya, Bu. Kami pulang dulu."
Reza menahan Aura yang berjalan di depannya. Lalu berjongkok menyuruh istrinya naik ke punggung. "Ayo naik! Aku tak mau embrioku yang mulai tumbuh jadi gugur karena kamu terlalu capek."
"Iih, jangan lebay deeeh." Aura melirik ibu-ibu tani yang memperhatikan mereka.
"Ayooo, naik! Capek nih!" perintah Reza. Aura melihat ibu-ibu yang terus memperhatikan mereka. Dia merasa malu bila jadi tontonan seperti ini. Aura melanjutkan perjalanan meninggalkan Reza sendirian.
"Maaf ya, Bu? Harap dimaklumi aja?" pinta Reza.
__ADS_1
"Kalian beneran udah nikah ya? Kalau belum mau dikenalkan dengan anak saya nggak."
Reza hanya bisa tersenyum. "Saya pulang dulu." Reza berjalan sambil menggelengkan kepala. Membayangkan reaksi istrinya jika tahu hal demikian. Sedangkan mengingat masa lalunya saja, Aura sudah marah-marah tak jelas, apalagi jika dijodohkan dengan anak anak ibu barusan. Reza tersenyum simpul mengikuti langkah Aura yang telah menjauh.
💖
"Bagaimana? Apakah lokasi keberadaanya sudah ditemukan?" tanya Marcell kepada Jendra.
Jendra menggelengkan kepalanya. "Sepertinya dia sudah berada di luar kota. Karena Polisi belum berhasil menemukan keberadaannya."
"Bagaimana dengan CEO Harmony itu?" tanya Marcell kembali.
"Beberapa waktu terakhir ini dia tetap bekerja. Namun, sebelumnya saat usai kejadian waktu itu, dia sempat tidak masuk kantor beberapa hari yang lalu."
"Pantau nomor kendaraannya lewat CCTV!" titah Marcell kembali.
"Kita tidak mengetahui nomor polisi kendaraanya!" bantah Jendra mengerutkan keningnya.
"Ah, guobl*k, itu saja sampai tidak tahu!"
"Mana aku tahu harus mencatat nomor kendaraannya."
"Kita harus memantau Reza, untuk memdapatkan Nona Hacker itu kembali. Walau tak bisa memilikinya secara utuh, setidaknya dia harus menjadi mesin pencari uangku yang tangguh!" Sebuah senyuman tipis tersungging miring di bibirnya.
Sementara Aksara telah menyelesaikan tugasnya tepat sesaat akan memulai kuliah di esok hari. Sejenak, ditatapnya foto saat bersama Aura dulu. Foto itu dilepas dari posisinya dan dimasukan ke dalam sebuah kotak.
Beberapa detik akan menyimpan kotak tersebut, Aksa kembali mengeluarkannya dan menempelkan kembali di tempatnya semula.
'Boleh kah aku terus mengharapkanmu?"
Aksa membaringkan tubuh untuk beristirahat, setelah begadang semalam suntuk menyelesaikan program yang diembankan kepadanya. Aksa kembali teringat pada spam yang membuat mantannya itu terpampang jelas dengan sempurna dalam waktu dua belas jam.
Meski agak sulit, Aksa berhasil menyamarkan spam tersebut, sehingga si pembuat spam tersebut tak menyadari bahwa karyanya telah hilang dari jaringan. Spam hanya bisa dilihat oleh pihak pembuat, sebagai banner yang aktif.
Semoga, pihak mereka tidak menyadari itu.
__ADS_1
💖