CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER

CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER
53. Barang sitaan


__ADS_3

"Om, Om? Apa yang terjadi?"


Aura menepuk-nepuk pipi Reza, "Bi ... Bibi ...!" teriaknya memanggil wanita yang tadi mengantarkan makanan untuknya.


Tampak wanita paruh baya tergopoh dengan beberapa asisten lain. Mereka semua terkejut melihat sang pemilik hunian tergeletak dalam rangkulan gadis ini.


"Apa yang terjadi Nona?"


"Entah lah! Saya menemukan dia sudah tergelak begitu saja. Cepat hubungi nomor gawat darurat!"


💖


💖


💖


Saat ini Aksa sedang berada di atas kereta menuju kota dimana Aura berada. Cowok ini sedang dilanda rasa khawatir karena Stella mengatakan savety detector yang diberikan olehnya ditemukan di pojok tempat dekat penampungan sampah. Aksa memberikan map sesuai signal GPS yang dikeluarkan oleh savety detector tersebut kepada Stella. 'Apa yang terjadi padanya?' Aksa merasa tidak sabar untuk segera sampai di sana.


Reza kembali dilarikan ke rumah sakit. Aura mengikuti perawat yang mendorong brangkar tersebut ke bagian penanganan darurat. Pakaian Reza yang kedodoran, tanpa ada rasa malu dikenakannya. Baginya lebih baik begini dari pada tidak memakai pakaian sama sekali.


Aura menunggu sendirian di luar ruang penanganan. Wajahnya terlihat sangat khawatir, mencoba menebak apa yang telah terjadi pada pria tersebut. Gadis itu bolak-balik menunggu hasil penangan dokter yang terasa cukup lama.


Ponselnya masih belum dikembalikan, sehingga dia tidak bisa berbuat apa-apa. Orang yang menyimpan benda-benda miliknya sedang tak sadarkan diri di rumah sakit ini. Setelah lebih dari tiga puluh menit menangani Reza, akhirnya dokter keluar. Menengok ke kiri dan ke kanan mencari keluarga pasien.


Dengan sedikit ragu Aura mendekat, meski dia bukan siapa-siapa bagi orang itu, tetapi dia lah yang mengantar Reza ke rumah sakit. Dokter mengerutkan wajah melihat perempuan muda yang datang mendekat.


"Bagaimana keadaannya Dok?"


Dokter melirik memperkirakan siapa perempuan muda ini bagi sang pasien. "Apakah Anda ini istrinya?"


"Istri?" tanya Aura bingung.


"Iya, bukan kah dia datang bersama Anda, ke rumah sakit ini?"


"I-iya sih ke rumah sakit ini. Ta-tapi saya bu--"


"Begini, akhir-akhir ini keadaan jantung suami Anda terlihat semakin memburuk. Sepertinya banyak kejadian yang membuat kondisi jantungnya semakin menurun. Apa yang terjadi padanya?" Dokter menatap netra perempuan muda ini yang disangka istri pasiennya.


"Sa-saya kurang tahu Dok. Namun, akhir-akhir ini sepertinya dia memang banyak menghadapi masalah."


Tiba-tiba dokter tersebut mengerutkan keningnya saat menatap Aura. "Apa Anda tidak memperhatikannya? Bukan kah dia itu suami Anda?"


"Maksudnya Dok?"


"Sepertinya salah satu penyebab kondisinya turun adalah karena depresi, ternyata istrinya yang kurang perhatian. Hmmm, menikah dengan wanita lebih muda memang memiliki tantangan yang sangat besar. Maunya diperhatikan terus, namun tak mau membalas untuk memberi perhatian. Bahkan, keadaannya yang memburuk pun tidak Anda sadari."


"Sa-saya Dok? Tapi--"


"Untuk ke depannya, temani dia dengan sebaik mungkin. Setidaknya Kamu jangan menambah beban pikirannya!" Dokter terus memotong ucapan Aura. Sehingga kesalahpahaman terus berlanjut.


"Baik Dok, terima kasih." Aura mengintip lewat kaca bening yang ada di pintu. Semua peralatan melekat pada tubuhnya. Merutuki segala tindakan yang telah dilakukannya pada pria ini.


"Kalau begitu saya kembali dulu. Semoga dia segera pulih, dan segera mendapatkan jantung yang cocok untuknya."


Aura mengangguk, merasa bingung atas segala hal yang tiba-tiba menimpa dirinya dengan Om Mesum tersebut. Perlahan Aura membuka handle pintu, dan melangkah kan kakinya satu demi satu. Aura berdiri di sisinya. Melihat grafik pergerakan detak jantungnya yang masih cukup tinggi.


"Om, semoga lekas sembuh yaa. Seandainya dari dulu aku tau pemilik Harmony itu Kamu, dan tahu keadaanmu seperti ini, mungkin aku menolak semua yang diperintah oleh Sistem." Aura melihat jemari lelaki ini sedikit bergerak.


Dengan ragu, dia memainkan jemari itu. Akhirnya Aura menggenggam tangan itu "Maafkan aku Om, apa yang harus aku lakukan untuk membayar semua kesalahanku."


...kruuucuukk...

__ADS_1


Perut Aura terasa sangat lapar. Lalu berpikir kembali bahwa dia tidak memiliki uang satu sen pun untuk membeli makanan. Sementara perlengkapan milik Reza telah berada bersamanya, termasuk dompet milik pria kaya ini.


"Om, apakah aku diperbolehkan mengambilnya sedikiiiiit saja?" Aura merogoh dompet milik Reza, tetapi sebuah tangan menghalanginya. Secara refleks mata Aura menoleh ke pemilik tangan. Orang yang tadinya tergolek tak berdaya saat ini menatapnya dengan tajam.


"Mau mencuri lagi?"


Aura melonjak melihat pria ini sudah sadar kembali. "Syukur laaah, udah bangunn."


"Ekheemm, mau Kamu apakan uang yang ada di dalam dompetku?"


Gadis itu hanya menyengir menggaruk dagunya. "Aku lapar Om, sejak pulang kuliah kemarin belum makan."


"Ck.ck.ck," decak Reza mencoba bangkit dengan perlahan. Merebut kembali dompet yang ada pada tangan gadis itu.


Aura hanya mencabikan bibirnya, memegang perut menahan lapar. Reza membuka dompetnya, mengeluarkan selembar uang, dan uang bewarna orange tersebut diserahkan pada Aura. "Nih, beli makanan dulu sanah! Beli yang murah aja! Jangan menghambur-hamburkan uang! Karena mencari uang itu sangat susah!"


Aura keluar dari ruang perawatan intensif, menggarukan kepalanya berpikir bisa beli apa dengan uang lima ribu rupiah. "Huuu, dasar pelit!"


Setelah itu Aura pergi menuju koperasi untuk membeli roti dan air mineral. Membawa benda-benda itu kembali dan segera melahapnya. "Lumayan lah, walau cuma angin," sungutnya.


Gadis itu kembali masuk ke dalam ruang yang penuh peralatan tadi, tampak Om Mesum tengah merenungkan sesuatu. Aura duduk di bangku yang tersedia. "Lagi mikirin apa?"


Reza mendelik melihat gadis itu, "Masih nanya? Saya itu rugi gara-gara Kamu! Perusahaan yang saya bangun dari bawah hancur dengan seketika!"


"Yaaa, maaf!" sesalnya.


"Kamu pikir semua akan selesai dengan mengucapkan maaf saja?"


"Lalu aku harus berbuat apa?"


"Kembalikan lagi semua data milik kami yang telah Kamu curi! Jika tidak, Kamu dan pacarmu akan saya penjarakan!" Aura menatap pria itu dengan seribu bahasa.


"Apa?" tantang pria itu.


Aura menatap Reza dengan lekat, "Jika saya tidak bisa mengembalikannya bagaimana? Semisal data-data itu telah hancur atau terhapus, bagaimana?"


"Ya, siap-siap saja! Saya tak peduli dengan apa yang Kamu katakan! Yang saya tahu, Kalian berdua harus membayar kerugian saya!"


"Ada pilihan lain?" Aura terus berusaha bernegosiasi dengannya.


"Ada satu pilihan lagi! Semua akan saya anggap beres jika Kamu mengakhiri hubungan dengan pacarmu itu! Menikah lah denganku!"


Aura menghentakan kakinya dan berdiri. "Apa? Menikah? Denganmu? Tak salah?"


"Ya, menikah!" ucap Reza dengan pasti.


"Oooh, tidak bisa!" tolak Aura.


"Jika Kau tolak, berarti Kau harus menjalani pilihan sulit itu!"


"Aku punya banyak alasan untuk tidak menerima pilihan tersebut. Pertama, saya tidak menyukaimu. Kedua, saya terikat kontrak beasiswa tidak boleh menikah sebelum saya menyesaikan pendidikan strata satu saya. Ketiga, kita ini sama-sama tidak memiliki perasaan. Tentu akan sangat sulit membina rumah tangga tanpa ada rasa."


'Kata siapa tak bisa?' batin Reza


"Baik lah, jika Kau tak ingin menikah denganku dan tak mau dipenjara bersama pacarmu, maka Kau harus memperbaiki segala kerusakan yang telah Kau perbuat! Tak hanya itu, Kamu juga harus mengembalikan semua data yang telah dicuri!"


Aura menengadahkan tangannya di hadapan Reza. Pria itu memandang gadis dengan tatapan penuh tanya. "Mana benda-benda milikku?"


"Semua milikmu akan saya sita!"


Aura menghempaskan kedua tangannya pada kasur di atas brangkar itu dengan kasar. "Lalu bagaimana cara saya hidup, hah? Kau ambil semua yang aku miliki! Jangan-jangan Kau menginginkanku mati dengan perlahan?"

__ADS_1


"Saya tak mau tahu! Itu semua urusanmu! Terserah mau pilih yang mana!"


"Huh!" Aura melenguh keluar dari kamar itu. Dia memikirkan bagaimana cara untuk menghubungi Tuan Sistem. Sementara ponselnya sudah menjadi barang sitaan oleh Om Mesum. Dia merasa khawatir jika uangnya akan dipotong lagi jika tidak melaksanakan misi. Tidak hanya itu, dana miliknya juga akan ditarik sebagai denda jika tak membalas pesan dari Sistem dengan segera. Kepalanya sudah sibuk menghitung dana yang akan hilang.


"Heh, kenapa bengong aja?"


"Gara-gara Kau, Aku akan kehilangan banyak uang! Cepat ganti!"


"Egepe!" cibir Reza.


Tiba-tiba Aura teringat buku tabungannya masih ada di rumah indekosnya. Aura langsung balik kanan tanpa mengatakan apa-apa.


"Dasar tak sopan! Kalau pergi ngomong dikit napa?" dengus sang pria di atas brangkar.


💖


"Apa Aura ada?" tanya Aksa pada salah satu penghuni kos di sana.


"Waah, saya kurang tahu Kak," ucap teman kosan Aura dengan mata berbinar.


"Ada apa?" tanya yang lain.


"Ini ada yang nanya Aura."


"Lagi? Baru kemarin ada yang nanya Aura, sekarang cowok lain lagi yang nanya," celetuk yang baru datang.


"Maksudnya?" tanya Aksa.


"Kemarin tu ada cowok yang nanya Aura juga. Iih, beruntung amat dia," celetuk gadis itu.


"Kenapa beruntung?" tanya teman kos yang satu lagi.


"Dikelilingi cowok tamvan mulu. Kapan giliranku yang ditanyain?" sungutnya.


"Oh ya Kak, dari tadi malam saya belum lihat Aura sih. Mungkin pulang kuliahnya kemaleman, dan berangkat ke kampusnya pagi buta."


Apa yang sebenarnya terjadi padanya?


"Oh, kalau begitu saya akan kembali lagi nanti. Jika dia sudah pulang, tolong sampaikan bahwa aku datang mencarinya."


"Baik Kak. Nanti aku sampaikan. Kalau boleh tau Kakak siapa?"


"Aksa!"


"Oooh, Aksa. Baik lah. Nanti akan saya sampaikan."


"Baik lah, kalau begitu terima kasih." Aksa melangkahkan kakinya meninggalkan lokasi itu.


Selang beberapa waktu kemudian, Aura telah sampai ke rumah kosnya. Kawan kosan yang ditanya tadi melihat kehadiran Aura. "Lho? Kamu udah balik? Tadi ketemu cowok yang bernama Aksa ngga?" tanyanya pada Aura.


"Apa? Dia ada di sini?"


"Baru aja dia cabut. Kalau kamu kejar, mungkin masih kelihatan!" jelasnya.


"Oh, ya udah! Terima kasih." Aura tidak jadi masuk ke kamar kosnya. Memilih memutar arah dan mengejar kekasihnya.


...bbrrraaaakk...


Terdengar suara benturan keras di jalan raya depan gang menuju kosnya.


__ADS_1


Genta Arakahn. Pria yang akrab dipanggil Genta itu baru saja menginjak usia ke 29 tahun. Ia bekerja sebagai pelayan dan tukang kebun di sebuah rumah mewah milik orang terkaya di New York. Ia merupakan pria baik, polos, jujur, dan lugu untuk ukuran pria. Suatu hari ia tak sengaja melakukan kesalahan besar terhadap nona mudanya yakni Alice Nekhade Arakhe wanita yang baru saja berulang tahun ke 17 tahun dan mengalami kelumpuhan dan bisu akibat kecelakaan. Alice merupakan wanita periang dan tingkahnya kekanakan, cukup polos, namun ia tak secengeng cewek polos lainnya. "Senyuman yang indah bak bunga mekar itu harus layu karena diri ku. Maafkan aku nona telah lancang menodai mu, dan maafkan juga aku telah jatuh hati padamu." ___Genta___


__ADS_2