CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER

CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER
40. Misi kedua level 2


__ADS_3

"Apa Kau pernah merasakan kehilangan uang sebanyak itu?" tanya Aura dengan dengan tatapan nanar.


Sombong sekali orang ini. Memang berapa kekayaan yang telah diberikan Tuan Sistem kepadanya?


Tampak senyuman sinis di balik remang cahaya menghiasi bibir pria bernama Marcell itu. Dia tengah memikirkan sesuatu. Kemudian mengotak atik ponsel miliknya. Setelah itu dia bangkit dan menaiki kendaraan motornya kembali.


"Ayo, saya antar kembali ke sarangmu!" ucapnya.


Apa? Sarang? Emangnya dia pikir aku ini hewan apa?


Aura hanya menaikan lengan panjangnya ke atas siku. Mendengkus menaiki motor tersebut duduk bersidekap tangan di dada.


"Yakin duduk seperti itu? Saya tidak akan bertanggung jawab bila terjadi apa-apa!"


Aura turun kembali, "Kalau begitu, saya jalan kaki saja!"


"Yakin?"


"Iya! Pergi saja sanah! Kalau gak ikhlas menolong ya nggak usah datang!"


Aura pergi meninggalkan lokasi, dan Marcell mengendarai motor dan meninggalkannya. Aura melihat bekas minuman kaleng, lalu ditendang dengan sekuatnya.


"Apanya yang bisa diandalkan? Dasar Sistem tukang bohong! Awas yaa Sistem, aku ngambek!!!" rutuknya.


Kaleng minuman yang ditendang Aura tadi tepat mengenai helm Marcell. Dia kembali memutar kendaraannya, melaju dengan pelan ke arah gadis yang tengah marah-marah itu.


'Sebenarnya dia cantik, hanya saja dia sangat tempramental. Sama persis dengan cara bicaranya saat mengirim pesan,' batin pria itu.


Marcell berhenti tepat di dekat Aura. Aura terus berjalan dengan mata mendelik tajam. "Nggak banget ninggalin anak orang sendirian! Pergi aja sanah! Saya bisa jalan kaki sendiri! Dasar, Sistem sialan! Ngasih partner yang enggak banget!" Aura terus ngedumel meninggalkan Marcell yang standbye di atas motornya. Dia menatap dalam diam mengikuti kemana gadis itu melangkah.


Tiga puluh menit kemudian, Aura telah sampai di dalam kamar kos dengan sekujur tubuh dipenuhi peluh. "Ini olah raga malam yang luar biasa!"


Aura menengok ponselnya yang ketinggalan sejak tadi. Dibaca pesan dari Sistem.


[Anda gagal dalam menjalankan misi kali ini. ]


[Namun jangan kawatir, pemotongan DANA kali ini tidak semenakutkan yang Anda bayangkan.]


[Kami hanya memotong DANA yang anda miliki sebesar Rp50.000.000,-]


Membaca pesan dari Sistem membuat perasaan Aura menjadi semakin kesal. "Woooii, hanya woooii!" rutuknya kesal.


Aura berpikir kembali, "Jumlahnya sepertiga dari dana yang kumiliki. Tetapi lumayan lah. Bukan setengahnya," celetuk gadis itu cukup kesal.


^^^[Terserah]^^^


Aura merasa sangat lelah, dan merebahkan diri. Hari ini adalah hari Minggu membuatnya tidak perlu memusingkan waktu untuk bangun. Aura sengaja membuat ponselnya dalam mode silent. Tanpa getar, tanpa suara.


💖


Aura terbangun saat waktu telah menunjukan pukul sepuluh pagi. Matanya terasa sangat berat. Dia masih dalam posisi memeluk selimutnya, karena tidak memiliki guling.


Meski matanya masih terpejam, dalam pikirannya tengah mencoba mengingat-ingat sesuatu. Akhirnya dia meraba-raba ponsel miliknya. Melihat sekian jumlah panggilan tak terjawab dari sang pacar. Beberapa pesan dari Aksa bertanya mengapa panggilannya tidak dijawab.


Aura menekan tombol untuk memanggil sang kekasih. Beberapa kali mencoba, namun tak ada tanda-tanda panggilannya masuk pada ponsel Aksa.


Mungkin lagi ngechas hape kali ya?


Lalu gadis itu mulai bangkit dari posisi tidurnya. Dia merasakan tubuhnya sangat pegal. Semua belulang terasa lepas dari persendian.


"Gara-gara lari tengah malam, apa gara-gara jalan sepanjang malam ya?"


Aura memutar-mutar persendian dan lehernya. Setelah itu mengerjakan tugas perkuliahan untuk minggu depan. Saat asik mengerjakan tugas, masuk sebuah panggilan dari ayahnya.

__ADS_1


"Hallo Yah."


"Halo Ra. Bagaimana kabarnya?"


"Aura baik-baik saja Yah. Keluarga di kampung halaman bagaimana kabarnya?"


"Ya, Alhamdulillah baik semua. Apa benar keadaanmu baik-baik saja Ra? Kamu tidak melakukan hal yang aneh kan?"


"Aneh? Maksud Ayah?" Aura mulai merasa was-was.


Dari balik panggilan, terdengar suara krasak krusuk tidak jelas. "Halo Ra." Terdengar suara sang ibu.


"Halo Bu, bagaimana keadaan Ibu? Sakit kepala Ibu udah tidak kumat lagi kan?"


"Ibu alhamdulillah udah jauh lebih baik. Hanya saja, akhir-akhir ini Ibu bermimpi bahwa Kamu ditangkap oleh banyak orang. Apa kamu melakukan sesuatu yang dilarang?"


Aura tercekat, merasa kesulitan menelan ludah untuk kembali masuk ke dalam. "Ma-masa aku melakukan sesuatu yang dilarang Bu?"


"Bener?"


"Iya, Bu. Semua baik-baik saja kok. Ibu jangan khawatir! Nanti penyakit Ibu malah kumat lagi?"


"Ini hanya perasaan Ibu yang memikirkan anak perempuan yang jauh di negeri orang. Jika Kamu di sini, mungkin Ibu tidak akan sekhawatir ini. Kamu hati-hati ya? Meski keluarga kita miskin, kamu jangan melakukan hal-hal yang dilarang oleh norma!"


"Iya, Bu. Jangan khawatir. Aku baik-baik saja. Aku lagi mengerjakan tugas yang diberi dosen untuk seminggu ke depan."


"Oh, lagi buat PR. Kalau begitu kerjakan dengan baik. Kami berharap Kamu menjadi orang hebat ke depannya."


"Ibu doakan Aura sukses dan lulus dengan nilai yang bagus yaa."


"Kami selalu mendoakan Kamu menjadi yang terbaik."


Lalu panggilan usai, air matanya menetes satu per satu. "Maafkan Aura Ibu, Ayah. Aura sudah tidak bisa keluar dari pekerjaan ini. Oleh karena itu, aku berharap Ayah dan Ibu berdoa agar semuanya usai. Setelah itu aku bisa bebas kembali." Aura menyeka air matanya, melanjutkan mengerjakan tugas miliknya.


Aura segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Saat mandi, tiba-tiba dia teringat pada Aksa. Segera menyelesaikan mandinya, lalu mengecek ponsel. Apakah sudah ada balasan apa belum. Saat memeriksa ponsel, ternyata malah kosong tanpa ada balasan satu pun.


Aura mencoba menghubungi sang pacar. Namun, masih belum aktif juga. Ada apa ya? Apa terjadi sesuatu padanya? Semoga Abang baik-baik saja.


Aura keluar dari kamar, membeli sesuatu untuk makan sore sekaligus malam. Setelah itu dia kembali mengirim beberapa pesan yang tak kunjung sampai.


💖


Setelah turun dari kereta, Aksa segera menuju rumah kos dan mengabari Aura bahwa dia telah sampai dengan selamat. Dia sempat bertemu Leka, gadis dari fakultas sebelah, selalu mengejar dan mendekatinya. Namun, Aksa berusaha dengan tenang menghadapi gadis itu.


Saat terbangun, Aksa mencoba menghubungi Aura. Masih terngiang dalam benaknya bahwa sang pacar menangis saat ditinggalkan olehnya. Namun, tak ada jawaban atas panggilan tersebut.


Terdengar suara ketukan pintu dari luar. Aksa segera membuka, ternyata itu Cakra sahabatnya, telah datang untuk mengajaknya pergi.


"Hey, molor mulu. Joging yuk?"


Aksa melihat waktu telah menunjukan pukul enam lebih tiga puluh pagi. "Boleh juga. Udah lama tidak melakukan peregangan otot nih."


"Yuk lah! Gue tunggu di luar!"


Aksa mendengar peringatan bahwa ponselnya telah kehabisan daya. Akhirnya memilih untuk non-aktifkan ponsel tersebut dan segera menyambungkan pada listrik untuk mengisi daya.


Aksa bersiap dengan pakaian olah raga serta sepatunya. Aksa segera mengejar Cakra. Dia melupakan hal yang besar, yaitu mengunci pintu kamarnya. Ada seseorang yang mengetahui hal tersebut, diam-diam masuk ke kamar Aksa. Mengambil ponsel yang sedang mengisi daya, tidak lupa mengambil laptop milik Aksa yang berada di dalam tas.


Dia adalah teman Leka, gadis yang selalu mengejar Aksa. Dia sengaja disuruh Leka untuk tinggal di sana, sebagai mata-mata untuknya. Dengan segera, dia menghubungi Leka.


"Ka, seperti biasanya, dia selalu lupa mengunci pintu kamar. Ponselnya sudah gue ambil," ucap cowok bernama Ujang.


"Oh, ya udah. Nanti kita kerjain sama anak-anak!" ucap gadis itu dengan senyuman licik.

__ADS_1


Sementara Aksa tengah menikmati suasana lari pagi bersama Cakra dan temannya yang lain. Tidak hanya itu, dia juga bermain basket bersama yang lain. Ditonton oleh para ladies yang kerajingan melihat Aksa yang tampan, tinggi, dan lihai. Setelah merasa puas dan lelah, mereka memilih untuk kembali.


"Oh, iya. Tadi lupa mengunci pintu. Tetapi, biasanya aman saja kan?"


Aksa membuka pintu kamar. Tanpa pikir panjang dia segera membersihkan diri dan sarapan seadanya. Semua telah dilakukan, Aksa segera mencari ponsel miliknya. Namun dia terlihat kebingungan karena tidak menemukan benda itu.


"Kayaknya tadi kutinggal lagi nge-chas deh. Apa aku lupa ya?"


Aksa mencari dan memeriksa ke dalam tasnya. Kali ini dia terkejut tidak menemukan laptopnya yang sangat berharga. Hal tersebut membuat Aksa merasa yakin, ada pencuri yang telah masuk ke dalam kamarnya. Aksa mengetuk pintu anggota kosan yang lain.


"Apa lihat ada orang yang masuk ke kamar gue?"


"Waaah, gue juga kurang tahu. Gue aja baru balik nih."


Aksa mengetuk pintu yang lain. Namun, jawaban yang sama didapatinya. Saat ini dia kehilang benda untuk berkontakan dengan kekasihnya. Teman Leka bernama Ujang, menyunggingkan senyum liciknya saat melihat wajah frustrasi Aksa.


💖


Untuk kesekian kalinya Reza harus menikmati bermalam di rumah sakit. Sang ibu terus berkoar-koar agar Reza kembali tinggal bersama mereka. Reza membenamkan kepalanya di bawah bantal, meringkuk di atas brangkar. Reza merasa jengah atas segala omelan yang dilontarkan sang ibu.


"Kamu yo harus jaga diri ta Mas. Moso tiap saat masuk rumah sakit? Kamu suka tidur di sini ta? Apa ada gadis yang Kamu incar bekerja di sini?" Sang ibu terus merecoki anak sulungnya yang dalam keadaan tidak baik-baik saja itu.


"Ini karena memperjuangkan perusahaanku Ma. Mama pikir, aku bahagia tidur di sini?"


"Yaaa, kali aja ada calon mantu Mama seorang dokter. Makanya kamu doyan banget nginap di sini?"


"Beberapa waktu lalu sih ada. Namun, dia sudah mau menikah dengan orang lain."


Sang ibu terkejut mendengar pernyataan sang anak. Menarik bantal yang menutupi kepala anaknya. "Kenapa Kamu tak bilang sama Mama jika salah satu pacar Kamu berprofesi sebagai seorang dokter?"


#### $$$$ ####


Hingga malam hari, ponsel pacarnya masih belum bisa dihubungi. Sistem telah menyuruhnya melakukan misi peretasan secara online. Perasaan Aura tengah dilanda galau memikirkan apa yang tengah terjadi pada Aksa.


[Selamat malam, kali ini misi yang harus Anda selesaikan adalah membuat performa tradding online milik Harmony Grub menjadi buruk.]


[Seperti yang telah kita ketahui, bahwa kepercayaan masyarakat tengah menurun pada sistem tradding ini.]


[Misi kali ini, tak jauh berbeda atas apa yang Anda lakukan sebelumnya.]


[Kali ini Sistem akan memandu Anda sepenuhnya hingga sukses.]


[Seperti biasanya, Anda cukup mengacak sistem keamanan dari perusahaan tersebut.]


[Setelah itu, Anda tinggal menyerahkan kelanjutannya kepada Sistem.]


[Jika Anda gagal, DANA yang Anda miliki akan ditarik secara otomatis sebesar 50%]


[Jika Anda berhasil, maka Sistem secara Otomatis mengirimi Anda DANA sebesar Rp2.000.000,-/hari]


[Dana tersebut akan terus dikirim setiap harinya, hingga Anda benar-benar menyelesaikan misi untuk melumpuhkan Harmony Grup.]


[Jika perusahaan itu benar-benar sudah tidak berdaya, maka Sistem akan menyatakan Anda sukses dalam menjalankan seluruh misi level kedua. DANA akan masuk secara otomatis ke akun Anda sebesar Rp750.000.000,-]


[Apa ada pertanyaan mengenai sistem kerjanya?]


Aura merasa keberatan dengan pemotongan dana yang dimilikinya sebesar 50%. Namun, jika sukses dana tambahan harian yang dia dapat lumayan besar. Sebelum membalas pesan dari Sistem, masuk pesan dari kontak milik Aksa.


Dengan senyuman dan perasaan lega, Aura segera membuka pesan tersebut. Namun, matanya terbelalak dan tangannya bergetar saat melihat sebuah foto yang dikirim untuknya.


...*bersambung*...


...Jangan lupa menekan tanda Favorit, Like, Gift, Vote, dan Komentar ya!...

__ADS_1


...Terima kasih!...


__ADS_2