
Tiba-tiba pintu jendela Aura dibuka dari luar. "Kamu masih coba-coba menghubungi dia ternyata?"
"Astogeh, iiiihhh ... aaaahhhhhhkkkk!" Aura berteriak cukup kencang.
Semua yang ada disekitarnya melayang mendarat menimpa Reza. Aura masih mengenakan handuk baru keluar dari kamar mandi. Mendengar banyak panggilan pada ponselnya. Oleh karena itu, Aura langsung melakukan panggilang balik.
"Kenapa, Ra?" tanya Aksa dari seberang panggilan.
Gadis itu kembali menutup jendela. Jendela ini memang sudah tidak bisa terkunci dengan baik semenjak dicongkel beberapa waktu lalu. Setelah itu dia mengikat kedua gagang jendela tersebut untuk menghindari kejadian serupa.
"Ra, Ra?" panggilan dari Aksa masih terabaikan.
Aura memilih untuk segera mengenakan pakaian. Setelah itu, dia mengecek kembali panggilan tersebut. Ternyata panggilan telah dimatikan oleh orang di seberang. Gadis itu akan melakukan panggilan ulang. Namun, sebelum melakukan panggilan, ponselnya sudah bergetar menandakan adanya panggilan masuk. Itu panggilan dari Om Mesum.
"Apa?"
"Cepat keluar!" ucap Reza dengan ketus.
"Ogah!"
"Buruan!"
"Hmmmmffff!!!"
Namun, panggilan sudah ditutup oleh Reza membuat gadis itu membatalkan rencana marah-marahnya. Panggilan ulang kepada Aksa pun dibatalkan. Dengan rambut yang masih terbungkus handuk, dia keluar dengan kesal. Langkah kakinya terdengar sangat kasar. "Kenapa lagi?"
"Oooh, jadi ternyata begitu? Diam-diam kalian masih berhubungan?"
Aura mendelik. "Maksudmu apaan sih nguping pembicaraan orang lain? Membuka jendela kamar orang seenaknya lagi? Punya bakat terpendam menjadi maling?"
Kak Fan yang tadi mendengar teriakan Aura pun segera menyusulnya ke beranda. "Tadi teriak kenapa, Ra?" Kak Fan melirik Reza, pria yang berbeda dari yang terakhir dia temui. Warga kosan pun ramai memperbincangkan pria ini.
"Kalau boleh tau, siapakah laki-laki ini, Ra?"
Wajah Aura seketika gugup harus memberi jawaban apa. Karena dia belum siap memberitahukan kepada dunia bahwa pria ini adalah orang yang memaksanya untuk menikah.
"Saya adalah kekasihnya yang baru," jelas Reza tiba-tiba. Dia memahami bahwa Aura tidak ingin orang lain mengetahui bahwa dia akan menikah dalam waktu dekat.
"Oooh, beneran pacar baru Aura ya?"
Aura hanya mengangguk. Dia mengerti arah pembicaraan Kak Fan ini. Warga kosan mulai heran, Aura berganti kekasih dalam waktu yang terlalu singkat. Reza melihat kekalutan di wajah gadis itu.
"Iyah, kami baru beberapa hari. Emang ada apa?"
__ADS_1
"Ooh, eeeh, nggak apa, Mas. Kalau begitu silakan dilanjutkan!" ucapnya.
Aura memperhatikan reaksi seseorang yang dipanggil dengan Kak Fan tersebut. Orang itu hanya sedikit menggelengkan kepala. Setelah itu berlalu masuk ke dalam kamarnya.
"Hobi banget gitu ya pamer sana pamer sini?"
"Lhah? Bahkan hubungan kita lebih dari itu." Reza tampak berpikir sejenak.
"Tunggu! Kamu jangan mengalihkan pembicaraan! Kenapa masih saja menghubungi dia? Apakah blokiran padanya sudah Kamu buka?"
Aura menyerahkan ponselnya. "Cek aja sendiri!"
"Hmmff, ni anak bener-bener dah!" rutuk Reza. Ponsel itu diambil lalu dikantongi.
Aura membelalakan matanya. "Iih, hapeku? Belum puas punya banyak selingkuhan? Masih aja mau nambah lagi?" Gadis itu merebut kembali ponsel miliknya. Terjadi lah aksi saling rebutan.
...bruuughh...
Bangku panjang yang diduduki pria itu, roboh. Reza terjungkang ke belakang dan Aura ikut tertarik rebah dalam pelukannya. Aura merasa de javu akan kejadian ini. Dia teringat pada mimpinya tadi malam. Dengan segera bangkit dari posisi itu.
Iiihh, amit-amit, batinnya.
Reza menyandarkan kepalanya pada kedua telapak tangan. Melihat wajah gadis itu yang terlihat sedikit canggung Sehingga dengan refleks dia mengedipkan mata.
"Ekheeem ...," terdengar deheman seorang pria. Kedua orang ini serempak menoleh ke arah suara.
"Mas Marcell?" Aura sedikit mengernyitkan dahinya. "Kenapa ke sini?"
Marcell mengangkat sebuah tas yang terlihat cukup berat. "Ada yang menitipkan ini untukmu."
Gadis itu teringat janji Sistem tadi malam. Dia langsung merebut benda yang ada di tangan pria tersebut. Dikeluarkan dan matanya terbelalak melihat lambang buah tersobek gigi.
"Beneran ini yang dimaksud?"
"Sepertinya begitu. Apa yang terjadi pada kalian berdua?" tanya Marcell yang melihat Reza berusaha bangkit dari rebahannya.
Apakah mereka saling mengenal? Menarik ....
"Ada orang gila di sini. Tolong dibasmi dari tempat ini?" Aura mencibir pada pria yang mengibas-ngibaskan pakaiannya membersihkan dari debu.
Reza memperhatikan kembali pria yang memberikan benda berbentuk laptop tersebut. Dia sangat hapal bahwa pria ini adalah pria yang dia temui beberapa waktu lalu. "Apa kalian saling mengenal?"
Reza mencoba-coba mengingat sesuatu. Dia sudah mengetahui bahwa nona hacker ini adalah Aura. Teringat pada kejadian pengejaran pada penyusup beberapa waktu lalu. Reza bergantian menunjuk Aura dan Marcell. Mencoba menyusun teka-teki yang sudah mulai bisa dia temukan jawabannya.
__ADS_1
"Ooh, sekarang saya tahu. Jadi Kau lah orangnya?"
Marcell menautkan kedua alisnya. Menerka maksud dari hal yang diucapkan oleh Reza barusan. Namun, dia memilih melanjutkan untuk mendengarkan.
"Kalian berdua yang menyusup pada perusahaanku itu bukan?" Suara Reza semakin tinggi menarik kerah kemeja yang dikenakan Marcell.
"Jadi Kau lah yang mengajarkan gadis ini menjadi seorang penjahat?"
"Oom, ada apa ini?" Aura mencoba menyusup masuk ke bagian tengah. Nyempil di antara Marcell dan Reza.
"Pertama, Kau tendang saya di pinggir jalan. Kedua, kau lah yang memukul hingga saya tidak sadarkan diri di kantor. Itu semua ulah Kau bukan? Katakan!" bentaknya.
Marcell menyunggingkan senyum tipisnya. Menatap Aura dan Reza saling bergantian. "Jadi dia sudah tahu semua?" Aura menggeleng cepat pura-pura tidak paham.
"Jadi benar dia sudah tahu?" Marcell menekankan ucapannya menatap Aura.
Aura tak bisa berkata apa-apa lagi. Kenyataannya memang benar, bahwa Reza telah mengetahui identitas dirinya. Marcell menyibak tangan Reza yang menarik kerah pakaiannya tadi.
"Jika sudah ketahuan begini, permainan akan semakin menarik." Marcell pergi meninggalkan kedua orang itu.
"Hei, tunggu! Mau kemana Kau?" teriak Reza hendak mengejar Marcell. Namun, Aura menghalangi langkahnya.
"Minggir! Aku ingin tahu apa maksud dan tujuannya mengerjai perusahaanku selama ini."
"Bukan dia! Bukan, dia juga sama sepertiku."
Reza menatap panjang pada gadis itu. "Maksudnya?"
"Aku akan menceritakan semua yang aku tahu. Tapi bukan di sini."
Setelah itu mereka menuju tempat yang dirasa cocok untuk berbicara. Mereka memilih di tepi danau buatan area kampus Aura.
"Kamu janji, untuk tidak menyela pembicaraanku hingga selesai?" tanya Aura.
"Baik lah, ceritankan lah!"
Aura menceritakan semua yang dialaminya. Mulai saat dia online di warnet, hingga dia mendapatkan Sistem Kekayaan menjadi Hacker. Menceritakan semuanya hingga peretasan yang dilakukan hingga ke perusahaan milik Reza.
"Kenapa tidak Kamu tolak sejak awal?"
"Nah, itu! Aku sudah terjebak semenjak awal. Sistem mengancamku, jika aku tidak melakukan aksi peretasan tersebut, maka identitasku akan disebarluaskan."
Reza berpikir sejenak. Baginya apa yang dikatakan oleh gadis ini, tak ada yang masuk akal. "Kamu hanya mengarang-ngarang cerita agar aku menjadi simpatik kan?"
__ADS_1