
"Security ... Security ... ada orang gila di sini ..." teriak Keken lari menjauh, disambut tepukan tangan pria itu.
"Sim salabim jadi apa, prok prok prok ...."
Aura menyandarkan dirinya pada lengan suami. "Heran, kenapa almarhum bisa kenal sama orang seperti itu ya? Narcisnya gak habis-habis. Alias muka badak. Apa dia gak bisa bedain mana wajah orang yang suka sama orang yang kagak?"
Reza mencubit dagu istrinya. "Ssstt, dia itu masih mencari jati diri."
"Huh, orang yang banyak pengalaman," cibir Aura.
"Kamu juga udah banyak pengalaman tau gak? Tadi malam itu, kamu itu hooot banget tau nggak? Jadi pengen lagi aku."
Tiba-tiba Aura mengingat-ingat sesuatu. Dia langsung membuka kalender pada ponselnya. Keningnya berkerut menghitung tanggal. Reza melirik orang di sebelah sedang komat kamit mendoakan sesuatu.
"Kenapa?"
"Aku berharap siklusku yang terlambat udah dua minggu ini bukan karena aku hamil."
Dengan refleks Reza menginjak rem menghentikan mobilnya. Reza menarik pundak sang istri. "Jadi apa yang dikatakan Bibi memang bener kan? Aksa minta adik kan? Ayo kita periksa aja sekalian!"
"Tapi kadang-kadang aku juga telat siklus hingga sebulan waktu masih P dulu."
"Itu mah beda, kalo masih P. Sekarang P kamu udah aku terobos hingga Aksa ada di dunia ini." Reza kembali melajukan kendaraannya, kali ini dia langsung ke klinik kandungan.
💖
"Berdasarkan siklus yang Ibu katakan, kemungkinan Ibu memang tengah hamil. Apalagi kalian sangat aktif dalam berhu bungan suami istri."
Wajah Aura terasa panas mendengar ucapan dokter barusan. Dia merasa malu dan melirik suaminya dengan kesal. Akan tetapi, wajah suaminya terlihat sangat sumringah mendengar kabar tersebut. Dia tampak sangat bahagia.
"Tapi, Dok. Bisa saja itu karena siklus yang tidak teratur kan?"
__ADS_1
"Bisa jadi karena itu juga." Perasaan Aura terlihat lega dengan seketika. "Untuk memastikan, ayo kita cek dulu."
Perawat terlihat telah menyiapkan brangkar dan alat untuk pemeriksaan USG bagi Aura. Perasaannya berkecamuk tak menentu. Dokter memulai pemeriksaan. Wajah dokter tampak tersenyum memastikan akan dugaannya yang tidak meleset.
"Ini lihat, Bu! Kantung rahim ibu telah terbentuk. Ini menandakan bahwa sudah ada benih yang hendak tumbuh di dalam sana. Ibu memang sudah positif hamil."
"TIDAAAAAAAK ...."
💖
💖
Aura akan memakan sesuatu yang sedang berada di tangannya. Reza dengan cekatan merebut buah bewarna kuning itu. Dia juga mengambil piring yang ada atas meja. Di dalam piring, terisi penuh oleh buan nenas. Di sampingnya ada minuman berkarbonasi. Lalu ada secangkir jamu.
"Dari mana kamu dapat semua ini?"
"Banyak di kulkas." Dia berusaha merebut nenas yang diambil suaminya tadi.
"Kamu tidak boleh konsumsi semua ini!"
Mendengar amarah sang Tuan Muda, Bibi tergopoh membersihkan semua benda tersebut.
"Aku mau, aku mau!" Aura berusaha merebut nenas yang masih dipegang oleh Reza. Reza bergerak menuju tong sampah, lalu membuangnya.
"Apa kamu tidak menginginkan anak dariku lagi?"
"Aku masih belum siap memberi Aksa adik. Aksa masih minum ASI. Apa kamu tega sama anak kamu?"
"Seharusnya aku yang bilang seperti itu kepada kamu! Apa kamu tega sama bayi kita di dalam rahim itu? Apa satu nyawa itu tidak berarti bagi kamu? Kalau Aksa, masih ada sufor yang menggantikan asupan nutrisinya. Ini nyawa lho?" Suara Reza tegas menggelegar memecah suasana hening di rumah itu.
Akhirnya tangis Aura pecah. "Aku belum mau hamiil. Aku masih kuliah. Aksa masih kecil. Apa kamu tega sama kami berdua?"
__ADS_1
Reza menurunkan emosinya, membelai rambut Aura. "Sekali ini saja. Setelah itu kita cukupkan setelah anak kedua."
"Nanti kalau dia cowok, kamu minta sampai cewek gimana?" sungutnya.
Reza masih membelai rambut Aura. "Kalau dia masih cowok, nanti kita tunda sampai kamu usia tiga puluh tahun. Anak-anak sudah besar semua kan? Namun, jika dia cewek, kita cukupkan saja. Kita fokus ke masa depan mereka setelah itu."
"Janji ya?"
"Iya, janji!" Reza memeluk Aura kembali membelai perut yang sudah tidak serata dulu.
"Terus kuliah aku gimana dong?" Mendorong Reza, dia masih merasa shock dengan dirinya yang telah berbadan dua kembali.
"Ya, gak apa. Cuti lagi aja!"
"Aku telat tamat dong dibanding yang lain?"
"Iya, gak apa. Ini kuliah kan tidak dipatok tamat seberapa. Kalau tidak melanjutkan pun juga tidak apa."
Aura menggeleng tegas memukul meja makan. "Tidak mau!"
💖
💖
💖
Halooo sobat readers semua, Author mau mengajak kakak semua yang baca karya Om Mesum dan Nona Hacker ini mampir pada karya kece badai milik sobatnya Author. Semua karya yang dimilikinya oke punya lhooo..
napen: sendi andriyani
judul: Partner Ranjang Mr Zen
__ADS_1
jangan lupa mampir, tab ganda cinta dan jempolnya okeee...