
Reza merebut ponsel di tangan Aura. "Babang," ucapnya membacakan nama dari panggilan terakhir. Reza menarik Aura dengan kasar.
"Jadi ini alasan Kamu sampai kerajingan menerima hape ini kembali?"
Aura meronta, melepaskan tangan kekar yang mengapit kedua lengannya. "Lepaskan! Aku hanya ingin bicara secara empat mata untuk mengakhiri semua dengan cara baik-baik."
Tampa berkata apa-apa, Reza melempar ponsel itu dan pergi dalam diamnya. Aura segera memungut telepon seluler tersebut dengan segera. Mengecek dan memeriksa benda ini yang dilempar Reza barusan. Beruntung, masih bisa menyala dengan baik.
Reza segera memesan tiket untuk keluarganya. Tiba-tiba dia ingin mereka semua segera pergi ke kota kelahiran calon istrinya itu. "Kamu tahu? Kamu lah yang membuat semua ini menjadi lebih cepat!"
Aura terus berusaha mencoba menghubungi Aksa. Namun, panggilannya tak kunjung masuk juga. Akhirnya, dengan modal nekat, dia memesan ojek online dengan tujuan kampus Aksa tanpa sepengetahuan Reza.
Setelah memesan tiket pesawat untuk penerbangan terakhir, Reza kembali mencari gadis itu ke tempat tadi. Namun nahas, Aura sudah tidak terlihat. Dia mencoba menghubungi, tetapi panggilannya tidak aktif.
"Sial, kontak ponselnya yang tadi belum sempat kusimpan. Kemana lagi Kau? Mau mencoba kabur dariku?"
Aura sudah berada di area kampus Aksa. Suasana sangat ramai meski waktu sudah menjelang malam. Dia bingung, harus mencoba mencari Aksa kemana. Satu hal yang dia tahu bahwa Aksa tinggal di area sekitar kampus. Namun, area ini sungguh sangat lah luas.
Akhirnya, Aura memberanikan diri bertanya kepada siapa pun yang dia lihat. "Kak, maaf ... boleh numpang tanya? Apa kenal dengan Aksa?"
"Maaf, saya tidak kenal."
Aura mencoba menghubungi Aksa kembali, tetapi panggilan masih belum aktif juga. "Cepat hidupkan hapenya Bang!" ringisnya.
Aura akhirnya bertanya ke sana ke mari menanyakan seorang yang bernama Aksa. Berharap menemukan jarum di antara tumpukan jerami. Akan tetapi, entah sekian ratus orang yang dia tanya, tak satu pun yang mengenal Aksa.
Akhirnya setengah menangis, Aura berjalan tanpa Arah. "Apakah tak ada kesempatan untuk aku mengatakan maaf satu kali saja kepadamu?" Malam sudah semakin larut. Dia mulai kedinginan.
Dengan pakaian seadanya, tanpa mengenakan jaket, dia berjalan memeluk diri sendiri demi menghangatkan tubuh. Akhirnya dia mengeluarkan ponsel, menekan kembali panggilan untuk Aksa. Panggilan itu masih belum aktif juga.
Reza mulai panik, gadis itu belum kembali juga setelah dua jam menghilang. Dia teringat seseorang, Stella anak Mr. Lee. "Dia pasti tahu kontak lama milik gadis itu." Reza segera menghubungi Mr.Lee.
Karena keasikan mengerjakan program yang dia rancang, Aksa baru menyadari, bahwa dia belum memiliki sesuatu untuk mengisi perutnya. Dengan langkah sedikit malas, dia memasang jaket lalu berjalan keluar. Dia mencari sesuatu yang bisa dimakan untuk malam ini.
Aksa melewati satu tempat yang tidak terlalu ramai. Di sana dia melihat seorang gadis berambut panjang tengah berjongkok meringkuk membenamkan wajah. Aksa hanya melirik heran karena dia tidak mengenakan jaket di malam yang mulai dingin ini. Gadis itu, mengingatkannya pada seseorang yang dicintainya.
__ADS_1
Tak mungkin itu dia kan?
Aksa melanjutkan langkahnya dengan sedikit ragu. 'Kalau dibiarkan begitu saja, takutnya malah diganggu orang iseng.'
Aksa kembali mendekati gadis itu. Semakin dekat, dia tahu gadis itu tengah menangis. Tangannya ingin menyentuh, tetapi dia merasa sangat ragu.
"Teteh, kenapa menangis?"
Gadis itu terkesiap mendengar seseorang baru yang saja menyapanya. Mengusap air mata serta merapikan rambutnya. Dia bangkit dan menoleh. "Aku ...," Aura terdiam, ternyata orang itu adalah lelaki yang dicarinya hampir setengah gila.
"Ra? Ini beneran Kamu?" Sebuah rasa tak terungkap memenuhi jiwanya. Sebuah kebahagiaan yang tidak dia duga sama sekali. Aksa mendekati gadis itu dengan langkah satu per satu ingin segera menggapainya.
Namun ternyata, Aura memilih untuk mundur secara perlahan. Dia memberi aba-aba agar lelaki muda itu tidak semakin mendekat. "Bang, cukup!!!" Aura menggeleng pelan.
Raut wajah Aksa seketika berubah. Gadis yang sudah berulang kali dihubungi tetapi tak kunjung masuk. Kini dia benar-benar hadir tepat di hadapannya. Namun, mengapa malah menolak kehadirannya?
"Apa yang Kamu lakukan di sini?"
Aksa melihat gadis itu tampak sedikit pucat. Melepaskan jaket yang dikenakan lalu memasangkan padanya meski dia terus menolak.
Akhirnya Aura pasrah membungkus dirinya yang telah kaku karena kedinginan. Aksa menarik resleting jaket itu hingga ke atas. Memasangkan tudungnya, agar gadis itu segera merasa hangat sepenuhnya.
"Bang, aku ke sini memang sengaja untuk mencarimu." Aura menunduk memainkan jemari di kedua tangannya.
"Bang, aku sengaja datang ke sini memang untuk meminta maaf secara langsung kepadamu. Maafkan, atas segala hal yang terjadi di antara kita. Jika aku tahu semua ini akan terjadi, mungkin akan lebih memilih memendam rasa itu untuk selamanya."
"Setelah ini, mungkin kita tak akan bertemu sebagai sepasang kekasih yang saling mencintai lagi. Aku akan segera menikah, dan tidak berhak lagi mendapatkan cintamu. Kamu harus melupakan aku! Aku yakin, Kamu akan menemukan seseorang yang lebih pantas untuk berada di sampingmu."
Ponsel Aura bergetar, dari kontak yang tidak terdaftar di ponselnya, tetapi diabaikannya. "Bang, meski sebenarnya aku sangat mencintaimu, tapi takdir berkata lain. Dia tidak memberi restu terhadap hubungan kita."
Ponselnya kembali bergetar, kali ini dia menjawab panggilan tersebut.
"Halo."
"Kamu di mana?"
__ADS_1
"Om?"
"Jangan panggil Om! Cepat katakan kamu berada di mana?"
"Aku akan segera kembali!"
"Aku akan menjemputmu!"
"Aku, aku--"
"Cepat katakan Kamu ada di mana?"
"Aku akan mengirim kan lokasiku."
"Buruan!"
Panggilan ditutup. Aura kembali menatap Aksa. "Jaga dirimu baik-baik. Jangan pernah menghubungi aku lagi. Jangan berusaha mencariku!"
Aura mundur dengan perlahan, lalu berlari dengan terurai air mata. Aksa hanya memandangi bayangan gelap itu hingga benar-benar tak tampak lagi.
"Tak semudah itu! Tak semudah membalikan telapak tangan. Aku akan menunggumu. Menunggu hingga jandamu! Ya, akan aku tunggu sampai kapan pun itu. Meski rambutku memutih dimakan usia. Meski semua hilang karena demensia. Aku akan tetap menunggumu." Aksa menunduk, melihat kedua tangan yang belum mampu menggapai gadis yang dicintainya itu.
Aura berlari sejauh mungkin. Kembali panggilan masuk pada ponselnya. "Iya, Om?"
"Kanda!"
"Iya, Kanda?"
"Cepat kirim saat ini Kamu ada di mana?"
"Baik lah!"
Aura segera mengirimkan lokasinya. Dia melihat sekitar tempat itu cukup gelap dan sepi. Dia bergeser mencoba mencari tempat yang agak terang. Pada sebuah pertigaan gang, muncul sekelompok preman. Wajah mereka terlihat garang. Lehernya tampak semburat tato yang mungkin memenuhi tubuh mereka.
Melihat ada seorang gadis berkeliaran sendirian di sana, mata mereka menjadi nyalang. Dengan seringai merekah di wajah mereka, mereka mengikuti dari belakang.
__ADS_1
"Hey, manis!"