CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER

CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER
76. Menghubungi Aura


__ADS_3

"Siapa?"


"Tauk, liat aja sendiri!" Lalu gadis itu berjalan masuk ke kamar, di mana ia mendengar seseorang telah membicarakan dia.


Jadi dia orangnya? batin Aura.


Aura terus memperhatikan tetangga kamarnya itu hingga menutup pintu. Tampak mata tajam yang menatap Aura dengan sesaat. Aura hanya mengerjapkan matanya, lalu menggelengkan kepalanya.


Nggak banget bila meladeni yang kayak begitu, sungutnya dalam hati.


Aura mengacak rambutnya yang memang sudah kusut. "Dah berapa lama nggak keramas ya? Kok gatel banget?" Dia menggaruk kepalanya sambil berjalan menuju beranda depan. Tampak seseorang duduk di bangku sebelah rumah kos tersebut.


Pria itu langsung terkekeh melihat gadis berambut kusut muncul di sana."Eeeh, Non, mandi dulu kek kalo mau ngedate dengan calon su--"


Dengan cepat Aura membekap mulut pria itu dengan tangannya. Dia tersebut adalah Reza. Pria yang sudah tidak bisa menahan rindu terhadap orang yang telah menawan hatinya. Reza menolak tangan Aura.


"Diiih, tangan bekas iler dikasih ke mulut orang? Atau Kamu mau berbagi iler denganku?" godanya. Aura hanya mendengkus bersandar pada dinding, dengan melipat kedua tangannya.


"Jika iya, bukan lewat tangan! Tapi lewat ini!" Menunjuk bibirnya.


Kebetulan lewat beberapa penghuni kos yang hendak berolah raga pagi. Sehingga tidak sengaja melihat percakapan yang rancu tersebut. Lalu mereka pergi dengan segera, sambil melirik Aura dan Reza diiringi oleh gosip yang bumbunya semakin bertambah.


"Udah, Kamu mandi dulu sanah! Aku ingin mengajakmu jalan-jalan."


Aura melirik dengan muka bebek. "Ogah! Apaan sih? Nggak penting amat pagi-pagi gangguin orang tidur?"


Reza melirik jam tangannya. Keningnya berkerut menganggap jam segini bukan lagi waktu untuk tidur. "Udah mau jam tujuh, Non! Mandi dulu sanah! Kita cari sarapan yuk?"


Aura kembali menggaruk kepalanya. "Ini gara-gara hair styless mu nih. Kebanyakan semprot hair spray! Membuat kepalaku gatal luar biasa!"


"Bilang aja kutu-an, pakai salah-salahin hair styless segala?"


"Apa? Kutuan?" Aura segera mengambil sendal jepit yang berada di kakinya. "Ayo bilang sekali lagi! Biar aku kasih sarapan sendal jepit!"


"Belum mau mandi? Kalau gitu ayo mandi bareng?"


Tiba-tiba sendal jepit melayang bagai suriken ninja, mendarat tepat di wajahnya.


💖


Aksa melihat ponselnya, sudah beberapa kali mencoba menghubungi Aura, tetapi panggilannya tak kunjung tersambung. Biasanya week end seperti ini, hari-harinya dihabiskan dengan menelepon sang pacar seharian. Namun, sekarang tiba-tiba status pacaran yang belum seumur jagung, kembali ke status awal.

__ADS_1


tok ... tok ... tok


Ada yang mengetuk pintu kamar Aksa. Tanpa menunggu jawaban dari yang punya kamar, Cakra sahabat Aksa langsung nyelonong masuk ke dalam kamar itu.


"Hey, Bro! Bengooong mulu?"


"Hmmm, ..."


"Akhir-akhir ini Lu gue lihat sering melamun. Ada apa?" Aksa hanya menggeleng tipis. Kembali melamun menatap ponselnya.


Cakra ikut penasaran, melihat apa yang tengah membuat Aksa ini merenung. Namun, yang dia lihat hanya ponsel dengan layar tertutup. "Kenapa hape lu Bro? Rusak?"


Aksa kembali menggeleng. Dia masih menatap ponsel tersebut. Akhirnya Cakra merasa geram mengguncang pundak Aksa."Lu kenapa Bro? Ceritakan lah? Percuma aja gue jadi bromance buat Lu, jika begini. Kalau ada masalah itu kudu dibagi. Siapa tau gue punya solusi buat Lu."


"Hmmmfff, kontak gue diblokir."


"Oleh? Pacar Lu?" Aksa mengangguk. "Lhoh? Kenapa?"


"Kami baru saja putus."


Cakra manut-manut, akhirnya dia paham akan alasan Aksa banyak melamun akhir-akhir ini. "Apa alasannya?" Aksa hanya menggeleng.


"Enggak apa? Geleng-geleng kayak sapi doang, mana gue ngarti? Enggak tahu apa enggak mau cerita?" tanya Cakra kembali.


"Ada, selalu ada malah. Kan tiap beli paket data, sekalian sama paket telponan. Hanya cewek yang mau gue telpon aja yang kagak ada."


Aksa menengadahkan tangannya. "Boleh gue pinjam buat menelepon dia?"


Cakra berpikir sejenak. "Nanti jangan salahkan gue jika dia sering-sering nelpon ke sini?"


Aksa tidak berkomentar, dia hanya menengadahkan tangannya menunggu Cakra mengeluarkan ponselnya. Setelah ponsel tersebut berada di tangannya, Aksa segera menekan nomor kontak Aura. Panggilan tersebut masuk, tetapi tidak ada jawaban.


Apa dia tipikal tidak mengangkat panggilan jika nomor kontak tidak tersimpan?


Aksa mengulang kembali. Namun, masih tidak diangkat juga. Akhirnya ponsel tersebut kembali diserahkan kepada Cakra dengan kecewa. "Sudah lah, mungkin dia tidak ingin bicara dengan gue."


Tak lama, panggilan dari kontak tidak tersimpan masuk pada ponsel Cakra. "Sa, kayaknya dia menelepon balik."


Aksa segera merebut benda itu. Mengecek nomor kontak, dan ternyata memang adalah kontak milik Aura. Aksa segera mengangkat panggilan itu. Memilih diam mendengar suara Aura.


"Halo, ini siapa? Aku baru selesai mandi. Tidak tahu ada panggilan masuk," ucap yang diseberang.

__ADS_1


"Halo?"


"Halo? Apa orang iseng ya?" Terdengar gumaman gadis itu di seberang.


"Ra ..." ucap Aksa singkat.


"Siapa ini?" tanya Aura kembali.


"Masa Kamu tidak mengenal suaraku?"


"Siapa ya? Beneran nggak ada di kontak!" ucap Aura.


"Ini aku," ucap Aksa.


"Iya, aku, aku siapa?" Suara Aura mulai terdengar kesal.


"Aksa ...," ucapnya.


"A-abang?"


"Kenapa kontak teleponku diblokir?"


"Maaf, Bang. Aku tak pernah membkolir kontakmu. Itu dilakukan oleh Om Mesum."


"Oh ...." ucap Aksa sedikit kaku. "Kenapa tidak Kamu kembalikan?"


"Katanya akan memenjarakanmu. Aku tak mau dia mempenjarakanmu."


"Kamu tahu, Ra? Aku lebih suka jika dia memenjarakan aku, daripada seperti ini. Setelah semua Kau akhiri, semakin hari hatiku semakin terasa sepi. Makin ke sini, semua terasa semakin hampa."


Aura terdiam, di seberang panggilan itu, dia merasakan hal yang sama. Akan tetapi, dia selalu direcoki oleh Reza. Kadang membuat dia terlupa bahwa hatinya sendiri sedang sakit karena merindu.


"Ra, apakah Kamu masih mencintaiku?"


Aura tentu sangat mencintai Aksa. Bagaimana pun juga, Aksa adalah cinta pertama baginya. Orang yang bertahun-tahun dipikirkannya. Ketika semua terkabul, masa pacaran mereka malah sangat singkat.


"Bang, lebih baik Kamu mencari perempuan lain. Aku yakin banyak sekali yang pasti menyukaimu. Contohnya saja dulu gadis yang mengirimiku foto aneh-aneh hasil editannya. Itu membuktikan bahwa orang yang menyukaimu tidak hanya aku saja di dunia ini. Kamu berhak bahagia. Jangan pikirkan aku lagi. Sebentar lagi aku akan menikah."


"Kamu jangan menikah dengannya! Tunggu lah aku hingga bebas dari penjara! Aku berjanji akan membahagiakanmu setelah semua usai."


Air mata Aura kembali jatuh menetes ke pipinya. "Aku tak akan rela kamu dipenjarakan Bang. Ingat keluargamu Bang! Mereka selalu membanggakanmu di kampung halaman kita. Jangan karena kesalahan yang aku perbuat, malah Kamu yang menebusnya!"

__ADS_1


Tiba-tiba pintu jendela Aura dibuka dari luar. "Kamu masih coba-coba menghubungi dia ternyata?"


__ADS_2