
BAB INI DIISI OLEH AKSI PENUH FANTASI
Di sisi lain, Aksa dan rekan satu timnya mendapat peringatan bahwa hacker tersebut sudah mulai melakukan penyerangan, setelah sehari kemarin vakum.
"Kita lihat penjahat, apakah Kau akan menang hari ini? Atau mungkin akan kalah lagi?" ucap Aksa menyeringai.
Aksa dan anggota lainnya kembali mengetuk-ngetuk keyboard masing-masing. Kali ini mereka bekerja tanpa pimpinan. Pemimpin mereka kembali beristirahat setelah mendapat serangan dari penyusup tadi malam.
Aksa mendeteksi bahwa mereka dipantau langsung oleh peretas tersebut. Mereka melihat dua sosok yang menutup seluruh bagian tubuhnya.
"Kau mau bersembunyi terus wahai penjahat?"
Sementara yang dikatakan sebagai penjahat merasa sangat terkejut melihat lawannya. Dia mendapati satu di antara dua puluh orang itu adalah kekasihnya sendiri. Dia tidak bisa menyembunyikan rasa keterkejutannya atas apa yang dilihatnya.
Jadi selama dua hari ini dia juga ikut melawanku? Apa kali ini akan berhasil melawannya?
"Nona, konsentrasi lah!" ucap Sistem di dalam headphone yang melekat di telinganya.
"Ba-baik."
Marcell mendengar Aura jadi gugup melihat tim yang akan menjadi lawannya. "Apa Anda merasa takut? Apakah ada yang Anda kenal?"
"Bukan, tidak ada."
"Kalau begitu, berkonsentrasi lah. Kita akan menghadapi peperangan besar."
"Baik lah," ucap Aura pasrah. Dia mengendurkan otot-ototnya yang tadi sempat menegang karena kaget mendapati lawan yang akan dihadapinya. Salah satunya adalah Aksa, pria yang dicintainya.
Dari pihak lawan Aura melihat mereka telah membentuk barel pertahanan untuk melindungi data milik Harmony Grup. Aura cukup menekan 'Enter' untuk melancarkan serangannya terhadap tim tersebut.
Oke, di dunia nyata kita pacaran. Di dunia tak nyata kita adalah musuh, batin Aura.
Jemari Aura dengan cepat mengetik, copy, paste menyusun rumus serangan virus yang telah dia dapat dari Tuan Sistem. Terakhir Aura menekan 'Enter' dan muncul susunan hurus angka yang dikirimkan Aura berguling pipih bagai cacing pita.
Meliuk menyisip barel yang seolah berdiri kokoh bagai benteng yang mengelilingi sebuah kastil. Sistem mengirimkan kembali surel berikutnya kepada Aura. Aura menyusun di dalam sistem DOS dan kembali menekan 'Enter.'
Salah satu barel tersebut melepaskan diri. Yang lepas itu adalah ksatria milik Aksa. Bagai menyiapkan pedang dengan pakaian baja yang menutupi seluruh tubuhnya. Kali ini Aura bagai naga yang siap menyemburkan api dari mulut kepada tim pengaman tersebut.
Protektor yang dipimpin oleh Aksa mulai bergerak melawan penyusup itu. Sistem kembali mengirimkan surel yang terbaru. Aura memindahkan pada sistem DOS miliknya, lalu menekan 'Enter' membuat naga yang dimilikinya menjadi banyak dalam seketika.
"Apa Kamu bisa Bang? Melawan Naga jahat ini?" Aura menyunggingkan senyum tipisnya.
Mengerahkan naga-naga tersebut mendekat ke pusat data yang telah dikelilingi oleh pengaman. Satu protektor tengah terbang bebas mencoba melawan salah satu naga milik Aura. Aura menekan 'Enter' kembali, dan -wuuuuzzzz- Naga tersebut menyemburkan api membakar ksatria milik Aksa.
Di tempat lain, Aksa menyunggingkan senyum tipisnya merasa semakin tertantang dengan apa yang telah dia dapatkan. Ksatria protektor tersebut membeku bagai es. Tidak terusik oleh api yang disemburkan oleh pihak lawan.
Ksatria protektor tersebut kembali ke wujudnya semula. Seperti ksatria mengenakan baju perang berbaju baja. Terbang mengeluarkan pedang, menebas ekor salah satu dari naga tersebut. Satu naga tumbang.
Aura tidak menerima salah satu naga miliknya tumbang. Kembali menggencarkan serangang, seluruh naga menyemburkan api secara bersamaan membakar semua yang ada. Salah satu barel protektor yang tidak kuat menghadapi panasnya semburan api tersebut, melebur bersatu dengan tanah.
Satu barel pun tumbang, membuat beberapa bagian pelindung data tersebut bolong siap untuk disisip. Aura beralih pada virus berbentuk cacing pita tadi. Mengecoh lawan dengan diam-diam menyisip masuk pada pusat data milik Harmony Grup.
__ADS_1
Ksatria protektor menyadari itu, segera terbang mencoba menebas cacing tersebut dengan pedangnya yang tajam. Namun, pedang itu tak dapat memutus tubuh rangkaian susunan huruf dan angka tersebut. Aura menyunggingkan senyum miringnya. Mengutus naga-naga bergerak mendekati barel-barel yang mulai menjadi lemah.
"Guys, saya kirim kan surel di grub! Kalian copy lalu paste di sistem DOS PC masing-masing!" titah Aksa berbicara di headphone miliknya.
"Baik."
"Baik."
"Baik."
Jawaban serempak diikuti kecepatan jemari mereka dalam mengetik di PC masing-masing.
"Ternyata Kau tidak bisa dianggap remeh!" ucap Aksa, memasang wajah serius.
Di tempat lain, Reza mengetahui bahwa tim barunya tengah berjibaku melawan hacker yang terus menerobos pertahanan keamanan data milik perusahaannya. Mencoba ikut bergabung, meski tengah tergeletak di atas tempat tidur di rumah orang tuanya.
Reza mulai menduga-duga bahwa wanita yang tadi malam mencoba menyusup dalam perusahaannya adalah hacker ini yang ingin mencuri data miliknya tadi malam. Reza mencoba mengakses tampilan langsung dari nona hacker ini. Namun semuanya tertutup, tak ada satu pun bagian yang tampak.
Terdengar ketukan pintu dari luar kamarnya. Tanpa menunggu jawaban darinya, pintu tersebut dibuka dari arah luar. Ternyata muncul Rezi, adiknya dengan wajah sumringah.
"Maaass, Maaasss..." Rezi langsung menyandarkan diri pada kakaknya ini dengan manja.
"Apa?" Mata dan jemari Reza masih sibuk mengotak-atik laptopnya mencoba memberi bantuan terhadap tim-nya ini.
"Mas Abizar datang sama cowo imut tuh. Mereka sudah ada di luar," jelas sang adik. Namun masih bersender pada sang kakak.
"Katakan mau berapa?" Reza sudah memahami tabiat adiknya jika sudah berlaku seperti ini.
Rezi mengembangkan lima jarinya. Reza melihat sepintas kembali berkutat dengan keyboard-nya. "Kebanyakan!"
"Usaha Mas-mu ini sedang kacau. Kamu jangan macam-macam. Lima itu boleh juga, asal nol nya kurang satu. Kamu akan mendapatkan tunai saat ini juga."
Rezi menyipitkan matanya pertanda protes. "Dikit amat?"
"Nyari duit aja ga bisa, cuma pinter protes aja." Reza masih sibuk dengan perangkatnya tersebut.
"Mas, tambah lima ratus lagi doong," rajuk adiknya.
Reza menghela napas. Menajamkan matanya kepada sang adik. Mengambil dompet mengeluarkan duit seperti yang diminta adiknya. Menyerahkan uang tersebut, dia berpikir sejenak lalu diambil lagi selembarnya.
"Ini buat pajak!" tuturnya.
"Jiaaaah, Mas? Masa aku dikenakan pajak juga?"
Reza mengambil selembar lagi, "Ini akibat tidak bersyukur."
"Jiiiaaah? Maaass?" Rezi berdiri menghentakan kakinya protes.
"Bilang ke Abizar dan temannya yang kamu katakan imut itu agar langsung saja masuk ke kamarku!"
"Ogah! Bilang saja sendiri!" Rezi mencabikan bibirnya lalu pergi meninggalkannya sendiri. Reza hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan sang adik. Kembali fokus pada monitor laptopnya.
...tok ... tok ... tok...
__ADS_1
"Masuk!" titah Reza.
Tampak gagang pintu ditarik dari luar. Reza masih sibuk memperhatikan peperangan sengit yang tengah terjadi antara dua kubu itu. Abizar masuk bersama dengan seorang yang dikatakan Rezi imut.
"Boss, saya telah membawa detektif Devan."
Reza melihat dan bergerak bangkit menyambut orang tersebut. "Anda bekerja di agen detektif rahasia BOS beberapa waktu lalu bukan?"
Devan mengangguk, "Benar sekali Pak. Namun semenjak kepindahan ke negara Jepang, saya memilih untuk tetap stay di sini. Mengingat orang tua saya yang semakin menua, saya tidak tega meninggalkan mereka. Saya memilih untuk untuk mendirikan kantor detektif sendiri."
"Karena saya sangat berdedikasi dalam setiap pekerjaan, maka tak heran banyak sekali yang mencari saya untuk menyelidiki segala sesuatu. Oleh sebab itu, Bapak sangat beruntung berhasil menemukan saya ...." Devan masih melanjutkan dengan kebiasaan pamer yang telah mendarah daging semenjak lahir. (Devan, kembaran alm. Deval. Bisa ditemukan dalam novel Detektif Muda)
Mendengar detektif tersebut terlalu banyak omong, Reza membesarkan matanya. Memberi kode agar mendekat kepadanya. Abizar berjalan menuju ke arah Reza.
"Detektif apaan yang kamu cari ini?"
Abizar dan Reza serempak melihat ke arah Devan. Pria itu masih berceloteh dengan kebanggaannya menjadi seorang detektif. Menceritakan pernah menumpas mafia kejam bersama Detektif Via yang hebat hingga ke Eropa.
"Saya mendapat rekomendasi dari rekan kerja juga Boss. Saya juga baru tahu kalau detektif swasta ini, ternyata banyak omong." cetus Abizar sembari menyunggingkan senyumnya kepada Detektif Devan itu.
"Hah, sudah lah. Cari cara untuk menghentikannya bicara panjang lebar seperti itu! Dia membuat kepalaku yang sudah mumet, menjadi semakin pusing." Reza mendorong Abizar untuk maju mendekat ke Detektif Devan.
"Maaf Mas, permisi dulu. Kami hanya ingin memastikan apakah Anda bisa menangani masalah antara kami dengan hacker?" Abizar sengaja memberi jeda. Wajah Devan tampak berpikir sejenak.
"Jika Anda mampu membantu kami, maka imbalan yang sangat pantas telah siap menanti Anda. Namun, jika hanya akan membuang-buang waktu, tenaga, dan pikiran kami, mungkin kami akan segera mencari orang lain yang mungkin lebih berdedikasi."
Devan mengencangkan dasinya, "Ekhem, apa maksud Anda mencari orang yang lebih berdedikasi? Apa kalian tidak mempercayai kemampuan saya?"
"Bukan begitu Mas. Kami membutuhkan detektif yang banyak bekerja, bukan yang banyak bicara," jelas Abizar.
"Kalau begitu beri tugas kepada saya saat ini juga! Saya janjikan dalam waktu dua puluh empat jam akan menjawab rasa penasaran Anda." Devan menatap Reza dengan tajam. Dia merasa sedikit tersinggung karena dianggap tidak bisa diandalkan.
"Baik lah, kami akan memberimu waktu dua puluh empat jam, untuk menyelidiki hacker ini!" Reza menyerahkan laptopnya kepada Devan. Menyilakan Devan untuk untuk meninjaunya terlebih dahulu.
Kita kembali ke peperangan yang dilakukan oleh hacker vs tim protektor. Aura yang mendapat bantuan penuh dari Sistem, membuatnya kali ini memimpin peperangan. Barel para protektor satu demi satu berhasil dilumpuhkan oleh virus yang dikirimkan oleh Sistem.
Susunan Ksatria perang milik Aksa sedikit mulai sedikit telah lepas dari tubuh awalnya. Mereka selalu digempur oleh naga Aura yang terus bertambah di setiap waktu tertentu. Aura merasa peperangan virus kali ini adalah peperangan yang paling seru dibanding sebelumnya yang pernah dia alami.
"Semoga kita bukan rival di dunia nyata Bang. Seperti yang aku katakan, aku terpaksa. Kali ini demi mempertahankan uang yang sudah susah payah aku kumpulkan."
Untuk serangan terakhirnya, Aura menekan 'Enter'
Jangan lupa hadir di kisah berikut juga yaa
Tamara mendapat hukuman dari ayahnya untuk pindah sekolah dan dimasukkan ke pesantren. Namun, siapa sangka justru di pondok itu ia bertemu dengan cinta pertamanya dan berlanjut hingga bertunangan tetapi dia harus LDR selama empat tahun untuk menyelesaikan kuliahnya setelah itu baru diberikan restu untuk menikah. Ketika waktu pernikahan tiba, tunangannya yang bernama Reza menghilang entah kemana. Dia hanya memberikan kabar kalau tidak bisa menikah dengan Tamara. Ayahnya yang sudah menyebarkan undangan kepada semua rekan kerjanya tentu sangat malu. Pada saat yang bersamaan Tamara mendapat lamaran dari guru ngajinya. Kemudian ayahnya memaksa dia untuk menerima lamaran ustad tersebut. Hatinya sangat hancur, terluka dua kali. Oleh pengkhianatan Reza dan pemaksaan ayahnya. Tamara harus menikah dengan orang yang tidak ia cintai demi menyelamatkan nama baik keluarganya dari rasa malu. Bagaimana perasaan Tamara menerima nasibnya?
...*bersambung*...
...Jangan lupa menekan tanda Favorit, Like, Gift, Vote, dan Komentar ya!...
__ADS_1
...Terima kasih!...