CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER

CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER
115. Hari pertama masuk kantor


__ADS_3

Aura mulai menyadari ada yang mengikuti pergerakannya. Dengan langkah cepat, Aura segera mencoba meninggalkan area tersebut. Semakin cepat langkah Aura, semakin cepat pula langkah orang yang diam-diam mengikutinya itu.


Akhirnya Aura berlari dengan cepat, melompat menjangkau pagar dengan ketinggian dua meter. Lalu memanjat menaiki pagar tersebut. Pria tersebut tercenung memperhatikan aksi gila yang dilakukan oleh Aura.


Setelah merasa berdiri dengan sempurna di atas pagar tersebut, Aura melompat menimpa orang yang mengikutinya. Aura mendarat di atas tubuh laki-laki itu. Aura membalikan tubuhnya untuk mencekik pria tersebut dari arah belakang.


Dari kejauhan, seorang pria menggunakan topi, masker, dan kacamata tengah mengamati mereka dari kejauhan.


"Bukan kah itu ...."


Pria yang merasa sesak oleh aksi yang dilakukan oleh Aura ini mengeluarkan suara meminta untuk dilepaskan. "Ampun, Nona! Ampun! Sa-saya hanya orang yang disuruh oleh Pak Reza untuk mengikuti Anda!"


Mendengar nama suaminya disebut, Aura segera melepaskan kuncian pada leher dan tangan pria tadi. "Kenapa suamiku menyuruhmu mengikutiku diam-diam?"


"Katanya dia merasa khawatir dengan Anda, Nona. Tadi saat saya perhatikan Anda tidak menggunakan penutup identitas dengan benar, membuat saya ikut merasa was-was. Saya ingin berbicara pada Anda, tetapi Anda malah berlari semakin kencang."


Mulut Aura membulat, kepalanya mengangguk. "Sudah cukup! Kamu boleh pulang! Saya bisa menjaga diri sendiri."


Pria tadi menggengkan kepalanya. Karena Reza menitahkan untuk mengantar istrinya kembali dengan selamat hingga ke rumah. Jika tidak selamat, Reza mengancam akan memecatnya dari pekerjaannya sebagai security Harmony Grup.


"Lebih baik Anda mengikuti saya. Biar saya yang akan mengantarkan Anda pulang."


Mata Aura liar melihat ke segala arah. Dia merasakan bahwa ada seseorang yang terus memperhatikan mereka. Sehingga dia menyetujui untuk mengikuti orang yang disuruh oleh Reza tersebut. Setelah sampai, Aura segera masuk ke dalam gedung apartemennya. Tanpa dia sadari, ada seseorang yang mengikuti, sengaja menggunakan jasa kang ojek.


Seseorang melihat angka terakhir lift yang sedang bergerak. "Lantai sembilan."


💖


Keesokan paginya, Aura merapikan pakaian Reza yang sudah lengkap dengan jas yang membalut tubuhnya. Seakan tak ingin berpisah, Reza memeluk tubuh Aura dengan erat.

__ADS_1


"Sayang, seperti yang aku katakan tadi malam, hari ini ada beberapa meeting penting yang tidak bisa aku tinggal. Jadi aku pulang agak malam. Kamu hati-hati ya? Jangan buka pintu sebelum aku kembali."


Aura mengangguk. "Iya, hari ini aku akan melanjutkan pekerjaan tadi malam yang tertunda karena ulahmu kan? Seluruh tubuhku dipenuhi tanda--"


"Ssstt, nanti kedengeran oleh tetangga!" sela Reza. Lalu Reza mendekatkan pada telinga istrinya ini. "Bahkan aku belum mencicipi semuanya lho?" bisiknya.


Hal ini membuat wajah Aura bersemu merah. Dia sadar apa yang dimaksud oleh Reza ini. Suaminya sudah terlalu sering mengatakan ingin memilikinya seutuhnya. Hingga hari ini Aura masih perawan karena Reza belum dibolehkan melakukan hal yang membuat tubuhnya bekerja dengan berat.


"Nanti malam kita lanjut lagi ya? Aaah, aku begitu candu dengan ini." Reza mencoel benda kembar milik Aura. "Aku tak sabar lagi menunggu waktu itu. Bagaimana jika nanti kita berbulan madu untuk melakukannya pertama kali? Kamu mau ke mana? Destinasi lokal, atau luar negeri?"


Aura hanya menangkup wajah sang suami yang sengaja membungkuk saat berbicara dengan dirinya. "Ke mana pun itu asal bersama Kanda, aku ikut saja." Memagut lengan Reza mengantarkannya ke luar rumah apartemen mereka.


Lalu kedua mata mereka memperhatikan petugas kebersihan sedang membawa tong sampah yang amat besar lewat di hadapan kedua orang yang tengah kasmaran ini. "Selamat pagi, Bapak Ibu, semoga hari kalian menyenangkan."


Reza mengangguk. "Terima kasih." Lalu Reza mengecup kening istrinya dan mengacak rambut Aura. Sang istri melambaikan tangan, Reza pun segera menuju lift untuk turun. Aura kembali masuk ke rumah.


Aura terjatuh setelah mendapat sebuah pukulan di tengkuknya. Lalu dia dimasukan ke dalam tong sampah yang sangat besar. Tong sampah tersebut ditutup kembali, dan pria itu segera pergi membawa Aura.


Pada waktu istirahat siang, Reza membereskan bahan pekerjaan penting usai rapat yang dilaksanakan dengan perusahaan BUMN yang mereka jaring untuk bekerja sama dengan perusahaan mereka. Abizar merapikan peralatan yang baru saja digunakan oleh Reza saat presentasi tadi.


Reza mencoba menghubungi Aura, hendak menanyakan sang istri masak apa hari ini. Namun, entah kenapa panggilan yang telah dilakukan beberapa kali tersebut belum juga diangkat oleh Aura.


'Apa dia lagi masak? Ah, istriku. Padahal sudah ada Bibi, tetap saja dia ikut turun tangan.'


"Kenapa melamun Boss?"


Reza terkesiap mendengar pertanyaan Abizar barusan. Lalu kembali merapikan peralatan yang baru saja digunakanya. Setelah itu, Reza keluar dari ruang rapat menuju ruang kerjanya. Dia kembali mencoba melakukan panggilan pada kontak milik Aura.


Abizar mengintip kegiatan yang dilakukan oleh atasannya ini. Menurutnya, Reza sudah banyak berubah semenjak menikah dengan Aura. Abizar menghempaskan diri di atas sofa empuk yang ada di sini. Dia terus memperhatikan kerutan di kening atasannya ini.

__ADS_1


"Boss, udah kangen aja sama orang yang ada di rumah?"


Reza menggaruk dagunya, bukan karena gatal, tetapi karena bingung. Dia merasa heran, kenapa panggilan tersebut belum juga dijawab semenjak tadi. Padahal ponsel yang sengaja diberikan untuk Aura, selalu dipastikan memiliki volume maksimal yang sengaja disettingnya agar Aura segera mengangkat panggilan tersebut dengan cepat.


'Paling tidak, Bibi juga bisa menjawab panggilan ini,' batinnya.


"Merasa aneh aja nih. Panggilan saya belum juga diangkat semenjak tadi. Apa tak ada orang di rumah ya?"


Abizar memulas senyum tipis di bibirnya. Melihat kadar kebucinan Reza yang sudah masuk ke tingkat akut. Hal ini mungkin disebabkan karena hari ini adalah pertama kali bekerja setelah lebih dari sebulan tidak masuk kantor.


"Kapan dia masuk kuliah lagi, Boss? Mungkin dia berangkat ke kampusnya?"


"Katanya masih dua minggu lagi. Lagian tidak mungkin kalau dia pergi tidak bilang-bilang seperti ini kan?" Reza mengecek list pekerjaan yang menumpuk semenjak dia tidak masuk ke kantor.


"Kita masih ada tiga meeting yang tidak bisa ditunda lagi, Boss. Jika kita tunda kembali, maka mereka akan memutuskan hubungan kemitraan yang selama ini kita jalin. Anda jangan terlalu khawatir sama istri. Biarkan dia merasakan kebebasan saat kita tidak ada di rumah. Kata istriku, saat suami bekerja, adalah waktunya untuk me time!"


Reza mendengar penjelasan Abizar dengan seksama. Lalu mengangguk dan membenarkan apa yang diutarakan oleh Abizar yang sudah berpengalaman. Mereka melanjutkan istirahat dan makan siang. Setelah waktu istirahat usai, Reza kembali menyiapkan bahan untuk tiga meeting lagi. Dia sengaja non aktifkan panggilan, agar tidak ada yang mengganggu saat waktu krusial bagi kelanjutan perusahaannya ini.


Reza menyelesaikan semuanya saat waktu telah menunjukan pukul sembilan malam. Saat mengaktifkan ponselnya kembali, dia berharap ada pesan masuk dari sang istri. Dia sudah merasakan rindu luar biasa kepada Aura. Namun, rasa kecewa menggelayut di hati Reza. Tak satu pun pesan dan tanda panggilan dari sang istri.


Namun, Reza merasa heran melihat puluhan panggilan dari Bibi assisten rumah tangga mereka. Meski merasa cukup sedih karena mendapati Aura tidak merindukannya seperti dia rindu pada sang istri.


Akhirnya Reza melakukan panggilan balik. Tanpa menunggu jeda yang lama, Bibi langsung menjawab panggilan tersebut.


"Halo, Tuan Muda. Kenapa panggilan Bibi tidak dijawab sejak tadi?" Suara Bibi terdengar sangat cemas.


"Ada apa, Bi?"


"Nona Muda hilang....

__ADS_1


__ADS_2