
Hubungan Stella dan Devan semakin hari menjadi semakin dekat setelah kejadian itu. Saat ini Stella tengah menikmati sarapan pagi week end sehabis joging bersama Devan di sebuah kafe anak muda. Kebetulan Devan berada di toilet dan meninggalkan ponselnya di atas meja.
Semenjak tadi, ponsel Devan bergetar menandakan ada panggilan dari seseorang. Entah berapa kali panggilan tersebut diulang karena yang punya sedang tidak memegang ponsel tersebut. Akhirnya, karena merasa gregetan, Stella menjawab panggilan tersebut.
"Halo, Sayang? Kenapa lama banget angkat teleponnyah?" --ucap yang di seberang.
Sayang?
Stella mengecek nama pada kontak panggilan masuk itu bernama Ayu. Stella masih berpikir positif. Berpikir barangkali saja Devan memang begitu dekat dengan semua orang.
"Sayang, kok diem ajah?"
"Maaf, Mbak. Yang punya ponsel lagi di toilet," terang Stella.
"Lho, ini siapa ya? Kenapa hape Devan ada sama Kamu? Kalian lagi apa?"
"Saya orang yang lagi makan dengannya."
"Ngapain makan sama pacar saya?" Suara orang yang di seberang panggilan semakin tinggi.
"Maaf ya, Mbak. Jangan ngaku-ngaku begitu! Devan itu pacarku!"
"Eeeh, Kamu! Seharusnya saya yang mengatakan itu! Kamu jangan seenaknya ngaku gitu ya!"
Stella telah mendapati bahwa Devan telah berada di sisinya. Langsung menyerahkan ponsel tersebut dengan wajah cemberut. Devan langsung mengangkat panggilan itu, lalu beranjak agak menjauh. Stella segera membereskan peralatannya, pergi meninggalkan kafe tersebut tanpa mengatakan apa-apa kepada Devan.
Stella mencari kontak panggilan Aura, mencoba melakukan panggilan kepada sahabatnya itu. Namun, panggilan dari sahabatnya masih belum aktif juga.
"Aura ini ke mana sih? Padahal aku lagi butuh teman curhat!"
Sementara orang yang dicari tengah bepelukan di atas r*njang dengan suaminya. Akhirnya Reza berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya setelah seminggu tidak diberi 'jatah.'
Reza membelai perut istrinya. "Semoga yang di dalam sukses terbentuk ya? Agar aku bisa segera menjadi Ayah."
Aura membelai pipi Reza. "Jadi, Kanda mau dipanggil 'Ayah'? Bukan Papa, Papi, atau Daddy?"
Reza menggelengkan kepalanya. "Aku suka melihatmu memanggil mertuaku dengan 'Ayah dan Ibu'! Feel-nya berasa dapat banget. Tapi aku ingin anak-anak memanggil kita dengan Ayah-Bunda saja. Kedengarannya sangat manis."
__ADS_1
Aura mengangguk, lalu hendak beringsut mencari daster yang dipakainya tadi.
"Mau ke mana?" Reza menahan Aura.
"Mandi, biar aku siapkan sarapan."
"Nanti dulu! Aku mau nambah sarapan di sini dulu! Aku masih belum kenyang." Reza kembali mulai aksi r*njangnya menarik Aura bermain di dalam selimut.
Keesokan hari di mana tiba saat giliran Reza akan kembali berangkat ke kota. Kali ini, dia memilih berangkat di hari Senin, pagi buta. Dia ingin menghabiskan waktu lebih lama dengan istri. Saat ini, Aura tak mau melepaskan pelukan dari dekapan sang suami.
"Jangan tinggalkan aku sendirian lagi! Aku ingin ikut!" tangisnya.
Reza membelai rambut Aura. "Sabar, Sayang! Biar kan aku meluruskan masalah yang telah berlalu. Setelah semua beres, Kamu dan Bibi akan aku bawa kembali ke kota."
Aura menggelengkan kepalanya. "Gak mau. Aku maunya ikut sekarang juga!"
"Jangan dulu! Aku tak ingin terjadi apa-apa denganmu. Aku akan mengusahakan hingga minggu depan, untuk membereskan senuanya. Apalagi minggu depan Kamu sudah mulai perkuliahan bukan?"
Aura mengangguk. "Aku bosan sendirian di sini!"
"Iya, aku mengerti."
"Nanti panggil Mas Jon jadi supir lagi ya? Biar Kanda tidak terlalu lelah saat bolak balik perjalanan jauh seperti sekarang!"
"Oke!"
Setelah memastikan kendaraan suaminya tidak terlihat lagi, Aura segera kembali mengakses laptopnya. Dia mengecek seluruh korban hasil retasannya. Mengecek bagaimana perkembangan korban tersebut dan jejaringan yang telah dirusaknya dulu.
Aura mencoba mengakses dan memperbaiki semua data tersebut secara diam-diam. Lalu mengirim surel permintaan maafnya kepada pengusaha menengah sedang tersebut.
Setelah itu mengecek bagaimana perkembangan perusahaan suaminya. Ternyata semua yang telah dirusak, telah beroperasi dengan normal kembali. Termasuk ojol yang kemarin sempat eror cukup lama. Semua sudah berjalan lancar.
Dengan sedikit mengerjai suaminya, Aura menyeting pemberian bonus pada pengendara dengan ojol dan taksi online menjadi lebih tinggi dari biasanya. Ini berlaku hingga satu bulan ke depan.
"Biar mereka bahagia," ucap Aura dengan mengembangkan senyuman di bibir mungilnya.
Reza telah sampai di kantor tengah melanjutkan pekerjaan yang tak ada habisnya. Dia belum menyadari ulah sang istr. Hingga saat bagian TIK memberikan laporan kepada sang big boss.
__ADS_1
"Pak Reza, sepertinya aplikasi driver online kita sedikit eror."
"Eror lagi? Bukan kah baru diperbaiki oleh Aksara?"
"Bukan rusak sih, Boss. Hanya saja saat ini kami tidak bisa mengendalikan akses bonus yang sangat tinggi bagi para driver."
Reza tiba-tiba teringat kepada seseorang. Hanya menganggukan kepala dan mengecek sendiri sistem eror yang dimaksud. Dia menemukan satu kode yang sangat dia hapal. Lalu dia membuka ponsel, melakukan panggilan pada orang tersebut.
"Halo, Kanda." Suara orang di seberang terdengar sangat riang.
"Dih, tadi kayak yang nangis-nangis aku tinggal. Ternyata sekarang udah ceria lagi setelah berulah lagi pada perusahaanku."
"Waaah, udah ketahuan aja ya? Kanda memang the best!"
"Jadi, Kamu lebih sayang sama driver dari pada suamimu sendiri?"
"Ini semua karena aku sayang Kamu lho. Kan mereka bakalan mendoakan banyak kebaikan buat Kamu. Siapa tahu membagi rezeki kepada mereka yang membutuhkan, membuat semua usaha Kanda menjadi lebih berkah."
"Aaamin. Udah kayak ustadzah aja istriku ini. Jadi berapa lama waktu berlaku untuk itu?"
"Gak lama kok, cuma sebulan. Lumayan buat menyenangkan hati mereka."
Reza menggaruk kepalanya karena pusing memikirkan alokasi dana yang harus dikeluarkan hingga satu bulan ke depan. "Oh, ya udah. Gak apa. Kamu hati-hati di sana ya, Sayang. Jika pekerjaan tidak banyak, aku akan segera kembali ke sana."
Panggilan ditutup, Reza pun mengecek jumlah pengendara online di perusahaannya. Ternyata, akibat eror beberapa bulan ini, banyak yang sudah off dari perusahaannya. Reza merasa sedikit lega, karena jumlahnya masih bisa ditolerir oleh keuangan perusahaan.
"Terimalah, hadiah dari istriku bagi kalian yang beruntung."
Di sebuah lokasi, salah seorang dari dua pria yang memonitoring layar pipih, terlihat tengah memasang wajah heran.
"Marcell, sepertinya Harmony sudah berhasil memperbaiki akses yang sudah kalian retas dulu?"
Marcell mengerutkan keningnya. "Tidak mungkin. Data tersebut sudah gue simpan dengan baik." Marcell mencoba mengecek kembali drive data hasil retasannya.
braaak
"Shiiiit!" umpatnya.
__ADS_1
💖