
Aura memastikan telah mengenakan pakaian yang benar-benar tertutup. Dilihatnya waktu telah menunjukan pukul setengah satu dini hari. Dia tengah menanti jemputan dari seseorang bernama Marcell. Sebelumnya dia telah mengirim sharedlock lokasinya berada.
Ponselnya bergetar, sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Pesan dari Sistem mengatakan bahwa seseorang bernama Marcell telah datang mengenakan motor untuk menjemputnya. Aura segera keluar dari rumah indekos tersebut. Memang benar seorang pria mengenakan pakaian serba hitam berada di atas motor sport tengah menunggunya.
Aura mengikat rambut dan menggulungnya ke dalam topi, mengenakan kacamata, dan masker untuk menyembunyikan identitasnya. "Mas Marcell?" tanyanya singkat.
Pria di balik helem tanpa membuka penutup hanya menyerahkan helem untuk gadis itu. Lalu memberi kode untuk segera naik ke motor tersebut. Meski sedikit ragu, Aura tetap menaiki kendaraan tersebut.
"Pegangan yang erat!" ucap pria itu dengan dingin.
"Kemana?" tanya Aura bingung.
"Terserah!"
Aura memilih untuk berpegangan ke belakang. Dia hampir terjungkang ke belakang karena orang bernama Marcell tersebut mengendarai motor lebih cepat dari pada kilat. Aura hanya diam tanpa berkomentar, memilih tetap berpegangan ke belakang karena merasa ngeri.
Setelah perjalanan lima belas menit, mereka sampai di perusahaan besar itu. Marcell melepas helm-nya. Aura sangat kaget melihat penampilan pria yang mengenakan penutup wajah dengan sempurna tersebut. Aura merasakan ponselnya bergetar, menandakan ada pesan masuk.
Dilihat sejenak, ternyata itu pesan dari Aksa yang menyampaikan bahwa dia sudah berada di rumah kosnya. Aura memilih untuk tidak melihat, agar disangka telah terlelap.
Marcell mengeluarkan teleskopnya. Teleskop canggih yang bisa menembus malam dengan sempurna. Memantau setiap sisi bangunan, seperti tengah menghitung sesuatu.
Kemudian mengeluarkan sebuah benda kecil pipih selebar telapak tangan dari dalam ransel. Saat dibuka, Aura sangat takjub saat mengetahui itu adalah sebuah laptop yang sangat mini. Dia baru mengetahui ada laptop sekecil itu di dunia ini.
Beberapa waktu, Marcell menekan-nekan keypad pada benda mini tersebut. Terlihat tampilan sistem DOS yang juga terlihat sangat mini. Aura hanya manut-manut melihat rumus-rumus yang disusun oleh Marcell. Dari rumus tersebut dia tahu bahwa pria ini tengah mencoba mengganti waktu tampilan monitor pemantau CCTV di pusat informasi gedung tersebut. Marcell membuat waktu mundur hingga ke beberapa jam yang lalu, agar security tidak curiga.
__ADS_1
Setelah itu, baru lah Marcell non-aktifkan seluruh CCTV yang ada di luar gedung tersebut. Aura sangat kagum pada pekerjaan pria yang baru ditemuinya ini.
Hebat bener ni maling, batin Aura melihat pria yang menutup wajahnya dengan sangat sempurna.
Usai semua lampu pada CCTV tersebut padam, Marcell memasukan benda mini kembali ke dalam ransel. Lalu memberi kode dengan gerakan kepala menyiratkan makna agar mereka harus segera bergerak. Aura mengangguk mengikuti pria itu. Ini adalah aksi pertama ngalong pada jam dinas nyonya kunti, baginya.
Marcell mengendap memastikan tidak terlihat oleh oleh security yang berjaga-jaga. Pria itu mencoba membuka jendela, namun ternyata terkunci dengan sangat rapat. Lalu mengode Aura agar mengikuti dia untuk pindah ke sisi lain. Aura mengangguk mengikuti dari belakang.
Di sisi lain gedung itu, terlihat ada sebuah pintu. Marcell melangkah dengan cepat menuju pintu tersebut. Telinganya ditempelkan pada pintu, mencoba untuk mendengar sesuatu di balik sana. Lalu mencoba menarik gagannya pelan-pelan. Namun, ternyata pintu tersebut terkunci.
Pria itu menarik ransel yang tengah tersandang, mengeluarkan satu kotak yang tersusun dengan rapi. Lagi-lagi Aura dibuat terkagum melihat isi kotak tersebut adalah serangkaian perkuncian berbagai ukuran.
Harus waspada sama orang ini, nih. Dia memiliki skill luar biasa dalam dunia permalingan, batin Aura.
Setelah memastikan kunci sudah terlepas, Marcell mencoba memasukan kunci miliknya pada pintu tersebut. Kunci diputar dengan pelan, dan ternyata terdengar suara ceklekan kunci terbuka dua kali. Marcell mencabut kunci tersebut dan menarik gagang pintu secara pelan. Perlahan pintu terbuka sedikit demi sedikit.
Marcell menyilakan Aura masuk terlebih dahulu. Setelah itu, pria itu masuk dan menutup pintu dengan perlahan.
Di sebuah mansion, seorang pria dibangunkan oleh suara alert dari salah satu ponselnya. Satu dari sekian ponsel tersebut, bagai kunci dari seluruh isi gedung perkantoran miliknya.
"Ada apa ini? Tumben sekali ada peringatan seperti ini?" desisnya mengucek mata dan bangkit dari posisi tidurnya.
Ponsel yang mengeluarkan suara peringatan dibuka. Segera melihat ada dua orang dengan berpakaian serba hitam, tengah mengotak-atik sesuatu.
"Ada penyusup? Ini tidak bisa dibiarkan!"
__ADS_1
Tiba-tiba gambar dua orang tadi berganti dengan ruangan kosong. Dua orang tadi tiba-tiba menghilang.
"Cerdik juga cara kerja kalian! Mengganti gambar beberapa waktu lalu rupanya. Tapi kalian tak tahu, betapa cerdasnya seorang Reza Firto Adijaya dalam bidang ini. Kalian juga harus tahu, bahwa saya ini bergelar profesor IT saat kuliah magister dulu."
Reza menyunggingkan senyuman sinisnya. Segera bangkit membuka laptop. Memperbaiki sistem yang telah dirusak oleh penyusup tadi. CCTV telah normal kembali. Pimpinan perusahaan itu memantau dua makhluk tadi telah kembali terlihat. Mereka berdua terus mengendap menaiki tangga darurat.
"Mau kemana kalian?" Dengan nada sinis penuh kemenangan.
Reza menekan 'Enter' pada laptopnya, lalu dari dalam gedung terdengar suara yang sangat nyaring.
"Apa itu?"
"Apa itu?"
"Apa itu?"
Security yang tadi lengah, langsung bangkit untuk memeriksa apa yang tengah terjadi.
"Siiiaaal!"
...*bersambung*...
...Jangan lupa menekan tanda Favorit, Like, Gift, Vote, dan Komentar ya!...
...Terima kasih!...
__ADS_1