CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER

CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER
140. Menantinya setiap pagi


__ADS_3

Aura mengedikan bahu. "Aku pun baru menyadari saat kamu menanyakannya barusan."


Stella mendekati Aura dan memeluknya. "Kenapa kamu tidak mengatakannya semenjak dulu? Bahkan aku tak tahu kamu memiliki masalah besar seperti ini."


Aroma parfum Stella kembali membuat Aura menjadi mual. Dia melepas pelukan Stella dan berlari menjauh untuk memuntahkan semua isi hingga membuat perasaannya lega. Stella mencoba menghirup tubuhnya yang membuat Aura terus merasa mual saat berada du dekatnya.


"Apa aku bau?"


Aura menggelengkan kepala. "Kamu terlalu wangi. Sepertinya aku tidak bisa mencium aroma parfum."


💖


"Boss, jangan begini lagi! Saya harus segera pulang menemani Ratna merawat bayi kami." Abizar membantu Reza yang berjalan dengan oyong karena mabuk.


"Dinda, kenapa kamu pergi meninggalkan Kanda? Dinda, apa kamu masih belum mencintaiku? Apa segala yang Kanda beri tak berarti untukmu, Dinda?"


Sepasang mata yang duduk di dekat bartender, tengah menyunggingkan senyum tipis menenggak satu gelas bir yang dipesannya. 'Jadi saat ini mereka sudah berpisah?'


"Dinda, aku sangat mencintaimu! Kenapa kamu pergi seperti ini? Apa salahku? Apa aku salah karena terlalu mencintaimu?"


Reza terus meracau dipapah oleh Abizar keluar dari bar. Abizar membawa Reza masuk ke dalam mobil. Dia memandangi atasannya yang sudah sempat berubah beberapa saat. Namun, dia kembali pada kebiasaannya yang lama semenjak sebulan terakhir. Setiap malam dia pergi ke club malam untuk mabuk-mabukan.


Seseorang yang duduk di atas kendaraan roda dua sedang menghisap rokok dalam-dalam hingga memenuhi paru-parunya. Dia memperhatikan mobil yang membawa pimpinan Harmony pergi hingga tak tampak lagi oleh matanya. Marcell melempar rokok yang masih baru dinyalakan dan diinjak hingga padam.


Kau tak akan bisa mengimbangi dia. Hanya gue yang bisa memahami karakter wanita itu. Karena, semua hacker memiliki pola pikir yang sama. Gampang curiga dan gampang mencurigai. Gampang tertarik dan gampang melupakan.


Marcell menarik risleting pada jaket kulitnya. Lalu memasang helem dan menyalakan harley yang sedang dia duduki.


Abizar mengantarkan Reza hingga ke mansion dan direbahkan di atas sofa ruang tamu. Wajah Bibi terlihat sangat khawatir melihat kondisi Tuan Mudanya yang terpuruk.


"Apa sudah ada kabar dari istrinya?" tanya Abizar merapikan kembali pakaiannya yang sudah kacau akibat mengasuh Reza yang mabuk.


"Sebenarnya, tiap pagi Tuan Muda menghilang sesaat sebelum berangkat kantor. Kata Jono, Tuan Muda diam-diam menengok Nona yang kembali ke kosan yang lama. Setelah itu kembali dan bersiap ke kantor tanpa sarapan pagi. Begitu lah setiap hari, Mas."


"Dinda ... Kanda merindukanmu. Aku menunggumu untuk kembali. Kanda bisa mati sendiri tanpamu di sisiku ...." Reza memukul-mukul dadanya terus meracau.

__ADS_1


"Sebenarnya apa yang terjadi? Setahuku, hubungan mereka sangat harmonis, Bi. Dia sangat menyayangi istrinya kan?" Abizar melirik Reza yang terus bergumam dalam mabuknya.


"Nah, Bibi juga merasa heran Mas. Setahu Bibi saat perjalanan dari villa ke sini mereka masih peluk-pelukan. Eh, esoknya Tuan Muda ga pulang ke rumah. Esoknya lagi, Nona yang pergi. Padahal mereka berdua saling mencintai kok."


Tiba-tiba Bibi tampak memikirkan sesuatu. "Jika benar perkiraan Bibi, seharusnya saat ini adalah masa sulit Nona, Mas Bizar."


"Kenapa?"


"Nona sedang hamil muda, dia pasti menjalani hari-hari berat tanpa suami."


💖


Sebangun tidurnya, Reza kembali meminta Jono mengantarnya ke kosan Aura. Setiap hari dia mendatangi tempat ini. Namun, dia tak pernah melihat wajah istrinya muncul keluar di pagi yang masih kelam seperti ini. Entah kenapa dia selalu melakukan itu meski tak sekali pun menemukannya.


Reza berdiri di balik pagar mengenakan hodie untuk menyamarkan diri. Dia melihat aktifitas telah dimulai oleh penghuni kos. Tampak seorang wanita menutup hidung membawa sampah dan dibuang ke pembuangan sampah yang tak jauh dari tempat Reza berdiri.


hoooeeekk


hoooeeekk


Wanita itu menoleh saat mendengar panggilan itu. Aura menggeleng dan hendak pergi meninggalkannya. Reza segera menarik dan memeluknya. Warga kosan melihat aksi tersebut, lalu kembali berbisik-bisik.


Aura menghirup aroma alkohol dari tubuh Reza. Hal ini kembali membuat perutnya merasa tak nyaman. Aura mendorong Reza dan berjongkok ke arah selokan.


hooeeekk


hooeeekk


hooeeekk


Reza mengerutkan keningnya. Melihat sosok sang istri menunjukan tanda-tanda kehamilan. Dia menatap Aura yang terus memuntahkan isi perutnya. Reza mendekap Aura, namun didorong hingga ia terjengkang.


"Pergi! Kenapa baru mencariku sekarang?" bentaknya.


"Kenapa kamu pergi meninggalkan rumah kita secara diam-diam?" Reza menatap Aura yang tak mau melihat ke arahnya.

__ADS_1


"Karena kamu duluan meninggalkanku sendirian di rumah itu! Kamu pergi bersama wanita itu kan?" gumamnya dengan dingin.


Mata Reza menyipit. "Wanita? Wanita mana maksudmu?"


"Wanita yang baru saja kau beri uang! Sudah lah! Aku tahu kamu belum bisa menghilangkan kebiasaanmu itu!"


"Maksudnya?"


"Masih nanya? Sudah lah! Aku tahu itu! Kamu masih sama seperti dulu!" Aura bangkit hendak pergi.


Reza kembali menarik tangan Aura dan memeluknya. Penghuni kos menutup mulut mereka tak menyangka akan mendapat tontonan seperti ini. Reza membelai perut Aura.


"Apakah junior kita ini sudah berhasil terbentuk?"


Kembali aroma alkohol tercium dari tubuh Reza, Aura mendorong Reza dan muntah. Setelah usai, Aura bergerak pergi, namun dikejar kembali oleh Reza.


"Jangan mendekat Kau tukang mabuk!"


Reza mengendus pakaiannya. Akhirnya tidak mengejar Aura yang terus masuk ke rumah tersebut. Semua mata mengarah kepadanya dan dia segera pergi dari sana.


Aura ternyata kembali mengintip arah kepergian Reza yang terus menghilang menuju keluar dari gang. Aura kembali memeluk perutnya, menyesali Reza yang minum alkohol kembali.


Apa yang terjadi pada ayahmu?



"Where is, Minerva Bee?" tanya Austin menyeruak kumpulan orang yang sedang mengelilingi Minerva.


"Here is Me." ucap Minerva membuat seorang Austin Wycliff terpana.


Gadis yang tadi ditabraknya ternyata yang mengalahkannya kali ini. Tidak hanya itu, Minerva juga akan makan malam gratis di cafenya selama satu minggu. Austin berjalan ke arah Minerva dan bertanya siapa dia sebenarnya. Karena selama ini Austin memang tidak terkalahkan.


"Who are you?" tanya Austin sambil menatap kedua netra Minerva.


"Bukankah kau lebih tahu siapa yang kini menjadi lawan mainmu?" tanya Minerva menantang Austin.

__ADS_1


Austin sedikit terkejut mendengar jawaban Minerva kali ini. "Baiklah, kau berhak makan malam gratis di cafeku selama satu minggu penuh. Dengan syarat kita akan tetap bermain selama itu. Kita lihat siapa yang lebih unggul di antara kita." ucap Austin sambil meninggalkan Minerva.


__ADS_2