
"Tidak bisa menunggu! Cepat belikan saat ini juga! Kamu datang ke outletnya saat ini juga. Aku mau memakannya sekarang! Kalau tidak, kamu akan saya pecat!"
Abizar tersentak kaget karena sebuah pizza saja dia akan dipecat. "Boss, jangan becanda gitu! Kalau pizza lebih berharga dari pada saya, saya merasa sangat kecewa."
Abizar melihat Reza terus muncrat saat berbicara. Abizar berpikir sejenak. Senyum tipis tersulam di bibirnya. "Gimana rasanya Boss?"
"Rasanya ingin makan itu saat ini juga. Kalau tidak dapat, kamu akan membuat saya marah besar!"
Abizar semakin yakin dengan apa yang dipikirkannya. "Anda ngidam ya, Boss?"
"Hah? Ngidam?"
"Iya, Anda lagi ngidam kan? Nona Auranya lagi hamil kan?"
Bermacam-macam raut rupa silih berganti terlukis di wajah Reza. Dia ingin bicara, lalu tidak jadi lagi. Reza kembali menelan salivanya. "Buruan! Ayo belikan dulu! Sebelum kamu, saya pecat."
Abizar balik kanan segera. Dia kembali ke kantor untuk mengambil kunci mobil. Aksa yang masih sibuk di depan PC, terheran karena tindakan buru-buru Abizar.
"Kenapa, Mas?"
"Ini, Big Boss minta pizza."
Abizar menengok jam di tangannya. "Emangnya jam segini sudah ada yang jual pizza?"
"Nggak tahu, kita lihat saja dulu. Saya tinggal ya? Pusing juga kalau menghadapi pria yang ngidam."
Aksa menegakan badannya. "Siapa yang ngidam?"
"Itu, si Boss. Istrinya yang hamil, dia yang---" Abizar menutup mulutnya melihat raut wajah Aksa yang tiba-tiba berubah.
"Aura hamil?" Seketika tubuh Aksa tampak layu.
"Jangan kamu pikirkan! Fokus saja sama tugas yang diberikan!" Abizar keluar sambil menepuk-nepuk bibirnya yang telah salah bicara, meninggalkan Aksa yang merenung mengenang masa lalu.
Di mansion tempat saat ini Aura sedang tidur, ponsel Aura bergetar mendapat panggilan dari Via. Aura menjawab panggilan tersebut. "Hallo, Mba? Ada kabar terbaru?"
"Iya, si Marcell gila itu telah dipindahkan ke tahanan khusus. Dia sudah dipisahkan dari tahanan lain," terang Via di seberang panggilan.
"Waah, hasil penyelidikannya gimana kata Kapten, Mba?"
"Beberapa orang mengatakan dia akan ditindak sesuai hukum internasional. Meski CIA sudah menjadikan dia buronan khusus, tetapi negara tidak akan menyerahkannya kepada pihak internasional. Sehingga dia cukup ditindak oleh hukum yang berlaku di negara ini."
Dia teringat apa yang telah dikatakan oleh Jendra dulu. Ternyata dia memang buronan internasional. Kecerdasannya sungguh tidak main-main merekrut orang-orang yang tidak tahu apa-apa. Dieksploitasi untuk mengikuti jejaknya, agar dia tidak dihukum sendirian.
__ADS_1
"Semoga dengan begini dia bisa bertaubat ya, Mba?"
"Aaah, aku tak yakin. Orang semacam dia wataknya semuanya sama. Seharusnya dia memang diserahkan pada pihak internasional. Biar dia merasakan bagaimana pedihnya penjara luar negeri itu."
"Oooh, gitu ya Mba."
"Kalau kamu atau suami kamu butuh aku kembali, jangan sungkan untuk menghubungi aku."
"Baik, Mba. Kirimkan akun bank nya ya, Mba. Aku ingin membayar jasa yang sudah saya gunakan."
"Tidak usah. Aku tutup dulu."
Panggilan telah ditutup dan Aura bangkit dari posisinya. Dia meregangkan seluruh persendian yang terasa sangat lelah. Aura mulai turun dari ranjang dan membersihkan diri dengan air hangat.
Setelah mengisi perut dengan makanan yang dibawakan Bibi, Aura kembali membuka laptopnya. Dia berencana akan memperbaiki kerusakan perusahaam Perancis yang sudah dia kunci.
Namun, websitenya benar-benar sudah tidak bisa diakses. Aura mencoba hal lain untuk membukanya, tetapi masih tidak bisa juga.
Apa yang terjadi?
Aura mencoba mencari informasi lewat laman pencarian lain. Ternnyata untuk sementara perusahaan tersebut ditutup 24 jam untuk pemulihan. Sekaligus mengusut pelaku peretasan.
Semoga saja tidak terjadi apa-apa.
💖
[ Pulang dalam waktu 30 menit! Kalau tidak membawa pizza, siap-siap susun semua peralatanmu dibawa pulang! ]
"Ck-- Lagi-lagi dia bikin saya pusing."
Terpaksa Abizar turun di outlet pizza yang belum buka tersebut. Para pegawai di sana terlihat masih membersihkan lokasi. Melihat sudah ada yang datang, pegawai tersebut datang menyambut Abizar.
"Selamat pagi, Mas. Apa ada yang bisa saya bantu?"
Abizar menggaruk dagunya. "Udah boleh dipesan belum, Mas?" tanya Abizar Ragu."
Pegawai melihat jam di tangannya. "Kalau jam segini biasanya belum ada yang matang, Mas. Tapi, jika memang ini sesuatu yang urgent, saya akan mencoba meminta chef untuk memasakan makanan tersebut untuk Anda."
"Iya, Mas. Ini penting banget soalnya. Ada yang ngidam minta makan ini sekarang juga."
"Ooh, begitu. Kalau ini demi istri yang ngidam, biasanya chef di dapur pasti bersedia untuk membuatkannya, Mas."
Abizar merasa sedikit aneh jika Reza dikatakan sebagai istri yang sedang ngidam. Akan tetapi, demi mendapatkan pizza itu dengan segera, Abizar terpaksa menganggukan kepalanya saja. Ponsel Abizar bergetar. Itu dari Reza. Ponsel langsung ditempel di telinganya.
__ADS_1
"Ayooo buruuuaaan! Beli yang ukuran paling besaar!"
"Ini baru mau dimasak sama tukang masaknya. Sabar, Boss!"
Ternyata telepon sudah ditutup. Abizar hanya melongo mendapatkan perlakuan si Boss yang udah aneh, ternyata jadi semakin aneh. Tak beberapa lama satu pan besar pizza telah jadi.
Abizar membawa satu kotak pizza dengan ukuran satu meter tersebut dimasukan ke dalam mobil. Lalu, Abizar segera kembali ke kantor.
"Mas, gede amat pizza nya? Bagi satu pan di mari napa?" ucap salah satu dari resepsionis."
"Ini punya orang yang di atas. Nanti kalau hilang satu, dia ngamuk bagaimana?"
Dua resepsionis itu terkekeh. "Waah, kami penasaran pengen lihat dia ngamuk kayak apa."
Abizar hanya menjawab dengan gelengan kepala. Karena mereka tidak tahu Reza itu sebenarnya seperti apa. Lalu Abizar lanjut naik dan masuk ke ruang kerja Reza. Dengan gerak cepat si tuan ngidam menyambut pizza yang dibawa oleh Abizar.
Reza membuka kotak dan tercium aroma pizza ke seluruh ruangan kerja tersebut. Abizar langsung menarik satu potong pizza dan menyantapnya dengan lahap. Namun, sang big boss seperti kehilangan selera.
"Kenapa, Boss? Ayo di makan?"
Reza dengan wajah datar menggelengkan kepalanya. Alis Abizar terangkat. "Kenapa, Boss? Katanya pengen?"
Reza menutup kembali kotak pizza tersebut. Pizza diserahkan kepada Abizar. "Bagi aja sama yang lain?"
"Lhooh, kok?"
Reza mengayunkan tangannya menyuruh Abizar membawa pizza tersebut. Abizar membawa pizza tersebut dengan perasaan kesal. Dia sudah keliling mencari tempat jualan pizza, sampai menahan malu minta pizza untuk segera dibuatkan, ternyata hanya buat ini saja? Abizar membagikan semua pizza tersebut hingga habis tak bersisa dalam waktu sekian menit.
Ponsel Abizar tadi bergetar kembali. "Zar ... Zar ... sini bawa lagi pizzanya! Aku udah pengen lagi!" ucap orang yang ada di ruang Presiden Direktur.
Abizar melihat semua yang kebagian, sudah menghabiskan pizzanya.
💖
💖
💖
Mampir juga yaaa pada karya kece badai berikut ini.
napen: MeKha Chan
judul: My Boss My Brondong
__ADS_1