
Marcell memukul setir mobil dengan sekuat tenaga hingga punggung tangannya berubah merah padam. Jendra hanya menggelengkan kepala melihat pria di sampingnya. Dengan nafas mendengkus Marcell melajukan kendaraan roda empat yang mereka gunakan tadi.
Mentari telah bersinar mengusir gelapnya malam. Tukang ojek online tadi sudah pergi meninggalkan lokasi ini. Reza kembali menggendong Aura di punggungnya. Kapten Putra pun meminta Aura untuk menjadi saksi dalam tindak penculikan tersebut.
Beberapa waktu telah dihabiskan untuk meminta penjelasan atas apa yang dialami oleh Aura. Aura pun menjelaskan semua yang telah terjadi kepada pihak kepolisian. Tubuh Aura yang sudah lelah menjadi semakin tak ada daya. Pihak penyidik tak hentinya meminta keterangan kepada gadis yang sudah mengalami banyak hal itu.
Reza yang sedari tadi menemani, menyadari bahwa Aura tampak sudah tidak sanggup lagi meladeni pertanyaan penyidik yang berulang tersebut. Hal ini akhirnya membuat Reza angkat bicara.
"Sepertinya semua keterangan yang dibutuhkan telah disampaikan dengan baik oleh istri saya. Oleh sebab itu, saya harap kami segera diizinkan untuk pulang. Istri saya terlihat dalam keadaan yang buruk. Tidak hanya itu, segeralah tangkap orang yang menculik istri saya itu!"
Kapten Putra mengangguk sambil mengecek kembali laporan yang telah diberikan oleh Aura. Dia berpikir sejanak dan menganggukan kepala kembali. Melihat sang korban terlihat tidak bisa lagi duduk dengan baik pada bangku yang telah disediakan. Aura sudah setengah lelap di pundak Aura.
"Baik lah, Kami akan berusaha sebisa mungkin. Setelah ini Bapak dan Ibu boleh kembali ke rumah terlebih dahulu untuk beristirahat. Kami tahu, kalian berdua telah melewati malam yang sangat panjang. Namun, saat kami membutuhkan keterangan dan informasi selanjutnya, Anda akan kami panggil kembali." Kapten Putra menatap Aura yang sudah sayu.
Reza mengangguk. "Terima kasih, Pak." Dia bangkit dan menjabat tangan Kapten Putra.
Kali ini Reza mencoba mengangkat Aura yang setengah tertidur dengan ala-ala brydall style. Namun membuat rasa sakit di bagian luka di dadanya kembali terasa nyeri. Aura membuka mata dan turun dari gendongan Reza.
"Kenapa tidak membangunkan aku sih? Pakai banyak gaya segala? Jadi sakit lagi kan?"
Aura membuka kancing kemeja suaminya tanpa malu. Mengecek kembali bagian luka di dada kiri Reza. Tampak sedikit bekas darah menempel di kemeja putih yang digunakan Reza. Kening Aura berkerut lalu menarik suaminya segera ke tempat di mana Abizar menunggu mereka.
"Kita harus segera bersihkan. Biar tidak dihinggapi bakteri!"
Mobil sport milik Reza yang dikemudikan oleh Abizar, memaksa mereka agar Aura duduk di atas pangkuan Reza seperti anak kecil. Mobil sport tersebut hanya memiliki dua bangku jok saja. Beruntung perjalanan yang harus mereka lewati tidak terlalu panjang. Setelah lima kilo meter perjalanan, mereka sampai di gedung apartemen. Abizar langsung izin untuk kembali ke rumahnya untuk masuk kantor.
"Jangan sampai absen, dari pekerjaan! Kali ini saya maafkan Kamu karena sudah telat!" titah Reza.
"Apalah dayaku yang hanya seorang anak buah ini," sungut Abizar menuju kendaraannya.
Aura sudah berjalan duluan menuju lift. Menunggu Reza di depan lift untuk naik bersama-sama. Setelah suaminya terlihat, Reza langsung merangkul dirinya sembari menunggu lift yang masih berada di lantai atas.
"Ra!"
__ADS_1
Aura tersentak mendengar sebuah suara yang memanggilnya. Suara itu milik laki-laki yang cukup lama bersemayam di dalam hatinya. Aura dah Reza serempak menengok ke arah belakang. Melihat Aksara menatap mereka dengan wajah yang tak percaya, melihat gadis yang masih dicintai, berpaling dengan mudah hanya dalam beberapa waktu.
Aura segera mendorong Reza yang tadinya masih merangkul dirinya. "A-Abang? Kenapa bisa sampai ke sini?"
"Aku yang menyuruhnya," ucap Reza, dingin. Tiba-tiba ada api amarah muncul dalam hati pria ini. Dia melihat sang istri masih memendam rasa terhadap pria muda itu.
"Kamu, ikut kami!" titah Reza menarik tangan Aura yang hanya diam melihat Aksa.
Reza menarik Aura masuk ke dalam lift, diikuti oleh Aksa yang berdiri membelakangi mereka. Mata Aksa terlihat sendu dan tertunduk. Dia tak lagi merasakan cinta gadis itu untuknya.
Apakah sangat mudah untukmu melupakan aku?
Aura menatap Reza dengan tajam. Dalam tatapannya itu, bertanya mengenai alasan Reza memanggil Aksa ke sini, di saat dia sedang berusaha untuk melupakan mantannya itu. Apalagi di saat dia menyadari dan bisa merasakan, masih ada cinta di mata Aksa.
Lift berhenti di lantai sembilan, pintu pun telah terbuka. Namun, Aksa masih tertunduk tanpa menyadari itu semua. Melihat pintu lift akan tertutup kembali, Reza bergerak melewati Aksa untuk menahan pintu.
"Ekheem." Reza sengaja berdehem membangunkan dua orang itu dari lamunan mereka. Tanpa mengatakan apa-apa, Reza melangkahkan kaki duluan.
Aura yang telah sadar, segera mendorong Aksa keluar dan membuat lelaki itu tersadar juga. Aksa segera melangkahkan kakinya keluar dari lift tersebut dan mengikuti langkah Aura yang mengejar Reza.
Reza terhenti sejenak. Melirik istrinya ini dari sudut mata. Lalu melanjutkan kembali menuju pintu rumah mereka. Aura membalikan tubuhnya melihat Aksa. Baginya ini benar-benar sebuah ujian perasaan yang luar biasa.
"Apa yang telah kalian berdua rencanakan? Kenapa harus ke mari?"
Aksa tampak memikirkan apa yang hendak dikatakannya. Lalu melirik Reza yang tengah berdiri mematung tepat di depan pintu. Aksa kembali memandangi gadis yang ada di hadapannya ini.
"Setelah melihat keadaanmu baik-baik saja, aku sudah bisa merasa lega. Seharusnya aku tahu, bahwa Kamu sudah tidak membutuhkanku lagi. Karena ada lelaki yang lebih hebat, akan melindungimu." Aksa berbalik hendak menuju lift kembali. Aura kehabisan kata-kata dan membisu.
"Tunggu!" titah Reza. Aksa menghentikan langkahnya.
"Saya yang sengaja memanggilmu ke mari, bukan dia!" Aksa kembali memutar tubuhnya.
Reza masih mematung menghadap pintu. Aura pun masih tak bergerak terus menatapnya. Aksa menatap pasangan resmi itu secara bergantian. Lalu melangkah menuju ke tempat di mana Reza berdiri.
__ADS_1
"Apa yang Anda inginkan, Pak?"
Reza menyunggingkan bibir tipis. "Jika Kamu menanggil saya dengan 'Pak' apa Kamu tak keberatan memanggil dia dengan 'Bu' ???"
Aksa kehabisan kata-kata, melirik seseorang yang masih mematung. Saat ini keadaan di antara mereka sungguh terlihat kacau. Aksa merasa terjepit di antara dua hati yang saling mencinta.
"Aku rasa, Anda tidak membutuhkan saya lagi. Saya harus kembali." Reza bergerak hendak meninggalkan mereka.
"Tunggu!" Kembali terdengar suara Reza dingin menghentikan langkah Aksa.
"Saya masih memiliki banyak hal yang ingin kita bicarakan. Masuk lah bersama kami ke dalam. Ikut lah makan bersama kami."
...bruuugght...
Terdengar suara Aura yang jatuh lemas. Tubuhnya yang luar biasa lelah, sudah tidak bisa menahan ketegangan yang luar biasa baginya ini.
Hai ... hai ...
Jangan lupa ikuti kisah ini hingga selesai ya. Karena bulan lalu sudah update cukup banyak, namun Level karya tetap tidak naik, Author akan up karya ini satu bab saja satu hari. Hal ini dikarenakan Author juga menulis karya yang barikutnya.
Terima kasih buat kakak-kakak readers yang udah mampir yaaa.. 😇😇😇
Ayo perkenalkan, para bocah yang ada di karya ini. Mereka berdua adalah orang dewasa yang terjebak di tubuh remaja ababil.. wkwkwkwkwk...
wkwkwkwk...
sudah banyak yang menyarankan Author menulis masalah rumah tangga dan karya 21+ agar Author bisa cepat mendulang uang, tetapi hingga saat ini Author masih betah menulis karya remaja..wkwkwkw
__ADS_1
Nanti tetap disempili dengan masalah rumah tangga menjelang tamat..wkwkwkw