
"Bagaimana sih? Kenapa batrainya malah tidak cocok?" bentak Reza terhadap Abizar yang hadir pada pukul tiga dini hari di apartemennya.
Abizar dengan rambut kusut, mata sayu, menutup mulutnya menguap karena dibangunkan saat lelap dalam tidurnya oleh sang big boss. Tubuhnya menggeliat, lalu mengecek kembali drone milik Reza. Sebenarnya, dia sengaja membeli semua jenis batrai untuk drone, karena Reza tidak menjelaskan secara spesifik jenis batrai yang digunakan pada drone milik Reza.
Abizar mengeluarkan bungkusan yang dia bawa tadi. Mencoba semua batrai yang ada. Akhirnya, ada satu yang cocok. Reza menyalakan kembali drone tersebut. Tampak pada remot kontrol pengendali benda ini, batrainya masih kosong. Hal ini memaksa Reza untuk mematikan kembali pesawat mini tanpa awak ini. Reza segera mengisi daya pada drone tersebut.
Reza terduduk menengadahkan kepala menatap langit-langit rumah yang ditempatinya. Semua bayangan bersama Aura terlintas kembali dalam ingatannya. Teringat kembali pada kejadian pertama berjumpa, berebut mie instan varian rasa yang sama-sama mereka suka.
"Aaaaaah ...." Reza menghela napas yang panjang. Matanya beralih pada Abizar yang sedang terlelap. Tadi Abizar langsung membaringkan tubuhnya sesaat setelah menemukan batrai yang cocok. Dia tidur di salah satu bagian sofa, yang diduduki Reza ini.
Dinda, Kamu di mana? Aah, aku sangat merindukanmu. Rumah kita terasa sangat sepi tanpa kehadiranmu.
Reza menatap drone yang masih tersambung dengan listrik. Dia merebahkan tubuhnya yang sudah sangat kelelahan karena hati dan pikirannya bekerja dengan keras seharian ini.
Di tempat yang berbeda, Aura terbangun dengan keadaan tengkuk yang sangat sakit. Dua kali mendapat serangan, membuatnya limbung tak kuasa untuk bangkit dari posisinya tergelatak di ruang gelap, persis seperti tadi. Hanya secercah cahaya yang tampak dari ventilasi udara yang bolong itu.
Aura mencoba bangkit, duduk dan menyandarkan diri pada dinding dingin ruangan ini. Tubuhnya telah puas dimangsa oleh nyamuk-nyamuk yang masuk lewat ventilasi itu. Mata Aura terus menatap memperhitungkan bagaimana cara agar bisa memanjat hingga sampai ke ventilasi bolong tersebut.
Dengan tertatih, Aura bangkit mencoba untuk berdiri. Bertopang pada dinding, akhirnya Aura bisa berdiri dengan sempurna. Aura menelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Akhirnya terdengar gemeletuk dari tulang leher, membuat perasaan Aura sedikit lega.
Aura telah menandai beberapa bongkah balok sebelumnya. Balok itu akan dijadikannya sebagai pijakan. Meski pundaknya masih merasakan sakit, dia tetap menyusun balok tersebut dengan sedemikian rupa. Setelah memperkirakan balok tersebut bisa menjadi pijakan, dia bersiap untuk naik. Balok itu memiliki panjang sekitar satu meter. Sehingga dengan tingginya yang 155 senti, bisa membantunya sedikit lagi menjangkau ventilasi mini itu.
Saat ini kedua kaki Aura telah menginjak balok yang telah dibuatnya berdiri dengan tegak. Lalu menjangkau ventilasi dengan lebar empat puluh senti meter, dan mulai bergelantungan. Sendal jepit, membuat dia tidak bisa berpijak pada dinding yang licin.
Akhirnya dia turun kembali. Aura mencoba menginjakan kakinya pada balok tadi, tetapi membuat balok menjadi oleng. Dengan cepat Aura menahan balok yang hampir rebah itu dengan jempol kakinya. Mengatur kembali agar berdiri tegak dengan tangan masih bergelantung pada ventilasi udara.
__ADS_1
Setelah balok berdiri dengan baik, dengan pelan Aura menginjakan kakinya pada balok tersebut. Menginjak balok dengan hati-hati, hingga tubuhnya telah sempurna berdiri di atas balok tersebut. Dia melepaskan sendal jepit dari kedua kakinya, lalu melemparnya keluar.
Aura kembali bergelantungan pada ventilasi tersebut. Memanjat dinding hingga kepala dan bahunya lolos melewati ventilasi itu. Aura beringsut membiarkan tubuhnya jatuh ke tanah.
...brugghh...
Marcell terbangun dari tidurnya mendengar suara itu. Mencoba bangkit dari posisi tidur, tetapi dia sedang dijadikan guling oleh Jendra. Marcell mencoba melepaskan diri dari pelukan Jendra yang semakin erat.
Aura meringis membersihkan kedua telapak tangannya yang sakit dan kotor karena menjadi tumpuan saat dia menjatuhkan diri. Beruntung dia mendarat di tanah bukan di tempat yang keras. Dengan segera memungut kedua sendalnya dan langsung melarikan diri.
Marcell akhirnya kehabisan kesabaran. Menendang tubuh Jendra yang telah menjepitnya. Lalu bangkit dan bergerak menuju ruang di mana dia mengurung gadis itu.
Aura sudah bergerak semakin menjauh, dia menyusuri jalanan sepi di mana semua warga masih terlelap dalam mimpinya. Aura berjalan dengan langkah cepat, tetapi penuh kewaspadaan diiringi oleh gonggongan anjing di rumah warga. Dia terus berjalan hingga berhasil menemukan jalan raya. Aura mengira-ngira posisinya saat ini berada di mana. Setelah paham, dia melangkah menuju arah di mana apartemen suaminya berada.
Marcell membuka pintu di ruang gelap tersebut. Alangkah terkejutnya dia saat tak melihat siapa pun berada di dalam ruangan itu. Marcell memastikan dengan menyigi ruangan tersebut menggunakan senter dari ponselnya. Dia melangkah ke arah balok-balok yang sedang berdiri, tepat di bawah ventilasi udara⁰ yang bolong.
Marcell hanya bisa berdecak. Kesal pada kelalaiannya yang tak pernah terpikir gadis itu akan melarikan diri dengan cara begini. Marcell segera keluar dari ruangan membangunkan Jendra dengan sebuah injakan pada perut pria itu.
"Ini semua gara-gara Lu, sia lan!"
Jendra terkesiap mendapatkan perlakuan tersebut. Dia bangkit dan mengucek mata masih mencoba mengumpulkan nyawa dalam kesakitan. Jendra menatap Marcell, wajah pria itu merah padam karena amarah.
Aura melihat seorang ojek online yang sudah berkeliling mencari nafkah di pagi menjelang subuh ini. Aura menyetopnya. "Bang, bisa antar saya tanpa harus menggunakan aplikasi?"
Tukang ojek melihat kondisi wanita muda ini terlihat sangat memprihatinkan pun merasa kasihan. "Kemana, Mba?"
__ADS_1
"Ke Jalan Hilligo!"
"Baik lah, naik lah!"
Aura mengangguk, segera duduk di belakang pengemudi ojek online tersebut. "Abang tenang saja, nanti bayarannya tidak akan membuat Abang rugi." Pengendara ojek online itu mengangguk dan melesat menuju tempat yang dikatakan oleh Aura.
Marcell dan Jendra telah berada di jalan. Mengikuti arah perjalanan yang ditempuh oleh Aura tadi. Dengan kendaraan super cepat milik Marcell, akhirnya pria itu menemukan gadis yang mencoba melarikan diri darinya sedang naik ojek online.
Aura melihat mobil yang sudah berada di sisi mereka. Matanya membulat melihat siapa yang menjadi pengemudinya. "Baaang, bisa ngebut gak? Nanti akan saya bayar mahal jika kita berhasil kabur dari mobil itu."
Bang Ojol mengangguk, memutar gas semaksimal mungkin. "Pegangan yang erat, Mba!" Aura berpegangan pada tukang ojek itu dengan sangat erat.
"Semasa muda dulu, saya pernah menjuarai balapan liar. Mba, gak usah khawatir." Aura mengangguk.
Pengendara mobil super fast itu menyeringai tertantang untuk mengejar motor tersebut. Marcell menginjak gas pada mobil itu semakin dalam.0
...bruuum...
...bruuuuuuuummm...
Terjadilah kejar-kejaran pada jalanan kota yang masih sepi ini. Marcell mencoba menyalip motor tersebut di hadapan mereka. Dengan lihai Abang Ojol meliuk berpindah posisi.
Reza tersentak dan langsung mencabut kontak penambah daya pada drone miliknya. Tanpa menunggu berlama-lama, Reza langsung menyalakan dan bergerak menuju balkon. Drone itu langsung terbang dikontrol menelusuri malam yang terasa begitu panjang. Setelah terbang sejauh lima kilo meter, dia melihat wajah kacau dari seseorang yang dirindukannya. Duduk di belakang pengendara ojek online. Reza langsung menuju titik itu.
"Bang, itu kantor polisi. Kita ke sana saja!" Bang Ojol mengangguk, berbelok masuk area kantor polisi.
__ADS_1
Marcell memukul setir kendaraan itu dengan perasaan kesal. Sementara Jendra tersenyum sinis. Dia pernah mengalami hal yang sama saat mengejar orang yang sama.
Aura segera melompat turun dari kendaraan roda dua tersebut masuk ke dalam kantor polisi. Sebuah mobil sport berbelok ke area yang sama.