CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER

CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER
173. Minta adik


__ADS_3

"Tapi awas yaaa, masih main-main lagi? Nanti aku tak segan bikin kamu kayak sambal geprek."


Devan mengacungkan dua jarinya. "Peace, Sayang. Aku janji gak bakal menduakanmu lagi."


"Jangan cuma itu! Kamu harus janji tidak akan menigakan, dan mengempatkan juga!" sela Stella.


Aura memapah Reza duduk di sofa. Setelah Reza mengangguk, Aura duduk di samping suaminya. Mereka berdua menonton kedua pasangan tersebut tengah asik memainkan bayi mungil mereka.


"Jadi rencananya kapan?" tanya Reza.


"Nanti setelah tamat aja!" timpal Aura. Dia sendiri merasa kesulitan mesti hamil sambil kuliah. Semester ini pun terpaksa cuti karena lahiran.


Wajah Stella tampak sedikit merah. Devan dengan santai menyandarkan diri di sofa. Melihat hal itu membuat Aura terkekeh.


"Kalau aku sudah siap, kapan pun itu. Dianya aja yang minta waktu. Itu tuh, ngikutin ucapan istri kamu." ucap Devan.


"Iya, nanti saja! Susah, pokoknya berat." timpal Aura.


"Jadi kamu nyesel nih, nikah sama aku?" Reza mendelik menatap istrinya.


"Nasi sudah jadi bubur, nyesel tak nyesel ya terpaksa harus dijalani." Aura membuang muka sambil menahan tawa melihat pria di sampingnya ini.


💖


💖


Enam bulan kemudian, Aura tengah memompa ASI untuk persiapan baby Aksa ditinggal untuk kuliah. Reza yang memperhatikan itu, terus menahan saliva karena telah berpuasa cukup lama. Setiap saat dikter selalu memperingatkannya agar tidak melakukan aktifitas suami istri. Sehingga dia benar-benar merasa nelangsa karena puasa.


Aura melirik suaminya yang sedari tadi fokus melihat ke arahnya, memalingkan tubuh melanjutkan memompa ASI. "Ini milik Aksa, kamu tak boleh ikut menikmatinya!"

__ADS_1


"Yang, udah enam bulan nih ...." Terdengar rengekan yang sudah didengarnya setiap hari semenjak enam bulan lalu.


"Kanda nggak lihat? Aku ini udah siap-siap mau ke kampus. Kanda juga udah rapih mau ke kantor kan?"


"Nanti malam yaah?"


Aura tidak menjawab, membereskan peralatan pompa ASI dan menyalin ke dalam botol. "Lumayan segini ya, Sayang? Dapat dua kali mimi menjelang Bunda pulang." Aura mencium pipi putranya gemas. Lalu baby Aksa terlihat ngemutin kakinya.



Bibi datang hendak mengambil alih mengasuh baby Aksa. Mata Bibi membesar melihat bayi kecil itu nge nyot jempol kakinya.


"Waaahh, ini tandanya dia minta adik nih, Nona, Tuan?"


Secara refleks Aura menatap Bibi dengan wajah ketakutan. Sementara Reza menyeringai menganggukan kepala. Aura menggeleng cepat. Reza mengangguk cepat.


"Tidak apa-apa. Alon-alon asa klakon, kata mamaku," ucap Reza dengan senyuman yang penuh arti.


Aura segera menuju kampusnya. Kampus yang semenjak enam bulan lalu tidak didatanginya. Dia kembali menikmati indahnya masa perkuliahan. Bertemu dosen, dan kawan sejawatnya. Saat kuliah berakhir, Aura buru-buru untuk pulang.


"Byee ...!" Aura melambaikan tangannya kepada Stella. Karena dia mendapat kabar bahwa posisi Reza sudah dekat untuk menjemputnya. Oleh sebab itu, dia buru-buru menuju parkiran.


Namun, saat berjalan menuju parkiran, dia dicegat oleh seorang gadis yang tidak dikenal. Gadis itu mengintari Aura mencoba membaca apa yang ada pada dirinya.


"Maaf, kamu siapa ya?"


"Kamu yang namanya Aurora Safitri?" tanya gadis itu dengan nada yang tidak bersahabat.


Aura mengangguk. "Ada apa ya? Ada yang bisa aku bantu?"

__ADS_1


"Enam bulan tidak masuk kampus, ternyata kamu habis melahirkan. Apakah itu anakmu dengan Bang Aksa?"


Dengan Refleks Aura menyumpal mulut gadis itu dengan tangannya. Wajahnya terlihat mengancam gadis yang dirasanya tidak sopan teehadap seseorang yang telah berpulang.


"Kau ini siapa? Kenapa kenal dengan almarhum?"


Gadis itu mendorong Aura. "Memalukan! Ternyata ada ya, seorang se mu ra han kamu? Dengan tidak tahu malunya datang ke kampus setelah apa yang telah kamu lakukan?"


Keken masih ingat bahwa dulu Aksa memperlihatkan foto mereka yang tidur berdua di sebuah kamar hotel. Hal ini sempat membuatnya merasa jijik pada Aksa. Namun, akhirnya ingin menyerahkan diri juga, tetapi tetap ditolak.


plaaak


Aura refleks menampar gadis itu. "Apa urusanmu denganku? Aku tidak mengenalmu! Jika kau tak mengenalku, tetapi dengan berani mengusikku, maka aku tak segan untuk menghancurkanmu!" ucap Aura.


"Satu lagi! Jangan pernah kau sebut nama suci almarhum dengan kata-kata yang tak pantas dari mulutmu itu! Jangan kau buat dia sengsara di alam sana!"


"Ingat! Jangan sesekali kau menyebut nama almarhum dengan sesuatu yang buruk, karena aku tak akan membiarkannya. Dia adalah malaikat penolongku."


Gadis itu dengan gerakan cepat menarik rambut Aura sambil men ce kik lehernya. "Kau pikir kau siapa hah? Dasar wanita ja* lang!"


Aura yang sudah bisa bergerak bebas, menarik tangan gadis itu dan menguncinya ke arah belakang. "Kau mau jadi jagoan? Hah, kenapa aku jadi kesal mengingat almarhum abangku bisa mengenal cewek seperti kamu?"


"Ekheeemmmm!"


Terdengar suara deheman yang sangat dia hafal. Aura melepas dan mendorong gadis itu agar segera enyah dari hadapannya. Aura melihat pria dengan pakaian rapi lengkap dengan jas terpasang di tubuh, tengah bersidekap dada. Aura dengan langkah ringan menuju ke arah pria itu dan menarik menuju kendaraan yang tak jauh terparkir dari sana.


Keken menatap Aura dengan nanar. "Sial! Ternyata wanita seperti itu yang disukai Bang Aksa. Bahkan, dia sudah memiliki pengganti Bang Aksa dengan begitu cepatnya?"


"DASAR CEWEK MUURAAHAAAN!" teriak Keken kepada Aura.

__ADS_1


__ADS_2