
"Hey, manis!"
Namun tidak dihiraukan oleh gadis itu, melanjutkan perjalanannya, dalam sikap waspada. Terdengar langkah kaki para preman mengikutinya. Aura menoleh ke arah belakang.
Satu, dua, tiga, empat, lima, enam. Jadi mereka semua ada enam terbungkus sarung. Aku harus menuju jalan raya dulu.
Aura mempercepat langkah setelah berlari segera menuju arah jalan utama. Mereka juga berlari mengejar gadis itu. Aura melihat sepotong kayu yang cukup panjang. Mencongkel dengan kaki dan kayu itu melayang. Aura menangkap, dan menutar-mutar kayu tersebut dengan kedua tangannya bagai pendekar kungfu.
"Jiiieeehh, ternyata dia hebat juga Boss!" ucap salah satu preman yang kembali membalut tubuhnya dengan sarung sambil mengikuti arah putaran tongkat sakti milik Aura.
Usai memutar-mutar kayu yang dijadikan tongkat itu, Aura menantang mereka untuk mendekat. Telunjuknya digerakan maju mundur, satu tangan lagi bertumpu pada tongkat, seperti serial kera sakti.
"Ini cewek kebanyakan gaya juga, tangkap dia!" titah satu orang yang mungkin jadi ketuanya, masih kemulan dalam sarung.
Salah satu preman mengikat sarungnya di pinggang. Mengambil ancang-ancang silat ala Si Pitung. Sedangkan Aura kembali memutar-mutar tongkat tersebut mengelilingi tubuhnya, lalu melompat memukul kepala salah satu preman ala Si Pitung tadi. Pupil Mata preman itu seketika menjadi juling karena pusing, lalu KO.
Melihat salah satu anggota mereka KO, preman lainnya mulai mengikat ujung sarung membentuk bola. Ujung lainnya diputar-putar hingga sangat kencang. Dipastikan saat kena sarung yang menjadi bola tersebut, cukup membuat tubuh menjadi sakit.
Aura berlari dengan cepat, memegang ujung tongkat kali ini menjadi galah, lalu menumpukan tongkat tersebut pada tanah. Tubuhnya terangkat, kaki dilayangkan menukik tajam menerjang dada preman yang masih asik bermain baling-baling sarung.
Kawanan yang lain menyiapkan sarung menjadi jaring untuk menangkap Aura secara bersama. Yang lainnya menjadikan sarung sebagai jerat untuk menarik kaki Aura. Aura jatuh terjengkang, tetapi dia langsung bangkit.
"Beraninya kroyokan sama cewek! Malu Bang! Masa enam orang ngeroyok satu cewek lemah yang imut seperti aku?" Kembali menghentakan tongkat pada tanah, berlaga seperti raja kera sun go kong.
"Ayo Sayang, lu gak perlu mengeluarkan tenaga seperti itu! Lebih baik menyerahkan diri saja. Mari kita nikmati malam indah ini bersama dalam memadu kasih!" ucap seorang yang tampak sebagai ketua di antara mereka. Mulai membuka sarung yang menyelimuti tubuhnya.
"Maksud Abang-Abang ini, aku sendirian untuk kalian berenam?"
__ADS_1
Ketua preman tersebut, mulai berjalan mendekati Aura, meletakan sarung pada leher. "Kalau Kamu tidak mau rame-rame, bagaiamana kalau dengan Abang aja? Jadi menikmati malam dingin ini, kita satu sarung berdua." Mencoba menyentuh dagu Aura. Dengan sigap, Aura mengangkat tongkat dan memukulkan pada kepala pria itu.
...duuuugghh...
"Aaagghhh!" Ketua preman tersebut memegang kepalanya karena merasa sangat pusing. "Awaaas Kaau!" Meski kepalanya pusing, dia mencoba untuk menangkap Aura.
...duuuugghhh...
Kali ini kaki Aura melayang tepat di dadanya. Hal ini membuat tubuh tambun ketua preman mundur beberapa langkah. Aura menaruh salah satu tangannya di pinggang, lalu mengangkat dagunya masih gaya menantang ala raja kera.
Tanpa dia sadari salah satu preman yang masih baik-baik saja, menyarungi dan mengikat dia dari belakang. Ditambah satu lagi preman bertugas untuk merebut senjata di tangan gadis itu. Aura berada dalam sekapan dua preman yang membelenggunya dengan sarung-sarung tersebut.
Ketua preman menepuk-nepuk kepalanya beberapa kali, dan sedikit menggeleng. Sepertinya keadaan ia mulai stabil. Meski agak sedikit senut-senut pada bekas pukulan tongkat tadi. Ketua preman kembali mendekati Aura.
Ketua preman menarik hodie yang sedari tadi melekat di kepala gadis itu. Melihat Aura mata semua preman membesar. Ketua preman menjepit dagu gadis itu, menilik kiri dan kanan wajah Aura.
"Lepaskan saya ke pa rat!"
"Kuraang ajaar! Apa yang kalian lakukan?" Terdengar teriakan dari arah belakang.
...duuugh...
Ketua preman rebah ke arah depan. Ternyata dia kena hantaman dari kaki Reza. "O-om Mesum," desis Aura.
Lalu Abizar juga muncul dengan posisi siap menyerang. Reza memberikan tinju mautnya pada salah satu preman yang menyekap Aura. Nafasnya mulai tersengal. Aura melihat keadaan Reza, menarik tangan preman terakhir yang mencoba membuka jaketnya, tubuh preman itu ditumpukan pada pinggul, dan ditarik ke depan. Sang preman terjungkang ke depan.
Aura langsung mengejar Reza, "Om, Kamu tidak apa?" Menangkupkan kedua tangannya pada kedua pipi Reza.
__ADS_1
Reza masih tersengal. Memberi aba-aba bahwa dia baik-baik saja. Aura berdiri di hadapan Reza, menjadi bariel pertahanan bagi pria itu.
Aura kembali bersiap untuk melawan para preman tersebut. Abizar masih asik gelud dengan dua orang yang memukulnya dengan sarung-sarung di tangan mereka. Sedangkan, dua orang sudah tumbang.
Tinggal dua orang lagi yang harus disingkirkan. Aura mulai bergerak hendak melawan, tetapi Reza menarik tangan gadis itu dan menggelengkan kepalanya. "Dinda, jangan!"
"Pak! Itu di sana!" Terdengar suara wanita yang sedang memegang perut dan pinggangnya. Dia ditemani oleh dua orang polisi. Lalu polisi yang melihat situasi tersebut segera menembakan senjata ke atas langit, sebagai aba-aba.
...dooorrr...
"Semua berhenti!"
Preman tadi yang masih asik menyerang, terkesiap mendengar suara tembakan. "Polisi, polisi, polisi! Ayo kabur!"
Empat preman berhasil kabur, sedangkan dua yang KO dibekuk oleh dua polisi tadi. Mereka berdua diborgol, dan polisi tersebut memanggil anggota lain untuk membawa kendaraan patroli untuk mendekat.
Reza yang sudah mulai sedikit membaik, segera memeluk Aura. "Dinda, Kamu tak apakan?" Reza mengelus rambut Aura, menyangka gadis itu ketakutan. Reza menarik kedua tangan Aura, membuat tangan gadis itu seolah ikut memeluknya juga. Namun, kali ini Aura terlihat pasrah dan benar-benar ingin memeluknya. Membenamkan wajahnya pada pria itu.
"Terima kasih Om."
"Kanda!"
"Oh, iya, terima kasih Kanda. Terima kasih sudah hadir untuk menyelamatkan aku." Masih dalam dada Reza. Aura merasakan degupan jantung Reza semakin cepat. Gadis itu langsung didorong untuk lepas dari pelukannya.
Aura melongo dan shock bagai ditolak oleh gebetan. Lalu memasang muka bebek karena kesal. Menyesali sikapnya, sudah terhanyut gara-gara terharu karena Reza hadir untuk menyelamatkan dia.
Pria itu kembali membelakangi Aura. Memegang jantungnya yang kembali berdetak dengan sangat cepat. Aura mengintip apa yang dilakukan oleh pria itu. Melihat wajah sang Dinda tiba-tiba nongol, kini giliran Aura yang didorong agar menjauh darinya.
__ADS_1