CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER

CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER
88. Tuan Sistem yang terlupakan


__ADS_3

Ponsel tersebut dilihat oleh Reza. Dia Melihat panggilan private, yang tidak terdeteksi. Tiba-tiba dia teringat pada Tuan Sistem yang terus merecoki calon istrinya ini.


"Ekheem." Reza melakukan tes vokal sebelum menjawab panggilan tersebut. "Halo." Dia sengaja membuat suaranya lebih berat dibanding biasanya.


"Halo, saya bicara dengan siapa?" tanya yang di seberang.


"Saya juga ingin bertanya, saat ini saya bicara dengan siapa?"


"Sebelumnya ini adalah kontak yang saya kenal. Namun, pemilik kontak ini mengatakan bahwa ponsel miliknya telah dicuri."


Mendengar penjelasan dari orang yang di seberang, membuat ide Reza jadi semakin berkembang. "Ekhm, apa maksud Anda? Apa ponsel yang saya beli ini adalah sebuah barang curian?"


"Katakan! Siapa Kau sebenarnya!?" bentak yang di seberang lagi.


"Saya pemilik baru dari ponsel ini. Berhubung pulsanya masih banyak, saya ingin menggunakannya hingga habis terlebih dahulu."


"Dasar, manusia sampah! Penadah barang curian!" Panggilan setelah itu hening.


Reza termangu memandang ponsel yang dimatikan secara sepihak oleh yang di seberang. "Sialan! Gue dibilang penadah. Namun suara orang ini sangat mirip dengan pria yang membawakan Dindaku laptop kemarin."


"Om, kenapa pegang-pegang hape aku?" Tiba-tiba Aura hadir. Merebut hape itu dengan segera. Merasa heran saat melihat wajah terkejut milik Om Mesum ini.


"Sudah kubilang, jangan memanggil Om lagi! Nanti adik-adikmu mengikuti bagaimana?"


"Habis, memegang benda privasiku ini tanpa izin, ngeselin banget tau nggak?" Aura mendengkus dan merebut hape yang ada di tangan Reza.


"Dih, galak amat!"


"Huh!" Aura pergi dengan perasaan dongkol.


Sementara Reza meyakini orang yang menelepon barusan adalah pria yang sama saat itu. Orang yang menggunakan panggilan privacy yang sama dengan Tuan Hacker.


"Kalau tidak salah namanya Marcell. Sayang, sekarang tidak ada laptop. Meskipun bukan orang yang berkecimpung pada dunia peretasan, bagaimana pun juga, aku sudah melewati semua jenis program dalam bidang IT. Termasuk itu, peretasan."

__ADS_1


Ditatapnya Aura yang tengah sibuk hilir mudik untuk persiapan esoknya. Mereka akan langsung melaksanakan pernikahan secara sederhana di KUA. Karena Aura tidak menginginkan semua orang tahu akan statusnya, maka tak akan ada yang namanya resepsi pernikahan. Sangat disayangkan memang, tetapi Aura masih ingin melanjutkan perkuliahannya sebagai mahasiswa penerima beasiswa.


Padahal, jika dia tidak lagi menerima beasiswa pun, aku masih sanggup membiayai semua untuknya.


Reza mulai mengelilingi rumah itu. Mematut-matut sesuatu, menghitung-hitung di dalam buku memo yang selalu dibawa kemana-mana. Melihat kondisi kamar mandi, dapur dan kamar-kamar rumah itu.


"Seharusnya dana segini cukup untuk semuanya ya?" ucapnya sendiri kembali memperhatikan catatan tadi.


"Lagi ngapain O, eh Kanda?"


"Coba Kamu ucap Kanda seratus kali dulu menjelang kita nikah!"


Aura mencabikan bibirnya. "Kamu udah tahu nama panjang aku belum?"


"Udah dong. Itu sudah aku hapal semenjak nama itu muncul di dalam hidupku."


"Kalau begitu sebutkan nama panjangku!"


"Aurora Safitriiiiiiiiiiiiiiii. Nah, kalau gitu nama panjangku siapa?"


"Ada apa? Apa Kamu mengingat sesuatu hal?"


"Oh, bukan apa-apa!" ucapnya. Padahal dalam kepalanya sudah sibuk menghitung penalty dana yang akan dipotong Sistem setelah absen selama tiga hari. Dia melirik panjang pada Reza.


Calon suaminya itu memberi kode, "Apa?" bisiknya.


'Bagaimana ini? Apakah aku harus meretas perusahaan suamiku sendiri?'


Reza tampak mendekat, bertanya tepat di telinga Aura. "Ada apa? Apa yang Kamu pikirkan?"


"A-- aku--" Akhirnya Aura memilih untuk diam kembali. 'Semoga limit saldonya masih cukup untuk potongan lima belas juta,' batinnya.


"Oke, hari ini adalah batas rahasia-rahasiaan antara kamu denganku. Esok, setelah semuanya telah sah, jangan harap aku akan melepasmu tidur jika masih menyimpan rahasia dariku!" Lalu Reza memilih keluar menikmati malam. Ternyata di luar lebih banyak nyamuk lagi, maka dia memilih untuk masuk kembali.

__ADS_1


Ponsel Reza berdering. Itu adalah panggilan dari Ibunya. "Halo, Ma. Udah sampai mana?"


"Mama udah di taksi online sama Papa Kamu. Kirimkan sharelock alamat istri Kamu sekarang juga! Biar supirnya bisa mengantar kami ke sana sekarang juga!"


Alis Reza terangkat melihat keadaan rumah keluarga Aura ini. Sang Ibu pasti menolak masuk ke dalam rumah ini. "Lebih baik Mama dan Papa mencari hotel saja! Biar Kami semua mendatangi kalian ke sana."


"Apa mertuamu tidak akan merasa tersinggung, jika kami tidak mampir ke sana?"


"Mama jangan khawatir! Aku akan mengatur semuanya!"


"Oh, baik lah! Nanti Mama akan mengirim alamat hotel padamu."


"Ya." Panggilan ditutup. Reza segera mencari Aura. Setelah tampak, gadis itu masih terlihat beres-beres, Reza segera memdekat padanya.


"Mama dan Papa udah sampai. Tidak apa kan jika kita temui mereka di hotel saja?"


Secara refleks Aura melihat keseluruh isi rumahnya. Dia merasa rumah ini sudah cukup rapi. "Emang rumah ini kenapa? Apakah mereka tidak mau memasuki rumah calon menantu?"


"Bukan begitu, bukan mereka yang menolak. Hanya saja Kanda yang meminta, biar menemui mereka di hotel saja. Selain membuat keluarga Kamu nyaman, keluargaku juga ikut nyaman."


Aura menatap Reza dengan tajam. Matanya mendelik karena marah. "Kamu pasti tahu, Mama Kamu tidak akan suka melihat keadaanku yang begini kan? Makanya Kamu melarang mereka datang ke sini karena takut membatalkan pernikahan ini."


Reza menggenggam kedua lengan Aura. Menatap netra bewarna amber oleh matanya yang bewarna cokelat terang. "Nanti, aku janji nanti mereka akan ke sini. Setelah kita renovasi rumah kedua orang tuamu ini."


"Maksudmu?"


"Setelah akad nikah nanti, aku akan meminta arsitek sahabatku untuk merenovasi rumah ini." Kedua tangan Reza menangkupkan kedua pipi gadis itu.


"Oleh sebab itu, Kamu harus bersabar ya. Lebih baik nanti saja mereka datang ke sini. Kita harus menambah jumlah kamar. Masing-masing anak harus memiliki satu kamar juga. Selain itu, kita buat kamar tamu juga, supaya saat ada keluarga jauh berkunjung, mereka bisa nyaman menginap di sini."


Mendengar penjelasan Reza, Aura seperti disiram oleh air yang sejuk. Dia termangu menatap wajah lelaki itu. "Tetapi, biayanya pasti sangat banyak."


Aura teringat ulahnya yang selalu mengerjai perusahaan Reza. Namun entah kenapa pria yang tepat berada di hadapannya ini, berubah menjadi baik seperti ini. Sementara, Tuan Sistem pasti akan memaksanya untuk terus menyerang perusahaan milik Reza, hingga semua benar-benar hancur.

__ADS_1


Tubuh Aura terasa lemas. Pria ini masih begitu baik pada dirinya yang selalu berniat jahat pada laki-laki ini. Wajah Aura terlihat sedikit pucat. Reza berjongkok menyamaratakan tingginya pada calon istrinya ini. Secara refleks Aura memeluknya.


"Maafkan aku calon suamiku. Aku adalah penjahat yang selalu ingin menjatuhkanmu."


__ADS_2