
"Apa? Kenapa Kamu mencari orang jauh seperti itu? Seperti tak ada wanita lain saja di sekitar sini? Tidak boleh!"
Reza melihat sang ibu sambil mengerjapkan mata. "Perasaan beberapa hari lalu Mama sibuk nyarikan aku jodoh mulu deh? Ini giliran aku udah pengen nikah malah dilarang?"
"Habis Kamu nyarinya orang tidak Mama kenal. Mama maunya mengenalkan Kamu kan dengan anak dari anggota sosialita Mama. Bukan yang sembarangan kamu tangkap aja?"
"Mama pernah lihat anaknya kok. Waktu itu pernah ke rumah sakit kan? Dia mahasiswa Papa waktu itu lho?"
Sang ibu mencoba mengingat-ingat gadis yang dibilang mahasiswa suaminya. "Yang rambut panjang itu ya?"
"Nah, itu. Gimana menurut Mama?"
Sang ibu kembali mencoba mengingat-ingat gadis yang berambut panjang. Waktu di rumah, sang suami selalu memuji-muji mahasiswanya itu. "Bukan kah dia terlalu muda untukmu? Jangan deh! Nanti malah nyusahin!"
"Tidak apa Ma, yang penting aku cinta sama dia."
Mata sang ibu membesar, mulutnya terbuka. "Barusan apa yang Kamu katakan? Cinta sama dia? Sejak kapan?"
"Iya, aku cinta sama dia. Jadi nanti saat aku membawanya ke sini, aku harap Mama dan Papa memperlakukan dia dengan baik. Aku sudah tidak sabar untuk memilikinya."
Wajah sang ibu membulat, sungguh takjub mendengar ucapan anak lanangnya ini. "Bagaimana caranya Kamu mencintai dia? Bukan kah harus ditiliki dulu bibit, bebet, dan bobotnya? Setelah semua jelas, Kamu baru bisa mencintai dia. Jangan asal sooorr cinta lalu minta kawin aja? Berat lho, punya pasangan yang jauh lebih muda? Berapa umurnya?"
Reza berpikir sejenak. "Delapan belas tahun kalau nggak salah?"
"Naah, dia delapan belas, Kamu sebentar lagi dua puluh delapan. Yakin bisa menyeimbanginya?" Ucap sang ibu sedikit gusar.
"Ma, bagus kali beda usia istri jauh lebih muda? Jadi nanti cantiknya lamaaa," ucap Reza melebarkan tangannya.
"Yaa, silakan Mama memikirkan bagaimana mekanismenya. Yang jelas aku ingin dalam waktu dekat, segera menikahinya. Sebentar lagi dia akan liburan semester, saat itu saja kita laksanakan pernikahannya."
Sang ibu membuka ponselnya. Melihat jadwal yang paling sesuai, akan tetapi kening sang ibu langsung berkerut. "Bukannya jadwal liburan mahasiswa itu minggu depan?"
"Nah itu, apa Papa dan Mama bisa ke sana meminta Aura langsung kepada orang tuanya? Jadi biar mereka melihat keseriusan kita untuk melamar anak mereka kan? Jadi setelah itu langsung saja mengadakan pernikahan di sana."
"Waduh Reza, kalau Kamu buru-buru begini Mama malah jadi pusing kaaan?"
💖
Aksa melihat jadwal perkuliahan semester ini sudah selesai. Orang tuanya sudah memintanya untuk pulang selama liburan semester ini. Namun dia menolak, dengan alasan ingin mencari pekerjaan untuk mengisi kekosongan pada pundi-pundi keuangannya.
__ADS_1
Aksa kembali melihat ke arah foto kenangannya dengan Aura. Melihat foto-foto semasa mereka masih sekolah. Mengingat kenangan indah yang mereka rasakan dalam waktu yang sangat singkat.
"Aku akan merebutmu kembali darinya Ra. Jagalah hatimu untuk tetap mencintaiku. Setelah aku memiliki sesuatu yang bernama kekuasaan, aku pastikan kita tidak akan mudah dipatahkan oleh siapa pun."
Aksa melayangkan surat pembatalan kontrak dengan Harmony Grup. Mencari lowongan yang menerima pegawai yang masih berstatus mahasiswa.
Sementara di kampus, Arga kembali mengejar-ngejar dua gadis tadi. "Aura, Stella ...!" Dia mempercepat langkah, karena dua gadis tersebut berjalan dengan tergopoh-gopoh.
"Aura, Stella! Tunggu!" Arga masih mengejar mereka berdua.
Tiba-tiba, saat tepat berada di depan ruangan Pak Barack Adijaya, pintu dibuka dari dalam. Aura ditarik oleh tangan seseorang, sehingga Stella yang merangkul gadis tersebut ikut tertarik masuk ke dalam ruang milik dosen mereka tersebut. Aura langsung masuk ke dalam dekapan seorang pria. Ternyata dosen pemilik ruang tersebut sedang tidak ada di tempat.
Mata Aura membesar saat melihat siapa yang berani mendekapnya seperti ini. Stella ikut membesarkan matanya melihat adegan sok romantis yang tampak di depan matanya.
"Apaan sih? Kenapa malah jadi sering ke sini?" bentaknya mencoba melepaskan diri dari dekapan pria itu. Dia semakin gencar melakukan pendekatan dengan calon istrinya.
"Kamu sudah tidak ada jadwal kuliah kan? Ayo ikut untuk bertemu calon mertua!"
Aura dan Stella tertegun mendengar ucapan pria ini. "Ca-calon mertua?"
"Stella, namamu Stella kan? Kamu boleh pulang duluan!" Reza memberi kode lewat tangannya.
"Bahagia ya, Om? Maksa-maksa menikahi Aura kayak gini?" tambahnya prihatin melihat wajah Aura yang ngenes di dalam rangkulannya.
...tok...
...tok...
...tok...
"Aura, Stella? Ada apa? Bukan kah Pak Barack sudah pulang semenjak tadi?" Suara Arga memecah suasana canggung di antara mereka bertiga.
Stella membuka pintu, dan Arga terperangah melihat Aura tengah didekap oleh pria dewasa. "Om-om, kena---"
Stella buru-buru membekap mulut Arga dan menutup pintu tersebut dari luar. "Ayo temeni aku aja!" ajak Stella menarik Arga.
"Kemana? Itu Aura sama siapa di dalam ruangan Pak Barack? Nanti bisa heboh lhoh seisi kampus melihat kejadian itu?" ucap Arga hendak kembali ke ruang tadi.
Stella kembali menarik Arga. "Ayo, kamu temani aku saja?"
__ADS_1
Saat menarik-narik Arga, Stella melihat sosok cowok imut yang kala itu membawa kamera. Stella segera melepaskan pegangannya terhadap Arga. Menyugar rambut sebahunya, langsung hendak menangkap pria itu.
"Haloo Kakak reporter?" sapa Stella langsung tepat berdiri di hadapan Devan.
Devan melihat gadis manis yang menghambat langkahnya, segera menyugar rambutnya itu. "Halo gadis manis? Bagaimana kabarmu?" Menyebarkan senyuman yang menyilaukan miliknya.
Arga yang sudah dilepaskan Stella kembali menuju ruang Pak Barack tadi. Dia merasa takut jika Aura dalam ancaman pria yang merangkul gadis itu. Ketika hendak membuka pintu, ternyata pintu tersebut telah dibuka dari dalam.
"Arga?" Suara Aura sedikit heran. Aura segera melangkah keluar dari ruang dosen diikuti oleh Reza.
"Apa yang kalian lakukan di dalam?"
Reza hanya mengembangkan senyum tipisnya. Mereka berdua bersiap-siap akan mengikuti acara makan malam keluarga Reza. Aura berjalan lebih dahulu sendirian. Terheran melihat Stella malah asik ngobrol dengan cowok yang kemarin mengaku sebagai reporter kampus.
"Van, kenapa ke sini?" tanya Reza.
Devan melirik ke arah Stella. Tidak ingin gadis yang sepertinya menyukainya ini tahu bahwa dia ingin ketemu kecengan baru. Kebetulan dapat kenalan saat mencari info tentang Aura beberapa waktu lalu.
"Oh-oooh, hanya ingin main saja," ucapnya mengelak.
"Kak Devan, aku boleh minta kontaknya?"
Aura hanya tersenyum tipis melihat aksi sahabatnya ini. 'Stella sedang gencar mencari pasangan kayaknya,' batin Aura.
Sementara Devan melihat sesuatu aneh antara Aura dan Boss-nya beberapa waktu lalu. Kedua alisnya menyatu mencoba membaca hubungan di antara kedua orang ini.
"Pak Reza, apakah Anda pacaran dengan Nona Ha--" Reza dengan sigap membekap mulut pria yang sedikit ember ini.
"Iya, saat ini Kami pacaran. Kamu tidak usah ribut!" gumam Reza tepat hadapan telinga Devan.
Devan bertepuk tangan menggelengkan kepala. Mulutnya hanya bisa mengulum senyuman. Mengacungkan kedua jempolnya.
'Ternyata dia terjerat cinta si Nona Hacker rupanya, ckckck,' batin Devan.
Stella menarik-narik lengan baju Devan. Menyerahkan ponselnya kepada Devan dengan mata berkaca-kaca. "Ayoo Kak, tuliskan kontaknya sekarang juga!"
Setelah sekian lama mencerna ucapan Devan yang diperhatikan dalam diam, akhirnya Arga memahami semua kejadi yang tampak di depan matanya ini.
"JADI AURA BERPACARAN DENGAN LELAKI ANEH INI?"
__ADS_1