
"Abang ganteng, maafkan Keken yang belum berhasil menjadi jodohmu. Semoga Abang mendapatkan ketenangan dan kedamaian di alam penantian. Maafkan Keken telah berpikir buruk tentang Abang."
Gadis itu menikmati suasana sendu yang dia rasa saat ini. Meskipun sama sekali tak mendapat kesempatan dari Aksa, paling tidak dia merasa tenang, Aksa pergi dalam keadaan husnul khotimah.
"Kalau ke sini masih nangis-nangis kayak tadi, aku gak mau bawa kamu lagi." Wajah Reza terlihat dingin. Dia memandangi gadis yang bernama Keken tadi yang terlihat menangis di samping pusara Aksa.
Aura kembali bergelantung pada lengan suaminya. "Kamu jangan cemburu pada orang yang telah pergi. Bantu doakan hal yang baik juga untuknya. Bagiku, kamu dan dia adalah orang yang sama."
Reza melepaskan pelukan istrinya, masuk ke dalam mobil. Aura mencibir melihat tingkah kekanakan suaminya yang selalu cemburu kepada almarhum. Bahkan kecemburuan itu ikut merembet kepada buah hati mereka. Karena bayi mungil itu diberi dengan nama yang sama.
Aura menunggu Keken menyudahi petangisannya di samping pusara Aksa. Setelah itu, dia mengajak Keken untuk singgah ke rumahnya. Mata Keken terbelalak melihat betapa mewahnya rumah yang mereka tempati. Lalu tatapan pun beralih pada bayi tampan yang menyambut kedatangan mereka.
"Aksa, Bunda mau membersihkan diri dulu ya, Sayang."
Wajah Aksa kecil terlihat ingin mengikuti sang ibu. Reza masih dengan sikap cuek tanpa berkata apa-apa pada Keken langsung masuk rumah menuju ke kamar untuk membersihkan diri juga.
"Siapa nama kamu, Dek?" tanya Keken memainkan jemari bayi mungil tersebut.
"Aksara, Tante ...." ucap pengasuhnya.
__ADS_1
Wajah Keken melongo karena bingung. Keken pun hendak mengambil alih menggendong Aksa. Namun, dilarang oleh sang pengasuh.
"Jangan, Tante. Bersihkan diri dulu, baru boleh memegang bayi. Karena Tante, bisa jadi membawa kuman atau virus yang membawa penyakit. Bayi ini masih sangat sensitif."
Keken mencabikan bibirnya. Dia memilih duduk di sofa memandang ke segala arah. Suasana di sini terasa benar-benar berbeda dengan kosan yang sempit. Padahal orang tuanya juga memiliki rumah kos di dekat kampus. Ternyata malah nyasar di kosan orang lain. Akhirnya, Aura turun dan langsung mengambil Aksa.
"Kamu nikmati dulu hidangan yang ada, aku akan memberi Aksa kecil ASI terlebih dahulu," ucapnya masuk ke sebuah kamar yang tidak jauh darinya.
Keken mengangguk, mengeluarkan ponselnya. Dia memotret suasana di dalam rumah tersebut lalu membuat story di laman media sosial.
Enak banget jadi istri orang kaya ...
Tak lama, Reza pun turun dengan pakaian casual yang menonjolkan otot di lengannya. Mata Keken terperangah melihat ke arah suami Aura tersebut. Dia kembali membaca pesan dari temannya itu.
Reza menyadari cara melihat aneh gadis itu. Dia sudah banyak pengalaman menilai sikap seorang perempuan. Dengan sikap cuek, tanpa berkata apa-apa, Reza langsung menuju dapur. Dia lebih memilih bersemedi di dapur membuka berita bisnis yang terbaru.
Beberapa waktu kemudian, Aura membawa Keken untuk duduk di dapur juga. Aura menyerahkan Aksa kepada suaminya. Reza kembali melipir ke arah luar rumah. Mengajak Aksa bermain di taman.
Tatapan gadis itu mengingatkan aku akan sesuatu, batin Reza.
__ADS_1
Tiba-tiba, sebuah senyuman tipis terulas di bibir Reza. "Boy, sepertinya Ayah punya sesuatu untuk Bunda kamu."
Tak beberapa lama, Aura menjemputnya mengajak makan bersama. Aura akan mengambil Aksa kecil, namun ditolak oleh Reza. Dia ingin menggunakan Aksa sebagai tameng beberapa saat, untuk membuktikan kecurigaannya.
Sambil mencium kepala Aksa, Reza melihat Keken kembali meliriknya dengan cara yang aneh. Reza melebarkan senyumannya kepada gadis itu. Wajah Keken terlihat merona.
Meja makan telah penuh terisi menu istimewa. "Waaaah, makanan ini enak sekali ... Aku mau makan ini juga ya, Ayaaah." Reza mengucapkan dengan cara seimut mungkin, seolah yang bicara adalah Aksa kecil.
Keken tampak tertawa melihat banyolan yang dibuat oleh suami Aura. Aura masih sibuk bolak-balik menolong Bibi membawakan beberapa peralatan dan makanan penutup mulut.
"Waaah, ada puding ... Aku boleh maem ini nggak, Bunda?"
Lagi-lagi Keken terkikik mendengar lelucuan yang dibuat oleh Reza. Reza menyimpulkan suatu hal terhadap remaja dewasa ini. Melirik istrinya yang Masih terlihat cuek dengan apa yang terjadi.
Reza mengambil potongan kecil puding tersebut, hendak menyuapkan kepada bayi yang belum genap tujuh bulan itu. Secara refleks Aura menepuk tangan suaminya dan melotot.
"Dia masih terlalu kecil untuk makanan manis seperti itu!"
"Dikit aja tidak apa kok," bela Keken menatap Reza, memberikan senyuman termanisnya.
__ADS_1