CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER

CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER
90. Suami yang tak dicintai


__ADS_3

Nafkah batin? Harus ya? Ah, bagaimana ini? Aku belum siap.


Reza masih asik memamerkan kemesraan mereka kepada keluarga Aura. Ayah Aura yang melihat dari jauh hanya bisa menggeleng. Sementara Ibu Aura yang duduk di atas kursi roda, senyum-senyum melihat kelakuan sang menantu. Membayangkan kemesraan Reza terhadap anaknya nanti, mungkin akan membuat anak sulungnya bahagia.


Mama Reza menepuk lengan putranya yang baru berganti status itu. "Udah! Kamu jangan bikin malu! Nanti saja di dalam kamar, kalian mau apa di sana juga terserah!"


Reza baru teringat, di rumah Aura belum memiliki kamar tersendiri untuk mereka. Reza segera melepas rangkulan itu. Dia mengambil ponsel mencari kontak seseorang yang katanya dalam perjalanan ke sini. Saat mencoba panggilan, nada sambung telah terhubung. Ini menandakan bahwa temannya itu sudah mendarat dengan selamat.


"Halo, Bro!"


"Bagaimana Bro? Udah sampai mana?"


"Ini gue udah naik taksi. Gue menuju alamat yang lu kasih."


"Silakan ditengok dulu. Mumpung di sana masih sepi. Nanti harus kasih yang terbaik! Ini hadiah pernikahan buat istri gue!"


"Oh ya, Bro. Percayakan aja semuanya pada gue! Sebagaimana mansion yang sudah gue rancang buat lu nyaman selama ini kan? Selamat ya! Semoga keluarga kalian bahagia. Sebagai ucapan selamat, gue bakalan kasih harga khusus buat lu!"


"Wah, thanks, Bro." Panggilan ditutup, Gino teman main masa sekolahnya dulu akan merancangkan rumah yang akan dihadiahkan untuk keluarga istrinya.


Acara makan pun diadakan di hotel tempat orang tua Reza menginap. Sedari tadi Reza sibuk membahas satu hal dengan Gino. Keluarga yang tengah berkumpul dibuat heran. Setiap akan membahas masalah keluarga baru mereka, ponsel Reza selalu bergetar.


"Reza, apa yang Kamu lakukan? Duduk dulu!" titah sang papa.


Pria itu kembali duduk sambil mengedip sang istri. Aura hanya mengernyitkan bibir, berpikir itu adalah panggilan dari klient-nya yang baru.


"Katanya udah ga ada klient baru lagi? Kalau masih main-main, nanti aku mau main-main juga!" rutuknya dalam bisikan.


"Hmmm, berisik. Awas aja kalau masih menghubungi Aksa!" lenguhnya kesal. Tapi ponselnya kembali bergetar. Reza melirik semua orang yang duduk mengelilingi meja panjang ini.


"Permisi sebentar semuanya. Saya janji ini yang terakhir."

__ADS_1


Reza kembali ke pojokan. "Gimana, Bro?"


"Gue udah bikin skalanya. Tinggal memilih model yang kalian suka aja. Biar gue hitung biaya pembangunanya."


"Ya udah, kirim model kayak apa yang cocok untuk di sana! Gue lagi susah jawab telepon, habis ini lanjut lewat chat aja!"


"Oke!"


Reza kembali duduk di samping Aura. Seseorang dengan status istrinya itu hanya menatapnya dengan wajah masam. Reza hanya mengulum senyum.


'Kenapa dia marah? Apa dia memikirkan sesuatu? Atau dia cemburu?'


Reza kembali melanjutkan makan, meski Gino, teman arsiteknya terus mengirim pesan mengenai model-model rumah yang cocok untuk ukuran tanah di sana. Aura di sebelahnya masih menatap laki-laki itu dengan kening berkerut. Entah kenapa setelah menikah, dia baru sibuk dengan gadget itu.


Setelah acara usai, keluarga Reza berencana kembali dengan penerbangan malam. Sementara, keluarga Aura kembali ke rumah mereka. Reza sudah reservasi kamar hotel untuk mereka berdua selama dua malam.


"Kenapa harus di hotel?" sungut Aura.


"Iya doong. Malam pengantin ini lhoo. Rumah Kamu itu tidak ada kamar buat kita berdua."


"Ya harus doong. Sudah menikah ini. Mau aku apain Kamu itu sudah menjadi hak aku. Oh iya, aku akan memberitahu sesuatu untukmu. Kita masuk ke kamar dulu!"


Aura hanya pasrah atas apa yang dikatakan oleh suaminya itu. Dia sudah menerima wejangan bahwa, tidak boleh membantah ucapan suami. Reza menggandengnya dengan dekapan di pinggang seolah takut Aura akan kabur menjauh. Mereka memasuki kamar hotel yang cukup mewah. Jauh lebih bagus dibanding saat dia bersama dengan Aksa dulu.


Lampu di kamar tersebut sedang dalam keadaan padam. Namun, seisi kamar diterangi cahaya lilin yang temaram. Sebuah kamar mewah, yang sangat luas. Kamar tersebut sengaja dihias oleh kelopak bunga yang berbentuk hati. Di tengahnya, terdapat sebotol anggur terletak di dalam ember yang dipenuhi bongkahan es. Di sisinya terdapat dua gelas pipih nan memanjang, digunakan untuk meminum anggur tersebut.


Kasur luas beralaskan penutup bewarna putih. Di atasnya ditaburi oleh kelopak bunga yang disusun sedemikian rupa. Terdapat dua selimut yang dibentuk sepert bebek berhadapan, kedua paruhnya saling menyatu.


Reza duduk di tengah lingkaran lambang cinta itu. Mengambil botor anggur dan memutar tutupnya. Aura merasa heran, bergerak, dan segera merebut minuman mahal nan haram tersebut.


"Kamu minum?"

__ADS_1


"Sesekali."


"Kamu minun?" ulangnya sekali lagi.


"Sekarang udah ga pernah lagi."


"Kamu minum?" Kali ini suaranya semakin tinggi.


"Dulu memang sering. Namun, terakhir membuat keadaan jantungku menjadi semakin parah, membuatku tak pernah meminumnya lagi. Kenapa? Apa Kamu sejenis orang yang melarang suami minum kayak gitu?" Reza menunjuk anggur yang ada di tangan istrinya itu.


"Iya, nggak boleh! Udah tahu jantungan, masih aja bandel. Mau memperpendek umur dengan segera?" Namun, Reza hanya membisu.


Akhirnya Aura menjauhkan botol minuman itu. Aura duduk di atas kasur dan memainkan kelopak bunga yang ditabur di atasnya. Dia teringat pada apa yang dikatakan oleh Reza tadi.


"Coba ceritakan, apa yang sedang kamu rencanakan? Kenapa Kamu malah semakin sibuk tak menentu begini setelah pernikahan kita?"


Suaminya itu bangkit dari posisi di dalam lambang tanda hati tadi. Dia melangkah perlahan mengeluarkan sesuatu dari dalam jas yang dikenakan. Tampak sebuah kotak memanjang. Dia membuka kotak tersebut, tampak sebuah kalung cantik yang berkilauan.


"Waktu itu aku sudah janji akan membelikan perhiasan khusus buatmu kan? Ini salah satunya, hal yang pertama aku penuhi sebagai suamimu."


Netra Aura seakan terang melihat benda itu. Selama dia hidup, hanya anting lah perhiasan yang melekat di tubuhnya. Reza segera memasangkan benda tersebut pada sang istri.


"Bagaimana? Kamu suka, Dinda?"


Aura meraba benda yang melekat dengan cantik di leher jenjangnya. Aura seakan kehabisan kata-kata, dia hanya bisa mengangguk. Reza duduk tepat di sisi kanannya.


"Aku sedang menyiapkan hadiah yang lebih besar lagi untukmu, Dinda. Semoga Kamu dan keluargamu menyukainya. Tadi, sahabatku menghubungiku mengatakan akan segera merenovasi rumah orang tuamu."


Aura menutup mulut dengan kedua tangannya, matanya membulat, dan dia teringat obrolan mereka tadi malam. Ia menatap suaminya, suami yang tak dicintainya. Namun, telah memberikan segalanya.


"Tak usah, biar aku saja yang membiayai itu semua. Aku memiliki sedikit tabungan selama jadi hacker. Awalnya aku ingin membeli sebuah kebun, tetapi ternyata dananya masih tak cukup. Jika rumah jadi hal terpenting untuk saat ini, sepertinya dana itu akan aku gunakan untuk membangun rumah untuk orang tuaku."

__ADS_1


Reza menarik kedua tangan Aura. Aura merasa sangat janggal akan kelakuan pria ini yang berubah drastis dari sikap sebelumnya. 'Di mana wajah penuh cengiran itu?'' batinnya.


"Berhentilah menjadi hacker!"


__ADS_2