CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER

CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER
112. Apakah Kamu sudah mencintaiku?


__ADS_3

*Halooo kakak-Mama-Bunda-Mak-Emak readers... besok hari Senin ya, minta dukungan vote pada karya ini boleh? Tidak hanya itu, minta gift jug boleh ngga ya? Kalao tidak punya Bunga, kasih Kopi juga boleh, hehehe.. Siapa tau Authornya yang mulai mangkrak, bisa punya ide lagi.*


*Ada masukan ga ya buat Author... Author pagi-pagi udah mengsed banget... Boleh minta kritik dan saran yang membangun? Atau ada yang mau bantu promo di fb? wkwkwkwkw*


...🙏💖🙏...


Operasi yang dijalani Reza secara diam-diam, membuat tak seorang pun hadir untuk menengok keadaannya selain Abizar. Dokter mengatakan masa pemulihan usai operasi yang dinyatakan berhasil ini, masih sekitar enam hingga delapan minggu kemudian. Namun, dia meminta Abizar untuk segera membeli ramuan mujarap China, agar segera mempercepat proses penyembuhan yang masih lama itu.


Setiap saat waktu dilaluinya dalam sebuah penyesalan yang salah mengambil langkah tanpa memberitahukan ke mana ia menghilang. Setiap saat dia hanya bisa memandangi foto istrinya karena merasakan sakitnya kala merindu.


Akhirnya, Reza mengutus Abizar untuk menjemput Aura, agar menemaninya di rumah sakit. Alangkah gelisahnya dia saat Abizar mengatakan bahwa sang istri tidak ada di appartemen. Abizar mencari ke mansion pun, tidak menemukan Aura.


Rasa gundah mulai menyelimuti dirinya. Memutuskan untuk mencari istrinya sendiri dengan segera. Dokter mengizinkan dia kembali ke rumah dengan banyak catatan. Termasuk untuk tidak melakukan hubungan suami istri hingga tiga bulan ke depan.


Reza berencana akan menjemput laptopnya terlebih dahulu. Dibantu oleh Abizar yang mendorongnya dengan kursi roda. Saat sampai di appartemen, dia menemukan pintu sedang dalam keadaan terbuka. Resa lega langsung memenuhi hatinya, merasa yakin istrinya sudah berada di appartemen ini.


Abizar terus mendorong Reza masuk dan menemui Aura tengah menangis tersedu-sedu. Reza merasa bersalah kepada istrinya ini, karena tidak memberitahukannya sedari awal bahwa dia melakukan operasi transplatasi jantung. Reza mulai turun secara perlahan dari kursi roda tersebut.


"Apakah semua ini sudah berakhir?" ucap istrinya itu dalam tangisnya.


'Jangan berkata seperti itu, Sayang. Jika nyawaku masih ada dalam ragaku, aku tak akan pernah mengakhirinya. Aku sangat mencintaimu, Dinda.'


Reza berjongkok dengan susah payah dengan bantuan Abizar. Tangan kirinya belum bisa digerakan, sehingga Reza hanya bisa memeluk sang istri dengan satu tangan kanan dengan segala rindu yang ia miliki.


"Maafkan aku, Sayang. Aku sangat merindukanmu."


Aura memutar wajahnya, melihat siapa yang sudah menyandarkan dagu di pundaknya. "Kanda? Kanda? Kanda?"

__ADS_1


Aura beralih memutar tubuhnya memeluk Reza. Namun, Reza mengaduh kesakitan karena tindakannya ini. Hal ini membuatnya heran. Netra amber milik Aura juga menangkap sosok yang selalu rapi, Abizar yang berada di belakang sebuah kursi roda.


"A-apa yang sakit?" tanya Aura meraba bagian-bagian tubuh Reza.


Reza menahan tangan Aura dan menciumnya. "Aku rindu setengah mati padamu, Sayang." Reza mengecup bibir istrinya ini.


Aura berlutut lalu memeluk leher suaminya ini. Tubuhnya terguncang hebat karena juga menahan rindu yang luar biasa. "Aku juga merindukanmu. Aku, sangat merindukanmu. Kamu kemana saja selama ini?"


"Kamu beneran merindukan aku juga? Apakah berarti Kamu sudah mencintaiku?"


Aura melepas rangkulannya yang bersandar pada pundak Reza. "Kanda, aku mencintaimu, sangat mencintaimu, suuungguh sangat mencintaimu."


Reza tak bisa menyembunyikan rasa bahagia yang dia miliki. Mencium kening istrinya berkali-kali. Reza mencoba bangkit, dibantu oleh Aura. Pria itu seperti meringis menahan kesakitan.


"Apa yang sakit, Kanda?"


Aura menarik kuping suaminya itu. "Tidak, aku gak jadi kangen tuh!" Aura memanyunkan bibir bersidekap dada.


Abizar yang merasa gregetan, hanya bisa menggelengkan kepala. Padahal lidahnya sudah bergetar ingin mengatakan semuanya. Melihat betapa tersiksanya Reza, selama di rumah sakit karena rindu pada sang istri. Memaksa membeli ramuan China diam-diam tanpa sepengetahuan dokter yang konon katanya mempercepat penyembuhan pada bekas bilah pisau operasi.


'Setiap orang memiliki kisah cinta yang berbeda bukan?'


"Boss, istirahat saja dulu! Berbaring di atas kasur. Biar saya bantu!" tawar Abizar.


Aura menggelengkan kepalanya, biar aku saja Om," ucapnya mendorong kursi roda sang suami. Reza masih sempatnya memainkan dagu milik istrinya.


"Kanda sakit yang mana?" tanya Aura yang merasa heran karena setiap saat melihat Reza meringis. Setelah itu memapah suaminya dengan tubuh kecil yang tingginya tidak sampai 160 senti tersebut. Karena tidak kuat memapah tubuh bongsor suami, Aura malah rebah di atas kasur tert*ndih oleh suaminya.

__ADS_1


"Aaagh," Reza berusaha menahan tubuhnya agar tidak sepenuhnya menimpa sang istri. Membuat otot dada yang baru saja dioperasi bekerja lebih keras karena ditahan. Mata mereka saling beradu pandang, perlahan Reza mengecup bibir istrinya. Abizar menarik Reza, tampak mata Aura terpejam dengan bibir membulat.


"Anda baik-baik saja kan Boss?"


Aura yang sadar, segera bangkit memperbaiki posisi. Melirik suami yang mengedipkan mata kepadanya. Terlihat sikap Abizar yang terlalu berlebihan menurutnya.


"Boss, nanti terjadi pendarahan bagaimana? Bagaimana kalau kalian kembali ke mansion? Di sana ada banyak orang yang akan membantu Anda, Boss."


Reza terlihat berpikir sejenak. Lalu menengok Aura. "Nanti Bibi yang di sana, tolong Kamu antar ke sini. Sepertinya istriku lebih aman dan nyaman berada di sini."


Reza meliri Aura kembali. "Bener kan, Sayang?" Lalu Reza kembali memberi kode ciuman dan kedipan matanya.


"Iya, Kami di sini saja. Di tempat yang tidak terlalu luas, akan memudahkanku untuk merawatnya."


"Dinda, Kamu tidak perlu beres-beres rumah lagi nantinya. Kan mau panggil Bibi ke sini. Nanti Kamu cukup beres-beresin aku saja. Siapa tau bisa bikin kamu segera ingin memiliki anak setelah full service siang dan malam. Aku pastikan tidak akan pingsan lagi setelah ini saat bergulat di atas ranjang. Aku sudah tidak sabar menimang Reza junior atau Aura junior."


Abizar setuju dengan pernyataan atasannya ini. "Biar nanti anakku segera punya teman bermain juga."


Aura kembali mengerutkan keningnya. Hal ini sudah dibahas beberap kali. Tetap saja suaminya ngotot ingin menimang anak. "Katanya dulu setuju jika menunda memiliki anak? Aku kan mau menyelesaikan kuliahku dulu. Pasti akan repot jika kuliah sambil ngasuh bayi."


"Kenapa Kamu selalu mengkhawatirkan hal yang tidak penting sih? Kamu masih tetap bisa aku kuliahkan dengan hasil keringatku kook. Meski tidak lagi mendapatkan beasiswa, aku bisa membiayai kuliahmu. Bahkan jika Kamu ingin melanjutkan kembali hingga S-2 dan S-3 aku sanggup kok."


"Susah ngasuh sambil kuliah."


Reza duduk di samping istrinya. "Apa Kamu pikir aku akan mengabaikanmu begitu saja? Nanti akan banyak yang akan membantumu." Reza membelai ranbut Aura. Rambut itu sudah lepek dan lengket.


"Ini gak pernah keramas apa nunggu aku yang ngeramas?"

__ADS_1


__ADS_2