CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER

CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER
105. Ditemukan


__ADS_3

Aura menghempaskan diri pada sofa yang ada di ruang tamu super luas rumah ini. "Aku tak menyangka, Kamu lah yang selalu menyelamatkanku. Kamu adalah pahlawanku."


Reza ikut duduk di sampingnya. Hal yang dirasakan saat ini adalah degupan jantungnya yang tak menentu akibat mengendarai mobil dengan kecepatan luar biasa. Namun, dia pura-pura dalam keadaan baik-baik saja.


"Kamu juga pahlawanku, Dinda ... cupucupucu ..." Menarik dagu Aura. "Kamu udah menyelamatkan perusahaanku tadi."


Lalu pandangannya pun kembali melayang, menahan sakit dan sesak. Dia kembali teringat pada hal yang diucapkan oleh dokter tadi pagi.


Semoga, ada yang mendonorkan dalam waktu dekat.


Reza menatap istrinya yang tengah menyandarkan diri pada sofa empuk itu. Dia terlihat lelah. Reza sempat melihat atraksi luar biasa dari istrinya ini. Karena itu lah, pintu kendaraan dibuka agar sang istri segera masuk tanpa menunggu waktu hingga tertangkap.


"Kamu ternyata bisa jadi n*nja h*tory ya?"


"Maksudnya?"


Reza hanya menarik pipi gadis yang ada di sampingnya sembari menenangkan diri. Aura melepaskan tangan itu. Namun dia merasakan orang yang memiliki tangan ini, tubuhnya sedang bergetar.


"Kanda, kenapa?"


Reza menggelengkan kepala. Menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa. Mengatur nafasnya secara perlahan.


"Wajahmu pucat sekali, Kanda?" Aura beringsut memeriksa suhu tubuh Reza. "Tidak panas." Membandingkan dengan suhu tubuhnya.


"Aku tidak apa-apa. Aku hanya lagi memikirkan itu tuuu!" Reza memainkan kedua alisnya.


"Apa?"


"Masa seorang istri tidak mengerti?" Dia mulai menggoda agar perhatiannya teralihkan.


"Aku lapar, tapi mau mandi dulu. Gara-gara lari tadi, badanku jadi lengket semua," ucap Aura.


Waktu telah menunjukan pukul sepuluh malam. Kening Reza berkerut mendengar sang istri masih mau mandi.


"Aku akan bilang ke Bibi untung menyiapkan makanan buat kita. Mau makan oats ga?"


Wajah Aura seketika tampak berubah mendengar makanan sejenis itu. Wajahnya sudah menunjukan gambaran rasa makanan itu. Jenis-jenis makanan sehat, yang membuat lidah menjadi tidak sehat.


"Kenapa kayak gitu wajahnya?"

__ADS_1


"Kayaknya mie instan cup lebih mantap." Membayangkan makan oats di lidah saja, sudah teringat betapa tertipunya dia saat mencicipinya.


"Oh, kalau gitu aku juga," ucap Reza malah ikutan.


"Tapi aku mau mandi dulu. Udah nggak nyaman banget."


"Pakai air anget aja! Udah malam!" titah Reza.


"Males manasinnya!" ucap gadis ini yang masih kudet.


"Tinggal puter keran aja! Masa itu aja kagak tau? Pakai alat pemanas otomatis."


Aura tiba-tiba merasa jadi orang yang terlemlar dari zaman kuno ke zaman modern. Seumur hidupnya ini, baru tahu ternyata ada yang demikian.


"Ya, mana aku tahu. Aku belum pernah jadi orang kaya tuh!"


"Sekarang akan ada banyak hal yang akan Kamu ketahui. Temasuk---" Reza mematut-matutkan kedua tangannya. Seperti yang dicontohkan ibunya tadi pagi.


"Gak mau!"


"Dosa!"


"Dih, GR amat. Dari mana Kamu yakin bisa punya anak? Siapa tau Kamu bukan yang bisa---"


...plaaaak...


Belum selesai bicara, sendal jepit sudah menci um bi birnya.


Aura tidak menyangka di dalam kamar mandi tersebut ada sebuah bath up. Sebelumnya dia memang belum pernah masuk ke dalam kamar mandi di dalam kamar tersebut. Ternyata ukuran kamar mandi di sana, melebihi ukuran kamar kos yang dia sewa.


Tiba-tiba orang kampung macam aku merasakan mandi dengan kemewahan seperti ini, berasa ajaib sekali. Padahal tak pernah bercita-cita seperti ini sekali pun. Yang aku pikirkan tamat kuliah, lalu usaha lagi buat nyari pekerjaan. Pekerjaan?


Tiba-tiba, Aura teringat pada benda yang dititipkan Tuan Sistem kepadanya. Sebuah laptop. Dia sama sekali belum mengecek benda itu.


Jangan-jangan ....


Aura segera keluar dari bath up, dalam keadaan dipenuhi oleh sabun tanpa dibilas. Sebuah kekhawatiran muncul di dalam hatinya. Aura memasang handuk sekenanya, langsung keluar dari kamar mandi.


Mencari peralatan yang dibawanya tadi, yang masih berada di ruang tamu. Aura mengedarkan pandangan ke sekeliling bagian rumah, memastikan tak ada yang lalu lalang. Segera menuruni tangga yang langsung terhubung ke ruang tamu.

__ADS_1


Namun, ransel tersebut tidak terlihat. Dia mengedarkan pandangan berusaha mengingat di mana benda itu tadi ditaruhnya. Saat masih memikirkan di mana lokasi tas tersebut, tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang. Menci um teng kuk nya memba bi bu ta. Aura menjadi gelagapan.


"Kamu ke sini sengaja untuk memancing aku kan, Dinda?"


"Bu-bukan. Aku mencurigai satu benda yang aku bawa tadi. Mana tas ranselku?"


Reza menarik Aura menghadap tepat di wajahnya. "Kamu hanya mencari alasan?"


"Mana ranselku tadi? Ini sangat penting. Kita harus membuang satu benda itu!"


Dari luar terdengar derit langkah beberapa kaki. Reza segera membuka pakaianya memasangkan pada tubuh Aura. "Kalau Kamu sempat, segera tutupi tubuhmu dengan pakaian lengkap!"


Aura mengangguk, Reza segera menelepon polisi. Aura secepat kilat naik menuju kamar dan memasang pakaiannya meski tubuhnya masih licin karena sabun. Dari arah balkon luar kamar itu, terdengar suara derap langkah seseorang yang sudah berhasil memanjat hingga ke lantai dua.


Aura mencari sesuatu yang bisa dijadikannya senjata. Akhirnya dia menemukan sebuah gunting dan menyiapkannya untuk dijadikan sebagai alat pelindung diri. Aura bersembunyi di balik dinding, terdengar ada yang mencoba membuka jendela tersebut dari luar.


Sepertinya dugaanku benar, ada alat pelacak dalam laptop yang dititip oleh Sistem beberapa waktu itu. Jadi, wajar saja mereka langsung mengetahui keberadaan Aura saat keluar dari indekos nya tadi.


...cekreeek...


Daun pintu jendela berhasil dibuka dari luar. Tampak sebuah kepala yang menggunakan penutup wajah muncul dari celah jendela itu. Aura segera melayangkan tinjunya pada orang tersebut.


...braaakk...


Kepalanya terbentur pada daun jendela, sehingga semua yang mendengar suara itu berlari ke arah mereka. Reza yang juga mendengar, segera naik menuju kamar dan melihat istrinya sedang mengacam seseorang dengan gunting. Gunting yang siap-siap menghunus leher penyusup itu.


"Katakan! Siapa yang menyuruhmu?!"


Reza menarik seorang itu. Terdengar jeritan saat Reza mengangkatnya. Ternyata seorang perempuan. Aura menarik benda yang menutup kepala penyusup tersebut. Tampak waja wanita yang terlihat putus asa. Aura menatik rambut wanita tersebut.


"Katakan apa tujuanmu datang ke sini?!"


"A-a-mpun. Aku hanya disuruh," ucapnya ketakutan saat gunting sudah mulai membuatnya kesakitan.


"Siapa yang menyuruh kalian mengikutiku?"


"Ka-kamu mengikuti permainan Sistem Kekayaan Hacker kan? Kami yang mengikutimu tadi adalah korban yang sama tertipu sepertimu. Dia yang menyuruh kami untuk menangkapmu. Jika kami gagal, maka dia akan membu nuh kami semua!"


Aura tercengang mendengar penjelasan wanita yang tak kalah berusia belia seperti dia. "Katakan siapa dia?" Menekan uju ng gun ting semakin melekat pada le her gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2