CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER

CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER
71. Mertua Mana? Mana Mertua


__ADS_3

"JADI AURA BERPACARAN DENGAN LELAKI ANEH INI?" ucapnya dengan wajah murka.


Kening Reza berkerut mendengar disebut lelaki aneh. Dia memperhatikan kembali tampilan dari Arga ini. Senyuman tipis merekah di bibirnya. Tanpa menjawab ucapan Arga, Reza menggenggam tangan Aura. Aura memberontak, terus mencoba melepaskan diri.


"Heh, Om! Tunggu!" hardik Arga.


Reza kembali melirik Arga. "Sudah! Jangan dekati Aura lagi. Dia ini sudah menjadi milik saya!" ucapnya dengan dingin.


Semua yang berada di sana terperangah. Termasuk Stella yang tak percaya mendengar omongan tersebut keluar dari bibir Om Mesum sendiri. Reza mendekap Aura, berusaha membuat gadis itu berjalan sesuai kemauannya.


Dengan langkah berat terus memberontak ingin lepas, tetapi Aura tetap mengikuti langkah Reza. Tangan Reza berpindah ke pinggang Aura, membuat gadis itu semakin memberontak mendorongnya. Dia memilih jalan terlebih dahulu menuju parkiran. Namun, dia tidak melihat mobil yang biasa digunakan oleh Reza.


Reza memahami bahwa gadis ini sedang kebingungan. Kembali menggandeng Aura menuju ke sebuah kendaraan roda empat berjenis MPV yang sangat besar. Mata Aura terbelalak melihat mobil besar ini.


"Ganti mobil?"


"Bukan ganti sih, sepertinya jika bersama Kamu aku akan menggunakan mobil ini. Biar Kamu leluasa mengajak teman atau pun keluargamu nanti."


Seorang yang menyadari kehadiran Reza dan Aura, segera berlari menggeser pintu penumpang dan menyilakan kedua orang ini masuk. Aura terperangah, kali ini Reza menggunakan seorang supir. Reza menyadari reaksi wajah Aura ini yang melongo.


"Jangan kagum terlalu cepat!" Reza mencubit dagu gadis itu menyuruh Aura masuk terlebih dahulu.


Setelah keduanya duduk dengan santai, kendaraan pun melaju. "Jono, ini adalah calon istri saya. Mobil ini akan saya berikan untuk dia agar mempermudah segala aktifitasnya nanti. Kamu harus siap dalam dua puluh empat jam untuk mengantar jemput sesuai permintaan dia."


"Baik, Tuan!" ucap Jono. Seorang supir yang terlihat cukup muda. Mungkin sepataran dengan usia Aura. Sama-sama baru tamat SMA.


"Tapi ingat! Kamu jangan pernah menggoda dia! Jika Kamu berani mencobanya sekali saja, jangan salah kan saya jika Kamu kembali ke kehidupanmu sebelumnya!"


Jono terdengar terkekeh. "Saya tidak mungkin berani, Tuan," ucapnya melirik Aura yang duduk dengan angkuh di samping tuan-nya ini.


Aura tengah memikirkan sesuatu di dalam kepalanya. Melihat persiapan yang sudah dilakukan pria ini jauh hari sebelum pernikahan dilaksanakan. Meski dia tidak memberi tanggapan apa-apa di dalam bibir. Namun, hatinya sudah dihinggapi tanda tanya akan keseriusan pria ini.


Tujuan mereka pertama kali adalah mansion milik Reza. "Kenapa ke sini dulu? Bukan kah kata Kamu kita mau makan malam di sebuah restoran?"

__ADS_1


"Ooh, justru karena itu. Tidak mungkin aku membawa gembel ke hadapan mamaku. Kamu bakalan langsung ditendang jika hanya seperti ini."


Reza membuka pintu mansion tersebut, dan di sana mereka telah ditunggu oleh MUA, penata busana, dan hair styless. Mulut Aura seakan jatuh dari rahang melihat persiapan luar biasa yang diberikan oleh Reza ini.


Emangnya ibu orang ini seperti apa sih?


"Nona mau dimandikan apa mandi sendiri?" tanya salah satu dari mereka.


Aura hanya bisa menggaruk pelipisnya. Masih bingung dengan apa yang harus diperbuatnya. Melihat semua hiruk-pikuk bergerak menyodorkan semua produk milik mereka tepat di hadapan hidungnya


"Ingat! Beri tampilan terbaik untuk dia!" titah Reza.


"Baik, Mas Bro!"


Dua jam kemudian, Reza sudah duduk merenung di dalam kamar. Sudah rapih dengan jas melekat di tubuhnya. Dia sedang mengetuk-ngetuk meja, tengah menghitung waktu. Gadis itu belum juga beres didandani oleh orang-orang yang dipanggilnya tadi.


...tok...


...tok...


...tok...


'Sangat cantik' batinnya.


"Om, Oomm?" Aura melambaikan tangannya tepat di depan mata Reza.


Reza gelagapan, langsung menyambut tangan itu dan mendekapnya di lengannya. "Lama amat!"


"Tau tuh? Kamu manggil mereka segala kan? Padahal penampilanku tadi udah pas banget."


Reza menahan Aura sejenak, berdiri tepat di hadapannya. "Coba lah belajar memanggilku 'Kanda'!" Aura segera menjepit kedua bibirnya, dan menggelengkan kepalanya.


"Kanda!" ulang Reza.

__ADS_1


"Ka-ka-ka Om messssssssssum." Bibirnya bulat mencabik. Reza merasa gemas melihat bibir itu, ingin mengecupnya sekali lagi. Namun langsung ditahan oleh gadis itu.


"Kalau nyosor lagi, awaas!" Memamerkan tinjunya tepat di hadapan hidung Reza.


"Dasar tarzanwati! Pakaiannya aja yang feminim, kelakuan tetap kayak orang rimba!"


"Biarin! Biar emakmu tidak merestui hubungan kita! Rencana batal, dan aku bebaaasss, hahaha!"


Reza kembali menarik tangan gadis itu. Aura meronta, tetapi tak kuasa menahan kekuatannya. Mau tak mau dia merelakan tangan terjepit di lengan pria itu sembari memutar bola matanya karena jengah.


"Jangan aneh-aneh di hadapan orang tuaku!"


Aura tak menjawab, menyunggingkan senyum sinis merencanakan sesuatu. Mengikuti langkah lelaki itu kemana pun pergi. Tangannya terus dikekepin kemana pun melangkah. Menaiki mobil, di dalam mobil, turun mobil, menelusuri restoran, dan sekarang mereka tepat berada di hadapan keluarga besar Adijaya.


"Mana mertua, mertua mana?" Aura mulai berakting. Melirik pak dosen dan wanita cantik di sebelahnya. Satu lagi tampak gadis muda terperangan melihat ke arahnya.


Reza sudah mendapat firasat gadis ini akan melakukan hal-hal aneh di hadapan keluarganya. Oleh sebab itu, Reza semakin mengeratkan pegangannya pada Aura. Memberi kode kepada gadis itu agar bersikap tenang. Aura terus menyunggingkan senyum sinisnya.


"Waaah, mertuakuuuuuu ...." Aura memaksa melepaskan jepitan tangan Reza. Meski sedikit susah payah, karena Reza terus menjepit tangannya dengan erat, akhirnya dia berhasil lepas dari nya. Gadis itu segera melompat masuk dan duduk di antara Papa dan Mama Reza.


"Ekhem." Pak Barack berdehem karena tingkah gadis ini.


Sementara sang ibu melongo tidak menyangka, gadis cantik calon istri anaknya seseorang yang sangat bar-bar. Adik perempuan Reza, sampai tersedak melihat kelakuan Aura. Ketiga orang ini serempak menoleh ke arah Reza. Putra sulung keluarga ini hanya bisa menggaruk kepala atas keusilan yang disengaja olehnya.


Akhirnya Reza ikut melompat, duduk di antara Aura dan papanya. Mencoba mengikuti permainan gadis itu. "Halo calon mertua dari calon istriku!"


...uhuuukkk...


Rezi, adik bungsu Reza kembali tersedak melihat tingkah kakaknya ini. Rezi yang duduk sendirian di seberang meja memperhatikan ekspresi kedua orang tuanya. Sang ibu melirik ke arah calon istri sang kakak dengan muka masam. Sementara ayahnya hanya menggelengkan kepala mengambil cangkir kopi yang ada di atas meja.


"Mama mertua, salam kenal yaaa..." Aura mengambilkan juss yang kemungkinan milik calon ibu mertuanya ini. Langsung menyodorkan ke mulut wanita paruh baya itu.


Reza tak kehabisan akal, merebut kopi yang ada di tangan ayahnya, ikut menyodorkan ke mulut ibunya.

__ADS_1


"REZAAA, APA YANG KALIAN BERDUA LAKUKAN?"


__ADS_2