
Marcell mulai mengetik sesuatu pada salah satu keyboard yang ada di meja itu.
"Kita akan melihat, hubungan apakah yang mereka berdua sembunyikan?"
Marcell mencoba menggunakan perangkat yang dimilikinya. Mencari informasi mengenai hubungan mereka berdua. Namun, belum ditemukan penjelasan kisah di antara Reza Firto Adijaya dengan Aurora Safitri.
"Saya yakin, ada sesuatu di antara mereka. Sudah sekian hari menghilang tanpa kabar, ternyata mereka muncul secara bersamaan."
Marcell kembali mengetuk-ngetuk keypad pada keyboard. Mengawasi pekerjaan budak-budak lain sambil mencari informasi yang sedang tersembunyi.
"Jika gadis itu berani macam-macam, maka nasibnya akan sama dengan dia, dia, dan dia."
Marcell memandang beberapa foto budak-budak yang telah menghianatinya.
💖
"Bagaimana Sayang, apa Kamu merasa senang?" Devan merangkul Stella keluar dari bioskop.
Stella mengangguk, berjalan dalam rangkulan Devan. Di pojok gedung mall, tempat mereka nonton, tampak kerumunan, pengunjung dengan wajah yang terlihat cukup tegang. Devan melepas rangkulan tangannya pada Stella.
Stella menanyakan apa yang tengah terjadi pada salah satu orang yang berkerumun. Ternyata, ada penemuan jenazah, di dalam toilet gedung ini. Stella menutup mulutnya karena merasa sangat terkejut. Dia pun merasa heran, mengapa Devan malah ikutan memeriksa masuk ke dalam TKP.
Stella mencari celah untuk mencoba menerobos pengunjung yang juga menyaksikan kejadian tersebut. Devan mengeluarkan sesuatu dari kantong bajunya. Yakni sarung tangan karet sebagai alat bantu penyelidikan.
Seorang pria tewas mengenaskan bersimbah darah. Devan seakan teringat pada beberapa kasus orang hilang yang akhir-akhir ini terjadi. Setelah ditemukan, ternyata dalam keadaan tidak bernyawa.
Dia teringat pada sosok gadis yang berkencan dengannya tadi. Ternyata Stella sedang mengintipnya bersama orang penasaran lainnya di depan pintu. Devan menarik tangan Stella dan keluar dari keramaian itu. "Lebih baik, Kamu pulang dulu. Aku masih akan melanjutkan pekerjaan ini."
"Pekerjaan apa? Bukan kah Kakak mahasiswa bidang jurnalistik?" tanya Stella yang tidak tahu apa-apa.
Devan menggeleng pelan. "Ada banyak hal yang belum aku ceritakan padamu. Apa kah Kamu bersedia untuk pulang sendirian. Nanti setelah bertemu kembali, aku akan menceritakan semua tentang diriku."
Stella mengangguk. Setelah Devan yakin Stella telah meninggalkan tempat itu, ia mengeluarkan sebuah gulungan bewarna kuning. Memasangnya dengan segera untuk membatasi pengunjung masuk ke dalam TKP, hingga polisi dan tim penyidik lainnya sampai.
__ADS_1
💖
Monitor menunjukan bahwa kondisi Reza mulai stabil. Aura tengah terlelap dengan kepala bertopang pada brangkar tempat Reza tampak tidur. Perlahan pria itu membuka mata dan menekan dada di sebelah kiri.
Melihat sang istri yang tengan terlelap di sisinya, membuat perasaan dia menjadi lega. Aura tidak jadi diculik oleh pria tadi. Reza meletakan tangan lebarnya di pucuk kepala Aura, dan mengelus rambut panjang itu.
"Syukur lah, Kamu tidak apa-apa, Sayang," desisnya mengembangkan senyuman.
Aura yang menyadari ada sebuah tangan yang memainkan rambutnya, secara perlahan mulai terbangun. Kepalanya diangkat menatap pada seseorang yang berada di atas brangkar. Sebuan senyuman terulas di bibir sang pasien, menatap dirinya terbangun dari lelapnya.
Aura bangkit lalu menunduk mendekatkan wajahnya kepada Reza. "Kanda sudah baikan? Bagian mana yang sakit?"
Reza menggeleng dan membelai pipi Aura. "Tak usah khawatir, Dinda. Kanda sudah terbiasa berada di situasi seperti ini. Paling esok pagi, alat-alat ini sudah bisa dilepaskan."
"Bukan kah Kanda tadi akan menemui Om Abizar? Apa yang terjadi? Kenapa bisa begini?"
Reza menggelengkan kepala. "Aku tidak apa-apa. Yang jelas aku sangat bersyukur Kamu tidak jadi diculik. Ini sudah lebih dari cukup buatku."
Diculik? Siapa yang mau menculikku?"
Reza menunjuk ke arah bibirnya. "Jika iya, apa Kamu mau memberiku sebuah ciuman padaku?" Aura menghembuskan napasnya dengan kasar.
"Kok gitu? Ayo cium suamimu yang tercinta ini!"
Aura yang tadi sempat terharu atas aksi heroik yang dilakukan Reza, seketika berubah menjadi jengkel. Dia bangkit dan menarik bibir Reza yang tengah membulat menunggu sebuah ciuman.
"Ini istri kok sadis bener?"
"Salah sendiri maksa nikah!"
Reza menangkap tangan Aura dengan cepat. Tidak mau menunggu gadis itu untuk terus menjauh. "Aku boleh jujur nggak?"
"Apa tu?" Aura melirik tangan sang suami yang menggenggam tangannya.
__ADS_1
"Duduk lah! Aku ingin bicara!" Seperti yang diminta, Aura duduk di bangku di mana dia tertidur tadi.
"Dinda, apa Kamu merasa tak nyaman denganku?"
Aura hanya menatap tangan Reza yang terus membelai punggung tangannya. Entah kenapa, Om Mesum yang biasa dia kenal, seolah menghilang menguap menjadi awan. Saat ini yang berada di hadapannya adalah seorang pria dewasa. Pria yang berbeda dan selalu menyelamatkannya. Pria yang saat ini berstatus sebagai suaminya.
"Dinda, kenapa Kamu hanya diam begitu?"
"Entah lah, aku juga tak tahu. Kamu sudah hadir setiap hari di hadapanku. Bahkan saat ini telah menjadi suamiku."
"Apakah namaku sudah ada di hatimu?"
Aura membuang mukanya. Dia mulai ragu jika harus berkata jujur. Dia takut, Reza akan semakin marah jika dia mengatakan semuanya. Hati yang terdalamnya masih tertulis satu nama lelaki yang dicintai. Mengubah haluan, tentu tak akan semudah diucapkan oleh mulut.
Jika mulutnya mengatakan ada nama Reza, tetapi kenyataannya di dalam hati Aura hanya ada nama Aksa. Aura kembali melihat tangan lebar pria yang masih mengelus mesra jemarinya. "Bagaimana denganmu?"
"Seperti yang aku katakan tadi, aku ingin jujur padamu. Kamu pikir, kenapa aku memaksamu untuk menikah denganku?"
Aura mengedikan bahu. Karena apa yang ada di dalam pikirannya, belum tentu seperti yang dipikirkan pria itu. Aura hanya merasa, dirinya tak ada bedanya dengan koleksi-koleksi pria ini yang lain. Hanya satu dari skian, dan dengan mudah ditinggal kala dia bosan.
"Kenapa hanya diam? Apa yang kamu pikirkan?"
"Aku hanya berpikir, aku tak ada bedanya dengan kekasihmu yang lain itu."
"Nah, itu. Aku ingin menceritakan sesuatu padamu. Yang jelas Kamu itu berbeda dengan mereka. Kamu adalah wanitaku yang paling spesial."
"Kenapa aku? Bahkan para kekasihmu itu jauh lebih menarik dariku. Mereka elegan dan kaya raya. Sementara aku, Kamu lihat sendiri bagaimana keluargaku? Aku hanya satu dari keluarga miskin."
Reza menggelengkan kepalanya. "Orang tuamu sangat hebat. Mereka mampu menjadikanmu sebagai gadis mandiri seperti saat ini. Saking hebatnya, Kamu selalu mengacaukan aku, lagi dan lagi. Termasuk hatiku."
"Seperti apa kekacauan yang Kamu rasakan?"
"Kamu mengubah kriteria gadis impianku."
__ADS_1
Aura mengerutkan keningnya. "Maksudnya?"
"Sebenarnya, dari semua pacar yang aku miliki, tak ada satu pun yang benar-benar aku cinta. Mereka hanya lah koleksi balas dendamku karena pernah merasa sakit hati pada seorang gadis di masa SMA."