CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER

CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER
142. Aku menjemputmu pulang


__ADS_3

Reza mulai masuk mode loading. Mencoba memahami apa yang ditanyakan oleh dosen tersebut. Beberapa detik berlalu, tetapi Reza belum memiliki jawaban atas pertanyaan yang ditujukan untuknya. Materi ini sungguh diluar bidangnya.


Aura memberikan secarik kertas yan berisi jawaban atas pertanyaan dosen kepadanya. Akhirnya Reza berdiri membacakan sobekan kertas yang dituliskan sang istri.


"Akuntansi anggaran adalah salah satu bagian ilmu akuntansi yang bisa membuat perusahaan terhindar dari kelebihan dana yang diluar rencana atau lebih biasa dikenal dengan over budgeting.  Salah satu cara mengatur perencanaan pengeluaran suatu perusahaan."


"Hmmm, bagus! Akan tetapi, lain kali Anda jangan menunggu pembagian dari rekan Anda terlebih dahulu, baru memberikan jawaban dari pertanyaan yang saya berikan. Lalu jangan melihat ke arah gadis di depan Anda melulu! Anda tampak ingin memakannyaaese hidup-hidup!"


Mendengar ucapan Dosen barusan, membuat seisi ruang kelas riuh dan heboh. Reza yang sudah tahan banting hanya duduk pura-pura sibuk merebut buku yang ada di tangan Stella.


Aura merasa suara dan fibes orang di belakangnya ini begitu mirip dengan Reza, suaminya. Namun, perasaannya yang tidak nyaman membuat dia memilih kembali tidur-tiduran di balik tubuh teman yang ada di depan agar tidak terlihat oleh dosen.


Terima kasih, Sayang. Love sekebun buatmu, Cinta. Aku akan membawamu pulang hari ini juga.


"Ekheeem, jangan liatin sampai begitunya!" Stella memecahkan lamunan Reza. "Jangan berharap lebih padanya!"


"Kenapa?"


"Dia sudah jadi milik orang lain! Jadi, kamu jangan ganggu dia!"


Reza tersenyum di balik masker yang dia kenakan. Lalu terus memandang istrinya yang sedari tadi rebahan. Dia merasa sangat bersalah melihat kondisi kacau pada istrinya tersebut.


Sayang, seharusnya aku tidak perlu ikut lomba menjadi lebih kekanakan denganmu, seperti waktu itu. Harusnya aku sadar diri, karena aku lah yang memaksamu untuk menikah. Akan tetapi, jika dihadapkan kembali dengan kenyataan yang ada, tetap saja hatiku kecewa. Berharap kamu telah membalas cinta yang aku beri.


Mata Reza tak putus menatap Aura. Stella yang melihat hanya bisa menggelengkan kepalanya. Mata Stella beralih pada sahabatnya yang sedang dilanda penyakit di awal kehamilan. Dia merasa kasihan melihat keadaan Aura seperti ini. Stella merasa ingin menghajar Om Mesum yang telah menyia-nyiakan sahabatnya ini.


Usai waktu perkuliahan, Aura masih terlihat malas-malasan tiduran di meja. Semua mahasiswa bergerak keluar dari kelas, menuju perkuliahan berikut atau pun memilih beristirahat di luar.


Stella bergerak mendekat pada Aura. "Ra, keluar, yuk?"


Aura menggelengkan kepala. "Aku lagi lemes. Aku mau istirahat di sini saja."


"Udah sarapan? Biar aku yang belikan." tawar Stella.


Aura kembali menggeleng. "Selera makanku hilang. Kerongkonganku terasa sangat pahit."


"Apa bawaan hamil, kali ya?" bisik Stella.

__ADS_1


"Bisa jadi," ucap Aura lemas.


"Kamu tetep harus makan lho? Gimana nasib anakmu kalau tidak diberi nutrisi?" Stella pergi meninggalkannya. Reza masih duduk di belakangnya mendengarkan obrolan mereka berdua.


Istriku benar-benar hamil anak kami. Maafkan aku, Sayang.


Reza bangkit berpindah posisi duduk di samping Aura. Reza membuka atribut yang menutupi wajahnya. Dia menyugar rambut Aura yang menutupi wajah wanita kesayangannya ini. Aura yang tadinya terpejam, membuka mata karena merasakan ada tangan yang memainkan rambutnya.


Mata membesar penuh amarah melihat wajah Reza yang sangat dekat. Aura menegapkan tubuh, memasukan benda-benda yang masih berceceran ke dalam ransel. Reza menarik tangan itu dan menggenggamnya.


"Dinda, maafkan aku."


Aura menarik tangannya dan bangkit meninggalkan kelas. Reza merapikan semua benda istrinya yang masih berceceran dan dimasukan ke dalam ransel miliknya lalu segera menyusul Aura.


Reza tak bisa bersikap sembarangan di kampus ini. Jadi, dia hanya bisa mengikuti kemana pun langkah Aura. Aura tak ingin terus diikuti hanya bisa mendorong Reza dan mempercepat langkahnya. Akhirnya mereka berada di tempat cukup sepi, membuat Reza mendekap sang istri dengan leluasa.


"Aku menjemputmu untuk pulang. Mari kita sudahi permainan petak umpet ini." Reza menahan Aura yang terus meronta mencoba melepaskan diri.


"Sayang, aku sangat merindukanmu. Maafkan aku yang terlambat menemukanmu."


Aura masih membukam mulutnya. Dia menghirup udara yang dipenuhi oleh aroma parfum Reza. Hal ini kembali membuat perasaannya bergejolak.


Aura meronta melepaskan diri kembali. Melihat istrinya yang tengah kesulitan menahan mual, akhirnya Reza melepaskan Aura. Aura berlari menuju toilet yang tak jauh dari sana. Terdengar suara istrinya yang mual dan mungkin memuntahkan sesuatu.


Beberapa mahasiswi keluar dari toilet tersebut tampak berbisik dan wajah mereka berkerut. Lalu mereka meninggalkan toilet berjalan ke arah Reza. Dia turut mendengar apa yang tengah mereka bicarakan.


"Kabarnya dia simpanan Pak Barack. Dia sering banget keluar masuk ruang kerja Pak Barack. Jangan-jangan dia hamil anak Pak Barack ya?"


"Pantesan aja Pak Barack terlihat perhatian sekali dengan dia."


Mata dua mahasiswi tersebut menoleh kepada Reza yang bersidekap dada. Lalu melewati Reza, dengan otomatis mengganti bahan gibahan berikutnya.


"Eh, siapa tu? Baru lihat." Mereka terus melewati Reza dan terkekeh dan melirik kembali pria yang tadi. Ternyata Reza mengikuti langkah mereka.


"Apa yang barusan kalian katakan?"


Kedua mahasiswi itu menghentikan langkah mereka. "Mengatakan apa ya, Mas?"

__ADS_1


"Tadi ada cewek yang muntah. Terus apa hubungannya dengan Pak Barack?"


"Ooh-oooh itu, hanya sekedar info yang beredar antara mahasiswa aja kok, Mas." jawab salah satu dari mereka.


"Begini, Pak Barack yang baru saja kalian obrolkan itu adalah Ayahku."


Wajah mereka menegang saling bertatapan. Mereka mulai menjepit bibirnya.


"Sedangkan, cewek yang kalian bilang selingkuhannya itu adalah---"


Ucapan Reza terhenti, karena tangannya ditarik oleh Aura. Aura mengajaknya menjauh menuju ke suatu tempat yang sepi. Suatu tempat di mana hanya diisi oleh mereka berdua saja.


"Kamu beneran mau membuat beasiswaku terlepas?"


Reza mendekap kedua pundak dan membungkuk menatap mata Aura. "Kamu lebih mentingin beasiswa dibanding aku dan anak kita?"


"Huh, anak kita? Ini anakku! Jangan ngaku-ngaku! Kau sudah tidak memedulikan kami semenjak beberapa waktu lalu!" Aura menepis tangan yang melekat di pundaknya. Dia membuang muka bersidekap dada membelakangi Reza.


Reza memeluknya daru belakang. "Ya, maafkan aku. Semua salahku."


Aura melepaskan tangan Reza yang mendekapnya dengan erat. "Lepaskan aku! Aku masih ada kuliah lagi!"


Reza melepaskan dan Aura segera pergi menjauh. Reza memasang kembali masker dan kaca mata mengikuti langkah Aura. Dia kembali ikut masuk ke kelas selanjutnya. Aura mendengkus melihat sang suami yang terus mengikutinya, mendorong Reza keluar dari kelas.


"Ini kelas buat mahasiswa! Bukan buat Om-Om tukang mabuk!"


💖


💖


💖


Kuuuyy .. Mampir juga pada Karya sahabat Author yang keren abiies ini yaaa


Napen: Morata


Judul: Terjebak Cinta Duda Arogant

__ADS_1



__ADS_2