
Kenapa sih? Sini aku periksa dulu!" ucap Aura.
"Berisik! Pergi sana!" Reza masih mencoba untuk menenangkan dirinya.
"Dih, gimana cara melindungi aku? Masa nantinya aku yang bakalan jadi pahlawan wanita yang berdiri melindungi?" cibir Aura melipat kedua tangan di dadanya.
"Makanya Kamu itu nurut-nurut aja! Ini main kabur diam-diam. Entah kenapa sampai dikerubungi oleh para preman itu? Udah kayak gula dikerubungin semut aja tau ngga?" Reza masih mengernyitkan wajah, menekan rasa sakit di dada bagian kirinya.
Abizar mendekap Ratna, istrinya yang membawa polisi tadi. "Boss, Anda baik-baik saja?"
Reza hanya memberi aba-aba telapak untuk jangan mendekat. Dia masih membutuhkan waktu agar denyut jantungnya berdetak dengan normal kembali. Menunggu beberapa waktu, akhirnya Reza sudah berdiri dengan tegap. Dia langsung menarik Aura, kembali memeluknya.
Aura mendorongnya. "Nanti ngaap lagi gimana?" Dia teringat, betapa malunya saat Reza tiba-tiba mendorongnya. Namun, dia mencoba memahami. Kata bibi asisten rumah tangga di rumah Reza, dia memiliki riwayat kelainan jantung.
"Ayo sini, tadi Dinda udah mau meluk Kanda kan? Ayo Sayang, peluk Kanda lagi!" Tangannya direntangkan ingin membenamkan tubuh Aura ke dalam pelukannya.
Gadis itu teringat atas aksi heroik Reza yang sudah menyelamatkannya. 'Bagaimana pun juga dia yang tidak bisa melakukan hal berat, telah mengorbankan dirinya demi aku. Apa benar dia serius padaku? Atau hanya menjadikanku sebagai koleksi seperti yang lainnya?'
Reza melambaikan tangannya tepat di depan wajah Aura. "Kamu terharunya jangan berlebihan! Ini belum apa-apa lho?" Mengedipkan matanya, menggandeng gadis itu yang masih terus menilai dia dari sisi yang lain.
Mereka segera masuk ke dalam kendaraan. Kendaraan tersebut menuju bandara. Aura hanya heran tidak mengerti alasan Reza membawanya ke sini.
"Kita akan kemana Om, eh Kanda?"
"Om-Om, biasa kan panggil Kanda doong! Biar kita berdua menjadi semakin mesra. Kita akan menikah secepatnya! Ayo temui orang tuamu, dan menikah secara sederhana saja di sana!"
"Haaah, secepat itu?" Aura melongo tak percaya.
"Ini hukuman gara-gara Kamu kabur tanpa izin dariku!"
__ADS_1
Abizar dan istrinya tidak ikut pada pernikahan mereka di kampung halaman Aura. "Kami akan menghadiri resepsi di sini saja nantinya. Semoga semuanya lancar!"
Abizar mendekat pada telinga Reza. "Boss, jika Anda benar-benar mencintainya dengan tulus, Anda pasti bisa menyelesaikan ijab nya dalam satu lafaz saja."
Aura memperhatikan kelakuan atasan dan bawahan ini. Dia merasa sangat heran atas kedekatan mereka berdua. Sampai-sampai mengizinkan Abizar menyamar menjadi dirinya.
Reza kembali menggenggam tangan Aura, mengajaknya untuk segera menuju pesawat terakhir yang telah standby di lapangan udara.
Di suatu tempat, tampak seorang pria masih mencari keberadaan budaknya yang menghilang semenjak tadi siang. Kontak gadis itu, sama sekali tidak terdeteksi olehnya.
"Kemana dia? Apa yang terjadi padanya? Kenapa dia tidak terdeteksi sejak saat bersama Reza Firto Adijaya? Apa pimpinan Harmonyu Grup itu memenjarakan Nona Hackerku?"
Marcell kembali melakukan pencarian, namum tidak menemukan informasi seseorang bernama Aurora Safitri, masuk dalam tahanan. Marcell kembali melakukan pencarian.
Kita beralih dulu pada kisah Stella. Stella tengah asik berbalasan chat dengan Devan. Baginya, Devan adalah kriteria yang paling cocok untuknya setelah pencarian yang tak kunjung usai. Semua cowok yang dia sukai, ternyata menyukai perempuan lain.
Namun, Devan yang ternyata masih menjadi playboy karet, tengah berkencan dengan seorang gadis. Meski satu tangannya aktif membalas pesan milik Stella, tetapi satu tangannya lagi sedang asik nyoel-nyoel milik pacarnya. Ternyata Devan masih belum bisa melepas aroma cassanovanya meski tampangnya yang imut sama sekali tak memperlihatkan hal demikian. Sehingga banyak yang terkecoh oleh penampilannya, termasuk Stella.
Pukul setengah satu dini hari, Reza dan Aura turun dari sebuah taksi online. Reza melihat rumah yang super sederhana dari luar. Matanya agak sedikit mengernyit. Dinding rumah itu masih semi permanen.
"Beneran ini rumah kamu?"
"Kenapa? Jelek? Ga suka? Apa mau membatalkan rencana menikahiku?"
Aura mengetuk pintu yang hanya terbuat dari tripleks itu. "Assalamualaikum, Ayah, Ibu … Aura pulang."
Dari luar, tampak lampu dihidupkan di dalam. Hal ini menandakan bahwa sudah ada yang bangun dari tidurnya.
"Walaikumsalam. Ra? Kamu pulang?" Terdengar suara ayahnya yang sengau karena baru bangun. Grendel pengunci pintu ditarik dua kali.
__ADS_1
Pintu dibuka, dan Aura segera berlutut mencium tangan sang ayah. "Ayah, Aura pulang." Mengucapkannya dengan perasaan haru.
Pria yang hampir menginjak usia lima puluhan itu, menarik lengan Aura untuk segera bangkit dan berdiri dengan tegap. Netra sang ayah menangkap satu sosok pria bertubuh sangat tinggi, berada di belakang anaknya menenteng dua tas yang tidak terlalu besar.
Aura memahami bahwa sang ayah tengah bingung, mengapa dia membawa pria asing tengah malam begini. Aura menyilakan Reza memperkenalkan diri kepada ayahnya.
Reza meniru gaya Aura tadi dengan berlutut mencium tangan calon mertuanya. Aura terkekeh melihat pria ini yang meniru-niru gayanya. Ayah memberi kode, bertanya siapa pria ini yang salim begitu lama ini.
"Dia adalah ...," Aura mulai bingung bagaimana menjelaskannya. Dia masih canggung memperkenalkan seseorang sebagai calon suami.
"Perkenalkan Yah, saya lah calon suami dari anak Ayah," ucap Reza.
Ayah Aura sedikit terkejut, hingga mundur beberapa langkah."O-ooh," ucapnya sedikit gugup tiba-tiba langsung bertemu dengan calon menantu. Menarik tubuh pria yang jauh melebihi postur tubuhnya ini.
Reza segera bangkit, dan ayah Aura menengadah melihat pria dengan tinggi 185 senti meter ini. Sementara, ayah Aura hanya berpostur kecil dengan tinggi tidak sampai 170 senti meter. Dalam hatinya muncul kebanggaan tersendir. Seorang keluarga miskin, mendapat menantu yang tampan dan gagah seperti Reza ini.
"Mari masuk?" Ayah Aura sedikit bingung mau mengajak calon menantu duduk di mana. Rumah ini tidak memiliki kursi tamu. Hanya ada bentangan karpet permadani murah, dengan meja pendek.
"Silakan duduk senyamannya!" ucap sang ayah.
"Duduk lah di sana, kami tidak memiliki kursi atau barang mewah lainnya. Lagian rumah sempit ini akan semakin sempit jika diisi dengan kursi-kursian segala," ucap Aura. Setelah itu menuju ke kamar orang tuanya. Melihat sosok ibu yang kesulitan untuk bangun.
"Bu, Aura sudah pulang." Aura mencium tangan ibunya. Sang ibu dengan perasaan haru mengelus kepala putri sulungnya ini.
"Bu, calon menantu kita juga ikut datang bersamanya," ucap sang ayah, membantu istrinya untuk duduk.
"Ada menantu juga?" Ibunya ingin turun dari dipan kayu sederhana ini.
"Ibu di sini saja, biar Aura yang mengajaknya ke sini."
__ADS_1