
Dia cantik sekali ...
Seorang pria berseragam putih abu-abu sedang memandang siswi adik kelasnya yang bernama Aurora Safitri.
"Heh, Sa ... ngintip-ngintip aje? Ayo aksi! Deketin!"
Laki-laki remaja itu menggelengkan kepalanya, berlalu meninggalkan gadis muda yang diintipnya tadi. Sementara gadis muda itu terus memperhatikan langkahnya hingga dia menghilang.
Lintasan-lintasan gambar Aura terus tergambar bagai perputaran film yang ditayangkan. Di mana ia melihat Aura dari kejauhan duduk di suatu tempat. Saat malu-malu berkenalan dengan juniornya itu.
Saat dia bersedih meninggalkan kota kelahiran. Saat dia mencoba mendekati Aura lewat akun sosial media. Saat dia mendapat kabar Aura mendapat beasiswa di tempat yang tak terlalu jauh darinya.
Di saat Aura menyatakan cinta. Di saat dia memberikan kejutan pada ulang tahun Aura. Di saat dia gelisah semalaman tak bisa tidur saat melihat Aura tidur dalam kamar yang sama di sebuah hotel. Saat dia dan Aura lari-lari mengejar maling. Masa-masa itu terus bergulir dalam ingatan pria yang tertidur di atas brangkar.
Jemari pria itu mulai bergerak, dan Aura menyadari dalam tidur yang terus menggenggam tangan Reza. Aura bangkit dan menengok Reza dengan wajah harap-harap cemas.
"Kanda? Kanda?"
Perlahan Reza membuka kelopak matanya. Dia melihat sosok yang tak pernah dilihat sebelumnya. Entah kenapa ada ingatan yang bukan miliknya tiba-tiba datang dalam mimpinya.
"Di-Dinda?"
Aura langsung menundukan wajahnya. Menyatukan kening mereka berdua. "Syukur laahh, akhirnya Kanda bangun juga," isaknya menangis dalam bahagia.
Reza mencoba menggerakan tangannya dan membelai pipi Aura. "Apa yang terjadi, Sayang? Kenapa kamu menangis?"
"Aku sangat bahagia, Kanda. Aku menangis bukan karena sedih."
Reza mengangguk pelan. "Kamu tahu, aku bermimpi melihatmu saat mengenakan seragam SMA."
"Kanda ngomong apa sih? Lebih baik Kanda istirahat. Aku akan mencari dokter."
Aura bergerak. Namun, tiba-tiba dia merasakan air seninya tiba-tiba menetes tanpa kendali. Aura panik melihat itu semua.
__ADS_1
"Ka-kanda?"
Beberapa saat kemudian, Aura didorong oleh seorang perawat menggunakan kursi roda. Kali ini dia ditemani oleh Mama Kinanti masuk ke ruang bersalin. Ketuban Aura telah pecah. Sudah waktunya dia untuk melahirkan.
Reza yang baru saja bangun dari tidur panjangnya, sedang merasa khawatir luar biasa. Dia tidak bisa menemani istrinya yang dalam proses persalinan. Reza ditemani oleh Papa Barack.
"Waah, ketuban Ibu Aura sudah pecah duluan ya? Apakah Ibu merasakan mules?" tanya bidan yang menangani Aura.
"Iya, Dok. Tiba-tiba saja air yang banyak keluar bagai pipis yang tidak bisa ditahan. Hanya sedikit, Dok. Namun tidak begitu kentara."
Lalu dokter kandungan datang, ikut memeriksa keadaan Aura. Melihat pembukaan Aura yang masih kecil, membuat dokter memutuskan untuk memberikan perang sang agar kandungan Aura segera berkontraksi.
Setengah jam kemudian, Aura menjerit-jerit karena sakit luar biasa. Dia merasakan sakit sekujur tubuhnya seakan sang bayi ingin keluar dengan segera dari dalam rahimnya.
"Aaaagghhh ..." ringisnya menggenggam selimut yang menutupi tubuhnya.
Lalu bidan mengecek kembali pembukaan pada jalur lahir Aura. "Sedikit lagi, Dok. Maka Ibu Aura siap untuk bersalin."
"Kamu jangan macam-macam begitu! Jantung baru kamu masih beradaptasi dengan tubuh kamu. Kamu istirahat saja!"
Setelah itu Reza terus memejamkan matanya memanjatkan doa agar istri dan anaknya selamat dalam pertaruhan nyawa kali ini. Papa Barack yang duduk di samping brangkar juga tak putus berdoa agar menantu dan cucunya sehat selamat dalam proses persalinan ini.
Di ruang bersalin, tampak Aura yang menggenggam tangan mertuanya. Sang mertua menemani Aura yang sedang berjuang untuk melahirkan cucunya.
"Kamu yang sabar Aura, sakit melahirkan normah hanya sebentar kok. Kamu harus kuat!"
Bidan pun datang dan kembali memeriksa pembukaan pada jalur lahir. Sedua tangannya telah masuk dengan sempurna. "Sepertinya sudah siap, Dok," ucapnya pada dokter yang tengah memasang pakaian untuk bersalin kali ini.
"Baik, Bu. Ikuti kata-kata saya. Saat saya bilang tarik nafas, Ibu tarik nafas dengan dalam hingga memenuhi difragma ibu, ya. Jika saya bilang hembuskan, Ibu buang nafas perlahan lewat mulut. Apa ibu paham?"
Aura yang telah dibanjiri keringat hanya bisa menganggukan kepalanya. Tangannya masih menggenggam tangan Mama Mertuanya.
"Nah, sekarang Ibu tarik nafas dalam-dalam!" Aura menghirup nafas sejadinya.
__ADS_1
"Hembuskan!" Lalu Aura mengikuti perintah dokter tersebut. Menghembuskan nafanya secara perlahan lewat mulut. Hal ini membuat dia merasa benda dalam tubuhnya terdorng hingga menuju jalan lahir.
"Ayo, Bu ... berusala lagi. Tarik nafas seperti tadi!"
Aura mengikuti, dan menghembuskan nafas seperti sebelumnya. Kembali bayi semakin terdorong hingga sampai di pintu lahir.
"Ayo, Bu. Ulang lagi!"
Aura melakukan hingga terdengar suara tangis dari area intinya. "oeek ... oeek ... oooeekk ...."
Dokter menarik bayi yang baru muncul ke dunia itu. Membat Aura meneteskan air mata dengan rasa haru akan perjuangan yang luar biasa dia alami. Seluruh tulang di tubuhnya seperti rontoh dari segala persendian. Namun, saat melihat wajah mungil yang terus menangis itu, membuat semua rasa tersebut hilang dengan seketika.
Setelah bayi dibersihkan, dokter meletakan bayi mungil itu pada tubuhnya. Bayi itu membuka mulut mencari sesuatu yang akan masuk ke dalamnya. Akhirnya bayi itu menemukan dan mencoba meng hisap ASI dari wanita yang selama ini mengandungnya.
Aura merasakan sesuatu yang sangat luar biasa. Hari ini dia benar-benar telah menjadi Ibu. Bayi nya terlihat sangat tanpan.
"Waahh, dia sangat mirip sama Reza waktu bayi dulu. Haloo sayang ... cucu Oma ..."
Aura membelai setiap jengkal kulit bayi mungil itu. "Sayang sekali, Ayahmu belum bisa melihatmu secara langsung. Ayahmu pasti akan sangat bahagia, bila melihat kehadiranmu, di sini."
Beberapa waktu meminum ASI, sang bayi terlihat mulai terlelap. Perawat mengangkat dan membungkus tubuh bayi mungil itu dengan bedong. Mama Kinanti memeluk Aura, yang telah memberikan Reza yang kedua. Mengenang masa melahirkan anak pertamanya dulu.
"Terima kasih ya, akhirnya Mama bisa melihat Reza junior juga. Akhirnya Mama bisa menimang cucu kembali setelah dua cucu Mama dibawa oleh Rini ke Jepang."
Aura mengangguk. Dia merasa bahagia saat mertuanya bersikap baik seperti saat ini. Sehingga membuat dia merasa yakin semua akan baik-baik saja meskipun suaminya dalam keadaan kurang sehat.
Saat malamnya, Aura telah diperbolehkan untuk turun dari brangkarnya. Dia meminta agar diantar ke ruang rawat sang suami. Aura membawakan putra kecilnya itu kepada ayah yang belum bisa melihatnya secara langsung.
Mama Kinanti meletakan sang bayi di dalam pelukan Reza. Reza meneteskan air matanya berusaha bangkit memberikan pelukan dan kecupan pada darah dagingnya itu.
__ADS_1