
"Apa aku tidak boleh menjauh agak beberapa saat saja darimu?"
"Jangan! Aku sudah candu akan aroma tubuhmu! Aku tak bisa jauh-jauh darimu!" Kembali memeluk Aura menempelkan hidung mancungnya pada ceruk leher jenjang sang istri. Dia terlihat sangat menikmati aroma tubuh Aura ini. Ingin menc*umnya, tetapi Aura sudah mendorong lelaki itu. Ada perasaan aneh saat hembusan nafas dari hidung yang mengenai lehernya.
"Udah lah, jangan deket-deket gini pliiisss. Aku jadi merasa nggak nyaman. Ayo kita pulang saja ke rumah?"
Reza tak memedulikan apa yang dikatakan Aura. Dia masih menikmati memeluk tubuh yang diidamkannya ini meski yang punya terus menolak. "Kalau begini terus, nanti aku selingkuh lhoh? Soalnya istriku tidak mau melayani dan menyenangi hatiku."
"Terserah! Nanti aku juga selingkuh!" Aura masih berusaha mendorong Reza agar memberi jarak padanya.
"Mana ada orang yang mau sama wanita bersuami?" Dia kembali mendekat mencoba memeluk istrinya.
"Mana ada juga wanita yang mau sama suami orang?" ucap Aura tak mau kalah.
"Banyak. Apalagi yang sepertiku. Bakalan banyak yang ngantri menjadi yang kedua, ketiga, ataun pun yang keempat." Reza bangkit, lalu menuju kamar mandi sesaat. Tak lama, dalam keadaan muka dan rambutnya yang terlihat basah, Reza menuju ke arah luar tanpa mengatakan apa pun pada Aura.
Aura hanya mencibir, lalu fokus kembali nonton drama korea yang dia sendiri tak paham bagaimana jalan ceritanya. Dia terus menonton siaran tersebut hingga beberapa saat. Terdengar suara ketukan pintu dari luar. Aura langsung teringat, dia tidak menggunakan br*a. Dia mulai bingung bagaimana cara untuk menemui orang yang mengetuk pintu tersebut.
Terdengar kembali suara ketukan, lalu dibuka pintu tersebut dengan celah yang sangat kecil. Kepalanya mengintip menengok siapa yang berada di balik pintu tersebut. Ternyata seorang pelayan hotel yang datang membawa nampan di tangannya.
"Selamat pagi, Kakak. Sarapan pagi untuk Anda sudah kami siapkan," ucap pria berseragam pegawai hotel.
"Pagi, saya tidak memesan apa pun," ucapnya.
"Ini adalah permintaan dari suami Anda."
"Dia sekarang ada di mana?"
"Suami Anda sedang sarapan di ruang makan restoran ini."
Aura kembali merasa kesal, karena dia tidak mengatakan apa-apa saat keluar tadi. Akhirnya membukakan pintu lebih lebar lagi, menyembunyikan diri di balik pintu. Pelayan hotel tersebut masuk dan menaruh nampan tersebut di atas meja. Setelah itu, dia langsung keluar dari kamar ini.
"Selamat menikmati!"
"Terima kasih." Aura menutup kembali pintu tersebut.
__ADS_1
Dia melihat menu yang diberikan oleh hotel ini. Seporsi kecil nasi goreng, satu buah pisang, sebotol air mineral, dan segelah susu cokelat hangat. Kebetulan perutnya memang sudah lapar, tanpa berpikir panjang dia langsung menyantap makanan itu.
💖
Aksa sedang berada di kampus. Dia sedang membaca-baca beberapa jurnal mengenai perkuliahan dan beberapa tugas akhir milik seniornya yang terdahulu. Dia mulai memikirkan judul yang akan diusung untuk tugas akhirnya.
Ponselnya bergetar, itu adalah panggilan dari sahabat masa SMA-nya dahulu. Aksa segera keluar dari ruangan bebas bising tersebut. "Halo Ko, tumben banget nelpon? Ada kabar apa nih? Mau kawinan lu?"
"Enggak, gue hanya ingin pengen tahu kabar lu aja? Lagi dimana?"
"Gue masih di kampus. Tumben-tumbenan banget lu nelpon gua? Kalau gua gak nelpon, mana ada lu nyariin gua?"
"Ekhem, gua hanya ingin bertanya aja sama lu, Sa. Apa lu masih cinta sama adik kelas kita waktu SMA dulu? Lu demen banget kan sama dia?"
"Maksud lu Aura?"
"Iya, siapa lagi? Cewek yang diam-diam yang Lu foto itu? Dia kan kuliah di Jawa sana juga."
"Hmmm ..., kenapa dia? Tumben-tumbenan Lu nanyain kisah gua sama dia."
"Eee, hmmm ... gue juga bingung ngomongnya. Tapi gue dapat kabar dari beberapa orang juga sih."
"Gue denger kemarin dia nikah di KUA."
Aksa yakin beberapa waktu lalu masih menemui Aura di kota ini. "Ah, nggak mungkin. Gua aja baru ketemu dia Sabtu kemarin."
"Nah itu, gue belum memastikan sendiri beritanya. Gue hanya dapat kabar angin adik kelas gebetan Lu dulu diam-diam nikah di KUA karena hamil duluan di luar nikah."
"Hah? Ngaco ah! Dia bukan gadis seperti itu!"
"Nah, itu gua juga heran. Sekarang hubungan lu dengan dia bagaimana? Sudah pacaran belum?"
"Udah ya, gua mau lanjut dulu!" Aksa bukan tipikal yang mengutarakan hal pribadi kepada siapa pun. Apalagi mengenai patah hati yang dialaminya saat ini.
"Jiiah, langsung ngelak? Jika yang nikah itu memang Aura bagaimana? Ngenes kan lu?"
__ADS_1
"Gue lagi di perpustakaan. Dah!" Aksa menutup panggilannya. Mulai memikirkan kata-kata yang terakhir diucapkan oleh Aura padanya.
"Jangan hubungi aku lagi! Jangan mencariku lagi!"
Aksa merasa itu sangat mustahil, jika Aura sudah menikah diam-diam tanpa sepengetahuannya. Aksa menggelengkan kepala. Dia kembali melanjutkan mencari sesuatu yang bisa menunjang rencana proposal tugas akhir yang akan dia ajukan.
Jarak antara kosan dan kampus, tidak terlalu jauh. Jalan kaki adalah alternatif terbaik dalam beraktifitas. Kali ini dia pulang dari kampus sekitar pukul dua siang. Panas terik membuatnya mempercepat langkah menuju rumah indekos yang dia tempati.
Tiba-tiba, ada yang mencoleknya dari belakang. Seorang remaja perempuang, tengah mengikuti langkahnya. Aksa mengerutkan kening saat melihat gadis dengan cengiran di bibir itu.
"Hai Abang ganteng!" Dia melambaikan tangan pada Aksa.
"Ya, Kamu lagi?" Aksa memperhatikan, gadis itu masih mengenakan seragam sekolah.
"Kok gitu sih ngomongnya?"
"Kamu pulang langsung ke rumah gih! Abang mau istirahat juga!" Aksa tidak memedulikan gadis yang memanggilnya. Namun ternyata, dia mengejar, mencegat, dan berdiri tepat di hadapan Aksa.
"Abang kok sombong banget sih?"
"Nanti pacarku cemburu melihat ada yang mendekat!" ucapnya asal.
Gadis itu celingak celinguk melihat sekitar mereka. "Mana pacarnya, Bang? Dia tinggal di sini juga?"
Aksa mengedarkan pandangannya, melihat di sekitaran area kosan tersebut. Menunjuk asal bangunan rumah kos yang cukup tinggi. "Di sana. Pacarku tinggal di sana!" Aksa melanjutkan perjalanannya kembali.
Gadis sekolah itu kembali mengejar Aksa. Mencegat tepat berdiri di hadapannya. Aksa yang melihat aksinya tersebut, mencoba menerobos gadis yang sangat gigih ini. Akan tetapi si gadis gesit kembali mencegat, lagi dan lagi.
"Kenapa lagi? Lebih baik Kamu pulang, kerjakan PR, biar bisa kuliah di sana!" Aksa menunjuk kampusnya.
"Aku tidak minat kuliah, aku mau nikah aja habis tamat sekolah."
"Oh, ya udah kalau gitu! Silakan saja bagaimana lagi jika itu memang mau mu!" Aksa kembali beranjak menerobos bariel yang dilakukan oleh bocah baru gede ini.
"Aku mau nanti dinikahkan sama Abang aja."
__ADS_1
Aksa tertegun, melihat gadis itu dengan heran. "Kamu ini kenapa? Aku sudah katakan, kalau aku sudah memiliki pacar. Aku cinta sama dia. Kamu jangan mengusik!"
"Abang bohong! Abang jomblo kan? Masa iya, bilang ada pacar di kosan cowok?"