CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER

CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER
122. Menangkap umpan


__ADS_3

Aura memilih membaringkan diri di tempat tidur. Sementara Reza dan Aksa baru saja menyelesaikan sarapan paginya, duduk di sofa.


"Maaf sudah membuatmu datang sepagi ini di tempat ini." Reza menyodorkan secangkir kopi yang dibawakan oleh Bibi.


Aksa mengedarkan pandangan ke seluruh sisi bagian sederhana apartemen ini. Jauh berbeda dari apa yang dibayangkannya. Dia berpikir, rumah tempat tinggal seorang Reza Firto Adijaya tentu lah sangat megah dan mewah. Ternyata hanya sebuah apartemen sederhana yang tidak sebanding dengan keuangan yang ia dapatkan.


Apakah Aura bahagia dengannya? Kenapa hanya memberikan tempat seperti ini kepada Aura?


"Ekhem." Reza berdehem memperhatikan Aksa yang sedari tadi menilai tempat tinggal mereka.


"Eh iya, maaf." Aksa mengangkat kembali cangkirnya kembali melihat sekeliling.


"Apa yang Kamu pikirkan mengenai tempat ini?" Kening Reza berkerut melihat reaksi yang tak biasa dari Aksa.


"Hmmm, tidak. Hanya saja semua terlihat berbeda dari yang aku pikirkan." Aksa menyeruput kopi yang diberikan kepadanya.


Reza menatap panjang pada lelaki muda ini. Mencoba menebak apa yang dipikirkan oleh Aksa. "Bagaimana dengan pekerjaan yang saya tugaskan?"


"Selain ojol, semua sudah bisa diperbaiki. Data yang hilang pada proyek ojol harus segera diambil kembali agar semua bisa sempurna kembali."


Reza mengangguk, bangkit menuju kamar. Sejenak, dia memperhatikan Aura yang terlihat lelap dalam tidurnya. Reza mencari USB flaskdisk tempat ia menyimpan data yang berhasil direbut tadi malam.


Reza kembali melirik istrinya, kali ini mata Aura terbuka dengan lebar. Namun, Reza hanya diam melewati menuju seseorang yang duduk di ruang tamu. Reza menyerahkan hardware penyimpan data tersebut kepada Aksa.


"Semua data yang Kamu butuhkan berada di sini. Kapan mulai kuliah lagi?"


"Minggu depan," ucap Aksa dengan singkat.


"Kalau begitu, menjelang minggu depan, tinggalah di sini! Perusahaan membutuhkanmu! Abizar tidak bisa ambil lembur lagi. Dia sedang siaga menunggu istrinya melahirkan."


Aksa kembali mengedarkan pandangannya. Dia mencari seseorang yang tidak muncul sedari tadi. "Sepertinya dia belum makan apa pun."


Reza menajamkan pandangannya pada Aksa. "Apa pedulimu? Dia istriku. Kau tak perlu repot membantuku untuk memikirkannya."

__ADS_1


Aksa bangkit membawa flasdisk yang diberikan Reza barusan. Matanya kembali diarahkan kepada sebuah pintu yang tertutup. Tampak pintu itu dibuka dengan celah kecil. Dia sadar, Aura sedang mengintip mereka.


"Kalau begitu, ini akan saya bawa. Bagaimana sarana penginapan saya?" Mata Aksa masih menatap pada celah menganga dengan kecil tersebut.


Reza ikut melirik ke arah yang sama. "Nanti perusahaan akan menyediakan mess untukmu. Sekarang Kau boleh pergi."


Aksa mengangguk, kembali melirik ke arah pintu tersebut. Tampak sebelah mata yang menatapnya dengan sendu. Aura menggelengkan kepalanya, memberi sebuah kode.


Jangan! Kamu tak perlu ke sini lagi!


Aksa membuang muka dan berjalan menuju pintu keluar dari rumah ini. "Saya akan memikirkannya kembali," ucap Aksa berlalu menutup pintu.


Reza melihat ke arah seseorang yang membuka pintu kamar tersebut. "Aku mohon! Kamu tidak perlu menyiksa kami dengan cara seperti ini. Bukan kah aku sudah mengatakan bahwa aku mencintaimu? Semua sudah kuberikan padamu. Apa Kamu masih tidak percaya?"


Reza bangkit masuk ke kamar menuju kamar mandi. Dia membersihkan diri sesaat, tanpa berkata apa-apa mengenakan pakaian kerja dan pergi. Membiarkan Aura yang sedari tadi membisu menunggu jawaban darinya. Akhirnya Aura menghempaskan dirinya kembali ke atas kasur.



"Apa yang kalian berdua pikirkan? Kalian benar-benar membuatku pusing!" Akhirnya Aura tertidur dalam suasana sepi itu.


"Kamu ke mana sih Ra? Kenapa hilang gak jelas seperti ini?"


Stella menghentakan kakinya dengan kesal. Saat ini dia berada di depan rumah indekos tempat Aura tinggal. Stella merasa makin hari dia semakin jauh dari sahabatnya itu. Apalagi waktu Aura pamit pulang setelah menginap semalam, mereka tidak ada kontakan sama sekali.


Stella melangkah kan kakinya dengan kesal kembali keluar dari gang tersebut. Tampak dua pria yang terdengar sedang adu mulut.


"Katakan di mana Kau menangkap gadis itu?" ucap pria dengan tubuh tinggi.


"Sudah aku katakan, aku menemukannya di sini!" ucap yang satunya lagi dengan tubuh lebih kurus dan tampak lebih muda.


Pria bertubuh tinggi nan berisi menin ju ulu hati pria yang lebih kurus. Stella memicingkan matanya karena takut melihat aksi keke rasan itu. Stella mencoba melewati orang-orang itu dengan perasaan takut.


"Cepat katakan! Saat ini dia tinggal di mana dengan Reza pemilik Harmony itu!"

__ADS_1


Stella seperti mengenal satu nama yang disebut oleh pria yang bertubuh tinggi itu. 'Ah, kebetulan aja mungkin.' Stella kembali bergerak.


"Cepat katakan di mana Aurora Safitri itu! Kalau tidak, jangan salahkan bahwa Kau yang akan menggantikan mereka yang telah lepas karena ulahmu. Karena Kau, dia lepas dari tanganku!"


"Kenapa Kau menyalahkanku? Bukan kah dia lolos karena Kau yang tidak becus mengurungnya?"


Stella kembali menghentikan langkahnya. 'Apa maksud mereka?'


"Kau sudah terlambat! Dia itu sudah menikah dengan pemilik Harmony itu. Kau tak perlu mengganggu mereka lagi!"


Marcell melihat seorang gadis berdiri memperhatikan pembicaraan mereka. "Heh, Kau? Kenapa Kau menguping pembicaraan kami, hah?"


Stella pura-pura tidak mendengar lalu melanjutkan perjalanannya lagi meski tubuhnya menegang karena takut. Marcell yang melihat keanehan pada tingkah gadis berambut pendek itu, akhirnya menari Stella.


"Sepertinya Kamu mengenal nama-nama orang yang kami bicarakan?"


Stella menggeleng. "Tidak, saya tidak tahu. Sungguh! Siapa yang kalian bicarakan?"


Marcell mengembangkan senyum tupisnya seakan membaca sesuatu. Dia melirik suasana dalam gang tersebut. Kebetulan suasana sedang sepi, mulut Stella dibekap dengan tangannya dan langsung didorong masuk ke dalam mobilnya.


"Apa yang kalian lakukan?" teriak Stella. "Tolooong! Tooolooong! Saya diculik!"


Marcell mengikat Stella, lalu menutup mulut gadis itu dengan lakban. "Sekarang ayo teriak!"


Marcell menggeledah dompet milik Stella. Di dalam dompet tersebut, bertemu kartu tanda mahasiswa. Marcell tersenyum licik melihat jurusan dan tahun angkatan gadis berambut sebahu itu.


"Tidak kenal ya?"


Marcell kembali menggeledah ponsel Stella. Ternyata ponselnya diberi tanda pasword. Dengan mudah pria itu membuka kode pasword ponsel Stella. Mengecek galeri dan menemukan foto gadis yang ditangkapnya ini, begitu banyak bersama gadis yang dicarinya.


"Ooh, tidak kenal."


Marcell mengangguk penuh arti. Lalu dia tersenyum dengan rencana berikutnya. Pindak ke bangku pengemudi lalu melajukan kendaraan ini. Jendra melihat gadis bodoh yang baru tertangkap ini, hanya bisa menggelengkan kepala.

__ADS_1


Selamat menjadi umpan, cheese on the trap.


__ADS_2