
"Dikit aja tidak apa kok," bela Keken menatap Reza, memberikan senyuman termanisnya.
"Tidak boleh!" Aura mengucapkannya dengan nada yang sangat tegas. Hingga langsung membuat Keken ciut.
Reza terkekeh melirik gadis itu. Aura segera mengambil Aksa dari tangan suaminya, didudukan di atas kursi makan khusus bayi miliknya sendiri. Aura menyiapkan makanan untuk sang suami terlebih dahulu. Setelah itu menyilakan Keken untuk mengambil makanannya sendiri.
Sementara Aura menyuapkan bayi mereka. Reza mengambil lauk kesukaan sang istri. Dia menyuapkan Aura yang sedang menyuapkan anaknya. Melihat hal itu membuat Keken membayangkan bahwa dirinya seorang Aura. Dirinyalah yang menyuapkan Aksa kecil, dan disuapkan oleh Reza.
Reza merasa gadis itu tampak semakin aneh. Mencolek Aura menggoyang sedikit kepala dengan maksud agar Aura membuyarkan lamunan gadis itu. Aura melambaikan tangan di depan mata Keken. Namun, Keken belum terlihat kembali ke tubuhnya.
"Ken?"
Aura mendekat dan menyentuh pundaknya. Keken terkesiap tiba-tiba ditarik kembali ke bumi setelah sampai di langit ketujuh.
"Kamu sedang memikirkan apa? Kenapa serius sekali melihat suamiku?"
"E-hm ... enggak ... aku hanya membayangkan jika nanti jadi mama muda juga--"
Reza yang menyuapkan makanan untuk dirinya sendiri tiba-tiba tersedak. "Uhuuuk ... huuuk ... huuk." Aura segera mengambilkan air putih lalu mengusap pundak sang suami.
Usai minum air, setelah dadanya tidak sakit lagi, Reza kembali memperhatikan gadis tersebut. "Segera selesaikan makanmu! Nanti kami akan meminta supir untuk mengantarmu!"
__ADS_1
Aura melirik sang suami, menggelengkan kepala. Ucapan Reza terasa tidak sopan di telinganya. Walau sebenarnya Aura tidak suka dengan gadis itu, tetapi diusir seperti itu tidak baik juga.
Reza melirik istrinya yang terlalu baik, apa terlalu polos, atau terlalu naif alias bego. Reza melanjutkan makan sambil menyuapkan Aura, yang menyuapkan Aksa. Setelah menyudahi acara makan malam, Reza membawa Aksa duduk nonton di ruang keluarga.
Sementara Aura membereskan kembali peralatan dibantu oleh Bibi dan yang lain. Keken memperhatikan Aura dengan seksama. Mencoba mencari hal yang menarik yang tidak diketahuinya. Kenapa pria yang hadir dalam hidupnya selalu lebih dulu menyukai Aura.
B aja, batinnya.
"Ehm, Kak, aku ke depan dulu ya?" tanya Keken dengan cuek dan langsung pergi.
Aura yang menoleh, telah kehilangan sosok Keken. Lalu Bibi mulai berbisik kepada Aura. "Siapa itu, Non?"
"Aku juga baru mengenalnya, emang kenapa, Bi?"
Aura kembali melirik ke arah luar. Lalu melanjutkan kegiatannya merapikan meja makan. "Aku percaya sama Kanda kok, Bi."
Bibi semakin mendekat kepada Aura. "Apa Nona lupa gimana tingkah Tuan Muda sebelum menikah?"
Aura langsung melempar kain lap yang ada di tangannya. Secara diam-diam dia mengintip tingkah Keken, yang mencoba duduk di dekat Reza. Reza seolah mengelak, membelakangi Keken pura-pura mengajak Aksa bermain.
"Mas, Kak, apa Abang sih panggilannya? Atau aku ikut memanggil Kanda?" tanya Keken.
__ADS_1
Mendengar hal tersebut membuat Reza secara refleks menoleh ke arah Keken. Sementara Aura menggenggam tangannya karena kesal. Tanpa menjawab pertanyaan Keken, Reza mengeluarkan ponselnya.
"Mau minta kontak aku ya, Bang? Mas? Kak? Kanda?"
Reza menaruh ponsel pipih tersebut di telinganya. "Jo, siapkan mobil! Nanti kamu antar seseorang ke kosannya!" Panggan ditutup, Reza menatap Keken dengan dingin.
"Kamu bisa kembali ke kosanmu saat ini juga!"
Keken menyilangkan kakinya menyandarkan diri pada senderan sofa. "Masih siang," jawabnya melihat waktu pada jam dinding menunjukan pukul tujuh malam.
Aura semakin geram, menggenggam tangannya semakin kuat. Dia mencoba melihat tanggapan dari sang suami. Apakah dia masih sama seperti dulu atau benar-benar telah berubah. Reza tampak bangkit dari posisinya.
Setelah bergerak beberapa langkah, dia melirik Keken dari sudut matanya. "Jangan pernah ikutan memanggil saya dengan Kanda. Itu adalah permintaan saya kepada istri. Kau boleh panggil saya siapa saja, termasuk Tuan! Karena kita tidak ada kepentingan apa pun untuk jadi lebih dekat."
"Oiya, tadi itu sorry. Yang saya ajak becanda itu, si Boy. Bukan kamu! Kamu paham?"
Reza melangkahkan kaki menaiki tangga menuju kamar. Melihat hal itu, membuat Aura tersenyum puas, karena suaminya telah lulus dari ujian ular Keken (kata readerku).
"Bagaimana, Bi?" tanya Aura.
Bibi mengacungkan jempolnya merasa ikut puas juga melihat wajah Keken yang melongo. Lalu Aura bergerak menuju arah Keken yang masih menatap ke arah lantai atas.
__ADS_1
"Kenapa, Ken? Apa ada sesuatu di atas sana?"