
Stella menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Yeee, mana mungkin aku lakukan hal bodoh seperti itu?"
"Ya udah, Mama layanin suami Aura dulu yang ngobrol sama Appa kamu. Nanti Mama minta Bibi bawakan minuman dan cemilan untuk kalian."
Stella mengangguk dan menatap Mamanya yang menuju ke dapur. Stella masuk kembali ke kamarnya memperhatikan ibu muda itu tengah menyuu..sukan bayi yang masih merah dan lucu.
"Sudah dikasih nama belum, si cantik?"
Aura mengangguk. "Si Adek, namanya Asyara, Tante ...."
Stella memainkan jemari Asya. Aura menatap lurus pada Stella. "Apa kamu bertengkar dengan Kak Devan?"
Stella menggelengkan kepala. "Lalu kenapa kamu begini?"
"Aku hanya tak bisa tidur semalaman, memikirkan hubungan kami. Apa pantas untuk dilanjutkan atau tidak."
Aura menatap wajah sendu Stella yang memainkan jemari mungil Asya. "Apa yang terjadi? Berantem karena gak ada kabar lagi?"
"Bukan ...!"
"Lalu?"
"Kemarin kami bicara dari hati ke hati. Dia membuka semua tentang kisah masa lalunya." Lalu Stella diam tanpa melanjutkan ceritanya.
"Jadi masa lalunya buruk banget hingga kamu jadi seperti ini?" Aura menekankan nadanya sebagai titik utama membuat gundah gulana hati sang sahabat.
"Yaaa, bukan itu aja siih. Hanya saja mungkin dia sudah punya anak dengan wanita lain."
__ADS_1
"APA ...???"
"Sudah kamu duga kan kemana arahnya. Jadi kira-kira dia pria yang seperti itu lah. Suka gonta ganti pasangan."
"Yaaa aaammpun. Masa lalunya tak jauh berbeda dengan masa lalu Kanda tau nggak sih? Gimana perasaannya saat ini?" ucap Aura setengah menggelengkan kepala.
"Jadi suami kamu gitu juga?" tnya Stella kembali.
"Dia itu baji ngan tau nggak sih dulunya. Kalau anak ... aku kurang yakin juga." Aura mencolek pipi kemerahan bayi yang tengah dikasihinya itu.
"Bagaimana denganmu?" tanya Stella kembali.
"Bagaimana apanya?" tanya Aura bingung.
"Dia saat ini?"
"Yaaa, gini ... Kamu lihat sendiri kan? Ini bagiku ya, dia adalah pria terbaik yang hadir untukku. Jadinya yaa, aku menerima masa lalunya. Sebaik apa pun dan seburuk apa pun dia. Aku tak pernah menyesalinya. Yang penting saat ini, dia adalah milikku. Kamu ingat sendiri tidak, bagaimana sarkasnya hubungan masa lalu kami."
"Semua keputusan ada di tanganmu La. Jika aku masuk memengaruhimu mengatakan begini begitu, nanti di akhir kamu menyesal, pasti akan menyalahkanku. Pikir kan lah dengan matang. Apa pun itu, pasti itu lah yang terbaik." terang Aura panjang lebar.
Stella mengangguk, kembali berpikir sepanjang malam. Sudah dua malam Stella tidak tidur sepicing pun memikirkan drama yang akan dilalui ke depannya. Setelah beberapa waktu berpikir dengan panjang, akhirnya dia memutuskan untuk menghubungi Devan.
Mereka sepakat bertemu di sebuah taman. Di mana banyak sekali keluarga yang datang membawa anak-anak atau pasangan kekasih yang sekedar menikmati sore di tempat ini. Stella melangkah cepat menuju tempat Devan telah menantinya.
Benar, Devan telah menanti dengan harap-harap cemas. Stella tanpa senyum tanpa menyapa duduk di bangku sembari memandang suasana sekitar yang cukup ramai. Devan yang merasa tegang, akhirnya duduk pasrah turus bungkam melihat raut Stella yang terlihat tak bersahabat.
Beberapa waktu berlalu, dalam hening di tengah keramaian. Mereka sama-sama melihat sebuah keluarga yang terdiri dari empat anak. Dua anak kecil usia sekolah dasar sedang di bimbing. Dua anak lagi di gendong oleh ayah dan ibu mereka.
__ADS_1
"Repot sekali," celetuk Stella merasa miris dengan keluarga yang memiliki anak usia berdekatan.
"Menurutku indah sekali," timpal Devan.
"Kenapa?" Stella tak menoleh sama sekali.
"Karena mereka keluarga bahagia. Mereka siap menanggung resiko akan repotnya memiliki anak dengan jarak usia yang dekat. Mereka semua tak akan pernah merasa kesepian. Nanti saat dewasa, mereka akan berganti peran untuk membahagiakan orang tua mereka."
Mata Devan tak henti memperhatikan keluarga tersebut. Kedua anak yang dibimbing pun terlihat tak banyak ulah, menyadari betapa repotnya orang tua mereka.
"Jadi Kakak lebih suka dengan keluarga yang ramai seperti itu?"
Devan mengangguk. "Aku rasa memiliki banyak saudara akan jauh lebih baik. Kamu tak akan pernah merasakan kesepian. Oh iya, kamu belum merasakan ya."
Stella hanya mengulas senyum tipis. Kembali memperhatikan keluarga tersebut. Lalu beralih pada Devan yang sudah sedari tadi menatap, menunggunya untuk berbicara. Stella kembali memutar bola mata mengalihkan pandangan.
"Aku ..." Devan dan Stella berbicara dengan serempak.
"Katakanlah! Ladies first," ucap Devan.
"A-aku ... sepertinya---"
"Sudah kuduga," sela Devan menyela di saat Stella masih berbicara.
"Emang Kakak menduga apa?"
"Kamu pasti ingin semua berakhir, pastinya." Devan menundukan kepalanya sayu. "Aku bukan lelaki yang baik, wajah ini hanya sebagai penyamar kedok kebusukan, yang tak bisa dilihat oleh orang lain."
__ADS_1
"Jangan seenaknya menyela pembicaraan orang lain! Aku tak berencana mengatakan hal itu." Suara Stella terdengar cukup lantang.
"Jadi kamu mau bagaimana?"