CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER

CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER
23. Savety Detector


__ADS_3

"Ra, apakah kamu cemburu melihat kedekatanku dengan Stella tadi?" Aksa duduk semakin mendekat. Aura masih menatap danau tak sadar posisi Aksa sudah begitu dekat dengannya.


"Ra, kamu denger apa yang aku tanyakan nggak sih?"


Dengan gusar Aura menjawab, "Abang maunya aku bicara ap--" Dia menoleh ke arah Aksa, ternyata wajah cowok itu terlalu dekat dengannya. Dia mengerjapkan matanya karena merasa sangat terkejut melihat wajah cowok yang disukainya ini hanya berjarak beberapa sentimeter saja.


"Ayo katakan! Apa kamu cemburu?" Aksa terkekeh melihat ekspresi Aura.


Aura jadi merasa canggung, kembali membuang mukanya menatap danau. "A-aku tak berhak cemburu tuh!"


"Ra! Lihat ke sini dulu!"


Aura kembali melihat Aksa, tampak lelaki muda itu tengah mencari sesuatu dari dalam ranselnya. Lalu mengeluarkan sebuah kotak. "Aku sengaja beli ini lho untuk kamu. Kamu jangan melihat dari harganya ya? Tapi ini akan berguna sekali jika kamu berada dalam bahaya."


Aksa memasangkan sebuah benda yang sangat mirip dengan jam tangan tersebut. Wajah Aura yang sedari tadi murung, seketika berubah sumringah memperhatikan benda itu. "Lalu bagaimana cara kerjanya?"


"Nanti jika kamu menekan tombol merah ini, maka--" Aksa memamerkan benda yang sama terdapat pada tangannya, "Benda ini akan menangkap signal bahaya tersebut. Benda di tanganku ini akan bergetar. Aku akan segera tahu saat itu lah kamu memerlukan bantuanku. Aku akan segera mencarimu jika itu terjadi."


"Cari? Dih, jauh begitu mana bisa langsung mencari?" Mulut Aura manyun.


"Menjelang aku sampai, setidaknya aku bisa meninta bantuan kepada pihak kepolisian agar segera menyelatkanmu." Jelas cowok itu. "Apa kamu tidak suka mendapat hadiah yang seperti ini?"


"Aku suka kok Bang." Mengembangkan senyum tertulusnya.


"Syukur lah kalau kamu suka. Padahal rencananya ini mau aku kasih minggu depan," ucap pria itu menatap danau.


Aura menatap wajah cowok itu dengan penuh tanda tanya. "Kenapa harus minggu depan? Bukan kah hari ini kita sudah diberi kesempatan untuk berjumpa?"


Aksa kembali mengacak rambut gadis itu, "Bahkan orangnya sendiri lupa." Aksa kembali terkekeh.


"Ada apa dengan minggu depan Bang? Bilang saja! Otakku ini sudah terlalu penuh bila diajak berpikir lagi. Udah kayak Prof. Barack tadi saja," celetuk Aura.


Tiba-tiba, terdengar pesan masuk, Aura segera mengeceknya. Ternyata itu pesan yang datang dari Sistem.


[Selamat sore Nona Aurora Safitri.]


Aura berpikir keras apakah harus segera dibalas atau dibiarkan saja? 'Jika dibalas, maka ketahuan waktunya sudah luang.' Aura memilih untuk membiarkan tanpa membalas. Lalu terdengar lagi pesan yang masuk.


[Anda sudah membaca pesan dari Sistem, tetapi Anda tidak membalasnya. Kami harap Anda membalasnya dengan segera!]


Akhirnya Aura membalas pesan tersebut.


^^^[Apa semua Sistem itu bisa secerewet seperti emak-emak begini?]^^^


^^^[Saya belum bisa diganggu! Nanti malam saya akan laksanakan misi! Sekarang saya masih di kampus!]^^^

__ADS_1


Pesan datang lagi dari Sistem


[Sistem mendeteksi bahwa Anda sedang berada di luar ruangan. Jika Anda sudah selesai, Sistem mewajibkan Anda membalas pesan. Sistem mengingatkan, Jangan lupa nanti malam misi level pertama hari ketiga Anda.]


Aura membalas pesan dari Sistem.


^^^[Iye Mak Tiri. Nyinyir amat dah! Udah, jangan kirim pesan lagi! Saya bosan! Nggak usah diingetin!]^^^


Sistem kembali mengirim pesan.


[Baik lah Nona Pemarah!]


Aura kembali mengirim pesan.


^^^[Jangan balas lagi!]^^^


"Siapa sih? Sedari tadi aku bagai obat nyamuk dibiarin sendirian," cetus Aksa.


Aura melihat Aksa, keningnya berkerut. "Ini dari orang iseng aja," ucapnya.


Aksa berselonjor menumpukan tangan ke atas rerumputan, kepalanya menengadah menatap langit. "Hmmm, yang iseng aja diladenin. Yang serius di sampingmu dicuekin begini."


"Serius? Abang serius gimana?" Aura teringat kembali tentang ucapan Aksa tentang seminggu lagi. "Oh ya, ini benda namanya apa Bang?"


Aksa memperbaiki posisinya, lalu melihat kembali ke arah yang ditunjuk oleh Aura.


Aura kembali melirik benda hitam yang melingkar di tangannya. "Savety Detector?"


"Iya, nanti kalau terjadi apa-apa denganmu, yang ada di tanganku ini akan bereaksi jika kamu tekan tanda merah." Memperlihatkan benda yang persis dengan yang ada di tangannya kembali.


Aura melihat benda yang ada di tangannya ini, "Aku berasa ini semacan benda pasangan," celetuknya.


"Anggap saja begitu!" Tukas Aksa.


"Ogah, kita bukan pasangan!"


💖


💖


💖


Wanita glamor tersebut, menarik Reza dari kerumunan itu. Wanita yang ternyata masih satu grup dengan mereka yang bernama Talita bersidekap tangan di depan dada, menyiapkan sesuatu untuk Reza.


"Apa hubunganmu dengan Talita?" Tanya wanita glamor itu.

__ADS_1


Reza melirik ke arah wanita cantik yang bernama Talita yang sebenarnya. " Oh, dia ... dia--"


"Aku sebenarnya sudah menduga-duga sedari awal kita pacaran. Aku sudah menebak pacarmu bukan hanya satu. Namun aku tak menyangka kamu memacari teman dekatku juga. Itu sungguh keterlaluan," cercah wanita itu.


"Greta?" Talita yang tadi hanya menonton dari jauh, akhirnya greget mendekati mereka. "Ada apa ini?"


"Kamu tanyakan sendiri pada pacar kita ini!" Titah wanita yang ternyata bernama Greta.


"Pacar kita? Jadi kamu macarin kita berdua Mas?" Talita melempar tas jinjing mewahnya. Menarik jas bewarna gelap milik Reza.


Reza melirik ke arah Abizar, mengode asistennya itu untuk segera menyelamatkannya. Reza mulai ingat, gadis cantik bernana Talita ini rutin berlatih boxing sekali seminggu. Wanita yang bernama Greta tersenyum tipis melihat reaksi Talita.


"Talita, aku serahkan dia padamu. Silakan mau kamu apakan! Aku tak akan ikut campur," ucapnya pada Talita.


"Reza, kita putus saja. Tenang saja, aku tak akan menangis-nangis memohon cinta kepadamu. Masih banyak pria baik di luar sana yang lebih pantas untuk dicinta." Greta meninggalkan Reza yang siap menjadi bubur oleh pukulan Talita.


Ketika tangan Talita bersiap mendarat di wajah Reza, dengan tangkas Reza menahannya. "Tunggu, tunggu Sayag! Aku, aku bisa menjelaskan semuanya kepadamu," cegahnya.


"Aku rasa, aku sudah tidak membutuhkan penjelasanmu Mas! Apakah aku boleh menghajar wajah pucatmu itu?" Talita membesarkan matanya, menantang Reza dengan garang.


"Ja-jangan! Wait ... wait ...! Kita tak boleh mengakhiri semua ini dengan kekerasan Sayang!" Reza menurunkan tangan Talita tadi.


"Masih ingat sayang-sayangan ta Mas?" Talita kembali memamerkan kepalan tinjunya tepat di depan hidung Reza.


"I-iya .... Kita ini kan love forever Sayaaaang!" Kembali menurunkan kepalan tangan Talita.


"Kamu tahu, buat apa aku latihan boxing?" Kembali memamerkan kepalan tangannya.


"Untuk kesehatan dan membuat tubuhmu makin seksyeh dong Sayaaaang???" Kembali menurunkan tangan Talita. Reza melirik Abizar memohon agar menolongnya lepas dari cengkeraman tangan Talita.


"Itu tidak salah sih, tetapi aku latihan boxing ini semenjak sinetron layangan terbang menjadi viral. Aku menyimpulkan bahwa jadi wanita itu tidak boleh lemah. Nah, mungkin kamu jadi orang yang pertama kali mencoba bogem mentah ini Mas." Memamerkan kembali kepalan itu kepada Reza.


Abizar melihat Reza yang semakin tersudut mendekat ke arah mereka. "Maaf Nona, kami harus kembali ke kantor!" Melepaskan cengkraman salah satu tangan Talita yang masih menggenggam erat jas milik bosnya ini.


"Kamu jangan ikut campur dengan urusan kami!"


Reza merapikan kembali jas tersebut, lalu mengedipkan matanya pada Talita, "Lebih baik kita putus juga," ucap Reza mengecup pipi Talita lalu pergi.


"Kurang ajaaar!" Talita bersiap mengejar Reza, namun dihalangi oleh Abizar. Talita menghentakan kedua kakinya karena kesal belum dapat menghajar Reza. Reza kembali melirik Talita, lalu kembali mengedipkan matanya.


"Cukup Boss!" Suara Abizar membuat Reza kembali melanjutkan perjalanan menuju kendaraannya.


...*bersambung*...


...Jangan lupa menekan tanda Favorit, Like, Gift, Vote, dan Komentar ya!...

__ADS_1


...Terima kasih!...


__ADS_2