CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER

CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER
66. Proses mengakhiri


__ADS_3

Aura dikejutkan oleh ketukan dari seseorang di luar kendaraan ini. Aura membuka pintu tersebut, dan seorang wanita seperti melompat menarik Aura dari dalam mobil dengan kasar.


Aura tertarik hingga keluar, melepas kedua tangan tersebut dengan dengan kemampuan menangkis yang dia miliki. Aura memperhatikan wanita berambut pendek, dan berwajah cantik tersebut.


"Ada apa Tante? Kenapa tiba-tiba saya diperlakukan seperti ini?"


Wanita itu memperhatikan gadis yang ada di hadapannya ini. "Jadi Kamu yang mengangkat panggilan saya barusan? Apa yang Kamu perbuat di dalam kendaraan calon suami saya?"


Sekarang gadis itu mengerti, wanita ini adalah orang yang baru saja menelepon ke ponsel milik Om Mesum barusan. "Saya diajak bekerja menemui klient oleh pemilik kendaraan ini."


Wanita berambut pendek tersebut tiba-tiba menarik tangan Aura, dan menguncinya di belakang. "Katakan! Sebenarnya Kamu ini siapa?!"


Aura melemaskan ototnya, memutar sedikit badan agar pelintiran itu mengendor. Setelah itu mengait kaki wanita tak dikenalnya ini. Namun ternyata, kuda-kuda wanita tersebut cukup kuat. Sehingga Aura tak berhasil menggoyahkannya. Tak kehilangan akal, tangannya yang masih bebas digunakan untuk menarik rambut pendek berbentuk box tersebut.


"Aaaaghh!" pekiknya mencoba melepaskan tangan Aura yang menarik rambutnya.


Setelah itu Aura mengibas tangannya yang masih terasa sakit akibat dipelintir oleh wanita tadi. "Hey, Tante ... Kalau tidak bisa diajak ngomong baik-baik, saya juga bersedia diajak ngomong ala emak-emak kok! Jadi mau pilih yang bagaimana?"


"Ada apa ini?" Suara Reza memecah suasana di antara dua perempuan ini.


"Tak tau nih Om! Tiba-tiba dia menyerang dengan membabi buta," jelas Aura.


Reza menarik wanita itu sedikit menjauh dari Aura. "Jen, apa yang Kamu lakukan?"


"Dia mengangkat panggilanmu. Makanya langsung aku cari ke parkiran. Aku pikir dia seorang pencuri." Wanita yang dipanggil Jen tersebut segera menyisir rambutnya dengan jari-jari di tangannya agar rapi kembali.


"Kak, sudah berapa lama kita tidak jumpa ya? Kita berdua sama-sama sibuk, sehingga sulit nyari waktu untuk bertemu. Bagaimana kalau kita segera menikah saja? Biar kita bisa bertemu di rumah saja?"


Reza mendekap kedua pundak wanita tadi, "Sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu padamu, Jen."


"Apa Kamu ingin segera bertemu dengan kedua orang tuaku?"


Reza menggeleng tipis, "Bagaimana kalau kita menjadi bestie saja?"


Alis gadis itu tampak sedikit naik. "Bestie? Maksudnya?"


"Mari kita akhiri hubungan kita ini dengan baik-baik!"

__ADS_1


Wajah Jen terlihat mulai berubah. Keningnya tampak mulai berkerut. "Maksudmu kita putus?"


"Kita jarang bertemu kan? Kamu sibuk, aku pun sibuk. Mungkin Kamu akan menemui pria yang lebih baik lagi dibanding diriku---"


...duuugh...


Reza belum selesai mengutarakan alasan yang telah tersusun rapi di dalam kepalanya. Namun, sebuah tinju telah mendarat di ulu hatinya.


"Jika Kau memang ingin mengakhirinya, kenapa harus menunggu setelah dua tahun ini? Kau telah membuang waktuku dengan percuma! Kau tahu, sudah berapa banyak pria yang aku tolak menunggumu hingga melamar aku?"


...plak...


...plak...


Tamparan kiri kanan mendarat di kedua pipi Reza. Jen melihat ke arah Aura yang tampak menutup mulut dengan kedua tangannya. "Jadi karena dia Kau meninggalkanku?"


Jen akan bergerak ingin menghajar Aura juga. Namun, tangannya telah ditahan oleh Reza yang menggelengkan kepalanya. "Hajar aku saja! Yang salah adalah aku. Dia tidak tahu apa-apa tentang hubungan kita."


Jen melepas paksa tangan yang digenggam Reza. Mendorong pria itu dan pergi meninggalkan pria tersebut dengan air mata yang mulai menjatuhi pipinya.


Reza mengelus perutnya yang baru saja mendapat bogem mentah. Aura bersidekap dada menyandarkan diri pada kendaraan milik Reza. Pria itu mulai bergerak mendekat padanya.


"Oh, sekarang aku mengerti. Ternyata klient yang Kamu maksud adalah pacar-pacarmu. Ck-ck-ck!" Aura menggelengkan kepala.


"Berisik! Bukannya prihatin, malah bahagia melihat penderitaanku?" desisnya kembali mengelus perutnya.


"No! Tak akan ada kata prihatin buat playboy yang masih kalengan!" Aura mencabikan bibirnya, lalu segera membuka pintu dan masuk ke dalamnya.


"Sabar Bro! Sabar!" ucapnya pada diri sendiri. Berjalan menuju pintu kemudi dan segera masuk. Dia mengecek kembali catatan pada ponselnya.


'Masih banyak lagi,' batinnya.


"Jadi berapa orang klient yang akan Kamu temui?" tanya Aura yang sedari tadi memperhatikan pria di sampingnya ini melihat ponselnya.


"Entah lah, aku juga merasa ragu."


"Sepertinya lebih baik aku tidak ikut campur dengan segala urusanmu bersama para klient-mu itu."

__ADS_1


Reza melirik gadis itu, "Sepertinya begitu."


"Apa tujuanmu membawaku kepada semua klientmu itu? Mereka semua tak ada urusannya denganku! Atau Kau mau memamerkan semua pacar-pacarmu padaku? Gak penting banget tauk!"


"Ya udah! Kamu pulang aja!"


"Oke!"


Aura hendak membuka pintu, tetapi dicegat oleh Reza. "Biar aku yang mengantarkanmu!" Reza segera menyalakan mobil tersebut. "Aku sudah berjanji pada orang tuamu untuk menjagamu bukan?"


Aura hanya melihat ke arah luar jendela. "Kau pasti melakukan hal yang sama pada mereka semua! Aku tak akan luluh dengan kesokperhatianmu ini!"


"Dih, nanti jangan mewek kalau aku tidak bisa memperhatikanmu lagi!"


"Sorry ya! Imposible!"


Reza hanya menyunggingkan senyum tipisnya. Melajukan kendaraannya menuju kosan calon istri. Saat menghentikan kendaraan tersebut, Reza menghentikan dengan pelan. Sehubungan Aura tak mau menggunakan sabuk, Reza menjadikan tangannya sebagai pengganti sabuk.


Aura mendorong tangan yang berbulu itu. "Ih, apaan sih?"


"Salah sendiri tak mau menggunakan sabuk. Kamu belum pernah merasakan mendarat di kaca depan sana kan?"


Aura segera membuka pintu kendaraan tersebut. Ternyata pria itu ikut turun mengikutinya. "Apa lagi?" bentaknya.


"Jalan aja sanah! Aku hanya ingin memastikanmu sampai dengan selamat hingga tujuan!"


Aura mendelik dan mencabikan bibirnya. Reza berjalan mengikutinya dari belakang. Sesekali gadis itu menengok ke belakang, Reza hanya memberi aba-aba lewat tangannya agar dia terus berjalan. Setelah memastikan Aura telah berada tepat di beranda kosan, Reza melambaikan tangan sekilas dan kembali untuk menyelesaikan misinya hari ini.


Sementara Aura disambut tatapan heran oleh warga kosannya. Baru kemarin cowok lain bermesraan dengannya, kali ini pergi dan diantar oleh orang yang berbeda lagi. Hembusan gosip miring mulai menerpa gadis itu.


Reza mendatangi klient tersebut satu per satu. Bermacam reaksi yang diterima dari para pacar tersebut. Ada yang tertawa saat diputuskan olehnya. Reza ikut tertawa juga.


Ada yang menangis tersedu-sedu menjepit lengan Reza tidak mau lepas. Ada yang memutuskan Reza terlebih dahulu sebelum diputuskan. Ada yang pura-pura tidak mendengar. Ada yang tiba-tiba amnesia, merasa tak pernah pacaran. Ada yang membawa body guard, menghajar pria itu saat minta semua berakhir.


"Apes! Susah juga pacaran sama Nona Muda arogan," ringisnya memegang dagu yang kena bogem.


Dia mengecek kembali ponselnya. Namun, muncul alert dari ponselnya yang lain. Reza menggeser ponsel tersebut, lalu melipatnya bagai laptop. Dia mendapat peringatan bahwa jaringannya kembali kena serangan hacker.

__ADS_1


__ADS_2