CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER

CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER
113. Sampai usia memisahkan kita


__ADS_3

*belum sempat revisi*


"Ini gak pernah keramas apa nunggu aku yang ngeramasin? Pengen coba mandi bareng aku, Sayang?" Reza mendekatkan mulutnya di telinga Aura.


Aura mendorong Reza dan sedikit menjauh. Aura langsung memeriksa rambut dan mengendusnya. Dia baru ingat, akhir-akhir ini sering sekali menutup kepala, karena menyembunyikan identitas.



"Zar, saya sudah bertemu dengan istriku yang cantik ini. Sekarang Kamu boleh menjemput Bibi, setelah itu kembali ke kantor," titah Reza.


"Baik lah, kalau begitu Anda harus banyak beristirahat, Boss. Saya akan menjemput Bibi dan segera mengantarkannya ke sini."


Abizar mendekat sejenak, "Ingat Boss, jangan nganu dulu! Harus puasa dulu hingga tiga bulan ke depan!" bisiknya. Setelah itu dia tertawa puas membayangkan Reza akan menahan siksaan hingga tiga bulan ke depan.


Aura menyelidiki keadaan Reza. Semenjak tadi melihat Reza merasa tidak nyaman setiap bagian kiri tubuhnya tersenggol. Tanpa permisi, Aura mengangkat pakaian Reza.


"Eh, eh, Kamu mau menyerangku saat ini? Tu-tunggu!" ucapnya panik.


Mata Aura membesar melihat perban yang besar di area dada kiri suaminya itu. "Bahkan, Kanda tidak menceritakan padaku apa yang Kamu lakukan akhir-akhir ini."

__ADS_1


"Aku hanya ingin tahu, apakah Kamu akan merindukanku atau tidak. Melihatmu merindukanku seperti ini, membuat perasaanku tenang."


Meskipun dia merasa jengkel karena ulah Reza ini, namun hal ini membuatnya menyadari perasaan itu. Aura menurunkan kembali pakaian Reza. Memeriksa sebuah kantong yang bergantung di kursi roda. Aura memeriksa obat-obatan yang ada di dalamnya. Setelah itu memindahkan pada tempat yang lebih mudah dijangkau.


"Kanda udah makan?"


"Kamu jangan mengkhawatirkan diriku! Yang perlu khawatir itu adalah aku. Beberapa hari tak terlihat, Kamu terlihat kurus begini. Apakah Kamu makan dengan baik saat aku di rumah sakit?"


Aura hanya mengangguk. "Yang penting Kanda bisa sehat selayaknya manusia normal lainnya. Aku akan memasak untukmu dulu. Kamu sangat menyukak asam pedas kan?" Aura hendak bergerak, namun Reza menggenggam tangannya dan menggelengkan kepala.


"Jangan pergi! Kamu di sini saja menemaniku! Bagian dapur, biar bibi saja yang mengurusnya. Sebentar lagi pasti sampai."


Reza merangkul kembali Aura. Menyandarkan istrinya pada dada yang tidak dioperasi. "Kalau Kamu begini, aku teringat kucingku yang ada di rumah Mama." Tangan Reza terus membelai rambut panjang Aura, meskipun cukup lepek.


"Hmmm, gara-gara Kamu, aku jadi menyukai posisi ini. Aku menyukai dan merindukan pelukanmu ini."


Reza terkekeh, teringat semua hal yang telah berlalu. "Dih, apa kataku? Kamu akan menyukai pelukanku ini!"


"Sampai kapan kita begini?" tanya Aura.

__ADS_1


"Sampai kapan ya? Sampai usia memisahkan kita, Kamu mau nggak?" tanya Reza lagi.


Aura mengangguk, menggenggam tangan Reza. "Sampai usia memisahkan kita." Bayangan jenazah seorang yang mereka tangkap kembali berputar bagai roll film yang ditayangkan. Dia membayangkan bahwa jika datang suatu masa, Sistem berhasil melenyapkan nyawanya. Kala itu lah, mereka akan saling melepaskan.


💖


Sebuah cambuk melekat di tangan seorang pria menggunakan topi. Sedari tadi dia sibuk mencambuk anggota-anggota yang ditugaskan mencari Aura. Sudah hampir satu minggu, tak satu pun yang berhasil menemukan gadis itu, termasuk dia.


Sekumpulan manusia, tampak saling berdepan ketakutan. Tangan dan kaki mereka tampak dihiasi oleh guratan-guratan merah memanjang. Ada juga yang mendapat cambukan di bagian punggung. Wajah mereka terlihat sangat ketakutan.


"Kenapa tidak ada yang becus, hah?"? Marcell bersiap melayangkan cambuknya kembali.


Namun, ada satu orang yang berani menggenggam cambuk itu agar tidak ada lagi korban cambukan berikutnya. Matanya tajam menatap Marcell. Cambuk itu ditarik hingga terlepas dari tangan Marcell, lalu benda tersebut dilempar sejauh yang dia bisa.


Mata Marcell nyalang menatap pemuda tadi. Tendangannya pun melayang tepat di dada salah satu mangsa Marcell tersebut, membuat pemuda tadi terlentang. "Jadi Kau sudah terang-terangan melawan saya?" Menginjak dada pemuda itu.


"Cukup utus saya saja! Bunuh saya di tempat jika saya gagal. Lepaskan yang lain, terutama para gadis itu!"


*Udah dulu segini ya Guys.. soalnya banyak persiapan buat lebaran.*

__ADS_1


Selamat menyambut Idul Fitri bagi yang merayakan ya. Mohon Maaf Lahir & Batin.


__ADS_2