CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER

CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER
42. Membezuk


__ADS_3

Aksa ikut merasa panik setelah menonton berita barusan di televisi rumah kos. Dia merasa mampu menghadapi hacker tersebut. Hanya saja, dia telah kehilangan peralatan perangnya untuk melawan musuh tersebut. Setelah itu Aksa mondar-mandir memikirkan bermacam hal. Memikirkan bagaimana cara membeli laptop secepatnya. Namun, keuangannya sangat tidak memadai.


Aksa tidak berani melapor kepada orang tuanya, bahwa laptopnya baru saja dicuri seseorang. Dia lebih memilih diam, berusaha mencari gantinya sendiri. Sambil berharap bisa menemukan kembali laptop miliknya.


Dengan langkah lunglai, Aksa berencana bersiap untuk kuliah. Salah satu pintu penghuni kosan tersebut terbuka. Tak sengaja dia melihat isi kamar tersebut. Matanya terbelalak saat melihat benda yang ada di atas meja penghuni kamar ini. Aksa masuk ke dalam kamar itu.


"Eh, lu mau ngapain masuk kamar gue?" tanya penghuni kamar tersebut.


Aksa tidak memedulikan apa yang dikatakan oleh tetangga kamarnya itu. Memperhatikan benda elektronik dalam bentuk laptop yang sangat mirip dengan yang dimilikinya. Setelah diperhatikan kembali, ternyata bukan miliknya.


"Maaf, gue pikir ini milik gue yang hilang. Sepintas terlihat mirip. Ternyata bukan."


Penghuni kamar itu kembali berpikir. "Jadi yang kehilangan laptop itu elu?"


Aksa mengangguk, "Maaf ya, salah kira. Gue mau cabut ke kampus dulu."


Penghuni kamar tersebut kembali berpikir. "Gue tadi sempat terkecoh juga, ada laptop yang mirip banget sama punya gue. Awalnya gue pikir kenapa punya gue dibawa-bawa oleh dia. Tapi emang sih, yang merek ini sangat ramai digunakan oleh mahasiswa sini."


Aksa semakin tertarik dengan apa yang disampaikan oleh teman kos-nya ini. "Siapa yang lu lihat pakai ini juga? Yaa, cek and ricek aja. Siapa tahu dia salah bawa."


"Ooh, itu si Ujang. Yang kamarnya paling pojok?"


"Oooh, gitu. Makasi buat infonya. Nanti gue tanya sama orangnya."


"O ye lah Bro, moga segera ditemukan."


Aksa kembali teringat harus segera ke kampus. Dosen-dosen di kampusnya sangat ketat dalam disiplin waktu. Untuk sementara dia melupakan masalah benda-benda keramatnya yang hilang.


💖


Reza yang mendapati bisnisnya hancur dalam satu malam, merasa sangat kesal dan marah. Hal ini membuat jantungnya semakin terasa sakit. Dalam diam, menekan dada kirinya, Reza terus memikirkan apa yang telah menimpanya akhir-akhir ini.


*Bagaimana caranya agar jantung ini tidak gampang kumat ya? Ada banyak hal yang harus gue selesaikan. Entah kenapa Tuhan seperti sengaja memberi ujian secara beruntun seperti ini. Apakah hacker yang menyerang perusahaan gue adalah orang yang sama saat beberapa waktu dulu?


Apa ada kaitan juga dengan hacker yang meretas beberapa perusahaan akhir-akhir ini? Aaah, seandainya jantung ini lebih kuat lagi. Gue pasti akan menangkapnya dengan tangan ini sendirian, batin Reza mengepalkan tangannya*.


Sang ibu yang menemani sulung itu, merasa sangat heran pada kelakuan Reza. Anak pertamanya ini terlihat sedang memikirkan masalah yang sangat berat. Wajahnya kali ini terlihat benar-benar sangat murung.


"Apa yang Kamu pikirkan ta Mas?"

__ADS_1


Reza memperhatikan sang ibu. Garis-garis di dekat matanya mulai terlihat meski masih samar. Meski perawatan eksklusif yang rutin dilakukan dalam skala waktu tertentu, tetap tak dapat menyembunyikan bahwa usianya telah mulai menua. Reza tidak ingin semakin membebani orang yang telah melahirkannya itu.


"Bukan apa-apa Ma. Aku hanya ingin segera mendapat jantung yang cocok dengan segera. Agar penyakit ini tidak terus kumat di setiap waktu," ucap Reza.


Sang ibu masih melihat sesuatu yang disembunyikan oleh anaknya ini. "Apa kamu mengkhawatirkan masalah perusahaanmu yang tengah kacau?"


Raut wajah Reza kembali berubah menjadi murung. "Ya, aku tengah memikirkan bagaimana cara agar menangkap pengganggu itu. Sayang sekali aku berada di sini."


"Kalau begitu, kamu istirahat dulu. Agar kamu segera pulih. Setelah kamu sehat, kamu bisa memikirkan kembali bagaimana cara untuk menumpas penjahat itu."


Reza membenarkan apa yang dikatakan oleh sang ibu. Akhirnya memiringkan tubuhnya untuk mengistirahatkan diri dan pikirannya.


Tiba-tiba, dia teringat dua sosok yang membuatnya masuk ke rumah sakit ini. Terus menduga-duga apa yang telah terjadi. Apakah ada kaitannya dengan penyusup beberapa waktu lalu? Namun, akhirnya dia tertidur juga. Setelah skian waktu dilewatinya, tetapi tak mampu memejamkan mata sedikit pun karena rasa sakit di jantungnya yang luar biasa.


💖


"Gimana Ra?" tanya Stella saat Aura sampai di kampus.


"Gimana apanya?" tanya Aura heran?


"Udah itu belum?" tanya Stella kembali.


"Kalian nginep di hotel kan?" tanya Stella kembali.


"Oh, ehhh-- Kalian berdua bener-bener nyebelin banget tau nggak sih?" ucap Aura waktu memahami arah pembicaraan Stella. "Masa sampai segitunya merahasiakan dia mau datang ke sini? Kami sampai bertengkar hebat kemarin itu."


Stella membesarkan matanya kembali. "Masa sih jadi bertengkar? Bukannya seharusnya uwu-uwuan? Dan kalau di hotel itu kan biasanya--"


"Huss! Kamu ngomong apaan sih? Bang Aksa itu orangnya baik banget tau ngga sih?" sela Aura. "Nggak bakal mungkin dia melakukan hal-hal di luar norma." Tiba-tiba dia teringat ada yang mengerjainya tadi malam. Mengirimkan poto aneh kepadanya.


Semoga ponsel Abang segera dikembalikan. Tiba-tiba jadi kangen banget.


Tampak Stella tengah menjawab panggilan. Stella pergi cukup menjauh. Dengan wajah kesal dia kembali mendekat ke arah Aura. "Ra, Kamu mau menemaniku ke rumah sakit nanti sepulang kuliah ngga?"


"Oke, tak masalah. Emang siapa yang sakit?"


"Rekan kerja Appa-ku. Appa menanyakan kapan kita selesai kuliah. Terus menyuruh ke rumah sakit. Ada rekan kerja Appa yang lagi dirawat di sana. Malah ngajak aku ikut membezuk ke sana. Buat apa coba?" Stella menghentakan kakinya karena kesal.


"Jangan bilang Kamu mau dijodohkan sama yang mau dibezuk itu! Hahaha!"

__ADS_1


Stella mengerutkan keningnya. "Kata Appa sih enggak. Tapi aku curiganya sih begitu? Soalnya akhir-akhir ini mereka ngotot pengen aku nikah cepat. Enggak banget kan? Masa iya aku mau dinikahkan sama rekan kerja Appa dan Mama yang rata-rata udah Om-om?"


"Siapa tau masih muda kali?"


"Muda apanya? Tuh, yang mau dibezuk ini orangnya sakit jantung tauk. Pasti udah setengah baya? Mending aku dijodohkan sama Bang Jay yang ada di Kafe Harmoni itu" rutuk Stella. Mereka menuju ruang kelas.


Saat pukul lima belas sore, perkuliahan mereka pun usai. Dengan langkah berat Stella mengajak Aura untuk pergi ke rumah sakit. Orang tuanya berangkat dari kantor dan menunggunya di sana. Tak lupa, Stella membeli satu buket bunga dan parcel berisi aneka macam buah. Setelah itu melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit dengan ogah-ogahan.


"Appa, memangnya aku harus ikut juga menengok rekan kerja Appa dan Mama ke sini?" sungutnya saat bertemu orang tuanya di rumah sakit.


"Om, Tante," Aura menyalim kedua orang tua Stella. Sang Ayah merupakan warga negara Korea, dan ibunya asli dari sini.


"Udah lama tidak bertemu Aura. Lain kali main lagi ke rumah kami!" ajak ibu Stella dengan ramah.


"Baik lah Tante, lain kali kalau Stella ngajak, saya akan main ke sana lagi," ucap Aura dengan sopan.


"Nah, ayo! Kita temui Pak Reza dulu. Kasihan sekali dia, kena serang saat menyelamatkan perusahaannya dari pencuri. Membuat sakit jantungnya semakin memburuk," jelas ayah Stella.


Lalu mereka semua menuju ke ruang rawat inap kelas VVVIP. Aura terbelalak melihat fasilitas yang sangat berbeda saat ibunya dirawat dulu. Ayah Stella mengetuk pintu ruang rawat tersebut, dah dibukakan oleh seorang wanita paruh baya yang menurut Aura sangat cantik dan Anggun.


Mereka semua masuk ke ruang tersebut. Alangkah terbelalaknya mata mereka melihat siapa yang tengah berbaring di atas brangkar, sambil memainkan ponsel. Mata pasien tersebut pun membesar melihat siapa yang datang membezuk. Tangannya langsung menunjuk dengan mata membesar pads dua gadis yang terlihat kaget itu.


"Kaliaan?"


...########...


PROMO NOVEL KARYA Reni t


Judul: Terjerat Cinta Mafia Tampan



Adelia Fasha adalah seorang gadis matang berusia 25 tahun, sehari hari ia mencari nafkah dengan berjualan gorengan yang ia jajakan dengan cara berjalan keliling kampung. Suatu hari ia menemukan seorang laki laki dalam keadaan tak sadarkan diri dengan tubuh penuh luka. Adelia pun menolongnya dan membawanya ke rumahnya, tanpa ia sadari, bahwa laki laki yang ia tolong adalah seorang mafia.


...*bersambung*...


...Jangan lupa menekan tanda Favorit, Like, Gift, Vote, dan Komentar ya!...


...Terima kasih!...

__ADS_1


__ADS_2