
Lalu teman leka mengirim foto yang diunggah oleh hacker tersebut. Mata leka terbelalak melihat postingan yang seolah adalah kiriman yang ditulis olehnya.
"Sialan! Bukan kah ini poto yang gue kirim ke pacar Aksa kemarin? Kenapa ini malah ada di sosmed gue? Wajah cowoknya malah kembali ke foto yang asli?"
Pesan chat kembali masuk ke ponsel Leka.
[Gimana?]
[Udah lihat?]
Leka pun membalas pesan tersebut dengan perasaan geram.
^^^[Gue baru lihat yang lu kirim barusan]^^^
^^^[Gila aja itu gue?]^^^
^^^[Tapi kalau sama Aksa gue pasti demen siih]^^^
Pesan dari temannya masuk kembali.
[Sekarang buruan pulihkan Akun!]
[Atau sekalian laporkan!]
[Minta dihapus]
Leka kembali membalas.
^^^[Ini kerjaan siapa ya?]^^^
[Ya, kagak tau.]
Lalu Leka segera membuat akun baru, dan nge-report akunnya tersebut untuk segera dihapus karena telah diretas oleh orang yang tidak bertanggung jawab.
Kembali bibir Aura mengembangkan senyuman sinisnya. Namun, senyum sinis tersebut segera berubah menjadi senyum manis saat sebuah pesan masuk dalam akun sosial medianya. Pesan tersebut berasal dari orang yang disayanginya.
[Kaaangen]
[Maaf ya, semalam tanpa kabar]
[Ponsel dan laptopku dicuri seseorang]
Aura segera membalas.
^^^[Abaaang, aku kangen berat 🥺]^^^
^^^[Sekarang HP dan laptopnya udah kembali belum?]^^^
Aksa membalas kembali.
[Iya Sayang. Abang juga kangen banget]
[Baru dapat laptop]
[HP-nya belum]
[HP-nya lagi dengan orang yang berbeda]
[Kalau dapat kiriman yang aneh-aneh, kamu skip aja ya?]
[Itu bukan dari aku]
Aura ingin menceritakan apa yang dia dapatkan. Tetapi tidak jadi karena dia merasa itu bukan lah hal yang penting. Akhirnya Aura hanya mengirimkan pesan bucin, dan saling berbalas bucin.
__ADS_1
💖
Di rumah sakit
Abizar dan istrinya tengah berada di rumah sakit untuk melihat keadaan Reza. Dia melihat wajah Reza tampak sedikit lebih segar dibanding tadi pagi.
"Bagaimana keadaan kantor Zar?" tanya Reza.
"Aman terkendali Boss, sepertinya keadaan Anda saat ini jauh lebih baik. Apakah Anda baru mendapat kabar yang baik?" tanya Abizar heran.
Reza mengerutkan kening melihat ke arah Abizar. Dia memang merasa jauh lebih tenang. Namun, pikirannya masih kacau karena bisnisnya telah jatuh. Kepalanya pusing memikirkan biaya pengganti dana deposit customer yang tidak sedikit. Namun dia menyembunyikan perasaan itu sendiri.
"Bagaimana keadaan Mba Diana? Apa ada kendala selama hamil muda ini?" tanya Reza untuk mengalihkan pembicaraan.
"Alhamdulillah mualnya sudah mulai berkurang Mas. Sepertinya dedek bayi memahami bahwa ibunya terpaksa menjalani kehamilan sendirian." Diana melirik Abizar, sang suami.
"Maksudnya?" tanya Reza tidak paham.
"Kami hanya melewati hari-hari berdua. Soalnya sang papa semakin hari malah semakin sibuk. Seperti tidak ada waktu untuk kami berdua."
Reza melirik Abizar. Dia menyadari ini semua adalah kesalahannya yang membuat Abizar menjadi semakin sibuk. "Maafkan saya Zar. Apa perlu saya mengambil satu sekretaris lagi?" tanya Reza.
"Sekretaris? Untuk?" tanya Abizar sedikit bingung.
"Untuk membantumu dalam bekerja. Supaya Kamu bisa lebih cepat pulang menemani istrimu," jelas Reza kembali.
"Jika Boss tidak keberatan sih, aku malah menjadi merasa sangat terbantu karena itu. Siapa yang akan Anda rekruit?"
"Apa Kamu bisa menyarankan seseorang yang cukup pantas untuk bergandengan dengamu?" tanya Reza.
Abizar mengingat-ingat seseorang yang sempat membuat dia tertarik. Seorang pemuda, yang mengajukan proposal pada perusahaan mereka beberapa waktu lalu. Dia terdaftar sebagai salah satu tim yang mengajukan diri untuk merancang protektor, bisnis berikutnya yang akan dikembangkan oleh Harmony Grup.
"Punya sih Boss, tapi dia masih mahasiswa di kota Bandung."
Reza sedikit kecewa mendengar ucapan Reza. Seorang mahasiswa, dan di tempat yang jauh. Tentu sang mahasiswa akan kesulitan untuk bolak-balik ke kota ini. Tiba-tiba dia terbayang seseorang yang dimaksudkan oleh Abizar.
Abizar mengangguk pasti, "Tepat sekali Boss!"
"Yang mana orangnya?"
"Yang mempresentasikan proposal kemarin. Sepertinya dia orang yang paling diandalkan," terang Abizar.
"Yang mana sih?"
"Yang bareng A-a--"
"Aura?" potong Reza.
"Ooh, iya. Aura ...," Abizar mendelik menatap Reza. "Tumben ingat namanya Boss?"
Diana istri Abizar terkekeh mendengar ucapan suaminya barusan. Abizar selalu bercerita kalau sang pimpinan selalu lupa nama teman kencannya. Kali ini tumben sekali Reza mengingat nama itu dengan sempurna.
"Yaa, kebetulan ingat." Reza langsung membayangkan sosok yang diceritakan oleh Abizar barusan. Orang tersebut positif mengarah pada pacar Aura.
"Kira-kira orangnya mau tidak? Secara hingga sekarang proposal kerja mereka belum kita setujui," tukas Reza.
"Saya sudah menganjurkan dari kemarin-kemarin agar menerima kan Boss? Padahal rancangan aplikasi yang mereka usul itu, bagus banget lho?"
Reza hanya diam, karena sebenarnya memang sengaja untuk menggantung nasib mereka. Namun, entah kenapa malah membutuhkan pemuda itu. Reza hanya bisa dia seribu bahasa dan asik dengan pikirannya sendiri.
"Pemuda bernama Aksara Bermakna itu lolos dalam seleksi sebagai perancang protektor yang akan kita rilis berikutnya. Dia mendapat nilai tertinggi dibanding yang lain. Sangat hebat bukan? Oleh karena itu, sebelum dia diambil perusahaan lain, lebih baik kita jadikan dia sebagai orang penting perusahaan kita!" terang Abizar.
Reza hanya bisa manggut-manggut tidak bisa berkata apa-apa. Memikirkan akan bertemu kembali dengan pacar nona mie instan.
__ADS_1
Jika dia berada di sini, berarti intensitas bertemu dengan gadis itu akan semakin sering. Entah kenapa gue merasa tidak suka? Biar saja lah mereka berjauhan begitu. Dari pada manas-manasin gue tiap hari kayak kemarin?
Reza mengingat semua kejadian saat di taman bermain. Aura terlihat sangat bahagia berada di samping laki-laki itu. Sementara kondisinya berbanding terbalik dengan pasangan kasmaran itu.
"Ada saran orang lain?"
💖
Tengah asik berbincang dengan sang pacar, Aura mendapat pesan dari Sistem.
[Apakah Anda sudah siap untuk melaksanakan misi selanjutnya?]
Aura membalas dengan malas-malasan. Dia tengah asik berkencang dengan sang pacar yang lebih 24 jam tidak ada kabar. Malah harus bekerja untuk meretas lagi. Apalagi semenjak tahu bahwa pimpinan perusahaan tersebut adalah Om Mesum yang tepar di rumah sakit tadi karena ulahnya.
^^^[Bolehkah saya libur barang sehari saja?]^^^
Sistem membalas pesan dari Aura.
[Mengapa Anda ingin libur?]
[Apakah Anda merasa jenuh?]
Aura membalas dengan cepat.
^^^[Iya, bosen banget tau gak sih?]^^^
Sistem membalas kembali.
[Jika Anda merasa bosan, kita akan mix dengan dengan cara kerja offline.]
[Apa Anda bersedia malam ini bekerja offline kembali?]
[Sistem mendapat kabar bahwasanya pimpinan Harmony dalam masa perawatan di rumah sakit.]
[Hal ini bisa memudahkan pekerjaan kita.]
Aura menjadi kesal setelah membaca pesan seolah tidak memiliki rasa empati itu. Aura hanya bisa mencibir dari belakang. Merutuk dirinya sendiri yang terjebak dalam permainan gila ini.
^^^[Gak mau!]^^^
[Kenapa tidak bersedia Nona?]p
^^^[Jika saya gagal, malah potongannya sangat besar.]^^^
[Apa hanya itu alasannya?]
^^^[Tidak hanya itu, partner yang Tuan Sistem berikan pun terasa sangat menyebalkan]^^^
[Apa yang Anda maksud itu Marcell?]
💖
Cinta saja tak pernah cukup, begitulah kata para pepatah. Binar dan Albiru tidak pernah menyangka ujian cinta mereka justru hadir setelah mereka menikah.
Masalah bertubi-tubi menghampiri rumah tangga mereka. Ada mertua dan ipar Binar yang terus mengganggu kenyamanan Binar. Belum lagi masalah orang ketiga yang selalu mencari celah untuk masuk di kehidupan mereka.
Saat batas kesabaran Binar sudah diambang batas namun tidak ada satupun yang memihaknya. Lantas salahkan Binar bila ingin menyerah?
...*bersambung*...
__ADS_1
...Jangan lupa menekan tanda Favorit, Like, Gift, Vote, dan Komentar ya!...
...Terima kasih!...