CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER

CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER
101. Aku cemburu


__ADS_3

Reza langsung menarik istrinya, merebahkan Aura di pangkuannya. Lalu me lu mat bi bir Aura dengan pa nas penuh amarah.


"Ka-ka-hmmmm ..."


Reza tidak memberi kesempatan Aura membela diri. Serangannya mulai liar meraba alat-alat sensitif milik istrinya ini. Ciu man tak hentinya dia berikan. Membayangkan istrinya bermesraan di belakangnya dengan Aksa. Membuatnya termakan api amarah. Ciu man mulai masuk ke yang lebih da lam.


Terdengar suara ciprakan dari mulut mereka. Aura mulai pas rah menerima se rangan dari sang suami ini. Tiba-tiba pintu dibuka dari luar.


Sekejap perawat terpana atas apa yang terjadi di kamar ini. "Maaf." Perawat itu keluar kembali, dan terkekeh melihat posisi tangan Reza yang sudah menyusup ke dalam baju istrinya.


Reza dan Aura sama-sama terpana melihat ke arah pintu, yang sempat terci duk oleh seorang perawat. Aura mencoba bangkit dan, Reza kembali melayangkan serangannya pada Aura. Melu mat bibir istri seakan ingin habis dimakannya. Ciu man pun turun menuju leher, me nye sap nya membuat sang istri seakan lupa diri.


"A-h, a-apa yangh te-terjadih?" tanya Aura gugup sambil me nik mati permainan itu. "Kenapah Kamuh tiba-tibah beginih a-h?" Dia baru tahu rasanya ternyata begini, membuat cara bicaranya pun menjadi seperti anak alay. Satu tangan Reza sibuk membelai benda yang ada di dalam br*a.


Reza melihat ke arah pintu, takut ada yang akan datang tiba-tiba kembali. Mencoba turun dari brangkar, tetapi ditahan oleh Aura. "Mau kemana? Ke belakang?" Mencoba membersihkan bibirnya yang terasa membengkak akibat ulah Reza.


Reza melihat arah pintu tanpa berkata apa-apa. Aura pun beringsut turun dari dekapan Reza, segera mengunci pintu tersebut. Aura sengaja duduk di posisi yang agak jauh. Melihat rahang suaminya mengeras. Dia yang biasanya banyak bicara hanya terdiam dan tiba-tiba menyerangnya, membuat perasaannya jadi tidak menentu.


Sementara Reza yang melihat Aura yang sengaja menjauh, membuatnya kembali membaringkan tubuh dan membelakangi Aura. Mereka berdua berdiam dalam waktu yang cukup panjang. Sama-sama sibuk dengan pikiran masing-masing.


Saat makan malam telah diantar, Aura akan menyuapkan makanan pada Reza. Namun, suaminya menolak. Reza merebut sendok itu dan menikmati makanannya sendiri.


Malam hari setelah memastikan Reza tertidur, Aura duduk pada sofa kamar VVIP tersebut. Menyandarkan diri teringat kejadian siang saat berjumpa dengan Aksa. Seperti layar pada ingatannya ditarik paksa oleh Reza. Pikirannya teralih pada serangan yang dilakukan suaminya, bulu romanya seakan berdiri dan melihat kembali suaminya. Mencoba memikirkan apa yang sebenarnya dipikirkan oleh pria ini.


Aura duduk di pinggir brangkar, lalu menyugar rambut suaminya. "Kanda, cepat lah sembuh!" Aura menatap suaminya dengan sayu merasa kasihan melihat keadaannya yang terlihat tak berdaya.

__ADS_1


"Kamu begini karena menyelamatkanku." Aura naik ke atas brangkar. Tubuh mungilnya masih menampung dirinya berada di sana. Setelah itu menyandarkan dirinya pada dada Reza, dan tertidur dalam rangkulan suaminya.


Reza terbangun tengah malam, sedikit sesak karena ada yang memeluknya. Ternyata, Aura tidur sambil memeluknya. Beringsut menggeser tubuh ke samping. Melihat istrinya seperti ini, amarah yang tadi memuncak seakan meluap entah hilang kemana. Reza membelai kepala Aura lalu mencium pucuk kepala sang istri. Kali ini dengan senyuman, pipinya bersandar pada kepala Aura, merangkul Aura lalu tidur kembali.


Aura terbangun saat menjelang subuh. Tangan Reza dalam posisi memeluk dirinya. Aura melepaskan pelukan itu, hendak turun dari sisi Reza. Namun, Reza menarik hingga Aura jatuh ke dalam pelukan suaminya itu.


"Sayang, Kamu sudah bangun?" tanya nya, memeluk Aura sepenuhnya dengan kedua tangan itu.


Aura mengangguk. "Bagaimana keadaan Kanda?"


"Sepertinya Kandamu ini sudah siap untuk pulang. Aku ingin menikmati gulang guling kasur di rumah berdua denganmu semalaman," ucapnya sambil terkekeh.


Aura merasa lega, suami kocaknya udah kembali seperti biasa. "Kemarin apa yang terjadi, Kanda? Kenapa Kamu marah padaku? Apa karena aku telat datang ke sini?"


Terdengar, suara tarikan nafas Reza. Dia melepas rangkulan pada tubuh istrinya, lalu mencoba untuk duduk. Aura segera membantu. Reza menyugar rambut sang istri dan membelai pipinya.


"Apa saja yang Kamu lakukan dengan mantanmu sehingga membuatmu terlambat kembali ke sini?"


Wajah Aura menegang, ternyata itu lah penyebab seharian dia marah tak tentu. "Apa Kanda cemburu padaku?"


"Iya, aku cemburu. Hatiku terasa terbakar amarah saat mengetahuinya."


"Maaf, aku belum menceritakannya karena aku rasa itu bukan hal yang penting."


"Tapi bagiku itu penting. Ingat isi kontrak kita beberapa waktu lalu? Jika Kamu melanggar isi perjanjian kontrak, maka aku berhak untuk menghukummu."

__ADS_1


"Jadi kemarin itu adalah hukuman?" Namun, Reza tidak menjawab. Aura meraih tangan lebar milik Reza. "Maafkan aku, semua terjadi begitu saja. Aku sudah meminta dia untuk tidak mencariku lagi---"


Telunjuk Reza mengunci bibir itu agar tidak berbicara kembali. "Sudah lah! Aku ingin mandi. Aku ingin pulang hari ini juga."


Reza mencoba menurunkan kakinya, dipapah oleh istrinya. "Apa Kamu mau mandi bersamaku?" Seketika wajah Aura terasa panas, dan dia menggeleng. Dia belum siap.


"Sekalian berkenalan dengan---" Menarik tangan Aura ke arah senjata perang miliknya. Aura menarik tangannya secara refleks dan menggelengkan kepala dengan cepat.


"Kenapa tidak mau berkenalan dengan adikku? Ini adalah bagian utama laki-laki lhoo." Reza terkekeh lalu menuju kamar mandi.


Tak lama, Reza sudah keluar menyelesaikan membersihkan dirinya. "Setelah mandi, berasa enakan. Kamu juga sudah bisa memelukku tanpa menutup hidung lagi," candanya.


Aura mengangguk, sedang mengupas buah untuk suaminya. Reza pun mengikuti duduk di samping Aura sambil mencomot potongan buah apel itu. Setelah itu menyandarkan dirinya pada sofa dan menegadahkan wajahnya memikirkan sesuatu.


"Aku berpikir tentang seseeorang yang yang ingin menculikmu. Apa ini berkaitan dengan sang Tuan Sistem?"


Aura mengangguk. "Aku juga berpikir seperti itu. Soalnya aku sudah mangkir hampir satu minggu. Dia tidak memberiku waktu barang satu hari pun untuk absen dalam misi peretasan. Kamu tahu, permainan Tuan Hacker itu sangat kejam? Jika kalah dalam meretas, saldo rekening tersedot lima puluh persen."


Reza melirik istrinya sesaat. Dia kembali menyandarkan diri pada sofa, menopangkan kepalanya pada kedua telapak tangan. "Untuk meretask Harmony, berapa dana yang dijanjikannya?"


Aura melirik Reza sejenak, melanjutkan memotoh apel yang masih belum selesai. "Dia menjanjikan tujuh ratus lima puluh juta."


"Cih, Kamu telah dibodohi olehnya. Kamu tahu, saat meretas tradding milikku saja Kamu bisa mendapatkan miliaran. Apalagi keseluruhan perusahaanku. Saat ini aku sudah rugi hingga puluhan miliar! Dia memberikan upahmu berapa?"


Aura membesarkan matanya, karena upah harian yang dia dapat menjelang misi selesai hanya dua juta rupiah. Aura melemparkan pisau yang ada di tangannya karena merasa kesal. Pisau itu menancap pada bantal di atas brangkar.

__ADS_1


"Kurang ajar, Sistem keparat!"


__ADS_2