
*Yuhuuuu... Author crazy up ya guys hingga hari minggu...*
"Ada apa?" tanya Aura.
Reza melanjutkan mendengar penjelasan dari pihak kepolisian. "Kami harap Anda bisa kembali ke kantor kepolisian, untuk memberikan keterangan kepada kami."
"Bukan kah tadi sudah kami sampaikan kronologisnya?"
"Kami menemukan sidik jari Anda di beberapa titik pada tubuh korban."
Reza tersentak tak bergeming. Karena dia menyadari dia lah yang membantu mengikat tubuh Jendra. Tak menyangka akhirnya akan seperti ini. Reza menutup panggilan tersebut menyugar rambutnya frustrasi.
"Kenapa, Kanda?"
"Jendra ditemukan tewas." Wajah Aura ikut menegang. "Seharusnya kita membawanya ikut pergi dengan kita."
Aura masih dalam keadaan shock, mulutnya ditutup oleh kedua tangannya. Ini sungguh di luar dugaan. Orang yang telah menolong mereka, kini mati dengan sia-sia. "Apakah ini ulah pria itu?"
"Aku harus kembali ke kantor polisi. Kamu istirahat di rumah saja."
Aura merangkul tangan suaminya. Dia menggelengkan kepala. "Kenapa harus ke sana lagi?"
Reza tidak memberi jawaban. Dia segera mengangkat kembali gagang telepon, mencari nomor ponsel milik Abizar. Tak lama menanti, panggilannya telah terhubung.
"Hallo ... ada apa Boss? Tumben nelepon pakai telepon rumah?" Dari balik suara Abizar terdengar suara tangisan bayi. Terdengar juga suara Ratna yang heboh minta Abizar mengambilkan sesuatu.
"Hape saya hilang, karena itu terpaksa menghubungi menggunakan ini."
"Weeeww, nah, Boss ... nyesel ga tu hapenya yang dulu dibagi-bagikan seperti dulu?"
"Hmmm, saya lagi tidak sempat bercanda. Kamu lagi sibuk ngasuh kan?"
"Iya, kan Anda dengar sendiri. Kenapa emang, Boss?"
"Kalau begitu, tolong panggilkan Aksara." Reza melirik istrinya, dan Aura tampak sedikit tersentak saat nama mantannya disebut oleh sang suami.
"Ada apa, Boss?"
"Panggilkan saja! Saya butuh dia."
"Baik lah, Boss. Jika katanya dia tidak bisa karena masalah kuliah, bagaimana?"
"Pokoknya dia harus datang ke sini!"
"Sepertinya ada masalah serius ya, Boss? Kalau begitu akan saya laksanakan."
__ADS_1
Gagang telepon kembali ditutup oleh Reza. Dia melihat reaksi sang istri atas pembicaraan dengan Abizar barusan. Namun, ternyata Aura tidak berkata satu patah kata pun.
"Aku harus bersiap ke kantor polisi."
Aura mengelungkan tangan mendekap tangan Reza. "Aku ikut."
"Kamu istirahat saja." Reza mengusap perut Aura. "Kalian berdua pasti sangat lelah."
Aura menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku tidak akan merasa lelah jika itu masih bersamamu."
Reza tersenyum mendengar ucapan istrinya barusan. Reza mencubit dagu Aura dengan gemas. "Sejak kapan kamu jadi gombal begini?"
cup
Kecupan melayang di bibir istrinya. Reza langsung mendekap pinggang Aura memgajaknya untuk bersiap.
💖
...braaakk...
Reza menggebrak meja saat berbicara dengan kepala penyidik. "Tapi saya tidak melakukan apa-apa kepada korban, Pak. Masa iya, saya membunuh orang yang telah membantu kami lepas dari sarang singa?"
"Saya juga ada di sana, Pak. Suami saya tidak melakukan apa pun. Suami saya itu korban penculikan. Masa berubah status menjadi tersangka?" tambah Aura.
Penyidik dari kepolisian ini menginterogasi sepasang suami istri tersebut tengah bersidekap dada. Satu tangannya mengusap dagu memikirkan sesuatu. "Kami tidak menuduh Anda. Hanya saja, kami mengatakan bahwa ada sidik jari Anda di tubuh korban."
"Baik lah, untuk sementara status kalian berdua masih menjadi saksi. Jika status Anda naik menjadi tersangka, maka, kami akan langsung menjemput Anda."
Reza langsung bangkit dan menarik Aura meninggalkan tempat itu. Dia melihat papan nama di meja pria tersebut.
Kapten I Bagus Suska
Reza menggenggam tangan Aura dan meninggalkan lokasi. Reza mengusap kepalanya dengan gusar. "Ahh, kepalaku menjadi sakit."
"Sabar ya Kanda, Dinda akan selalu menemanimu." Aura merangkul pinggang Reza untuk menenangkannya. Aura bersandar di dadanya.
Reza merangkul dan mencium pucuk kepala sang istri. "Heran aku, Author seperti punya dendam kesumat padaku. Kenapa dia tak pernah membiarkan aku bahagia dalam satu bab saja." 🤣
"Sabar, Kanda ... Ini semua adalah ujian buat kita ... semoga setelah semua ini, Author memberi akhir kisah yang manis untuk kita," ucap Aura menepuk pundak suaminya.
Reza merangkul Aura menyandarkan pipinya pada pucuk kepala sang istri. Mereka mengistirahatkan diri setelah beberapa malam tidak bisa beristirahat dengan baik.
Ketika bangun di waktu pagi, melihat istrinya yang tampak cantik terbaring dalam pelukan, tanpa aba-aba dia mulai meraba-raba kepunyaan sang istri. Aura meliuk membuka mata.
"Kenapa, Kanda? Geli ..."
__ADS_1
"Aku minta sarapan pagi di atas ranjang ya, Sayang? Udah ngga tahan ni."
Aura memberi senyuman memeluk suaminya yang mulai membuatnya terkikik karena geli, yang semakin lama berubah menjadi de sa han. Sarapan pagi mereka lakukan dengan penuh cinta.
Usai membersihkan diri, Aura membantu suaminya bersiap untuk ke kantor. Setelah itu, Aura bergelayut manja di lengan suaminya menuruni tangga. Reza mengacak rambut wangi milik sang istri. Tampak Bibi berlari dari arah pintu mendekat ke arah mereka.
"Tuan Muda, Nona, di depan ada polisi berpakaian preman mencari Anda, Tuan."
Kepala Reza berdiri tegak memandang ke arah pintu depan rumah tersebut. Reza melepas dekapan istrinya dan segera menemui kedua orang tersebut. Reza memandang kedua orang yang berdiri dengan tegap. Salah satunya adalah orang yang kemarin berdebat dengan mereka.
Kapten I Bagus Suska memberikan sebuah surat untuk penyelidikan lebih lanjut terhadapnya. Reza sedikit terkejut mundur beberapa langkah. "Bukan kah katanya status saya hanya sebagai saksi?"
"Untuk sementara, kami memutuskan agar melanjutkan meminta keterangan kepada Anda. Kami harap Anda mau bekerja sama dengan baik untuk ikut kami ke kantor saat ini juga!"
Aura muncul dengan dengan wajah tak rela. "Bapak jangan semena-mena gitu dong? Jangan main tangkap begini saja jika dia belum terbukti bersalah."
"Kami akan melanjutkan prosedur untuk penyelidikan lebih lanjut. Jika Anda mangkir, akan kami anggap Anda mencoba melawan penegak hukum," ucap Kapten I Bagus Suska.
"Baik lah, karena saya murni tidak bersalah, saya akan menghadapi hukum sesuai dengan prosedur yang ada. Oleh sebab itu, saya akan ikut bersama Anda."
Aura kembali merangkul tangan Reza, menggelengkan kepalanya. Reza mendekap kepala Aura mencium kening istrinya. "Kamu temang saja, Sayang. Semua akan baik-baik saja."
Reza mengikuti dua tim penyidik tersebut masuk ke dalam mobil Polisi. Dia melirik ke arah istrinya yang menatapnya dengan sendu, kepalanya dianggukan kepada wanita yang dicintainya itu.
Tenang lah, Sayang. Semua akan baik-baik saja.
Aura teringat bahwa Stella sedang berpacaran dengan Devan. Devan adalag seorang detektif swasta. Dia bisa menyewa jasa Devan untuk mengungkapkan bahwa suaminya tak bersalah.
"Stella, tolong aku ..." ucapnya dalam panggilan telepon.
"Kenapa, Ra? Ada apa?"
"Bantu aku ... tolong katakan pada Kak Devan agar membantuku untuk membuktikan bahwa suamiku tak bersalah."
"A-apa? Devan lagi?"
💖
💖
💖
Mampir di karya kece badai milik rekan Author juga ya guys
napen: Zafa
__ADS_1
judul: Sahabat Jadi Menikah