
*Ada beberapa tulisan yang dipenggal-penggal supaya cepat diloloskan oleh Sistem Noveltoon. Harap dimaklumi yah Readers.*
Aura tercengang mendengar penjelasan wanita yang tak kalah berusia belia seperti dia. "Katakan siapa dia?" Menekan uju ng gun ting semakin melekat pada le her gadis itu.
"Orang yang mengaku di balik Sistem itu!" ucap gadis tersebut. Lalu tampak bayangan hitam bergerak di luar.
...dooorrr...
...praaang...
"Aaaghh ...." Sebuah tembakan menembus cermin, tepat mengenai gadis yang mereka tangkap.
Reza membuka pintu menuju balkon, dan orang tersebut sudah lari turun. Terdengar suara sirine kendaraan polisi. Aura yang berusaha menghentikan pendarahan yang terjadi pada gadis ini. Namun sayang, akhirnya gadis itu tak mampu bertahan dan pergi.
Aura melepas tubuh gadis yang sudah tidak bernyawa tersebut. Berdiri kaku melihatnya yang meninggal dalam pelukannya. Membayangkan sesuatu yang sama akan menimpanya juga.
Ini pasti ulah Sistem.
Reza masuk kembali ke dalam kamar, melihat istrinya yang telah berlumu ran da rah dalam keadaan shock. Reza memeluknya dari belakang. "Dinda, ada Kanda yang akan selalu menjagamu. Kamu jangan takut, Sayang!" bisiknya tepat di telinga Aura. Sementara, mendengar suara tembakan yang cukup mengagetkan tersebut membuat jantungnya yang baru saja sedikit tenang, menjadi kacau kembali.
Aura memutar tubuhnya, memeluk Reza membenamkan wajahnya menangis. "Mungkin nasibku akan sama seperti dia." Tubuhnya bergetar karena ketakutan.
Reza memeluk dengan membelai rambut Aura. "Kita akan meninggalkan tempat ini, malam ini juga!" ucapnya menenangkan sang istri. Aura mengangguk, merasakan jantung orang yang memeluknya ini sungguh tidak beraturan.
"Kanda, apa Kamu baik-baik saja?"
Reza hanya mengangguk. Beberapa saat menenangkan diri. "Sebelum pergi, kita harus ikut pemeriksaan polisi terlebih dahulu. Membawa laptop yang Kamu curigai tadi! Kita tinggalkan laptop tersebut sebagai barang bukti!"
Reza mengenakan pakaian kembali, dan Aura mengganti pakaian bersih. Namun sayang, jenis pakaian yang dibelikan Reza rata-rata berupa dress sek si.
__ADS_1
"Kanda, Kamu sangat ingin mengekspouse tubuhku kepada orang lain? Apa Kamu tidak keberatan bila tubuh istrimu ini dilihat oleh semua mata?" rutuknya mencoba mencari pakaian yang menurutnya cocok.
"Sebenarnya aku suka jika Kamu berdandan manis dan sek si, Dinda. Akan tetapi, sepertinya saat ini Kamu pakai oblongku aja! Terus, pakai celana pendek punyaku!"
Aura beralih pada lemari pakaian khusus milik suaminya. Mencari oblong yang kedodoran untuknya, dan celana pendek milik Reza, meski tetap cukup panjang baginya.
"Aku mengganti pakaian dulu di dalam kamar mandi," ucap Aura berlalu hendak membuka pintu kamar mandi tersebut.
"Tunggu!" cegat Reza.
"Apa?"
"Gantinya di sini aja!" ucap Reza.
"Iiih, sempat-sempatnya?" ucap Aura mencabikan bibirnya menghiraukan titah sang suami. Dia tetap masuk ke kamar mandi. Membilas kembali tubuhnya yang tadinya masih licin karena sabun.
Saat keluar dari kamar mandi, ternyata sudah ada polisi yang sedang memeriksa kondisi jenazah yang ada di sana. Aura mendekat ingin mengetahui apa yang disampaikan oleh polisi tersebut. Reza menarik istrinya ini untuk dipeluknya dari belakang.
"Nanti, Bapak dan Ibu kami harapkan bersedia ikut kami ke kantor polisi, untuk memberikan keterangan dan saksi. Beberapa waktu terakhir, kami menemukan beberapa jenazah, yang saling berkaitan. Mereka adalah hacker yang meresahkan beberapa waktu lalu."
Reza kembali merasakan getaran pada tubuh sang istri. Dia memeluk Aura semakin erat. "Tenang saja Sayang, suamimu ini akan hadir menjadi dewa penyelamat untukmu, Dinda."
Aura mengangguk, kembali memutar tubuhnya membenamkan diri pada dada bidang sang suami. "Dih, tuh kan? Sekarang Kamu sudah hobi memeluk aku?"
Untung saja semuanya sudah terkendali, batin Reza, batin Reza. Keadaannya sedikit membaik.
Aura mencubit pinggang Reza. "Masih sempat-sempatnya becanda," sungutnya. Namun, dia merasa nyaman saat dalam pelukan Reza ini.
💖
__ADS_1
Marcell menatap kelap-kelip lampu perkotaan, dari pucuk sebuah gedung. Di tangannya memegang sebuah senjata api yang baru saja dia gunakan untuk menembak gadis yang hampir saja membocorkan rahasianya pada Aura.
"Hubungan apa yang kalian miliki, Nona? Sekedar peliharaan kah? Atau hubungan yang kalian resmikan secara diam-diam? Jika aku tahu Kamu suka jadi peliharaan, mungkin sedari awal aku akan memeliharamu menjadi wanitaku."
Marcell memperhatikan foto seorang gadis yang dia ambil dari akun jaring sosial milik gadis itu dulu. "Peliharaan, hahah. Tak kusangka Kau cerdas sekali berlindung pada korbanmu!"
Marcell merobek foto yang telah dicetaknya itu menjadi ukuran yang sangat kecil. Lalu potongan-potongan kecil itu diterbangkan oleh angin. Setelah itu dia merebahkan tubuhnya bertopang pada kedua telapak tangan sembari menatap bintang.
"Jika Kamu adalah bulan, maka aku adalah bintang. Bintang yang tak akan bisa Kamu kalah kan, Nona. Yang akan selalu melihat segala sisi darimu! Kau tak akan bisa bersembunyi dariku! Meski kadang-kadang Kau tak bersinar, aku akan tetap menemukan keberadaanmu!"
💖
"Baik lah, benda ini akan kami selidiki terlebih dahulu. Kami akan mencari sesuatu yang kalian curigai. Kami akan mengusut informasi lain, akan kejanggalan-kejanggalan yang terjadi beberapa waktu terakhir ini," ucap Komandan Putra, sebagai ketua pelaksana penyelidikan kasus yang terjadi beberapa waktu terakhir ini. Semua korban, saling berkaitan pada permainan yang sama. Permainan Sistem Kekayaan Hacker, yang terjerat oleh seseorang yang masih misteri.
Setelah itu, Reza meminta Abizar untuk menjemput mereka. Kenapa harus Abizar? Karena mereka sengaja menaiki kendaraan polisi agar tidak diikuti lagi. Reza meminta Abizar untuk mengantarkan mereka ke appartemen kecil miliknya dulu. Ketika baru merasakan kesuksesan membangun usaha.
Mereka memasuki sebuah appartemen kecil yang sederhana. Cukup berdebu memang. Namun, bisa mereka gunakan sebagai pelarian di saat ada yang memburu mereka, seperti saat ini.
Aura dengan cekatan membersihkan tempat itu dari debu yang cukup tebal. Beruntung semua peralatan cukup dan masih berfungsi dengan baik. Aura tinggal menyedot debu-debu tersebut dengan vacum cleaner, sementara Reza bertugas membersihkan kerak kamar mandi yang sudah luar biasa membandel.
Waktu menunjukan pukul empat pagi, mereka baru bisa beristirahat dengan rasa lelah yang luar biasa. Aura tertidur dalam pelukan suaminya. Dia sudah merasakan nyamannya saat di dalam pelukan Reza.
Keesokannya, Aura terbangung karena rasa lapar yang luar biasa. Isi di dalam perutnya telah bergemuruh, karena belum jadi diisi. Hal ini disebabkan karena masalah yang mengejar mereka. Aura melepaskan tangan Reza yang memeluknya. Membelai dan mengecup pipi sang suami yang masih pulas dalam lelapnya.
Aura mengecek peralatan dapur yang ternyata sangat lengkap. Meninggalkan catatan di atas bantal, memberitahukan tujuannya kali ini.
Saat Reza terbangun, suasana appartemennya terasa sangat sunyi. Tampak sebuah catatan bahwa istrinya sedang belanja di pasar. Reza mengecek keadaan perusahaannya, ternyata ada spam yang masuk pada akun perusahaan.
Serahkan Nona Hacker-ku, Reza Firto Adijaya
__ADS_1