CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER

CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER
30. Ketika pacar merajuk


__ADS_3

"Mas Reza? Apa yang kamu lakukan?" suara perempuan lain memakai jas putih, sedang berjalan dengan seorang pria mengenakan warna jas yang sama.


"Ana? Kenapa Kamu di sana?" Wajahnya terlihat heran. "Jadi Kamu ini siapa?" tanyanya kepada dokter yang ditangkapnya tadi.


"Seharusnya saya yang bertanya Kamu itu siapa?"


Dengan seketika Reza melepaskan tangan yang menutupi mata dokter yang tidak terdeteksi itu. Akhirnya dia melihat wajah dokter tersebut.


"Awas ya! Akan saya laporkan kepada suami saya!" Dokter itu mendengkus lalu pergi.


"Mas, apa yang baru saja kamu lakukan kepada beliau? Suaminya itu galak loh?" Ana yang asli mendekati Reza. Memandang Reza dengan heran.


"Sudah lama sekali kita tidak berjumpa." Ucap Reza segera beralih pada kekasihnya yang sudah cukup lama menjalin hubungan dengan dia.


"Saking lamanya bisa membuatmu melupakan aku kan? Sampai-sampai kamu bisa salah menyangka orang lain adalah aku," ucapnya dengan dingin.


"Sudah berapa lama semenjak terakhir kita tidak berjumpa? Mungkin sekitar tiga bulan yang lalu bukan?"


Wajah Reza mengernyit, "Wah? Udah selama itu kita tidak bertemu? Rasanya baru kemarin kita habis berkencan. Bagaimana keadaanmu?" Tanya Reza, sembari memperhatikan gelagat dokter pria yang ada di sebelah Ana.


"Sebenarnya aku sudah berpikir hubungan di antara kita itu telah berakhir Mas. Karena tak ada kabar sedikit pun darimu. Jujur yaaa, saat ini aku tu sudah tidak mencintaimu lagi. Sepertinya kamu pun tidak pernah memikirkan perasaanku. Kita putus aja ya? Kita sudah tidak memiliki rasa satu dengan yang lain. Saat ini aku sudah memiliki Dion." Ana mengelungkan kedua tangannya pada lengan dokter pria di sebelahnya.


"Kami sudah pacaran semenjak dua bulan yang lalu. Sebentar lagi akan menikah."


......jegeeerrrr......


"Apa? Kamu akan menikah? Secepat itu?" tanyanya tak percaya.


"Kamu pikir aku ini apa Mas? Boneka? Meski umurnya bertambah namun masih tetap sama? Kamu salah Mas! Kamu jangan pernah hubungi aku lagi! Hapus saja kontakku dari hapemu. Kemungkinan aku tak akan sempat datang ke rumahmu untuk mengantar undangan." Ana dan calon suaminya Dion pergi meninggalkannya.


Meski sebenarnya apa yang dikatakan Ana itu benar, namun dia merasa kalah karena kekasih yang dia selingkuhi, malah memilih menikah dengan pria lain. Dia merasa kalah telak dan terhina.


"Aku pastikan! Dalam satu tahun lagi aku akan menikah! Tidak, tidak, itu terlalu lama! Dalam waktu tiga bulan, aku pastikan bahwa aku akan menikah!" ucapnya dengan menggebu.


Dengan perasaan kesal, Reza melanjutkan perjalanannya mencari Papanya dan Rezi ke ruang radiologi. Akhirnya dia melihat Rezi tengah menunggu sang ayah mendapat sinar radioaktif.


"Lama amat?" sindir Rezi.


"Ini untung aku masih sempat. Kalau tidak, mungkin ketemu Papanya setahun kemudian."


"Huuu, dasar anak tak berbakti!" rutuk adiknya.


"Sssttt! Jangan berisik! Gimana caranya Papa bisa terjatuh?" tanya Reza.


"Sepertinya Papa kita sedang berselingkuh dengan mahasiswanya," ucap Rezi.


"Apaaa?"


💖

__ADS_1


💖


💖


Aura dan Stella saling melambaikan tangan. Stella melanjutkan perjalanan pulangnya, dan Aura berjalan kaki memasuki gang senggol menuju rumah indekosnya.


Ketemu malam lagi, ketemu Sistem lagi. Hidupku seputaran itu melulu. Seandainya saja Abang ... Oh ya ... Bang Aksa ... Aku belum membuka ponsel semenjak tadi siang gara-gara banyak hal yang harus aku lakukan.


Aura mempercepat langkahnya, tidak lupa dengan segera memeriksa ponselnya. Ternyata sudah banyak sekali pesan dari Aksa yang terabaikan. Aura segera menelepon sang pacar. Tak lama panggilan sudah terhubung.


"Halo Bang, maaf yaaa, aku kelupaan balas pesan gara-gara hari ini riweh banget. Ini aku baru saja pulang dari kampus," cerita Aura panjang lebar.


"Hmmm, ooh," tanggapan yang diberikan Aksa cukup dingin. Lalu diam kembali.


Aura belum peka atas apa yang dirasakan Aksa. "Bang, aku mau cerita. Masih inget dosen yang kemarin nggak Bang? Tadi aku menabrak beliau. Lalu kami sama-sama jatuh kan? Aku bantu bapak itu untuk bangkit kan, eeeh, dosennya malah sakit pinggang. Terus kan aku--" Aura merasa Aksa hanya diam tanpa memberi tanggapan. Aksa seperti tidak tertarik dengan cerita yang dia beri.


"Bang? Bang?" Aura mengecek di layar, panggilan masih tersambung.


"Bang? Kenapa diam saja?"


"Hmmm, udah aja ceritanya?" tanya Aksa dengan nada dingin.


"Abang kenapa?"


"Aku kira kamu sesibuk apa hingga tidak bisa membalas pesanku sejak subuh. Ternyata malah sibuk ngurusin dosen. Kamu lebih sayang sama dosen itu dibanding aku ya?" Aksa masih berbicara dengan dingin.


"Hmmm ...."


"Wahahaha, Abang ... Abang ... kalau aku tahu kamu bucinan kayak gini dari dulu, pasti udah aku kekep semanjak ketemu kamu pada masa sekolah."


"Hmmm ...."


"Jadi, kamu lagi gak mau bicara ni?"


"Hmmm ...."


"Oh, ya udah ... aku tutup saja. Aku malah bingung kalau begini. Ternyata pacaran itu, begini ya? Harus bujuk-bujuk dulu ya? Aku jadi bingung, sumpah ... daahh, semoga besok tidak merajuk lagi."


"Gitu aja membujuknya?" Akhirnya yang di seberang mengeluarkan suara bass miliknya.


"Aku kan gak ngerti cara bujuk cowok itu seperti apa? Ini untuk pertama kalinya aku pacaran. Eh, malah dapatnya yang ngambekan?" tukas Aura.


"Siapa yang ngambekan?"


"Abang tuh, aku nggak ngerti cara membujuk pacar yang lagi merajuk. Apalagi cowok. Biasanya yang ngambekan itu cewek kan? Kok aku merasa dunia terbalik kaya sinetron aja?" Lalu terdengar suara tawa Aura yang renyah.


"Siapa yang ngambekan? Aku hanya kecewa setelah kamu mengabaikanku cukup lama?"


"Apa kamu lupa? Selama ini aku lah yang diabaikan."

__ADS_1


"Itu karena berbagai hal yang mendadak. Lagian waktu itu kita belum berpacaran. Jadi semuanya tentu berbeda."


"Jadi bedanya di mana?"


"Ya, kewajiban saling berkirim informasi. Seperti kamu lagi apa. Sedang kuliah mata pelajaran apa. Istirahatnya makan apa saja."


'Dih, kok berasa diatur ya? batin Aura. Apa benar pacaran seperti itu?' batin Aura.


"Aku tutup dulu teleponnya Bang. Sepertinya Abang lagi tidak bisa diajak bicara baik-baik."


"Terserah kamu saja."


Lalu Aura tidak mendengar apa-apa lagi. Panggilan benar-benar ditutup oleh Aksa. "Apa dia memang seperti itu?" Kepala Aura miring karena berpikir.


Beberapa detik kemudian ponselnya berbunyi menandakan panggilan masuk, kali ini adalah sebuah panggilan video yang dilakukan oleh Aksa. Aura menjawabnya dengan malas-malasan.


"Hmmm," sekarang giliran Aura yang irit bicara.


"Dih, kamu kena praaank," ucap Aksa kepada Aura.


"Gimana rasanya jika kita marahan seperti tadi?" Wajah sama sekali tidak seperti bayangan Aura. Gadis itu membayangkan Aksa tengah dipenuhi awan kelam, dengan wajah yang murung. Namun, kenyataannya wajah Aksa tampak cerah penuh dengan senyuman seperti biasa yang dia lihat.


"Iiih, aku tadi tu takut beneran kalau Abang marah sama aku tau nggak? Aku nggak tau bagaimana cara membujuk kaum pria. Makanya aku lebih memilih untuk menutup panggilan dari pada malah menjadi pertengkaran."


teng ... nong ... Masuk pesan dari Sistem.


Aura segera membaca pesan tersebut.


[Selamat malam Nona Aurora Safitri, hari ini adalah pelaksanaan misi hari keempat Anda. Jangan sampai ketiduran seperti semalam.]


Aura hanya mencabik membaca pesan tersebut.


"Kamu kenapa Ra?" tanya seseorang di dalam layar ponselnya.


"Aku diingatkan untuk mengerjakan tugas ni Bang. Oh ya, aku mau menceritakan sesuatu. Apa kamu mau membantu untuk memecahkan masalahku?"


"Cerita apa? Apa pun itu, aku pasti senang jika bisa membantumu. Apalagi bisa membuatmu terbebas dari masalah. Ceritakan lah!"


"Sebenarnya aku ini---"


Othor ingin mengajak reader baca karya sahabat Othor yang baik banget ni... siapa tau kawan-kawan reader suka.



...*bersambung*...


...Jangan lupa menekan tanda Favorit, Like, Gift, Vote, dan Komentar ya!...


...Terima kasih!...

__ADS_1


__ADS_2