CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER

CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER
157. Perkara pizza


__ADS_3

"Kau! Bawa pulang dulu sanah suami kamu. Bikin aku pusing saja!"


Wajah Aura seketika berubah senang di antara ketegangan tersebut. "Beneran, Kap?"


Kapten itu hanya menggoyang tangannya mengusir Aura tanpa suara. Aura pun segera keluar menuju sel tempat sang suami ditahan. Meminta penjaga sel tersebut untuk membukakan pintu. Saat pintu terbuka, Aura langsung masuk ke dalam pelukan Reza. Kakinya seakan goyah tak mampu lagi berdiri. Tubuhnya seketika menjadi lemah.


"Kamu pasti merasa sangat lelah. Terima kasih kamu sudah berjuang untuk aku."


Reza berjongkok memberikan punggungnya. Aura langsung naik ke punggung Reza dan mereka segera meninggalkan tempat itu. Mereka melewati Marcell yang duduk terikat sedang diinterogasi oleh tim penyidik lainnya. Mereka kembali ke rumah dan mengistirahatkan diri.


Aksa masih berkutat mencoba memulihkan kerusakan milik perusahaan milik Perancis tersebut. Namun nahas, perusahaan itu juga sudah mengunci data mereka di pusat data induk yang ada di sana. Ini menandakan kasus Aura sudah dinaikan, dan identitas Aura telah ditemukan.


💖


Saat pagi hari, Aura terlihat tidak bergerak dari tadi. Padahal Reza sudah bersiap berangkat menuju ke kantor setelah meninggalkan pekerjaannya karena ada masalah yang tak ada habisnya.


Reza beringsut membuka selimut menutupi Aura yang tidur meringkuk. Wajah Aura terlihat merah. "Dinda?" Reza memegang pipi Aura, terasa panas. Dia membuka selimut tersebut membuat Aura semakin meringkuk. Tubuhnya menggigil dengan keringat dingin mengalir di pelipisnya.


"Sayang? Kamu demam?"


Aura membuka matanya. "Tidak apa. Aku hanya sedikit kelelahan."


Reza kembali membuka jas yang telah melekat di tubuhnya. Aura yang memperhatikan itu merasa heran. "Kenapa dibuka? Bukan kah mau ke kantor?"


Reza menggelengkan kepalanya. "Mana bisa aku pergi di saat istriku sakit begini?"


Aura berusaha untuk duduk menyandari di sandaran ranjang besar tersebut. "Kanda kan sudah lama tidak masuk kantor. Aku tidak apa kok. Setelah beristirahat beberapa waktu aku yakin akan kembali pulih seperti biasa."


Reza kembali menggelengkan kepalanya menandakan bahwa dia tidak setuju atas apa yang disampaikan oleh sang istri. "Aku akan tetap di sini. Di sana sudah ada Abizar, dan ... Aksara sedang diminta untuk membantu kami secara eksklusif."


Aura mendorong Reza. Dia kembali menggelengkan kepalanya. "Kanda pergi saja. Kasihan mereka ditinggal terus. Aku baik-baik saja."


Reza menatap Aura dengan panjang. Alisnya menyatu, dengan kening berkerut. "Apa kamu tidak senang saat aku temani seperti ini?"


Aura terkekeh dan kembali menggelengkan kepalanya. Dia merangkul lengan Reza dan menyandarkan kepalanya pada otot lengan sang suami. "Aku seneng kalau terus sama kamu. Hanya saja kita kan mesti mikirin masa depan. Jika perusahaan ditinggal terus, kapan bisa maju perusahaannya? Nanti kena hack terus lho?"


Reza membelai rambut panjang Aura. "Nona Hackernya sudah aku kandangin, dia gak bisa lagi bergerak untuk mengacau."


Aura tergelak masih menyandarkan diri. "Pergi lah, aku pastikan saat Kanda kembali, aku sudah dalam keadaan baik-baik saja." Aura mulai melepaskan rangkulan menyilakan suaminya memasang jas kembali. Aura membantu merapikan lengan yang sudah naik, lalu dikancingkan kembali.


Reza turun dari ranjang, dan memasang jas kembali. Aura hendak turun, namun dihalangi oleh Reza. "Kamu istirahat saja. Nanti aku panggilkan dokter ya?"


"Tidak usah. Ibu hamil kan tidak boleh mengonsumsi obat-obatan. Palingan setelah aku makan, semua akan baik-baik saja."

__ADS_1


Reza naik ke ranjang sesaat, mengecupkan bibirnya kepada bibir istrinya yang terasa hangat. "Kalau begitu aku akan pulang secepatnya."


Lalu Reza bangkit mengambil parfum kesayangannya. Parfum tersebut disemprotkan pada leher dan pergelangan tangan0nya.


"Hoooeooeek."


"Uppss, maaf Sayang. Aku lupa!"


Reza buru-buru keluar dari kamarnya. Aura mengipaskan udara yang masih meninggalkan aroma parfum. Lalu membenamkan seluruh tubuhnya ke dalam selimut.


Reza melangkahkan kakinya memasuki koridor kantornya. Semua menyapanya dengan tundukan di kepala. Reza membalas tundukan tersebut segera masuk ke dalam lift menuju lantai lima belas.


"Makin hari, Pak Reza terlihat makin cool ya? Dia jadi terlihat makin tampan," bisik beberapa pegawai perempuan yang masih muda.


"Aaah, kalau Pak Reza dari dulu begini, aku pasti yang bakalan ngejar-ngejar dia nih," ucap yang lain. Para karyawati mengangguk memandang lift yang terus menutup membawa sang big boss naik ke lantai atas.


"Ekhem ...." Abizar sudah hadir bersama pria muda yang terlihat memiliki wajah yang sangat enak dipandang.


"Mas Abizar ..." ucap salah satu sambil melirik pria ganteng di sebelah Abizar.


"Gosip mulu, kapan selesai kerjanya?"


"Maaf, Mas. Kami hanya melihat Pak Reza kali ini berbeda banget dibanding biasanya."


"Pawang? Maksudnya?"


Abizar tidak memberi jawaban pada ladies kepo yang terus memandang pria ganteng yang ada di sampingnya. Abizar dan Aksa menganggukan kepala dan giliran mereka yang ditatap oleh para karyawan perempuan yang ada di sana.


"Itu kalau nggak salah namanya Aksara ya? Bronis yang bisa bikin kita Noona Noona makin awet muda niih ...."


Reza telah sampai dan duduk di kantornya. Kali ini dia langsung menelepon sang istri yang ada di rumah. "Bagaimana keadaanmu Sayang?"


"Walaaah, Kanda? Baru pisah sepuluh menit yang lalu juga? Aku mau lanjut tidur dulu." Telepon pun ditutup oleh Aura di seberang panggilan. Dia melongo melihat panggilannya ditutup begitu saja.


"Masa iya baru sepuluh menit? Rasanya udah seharian aja berpisah dari nya."


Reza menyalakan PC nya. Dia mengecek keadaan perusahaan yang telah ditinggal beberapa hari berturut-turut ini. Dia merasa cukup puas melihat keadaan perusahaan cukup stabil.


tok


tok


tok

__ADS_1


"Masuk!"


Pintu dibuka dari luar. Abizar membawa setumpuk berkas yang memerlukan tanda tangannya setelah berhari-hari tidak muncul. "Selamat pagi, Boss. Kali ini silakan untuk menandatangani semuanya. Ini sudah mendesak, semoga bisa dibereskan hari ini juga."


Tanpa menunggu jawaban dari Reza, Abizar langsung balik kanan. Tangan Reza sudah mengambang hendak memanggil dan pintu telah tertutup kembali dengan rapat.


"Sebenarnya yang jadi atasan di sini siapa ya?"


Reza mulai membuka berkas dan membacanya dengan seksama. Di saat sibuk menandatangani berkas tersebut, muncul makanan lezat dalam benaknya.


"Menandatangani ini sambil makan pizza pasti enak kali ya?" Reza melihat jam tangan, namun waktu masih menunjukan pukul delapan pagi.


Entah kenapa dia merasa salivanya keluar tak terkendali membayangkan mengunyah-ngunyah pizza. Reza menekan panggilan cepat memanggil Abizar. Tak lama Abizar muncul di dalam ruangannya.


"Ada yang Anda butuhkan, Boss?"


"Pizza!"


Abizar berpikir sejenak. "Pizza, Boss?"


"Iya, cepat buruan belikan aku pizza!"


Abizar merenung memikirkan sesuatu. "Pizza untuk apa Boss? Mau bikin jualan pizza online?"


"Bukan! Aku ingin makan pizza sekarang juga! Cepat buruan!"


Abizar mengecek waktu di jam tangannya. "Sepertinya jam segini belum buka, Boss! Tunggu pukul sepuluh, nanti akan saya pesankan."


"Tidak bisa menunggu! Cepat belikan saat ini juga! Kamu datang ke outletnya saat ini juga. Aku mau makannya sekarang! Kalau tidak, kamu akan saya pecat!"


💖


💖


💖


jangan lupa mampir di cerita keren milik teman Author ya kak.


napen: HaruMini


judul: My Wife Sugar Mommy


__ADS_1


__ADS_2