
Aura dan Aksa mengunjungi sebuah toko buku. Mereka menuju stand buku mengenai teknologi terbarukan. Aura meminta referensi buku-buku bagus belajar sistem DOS dan ilmu hacking.
"Buku ini gimana Bang?" Menyerahkan buku yang sejak tadi dia pilih.
Aksa mencoba memeriksa, mencoba mengecek informasi referensi online. Sedikit mengangguk, "Boleh lah!"
Aura memasukan buku tersebut ke dalam keranjang belanjanya. Lalu memilih buku yang lain yang dirasanya cocok. Aksa ikut memilah-milah buku yang lain. Dia juga mencocokan informasi dengan referensi online.
"Ini juga bagus," memasukan ke dalam keranjang. "Sebenarnya apa yang membuatmu semakin rajin belajar yang seperti ini? Sedangkan kuliahmu tidak ada hubungannya sama sekali dengan jaringan."
"Yaaa, bisa dibilang minat Bang. Siapa tahu nanti aku bisa memiliki dua keahlian sekaligus kan?" Ucapnya bohong.
Aksa membenarkan apa yang diucapkan Aura. Lalu kembali memutari toko buku tersebut. Tanpa terasa buku-buku tersebut sudah begitu banyak masuk ke dalam keranjang milik Aura.
Kening Aksa berkerut, "Apa kamu yakin membeli ini semua? Kamu sempat ngga mempelajari semua ini?"
"Oh-oouh, sesempatnya saja Bang. Kan aku harus mendahulukan tugas kuliah. Jadi yaaa, kapan ada waktu saja."
Aksa mengecek keuangannya secara online. Dia menggaruk kepala karena buku-buku tersebut bisa merogoh kocek yang sangat banyak. Aura tanpa memikirkan apa yang dilakukan Aksa, langsung menuju kasir. Menggunakan metode pembayaran debit dari tabungannya langsung.
"Total semua buku ini adalah Rp1.569.990,- ya Mbak," ucap kasir.
Waduh, ternyata jadinya sebanyak ini. Untung saja saat ini aku kaya raya, batin Aura menyerahkan kartu ATM-nya.
Aksa muncul bersiap membayarkan belanja buku Aura. Dia terkejut melihat gadis itu telah membawa kantong berisi buku yang sangat banyak. Aksa langsung menariknya dari tangan Aura. "Udah bayar?" tanyanya.
"Udah dong," jawab Aura enteng.
"Kok bisa?" Aksa menjadi heran.
"Beasiswaku baru cair Bang." Ucapnya bohong.
"Kamu menggunakan beasiswa untuk beli ini semua? Mending kamu beli buku untuk perkuliahanmu!"
"Ya, nggak apa Bang. Nanti aku beli juga kok." Lalu menarik Aksa masuk sebuah kafe yang tak jauh dari sana. "Kita makan dulu yuk? Biar aku yang traktir!" ajak Aura.
__ADS_1
"Idih, masa kamu yang bayar? Biar aku saja!"
"Tenang Bang, beasiswaku banyak banget!"
Lalu mereka menikmati makan malam. Usai makan, Aksa tampak mulai gelisah melihat ke arah jam tangan. Aura menangkap gelagat aneh dari Aksa.
"Kenapa Bang? Kenapa melihat jam terus?"
"Hmmm, aku harus segera kembali ke Bandung. Harus berangkat malam ini juga," jelasnya
"O-oh, jadi Abang nggak nginep di sini?" Tanya Aura.
"Ya enggak lah, mau nginap di mana coba? Tapi aku akan antar kamu ke rumah kos dulu! Jangan khawatir!"
"Ngga usah Bang! Abang nggak usah mikirin aku. Aku yang akan antar ke stasiun!" Aura bersikeras juga. Sebenarnya dia masih belum ingin berpisah lagi. Namun, bagaimana pun juga Aksa memiliki kehidupan di kota yang berbeda dengannya.
"Kalau begitu nanti antar buku-buku ini terlebih dahulu saat sewa taksi online-nya. Setelah itu baru kita ke stasiun," ucap Aksa dan Aura mengangguk.
Lalu mereka memesan jasa taksi online, seperti saat mereka berangkat tadi. Aura singgah ke rumah indekosnya terlebih dulu. Meletakan buku-buku baru tersebut ke dalam kamar. Setelah itu kembali ke mobil yang mereka sewa.
Nyatakan nggak ya? Ya udah, coba aja dulu. Apa pun jawabannya, aku terima. Yang penting kunyatakan dulu.
Aksa baru kembali membawa sebuah tiket. "Aku naik dulu ya? Keretanya berangkat dalam waktu lima menit lagi."
"Bang, aku sayang padamu Bang!" ucap Aura dengan lantang. Orang yang melihat aksi gadis menyatakan cinta itu, ikut menonton merasa seru sendiri.
"Pfffttt," Aksa menahan tawanya. "Weeii, kenapa malah kamu yang bilang?"
"Aku udah gak bisa menahan isi hatiku. Terserah Abang mau bilang apa. Yang penting aku sudah melepas segala rasa yang terpendam!"
Terdengar suara operator kereta mengingatkan agar penumpang kereta menuju Kota Bandung untuk segera naik.
"Ra, sebenarnya aku juga cinta sama kamu! Nanti kita lanjutkan ya?" Menggoyangkan ponselnya ke arah Aura, melangkah mundur menuju keretanya.
"Benar kah Bang?" teriak Aura.
__ADS_1
Aksa hanya mengangguk, "Kamu pulang dengan hati-hati!" Melambaikan tangannya. Aura membalas lambaian tangan itu dengan senyum lebar. Tak lama kereta itu bergerak meninggalkan Aura.
Masuk sebuah panggilan Video dari Aksa, Aura segera mengangkatnya. Tampak Aksa sudah duduk di bangku dalam gerbong kereta.
"Kamu tahu, aku akan kembali lagi ke sini week end minggu depan. Untuk apa? Aku berencana menyatakan perasaanku padamu saat itu. Di saat kamu berulang tahun. Namun, kamu malah mencuri start duluan." Ucap Aksa di dalam layar.
"Abang ingat ulang tahunku? Tapi itu udah kelamaan. Tapi aku bahagia, ternyata Abang juga menyukaiku."
"Sekarang kita resmi jadian. Kamu pulang dulu sana! Hati-hati!" Titah Aksa.
"Baik Bang!" Panggilan diakhiri, dengan langkah cepat Aura meninggalkan stasiun itu.
Jarak stasiun dan rumah indekos yang dia tempati tidak terlalu jauh. Dia memilih jalan kaki menikmati malam dengan perasaan bahagia. Semua terlihat indah di matanya. Bahkan, melihat selokan kumuh sudah seperti melihat sungai yang indah bagai sungai yang ada di negeri dongeng.
Ternyata, begini ya rasanya punya pacar? Apalagi pacar itu orang yang kita suka sejak dulu. Itu Abang aksa aneh-aneh saja harus menunggu minggu depan.
Aura kembali melihat ke sebuah benda yang ada di tangannya. Benda yang dipasangkan oleh seorang yang baru jadi pacarnya. Aura mencium benda itu dengan gemas. Dengan langkah ringan dia melanjutkan perjalanan menuju arah indekos.
Mata Aura terfokus melihat karamaian di sebuah warnet. Warnet tersebut adalah tempat terakhir kali dia mendapat Sistem Kekayaan. Aura ikut mengintip ingin tahu apa yang telahnterjadi. Tempat itu tengah digeledah oleh banyak polisi. Memeriksa server PC pada warnet tersebut satu per satu.
"Bukan saya Pak, sumpah bukan saya! PC di sini digunakan oleh banyak orang. Mana bisa menuduh saya begitu saja Pak!" Aura melihat operator warnet ini tengah dibekuk oleh Polisi.
Hal itu menarik perhatian Aura. Dia bertanya kepada salah satu orang yang tengah menonton kejadian tersebut. "Mas, boleh nanya nggak? Kenapa tempat ini di geledah?"
"Oh, itu .... Polisi tengah menyelidiki orang yang akhir-akhir ini meretas beberapa perusahaan online. Sering masuk berita televisi kan?"
Aura tersentak dengan seketika. Dia berjalan mundur, menyadari bahwa orang itu adalah dia. Polisi tengah mencari keberadaanya.
Terdengar teriakan dari operator itu kembali. "Pak, yang menggunakan jasa warnet ini sangat banyak. Tentu saja saya tidak mengingat siapa saja yang menjadi pelanggan warnet ini. Bisa jadi orang itu, orang itu dan orang itu." Menunjuk semua orang yang tengah menonton kejadian itu.
"Nah, cewek itu juga sering main di warnet ini!" Operator itu menunjuk tepat ke arah Aura.
...*bersambung*...
...Jangan lupa menekan tanda Favorit, Like, Gift, Vote, dan Komentar ya!...
__ADS_1
...Terima kasih!...