
Reza mendekap Aura memasuki mansion megah miliknya. Aura melirik lelaki itu dengan wajah yang dipenuhi oleh tanda tanya.
"Sudah, Kamu jangan takut! Aku tak mau orang menganggapku sebagai suami tak becus yang hanya memberikanmu penderitaan. Lebih baik kita tinggal di sini. Akan ada banyak orang yang akan menemani dan membantumu kala aku tak ada di sini!"
Hal yang ditakutkan oleh Aura hanyalah pada saat seseorang yang mengaku sebagai Sistem kembali ke sini untuk mencarinya. Meski beberapa orang sudah tidak ada, tak menutup kemungkinan ada orang lain yang akan membantunya.
"Apakah tidak ada tempat lain, selain rumah ini?"
"Di sini lah yang terbaik untukmu, Sayang. Jika Kamu takut akan sesuatu, nanti akan aku bayar bodyguard untuk menjagamu 24 jam."
Aura mencabikan bibirnya. "Nanti aku bisa jatuh cinta dengannya, bagaimana?"
Reza terlihat tersenyum kecut. "Yaah, bagaimana lagi."
"Lhah? Gitu ajah?"
Reza mendekap kedua tangan pada dadanya. "Sepertinya akan aku pecat kalau dia mencoba merebut hatimu yang sudah susah payah aku ambil. Enak aja kan rebut istri dari aku yang telah mempekerjakannya."
"Aku tak mau pakai bodigat-bodigatan! Aku berasa tak leluasa! Biar nanti aku saja yang menghajarnya!" Aura mengepalkan tinjunya tepat di hadapan Reza.
Reza menyipitkan matanya, lalu menurunkan tinju kecil dari tangan istrinya. Reza membelai perut Aura, menggelengkan kepalanya.
"Ingat! Di dalam ini ada calon penerusku. Masa saat masih dalam proses begini, udah Kamu kasih aksi jingkrak-jingkrakan? Nanti dia batal terbentuk bagaimana?"
"Pokoknya aku gak mau ada bodigat-bodigatan!" Dengan nada yang penuh penekanan.
"Ya udah, aku aja yang jadi bodigatnya!" ucap Reza mendekap Aura memasuki kamar mereka.
Keesokan paginya, usai membersihkan diri, Aura menyiapkan pakaian kerja untuk Reza. Setelah itu, ia duduk di atas kasur. Dia melihat ponsel sang suami tengah bergetar. Dilihatnya nama di layar benda pipih tersebut, tertulis nama 'K.istri--Rosyta.'
"A-a-paaa ini? Kenapa orang ini sudah menelepon pagi-pagi begini?" Aura bermonolog pada dirinya sendiri.
Aura melihat ke arah kamar mandi. Reza belum menyesaikan proses pembersihan dirinya. Saat panggilan tersebut hendak dijawab oleh Aura, panggilang itu sudah tidak menyahut kembali. Tak lama masuk sebuah pesan.
[ Terima kasih ya, Mas. Uang yang dikirim kemarin akan saya gunakan untuk melanjutkan usaha. ]
Kanda memberi uang kepada orang ini. Siapa dia? Kenapa ada kata 'istri' juga?
Terdengar suara pintu kamar mandi dibuka. Aura langsung melempar ponsel tersebut dan beranjak sesaat Reza akan memeluknya. Tangan Reza masih mengambang, tetapi orang yang akan dipeluk telah keluar dari kamar mereka. Tangan itu diarahkan ke kepala untuk menyugar rambutnya yang basah.
__ADS_1
Dia kenapa lagi?
Reza segera bersiap mengenakan pakaian kerja yang telah disiapkan Aura. Padahal dia ingin merasakan saat Aura turut membantunya dalam bersiap. Tetapi orangnya malah keluar tanpa mengatakan apa-apa.
Reza menemukan istrinya duduk di bangku ruang makan dengan muka masam. "Dinda, kenapa Kamu tiba-tiba cemberut begini?" Reza duduk di bangku di samping istrinya. Aura menggeser bangkunya dan membuang muka.
Sabar ... sabar ...!!!
...💖💖💖...
Jendra hanya memperhatikan sang supir sibuk mengumpat sepanjang perjalanan kembali dari titik lokasi keberadaan Aura tadi malam.
"Bisa-bisanya dia ngerjai gue!!!"
Saat siap-siap menggeledah lokasi yang menjadi titik lokasi keberadaan sang Nona Hacker, tetapi dia mendapati kenyataan yang berbeda. Tak ada satu pun yang ia temui di sana. Jendra hanya bisa mengulum senyuman melihat Marcell mencak-mencak sejak tadi.
"Apa yang Lu harapkan lagi dari dia? Dia sudah terlalu lihai untuk lari dari Lu Cell!"
"Diam, Kau!"
Marcell menatap nanar jalanan yang ia lewati. Menglakson semua kendaraan yang menghalangi perjalanannya hingga dia mendapatkan umpatan balik dari pengendara tersebut. Jendra tersenyum penuh arti, seakan semua rencana yang dia susun secara diam-diam akan lebih mudah saat dia bisa ikut mendapatkan wanita yang membuat Marcell menggila.
"Kemana lagi dia?" rutuk Marcell, kembali menuju kota.
"Ekhem ...!" Pak Baracke dengan deheman yang membuat orang sekitar kaget, memberi kode kepada Aura untuk masuk ke dalam ruang kantornya.
Arga yang hendak mengagetkan Aura, merasa heran melihat gerak-gerik yang mencurigakan saat Aura masuk ke dalam ruangan tersebut. Arga menunggu Aura di luar ruangan.
"Aura, kenapa Kamu dan suamimu tidak pernah main ke rumah?"
Aura menunduk, dia benar-benar lupa bahwa sang suami masih memiliki orang tua. "Ma-maafkan Kami, Pa."
"Papa sudah meminta suamimu untuk membawamu main ke rumah. Namun, dia selalu saja mengatakan nanti. Sudah hampir tiga bulan kalian menikah, masa tidak pernah datang mengunjungi Kami?"
Aura terus menunduk bagai orang yang duduk jadi pesakitan di ruang sidang. Dia sedang merasa enggan untuk berbicara dengan Reza. Dia merasa marah karena Reza merahasiakan banyak hal darinya.
"Bagaimana keadaan suamimu? Apakah jantungnya masih sering kumat?"
Aura mengerutkan kening. Kedua orang tua suaminya menang tak pernah mampir saat Reza dirawat di rumah sakit. Hal itu mungkin dikarenakan mereka sangat sibuk.
__ADS_1
"Dia baik-baik saja, Pa. Semenjak usai operasi jantung, dia sudah tidak pernah lagi pingsang."
"Hem, dia sudah operasi? Kapan?" Kening mertuanya itu terlihat berkerut menatapnya dengan tajam.
"Tak lama sehabis balik dari Padang, Pa."
Barack menatap Aura dengan panjang. Sebuah tatapan yang tak bisa dipahami maknanya oleh Aura.
"Kalian sungguh terlalu!" Suara kali ini lebih berat dibanding biasanya. "Bahkan masalah sepenting itu tidak kalian sampaikan kepada kami."
"Ma-maaf, Pa. Kanda hanya tak ingin Papa dan Mama menjadi khawatir."
Barack menekan-nekan ponselnya. Lalu meletakan ponsel tersebut di telinga. "Hmmm, nanti malam Kamu dan istrimu main ke rumah!"
"...."
"Tak ada tapi-tapian!"
"...."
"Ya!"
Barack kembali memperhatikan menantunya ini. Aura masih terlihat diam dan menekukan wajah menatap ubin di bawah sepatu.
"Apa hubungan kalian baik-baik saja?"
Aura menganggukan kepalanya. Walau sebenarnya hati dan perasaanya masih merasa kesal kepada sang suami. Namun, tidak mungkin dia mengatakan apa yang dia curigakan kepada anak dari mertuanya ini.
"Sekarang ada urusan apa ke kampus? Bukan kah masih liburan?"
"Mau melihat informasi di bagian akademik aja, Pa. Sebentar lagi kan jadwal perkuliahan. Jadi, aku hanya mengecek pembayaran biaya kuliah. Apakah masih masuk ke dalam beasiswa, atau sudah bayar mengkuti UKT." *Uang kuliah tunggal.
Barack menganggukan kepalanya. Aura segera bangkit dari posisi dan menyalim tangan mertuanya tersebut. Bagian ini terlihat oleh Arga yang berada di luar. Meski ruangan tersebut kedap suara, tetapi dia masih bisa mengintip keadaan dari luar.
Emang sejak kapan Aura pakai acara salim-salim begitu dengan Beliau?
Hal yang lebih membuat Arga shock melihat Pak Barack mengacak rambut Aura.
Apakah mereka memang sedekat itu?
__ADS_1
Pintu tampak dibuka dari dalam ruangan. Arga pura-pura sibuk membaca sesuatu di ponselnya.
Apakah sekarang Aura-ku menjadi baby sugarnya Pak Barack? Oooh, shiiiiiit! Dasar tua keladi tak tau diri!